
Kenzo tak henti hentinya menegang saat kaki Bara menapak di jalanan sekitar tempat tinggal keluarga meida. Dengan wajah yang memucat ia menatap Bara yang tampak dengan wajah nya yang tersulut emosi. Mata merah, tangan mengepal dan nafas membunuh yang memburu terpancar dari wajah tampan yang dingin itu.
"Ini benar-benar kediaman keluarga sialan itu?" Tanya Bara Tampa menatap Kenzo.
"Benar Tuan Muda. Menurut penyelidikan ini adalah kediaman keluarga meida, salah satu keluarga berpengaruh di negara ini."
"Apa yang mereka miliki?" Tanya Bara datar.
"Mereka adalah pengusaha perhiasan, dan pemilik perusahaan ternama, perusahaan nya memiliki kerja sama dengan 2 perusahaan yang tak kalah berpengaruh dan Itu adalah perusahaan yang pernah Tuan tolak, mereka juga terjun dalam usaha kuliner." Jawab Kenzo membaca data keluarga meida di sebuah iPad.
"Hanya itu?" Tanya Bara meremehkan.
"Ya Tuan Muda." Jawab Kenzo menunduk.
"Dasar manusia bodoh! Masih berani main main dengan ku dengan status itu?! Benar benar tidak waras!" Cercah Bara meremehkan.
Bara melangkah menuju gerbang rumah itu. Kenzo mengikutinya dengan tegang, ia tau bahwa Bara akan hilang kendali saat ini, namun ia tak berani menghentikan Bara, karena Kenzo tau keluarga meida telah menyakiti orang terkasih Tuan Muda nya itu, yang tentu jika itu terjadi pada dirinya, Kenzo pasti akan melakukan hal yang sama.
Kenzo mengerti dengan perasaan tuan mudanya itu, hanya berharap bahwa keluarga meida masih bisa melihat matahari besok. Batin nya.
"Dimana tuan kalian?" Tanya Kenzo pada penjaga rumah.
"Maaf tuan anda siapa ya?" Ucap penjaga itu balik nanya.
"Dasar tak tau diri, jawab aku! Dimana tuan rumah ini?!" Tekan Kenzo menodongkan pistol.
Seketika penjaga itu pun gemetar, ia berfikir apakah dirinya akan mati hari ini? Hari yang sial baginya berjaga hari ini dimana kedatangan Bara dan Kenzo membawa Malapetaka bagi keluarga meida. Tapi itu lah resiko yang harus diterima karena sudah berani bermain api dengan Bara.
"Tu-Tuan dan nyonya sedang keluar membeli perlengkapan pesta nanti malam tuan."
"Hemm pesta? Ohh hebat juga tuan kalian, bermain api tapi masih ingin berpesta? Haha sungguh konyol, itu hanya akan terjadi jika keluarga ini masih berdiri. Sedangkan kalian sudah bermain api dengan kami, benar-benar bermimpi!" Cercah Kenzo menghina seraya memutar-mutar pistol di bagian lubang untuk menarik magazine dan melepas pelurunya.
"Ken sudah, dia tidak tau apa-apa, kau mundurlah."
"Ha? Oh baik tuan muda." Celetuk Kenzo yang sedikit bingung.
__ADS_1
*Sejak kapan tuan muda berubah? Dia adalah sosok yang tiada ampun saat menghadapi orang yang bermain main dengan nya, namun kenapa ia melepas penjaga ini? Padahal penjaga ini juga termasuk kedalam Keluarga tak tau diri itu.* Batin Kenzo bertanya tanya.
Kenzo mundur perlahan, Kemudian Bara maju ke hadapan penjaga itu yang tentu membuat penjaga itu semakin takut dari sebelumnya. Bagaimana tidak? Secara aura Bara lebih menyeramkan dan menekan dibandingkan Kenzo.
"Pesta apa nanti malam?" Tanya Bara datar.
"Ulang tahun temannya nyonya tuan." Jawab penjaga itu berusaha tenang, bagaimana pun dirinya berstatus penjaga, ia tak boleh tampil lemah.
"Oh ulang tahun. Lalu dimana nona kalian?" Tanya Bara masih tetap datar dan dingin.
"Nona belum pulang tuan. Mungkin sedang bermain dengan teman temannya di luar."
"Oh oh oh! Bagus sekali ****** itu, setelah melukai orang ku masih ada mood untuk main? Haha benar-benar cari perkara." Ucap Bara seraya tersenyum devil.
Penjaga itu menelan saliva nya sulit saat melihat senyuman membunuh milik Bara. Ia benar benar sudah tak sanggup berpura-pura tenang dihadapan laki-laki yang sudah bertampang siap membantai itu.
"Hemm sebentar aku akan berfikir, ah.. begini saja, menurut mu bagaimana aku harus memberikan hadiah? Satu anak peluru? Atau.... Pembantaian?"
Sontak penjaga itu merinding mendengar perkataan Bara. "Tu-Tuan... Anda ini..." Celetuk penjaga itu ditengah tengah ketakutan nya.
"Ohh pasti kamu ingin menyuruhku menembakkan peluru di kepala mereka iya kan? Hoho bagus juga, sepertinya aku harus mempertimbangkan saran mu." Ujar Bara tersenyum manis namun terkesan menyeramkan dan menekan.
"Tuan muda, maaf mengganggu, tuan besar mengirim pesan."
Bara lantas menatap tajam kearah Kenzo yang sudah ada di sisinya. "Jika tak penting abaikan saja." Ucap Bara datar.
"Tapi tuan muda, ini tentang nona." Ujar Kenzo pelan karena gugup
"Apa?! Apa yang ayah katakan?! Audrin tidak Kenapa-napa kan?!" Tanya Bara terkejut seraya mengguncang Kenzo karena cemas.
"Nona baik-baik saja tuan muda." Jawab Kenzo tegang.
Bara menghembuskan nafas lega atas jawaban bawahan nya itu. "baiklah kita bahas di mobil nanti, kau pergilah dulu." Perintah Bara mengibas-ngibaskan tangannya.
"Baik tuan muda." Balas Kenzo menunduk hormat dan kemudian beranjak pergi.
__ADS_1
Setelah Kenzo pergi, Bara kembali menatap penjaga itu, dengan lincah memainkan senjatanya tepat di kepala penjaga itu. Penjaga itu hanya bisa diam ketakutan dan gemetar, ia memejamkan matanya guna bersiap mati kapan saja. Mengapa? Jelas ia tau senjata itu telah menempel di dahinya, yang ia yakini Bara tak akan melepaskan nya. Kapanpun pelatuk itu meluncur, mata ia akan tewas.
"Badut tua, pestanya disini kan? Dan kapan itu dimulai?" Tanya Bara mengelilingi penjaga itu dengan pistol yang juga setia mengelilingi kepala sang penjaga.
"Iya tuan, pestanya dimulai jam-, Jam 8 malam." Jawab penjaga itu menjeda Kalimat nya karena gugup.
"Ohh, bagus bagus, jam 8 berpesta, jam 10, MATI!" Ucap Bara penuh penekanan di akhir Kalimatnya.
"Hahaha katakan pada tuan mu, keturunan Harrison Delwyn akan datang membawa hadiah besar." Sambung Bara dengan tawa khas pembunuh.
Harrison Delwyn, Itu adalah nama Inggris kakek Bara, Nama yang pernah mengguncang negara Paman Sam itu. Siapa yang tak kenal dengan sosok legendaris itu.
"Jangan coba-coba mengatakan yang lain, aku ingin memberikan kejutan hangat untuk tiga keluarga itu! Paham kau badut tua? Atau kau akan... Bam!!!" Tekan Bara mengancam.
"Ba-Baik tuan, saya tidak akan mengatakan yang lain." Tukasnya karena panik.
"Bagus sekali, kau sangat penurut. Jadi peluru ku tak tega untuk menancap mu. Sampai jumpa di malam kehancuran nanti badut tua." Ucap Bara seraya beranjak pergi.
Bara segera masuk kedalam mobil yang sudah Kenzo bukakan pintu. Segera mobil Mercedes Benz C-Class warna hitam itu melesat pergi dengan kecepatan yang lumayan tinggi. Sementara penjaga kediaman meida masih dalam keadaan menegang di tempatnya. Bersyukur dan juga kaget atas apa yang terjadi beberapa menit itu.
*Keturunan Harrison Delwyn? Astaga..... Apa yang terjadi hingga tiga keluarga besar ini menyinggung keluarga menakutkan itu?* Batin nya yang masih tegang dan kaget.
*Habis sudah, sudah bertahun tahun keluarga itu bersembunyi. Perusahaan mereka pun di serahkan pada tangan kanan mereka, apa-, apa tiga keluarga besar yang hebat ini akan musnah malam ini?* Batin nya merinding.
_
_
Setelah menempuh perjalanan yang lumayan panjang, akhirnya Bara tiba di rumah sakit. Bara langsung membuka pintu mobil tanpa menunggu Kenzo untuk membuka nya.
Dengan cepat ia berlari menyusuri koridor rumah sakit hingga ia sampai di depan ruang rawat Citra. Terlihat ayah dan ibundanya juga para anak buahnya masih setia menunggu di depan ruangan itu. Namun tidak dengan Marina, ia pulang beberapa saat lalu karena di telepon orang tuanya.
"Ayah, Bunda, Gimana audrin?" Tanya Bara yang sudah tampak sangat khawatir.
"Masih ada perkiraan 15 menit lagi dia akan siuman." Jawab Lukman mengelus pundak putranya itu.
__ADS_1
"Ba-baiklah ayah, Bunda. Bara temani audrin di dalam." Ucap Bara seraya beranjak pergi tanpa menunggu balasan dari kedua orangtuanya.
BERSAMBUNG..................................................