
"Aku mau ngomong serius, tatap aku kali ini aja." Ujarnya memohon.
"Mau Lo apa sih Ragil?! Dari tadi gak ada henti hentinya gangguin gue."
"Aku mau ngomong sesuatu sama kamu." Ujar laki laki yang kerap di panggil Ragil itu menatap wajah Citra.
"tadi Lo bilang juga mau ngomong, tapi Lo gak bicara apapun dan hanya basa basi gak jelas. Sekarang malah gitu lagi! Mau Lo tuh apa sih?!" Ketus Citra emosi.
*Dia laki laki yang berani pegang tangan audrin tadi.* Batin Bara kesal.
"Ya ini mau ngomong, kamu dengerin dong."
"Ok, gue dengerin, cepet Lo mau bilang apaan?!" Kata citra tidak sabaran.
Setelah berdiam sesaat, Ragil kembali meraih tangan Citra, namun kali ini kedua tangan Citra.
"Lo apa apaan sih pegang-pegang!" Sarkas Citra kesal sembari mengibaskan pegangan tangan Ragil.
"Ya Karna gue mau ngomong."
"Mau ngomong ya ngomong aja langsung! ngapain Lo pegang pegang?! Gue gak suka ya di pegang pegang orang asing!" Ketus Citra.
Citra yang gak suka di pegang Pegang orang lain menjadi emosi akibat di pegang oleh Ragil. Ragil yang melihat Citra marah segera melepaskan pegangannya.
"Ok ok, aku gak pegang pegang kamu lagi." Ucap Ragil mengangkat tangan nya.
"Ya udah ngomong sekarang! Gue gak punya banyak waktu buat orang yang gak gue kenal." Kata Citra malas.
Sepasang mata menatap Ragil tajam dari arah pintu. Bara amat kesal dengan sikap Ragil, Bara menjadi semakin tidak menyukai Ragil, bara menggenggam tangan nya erat menahan amarahnya. Bara tidak menghampiri citra Karna bara ingin melihat apa yang Ragil inginkan.
"Aku suka sama kamu drin. Kamu mau gak jadi pacar aku?" Kata Ragil menatap wajah Citra.
Citra amat terkejut dengan pernyataan itu, apalagi sepasang mata yang menyaksikan langsung gadis yang ia cintai di sukai laki laki lain.
"Maaf! Audrin belom boleh pacaran." Tukas Bara yang sudah ada di depan Citra menghalangi Ragil.
"Lo siapa? Ngapain ikut campur?!" ketus Ragil jengkel.
"Lo gak perlu tau gue siapa! Yang jelas Lo gak bisa jadi pacar audrin."
"Kenapa?! Gue gak jelek kok." Sarkas Ragil mempertanyakan dirinya.
"Ya karena gue gak suka sama Lo."
"Kenapa harus Lo yang nentuin, gue kan sukanya sama audrin bukan sama Lo."
Bara amat kesal karna Ragil yang ngotot. Karna sudah sangat kesal, bara langsung menyebarkan aura dingin nya dan mengaktifkan mode wilayah kekuasaan.
"Gue bilang gak bisa ya gak bisa! Lo ngerti gak?!" Kata bara dengan wajah suram dan suara menekan di sertai aura dingin yg menyeramkan.
"Eng... Ha- ha harus... Harus audrin yang... Yang mutusin." Ucap Ragil menahan rasa takutnya.
"Kak, udah dong... Aku juga gak mau nerima dia, kak Bara kenapa sih? Ngapain kak Bara harus menekan dia segitunya?"
"Ya... Aku kan... Aku..." Kata Bara terbata bata tidak tau harus menjawab apa.
"Sorry ya Ragil, tapi gue gak suka sama Lo, jadi gue gak bisa."
"Oh O...O... Ok." Ucap Ragil terbata bata melirik Bara.
"Apa Lo?! Pergi gak?!" Sentak Bara kesal.
Ragil pun langsung pergi Karna takut. Ragil seperti memikul batu yang amat besar di bawah tatapan tajam mata Bara.
"Gila... Menakutkan banget! Lebih susah di hadapi dari pada audrin." Ucap Ragil yang berada di luar kelas.
_________
"Kak bara kenapa sih?! Kok jadi emosian gini?" Tanya Citra heran.
Citra memang tidak pernah melihat sisi ini dari bara, Karna bara selalu lembut dan sangat baik pada Citra, bara juga selalu perhatian pada Citra, maka dari itu citra tidak mengetahui sisi lain dari bara.
•Ya namanya juga sama gadis yang disukai dan sangat di jaga sama bara, mana mungkin bara galak sama Citra.
"Eng... Udah deh, lupain aja deh."
"Kak bara aneh." Kata citra kembali membuka buku hariannya.
*Apa kamu bener bener gak tau perasaan aku drin? Aku sayang sama kamu. Jika kamu Siap, aku bisa memetik bunga di hati kamu sekarang juga. Tapi aku gak bisa, aku takut kalo kalo, bunga itu menutup kembali.* Batin Bara dalam menatap Citra.
"Kak? Kak bara?!" Panggil Citra memanggil Bara yang diam membisu terhanyut dalam lamunannya.
"Hello Kak bara?!" Panggil Citra nyaring.
"Ah, iya iya, kenapa drin?" Kata bara yang seketika sadar dari lamunannya saat mendengar suara lantang Citra.
"Kak Bara kenapa sih hari ini? Melamun, marah marah, kenapa sih kak? Kak bara gak enak badan?"
"Ngak kok, aku baik baik aja."
"Ohh, ya udah kalo baik."
________
__ADS_1
~Treng treng treng treng~ Semua Murid di perbolehkan untuk pulang. Silahkan meninggalkan ruang kelas masing masing dengan tertib dan rapi.
Bunyi bel berbicara tiba tiba menyala. Semua orang pun sibuk mengambil tas mereka. Begitu juga Citra, dia sudah menyandang tasnya dan siap untuk pulang. Dan bara masih tetap di sisi Citra.
• DILUAR KELAS.
• HALAMAN SEKOLAH.
"Banyak juga ternyata Murid-murid di sekolah ini." Kata bara yang melihat murid-murid berhamburan.
"Iya, aku juga bilang gitu, udah hampir sama kayak sekolah di Jakarta." Balas Citra tersenyum.
*Kenapa kepala ku sakit ya? Bukannya tadi baik baik aja. Uhh aku gak boleh roboh, aku harus tetap sadar.* Kata citra dalam lamunannya.
BRUKKK!!!......
"Iya drin, aku juga..." Ucapan Bara terputus saat melihat citra terkapar.
"Audrin?!" Teriak bara panik.
Teriakan bara di dengar oleh teman teman Citra yang belum keluar gerbang, mereka pun langsung berlari ke arah Bara dan Citra yang pingsan.
"Ada apa tuh? Ayo ke sana!" Tukas Risa menoleh kebelakang. Dan Langsung pergi menghampiri bara. Begitu juga yang lainnya.
"Audrin? Kamu kenapa? Bangun dong. Jangan buat aku panik." Ucap Bara yang sudah sangat panik.
"Audrin?! Lo kenapa drin?!" Kata Risa yg telah datang bersama yg lainnya.
"Kak, audrin kenapa? Kok bisa pingsan." Kata Fara memegang tangan Citra.
"Lupain itu bentar, aku harus bawa dia berteduh, di sini panas."
"Oh iya iya, kak Bara Bawa ke dalam kelas aja." Kata Risa menatap bara.
Sontak, bara langsung menggendong Citra dan membawanya masuk ke dalam kelas.
"Risa! Audrin habis ngapain sih Ris?! Kenapa bisa pingsan begini?!" Tanya Bara menyentak.
"Aku gak tau kak, Tapi tadi pagi dia main voli. Tapi Citra gak kenapa Napa kok, aku pikir gak ada masalah, aku gak tau kalo efeknya muncul belakangan." Jawab Risa merasa bersalah.
"Kamu itu gimana sih?! Kenapa gak ngingetin audrin?! Audrin belom boleh terlalu lelah sebelum tubuhnya benar benar baik!" Sarkas Bara marah marah pada Risa.
"Maaf kak. Kak Bara tau sendiri gimana sukanya Audrin sama olahraga." Ucap Risa menundukkan kepalanya.
Bara tidak menghiraukan Risa, bara hanya mencoba untuk membangunkan Citra dari pingsan nya, namun tidak ada yang berhasil.
"Kenapa gak bawa audrin ke rumah sakit pakai mobil kak Bara?." Tanya Risa pada bara.
"Gak bisa Risa... Kamu tau sendiri, aku ke sini di antar ayah, sekarang ayah pulang duluan untuk beresin barang barang.
"Audrin... Bangun dong! Audrin. Ahhh! Aku harus gimana lagi?!" Teriak bara putus asa.
Bara terus menepuk pipi citra pelan berusaha untuk menyadarkan Citra. Seketika bara teringat sesuatu.
"Ponsel! Ponsel audrin! Ya Ponsel! ambil Ponsel audrin di tasnya cepat!" Perintah bara pada Risa.
Risa pun segera mencari ponsel Citra di dalam tasnya dengan panik. Risa menggeledah di setiap sisi tas minimalis modern milik Citra untuk bisa menemukan ponsel citra.
"Ini kak." Kata Risa menyerahkan hp citra setelah mengambil nya dari tas milik citra.
"Keluarga keluaga.... Nah ini dia, Dia Riska kakaknya audrin." Kata bara mencari kontak keluarga citra, setelah menemukan nya, bara langsung menghubunginya.
"Halo, Riska kan?!"
"Iya, kamu siapa? Kok bisa pegang ponsel adik aku?" Tanya Riska penasaran.
"Aku gak ada banyak waktu. Sekarang suruh mang iman bawa mobil ke sekolah audrin."
"Ha? Audrin? Maksud kamu Citra?"
"Iya! Citra pingsan. Cepat jemput dia untuk di bawa kerumah sakit, dari tadi Citra gak sadar sadar."
"Apa?! Pingsan?! Agh! Ya udah tunggu ya aku cari mang iman Sekarang." Kata Riska mulai mencari mang iman.
"Iya, cepat ya!"
"Ok ok." Kata Riska sembari mematikan panggilan telepon dari bara.
Riska panik mencari mang iman, saat sudah menemukan nya, Riska segera mengajak mang iman untuk pergi ke SMA angkasa menjemput Citra.
Mama dan papa sedang tidak ada, dan terpaksa hanya Riska yang bisa ikut. Yang kebetulan sedang libur kerja.
• Beberapa saat kemudian.
~ **SMA Angkasa** ~
Riska yang sudah sampai di SMA angkasa berlari kecil menuju kelas citra bersama mang iman.
"Citra?!" Panggil Riska di depan pintu ruang kelas.
"Kak Riska?"
"Risa, Citra kenapa Ris?" Tanya Riska melihat Risa.
__ADS_1
"Loh? Mas bara?! Kok disini?!" Celetuk mang iman terkejut.
"Jadi kamu Bara yang selalu Citra sebut?!"
"Udah jangan banyak bicara dulu. Kita harus cepat cepat bawa audrin ke rumah sakit." Tukas Bara.
"Mang cepat buka pintu mobil." sambung Bara pada mang iman.
"Iya mas." Kata mang iman bergegas pergi keluar gerbang untuk membuka pintu mobil.
Saat sampai di mobil Citra masih dalam pangkuan bara, dan Riska duduk di kursi depan bersama mang iman, sebelum pergi bara bertanya pada teman teman Citra apa mereka mau ikut ke rumah sakit atau tidak.
"Kalian ikut gak?"
"Iya kak kami ikut di belakang mobil nanti." Kata Risa menjawab pertanyaan bara.
"Oh ya udah."
"Pak, saya minta tolong jaga motor audrin sebentar, nanti akan ada orang yg menjemput nya, sekitar 10 menit lagi." Ujar bara lagi pada petugas parkir.
"Baik baik den, percayakan saja sama saya. Semoga cepat sembuh untuk neng audrin."
"Iya pak terimakasih. Mang iman ayo cepat." Kata bara setelah membalas kata kata petugas parkir.
Seketika mobil citra pun melaju pergi dari area sekolah.
"Ayo guys, kita juga harus cepat!"
"Iya iya, ayok." Kata teman teman Citra Secara bersamaan.
Seketika semuanya bergegas pergi ke rumah sakit terdekat. Teman teman Citra mengikuti dari belakang bersama Risa.
Sampai di rumah sakit, Citra langsung menjalani perawatan, dan yg lainnya menuggu di luar ruangan, tidak terkecuali bara yg mondar mandir Karna cemas.
"Duduk dulu mas bara." Ujar mang iman pada bara.
"Mang, aku gak bisa duduk saat audrin seperti ini! Aku liat sendiri wajahnya pucat, Tubuhnya dingin! Gimana saya bisa tenang mang?!" Tukas Bara Sangat khawatir.
Mang iman hanya diam, Karna mang iman tau, Yang selalu baik dan menjaga Citra selama ini adalah Bara, mang iman tau rasa suka bara pada Citra.
"Aduu Audrin-Audrin.... Semoga kamu baik baik aja." Ucap Risa menatap pintu ruang rawat tempat Citra berada.
Riska menatap bara seksama, dia mencari sesuatu pada diri bara, dan Risa menemukan satu hal.
*Kayak nya, Bara ini Suka sama Citra, khawatir nya aja nyata bgt.* Batin Riska menatap Bara.
• Ruang Rawat.
"Gadis muda ini kenapa sus?" Tanya Dokter pada susternya.
"Katanya pingsan karna lelah, yg aneh, dari saat pingsan sampai sekarang belom sadar juga dok." Jawab suster menjelaskan.
"Sudah berapa lama gadis ini pingsan?"
"Dari awal pingsan sampai sekarang, sudah setengah jam."
"Apa?! Orang pingsan ada yg selama ini?!" Kata pak dokter terkejut.
"Tidak dok. Paling lama 15 menit, itu sudah maksimal."
"Ini aneh...Tidak ada masalah dengan jantung, maupun paru paru nya. Ada apa dengan gadis ini?" Kata dokter Punuh tanda tanya setelah memeriksa Citra.
Karna dokter tak menemukan apa apa, akhirnya dokter melakukan pemeriksaan lebih dalam pada citra.
"Ternyata memang fisik nya yang lemah, tapi gadis ini pintar, yg Ia konsumsi adalah makanan bernutrisi untuk tubuhnya."
"Ada apa dengan gadis ini dok?"
"Tidak apa apa, Dia butuh istirahat lama. Dan malah ada kabar baik."
"Apa itu dok?"
"Nanti juga kamu tau. Ayo keluar dulu." Kata dokter pada susternya sembari berjalan ke luar ruang rawat.
Saat sampai di luar, semua orang yg duduk di kursi berdiri semua, kecuali bara yang memang sedari tadi tidak duduk sekalipun.
Semua orang maju ke hadapan pak dokter menanyakan kabar citra, pak Dokter malah memasang wajah sedih dan bersalah pada semua mata yg menatapnya.
"Apa maksud dari ekspresi pak dokter ini? Ada apa dengan adik saya dok?!" Kata Riska tak sabaran.
"Maaf, saya terpaksa harus menyampaikan kabar ini." Kata pak dokter mengerjai semua orang.
"Apa maksud perkataan kamu ini hah?! Jangan macam macam! Bicara yg jelas!" Kata bara berteriak sembari menarik baju pak dokter Karna kesal melihat ekspresi sedih dari pak dokter.
"Mas mas mas! Sabar dulu mas bara." Kata mang iman menarik bara menjauh dari pak dokter.
"Tapi mang iman liat sendiri ekspresi nya itu!" Kata bara menunjuk pak dokter.
"Sabar, yg ingin saya sampaikan adalah..." Kata pak dokter menggantung Kalimatnya.
Semua orang menunggu nunggu pernyataan pak dokter, termasuk teman teman citra yg sudah sangat khawatir.
Sebelum pak dokter menyelesaikan kalimatnya yg di gantung, kedatangan seseorang memecah keheningan itu.
__ADS_1
• KIRA KIRA SIAPA YANG DATANG? UMM BIKIN PENASARAN AJA...•
BERSAMBUNG..........................................