
"Mak-maksud ayah?" Tanya Bara tak mengerti.
"Dulu kakek mu sebelum meninggal, di nafas terakhirnya ia mengelus perut Bunda, beliau berkata kau akan mirip sepertinya." Jelas Lukman membahas masa lalu.
✿ Flashback on ✨
"Ayah, ayah harus bertahan. Sebentar lagi cucu ayah akan lahir." Ujar Lukman penuh harap dengan mata yang berkaca-kaca.
"Lukman, ini memang saat terakhir ku. Jangan bersedih. Sebagai anak ku kau harus kuat, ingat jaga perusahaan."
"Ayah...." Lirih Lukman tak sanggup mendengar ucapan sang ayah.
"Lista, kemarilah." Ucap Haris memanggil Lista untuk mendekat.
Haris, itu adalah nama kakek Bara. Sang pengusaha yang sangat terkenal Tegas dan bijaksana. Ia juga sosok kejam saat mengahadapi musuhnya.
"Iya ayah, ada apa?" Tanya Lista Lirih memegang bahu ayah mertuanya itu.
"Kalian berdua dengar lah, Jaga markas itu untuk anak kalian nantinya. Ia akan mirip dengan ku, dan juga jika cucu ku ini telah lahir, Berikan ia nama Bara, Sebuah nama yang Cocok untuk sifatnya kelak, Membara seperti lautan api yang akan mengguncang dunia perbisnisan di seluruh negeri."
"Dan ingat lah, jika ia tak terlalu tertarik dengan dunia bisnis, jangan memaksakannya, biarkan ia memikirkan nya sendiri." Sambung Haris seraya mengelus perut besar Lista.
✿ Flashback off 👌
"Setelah mengatakan itu, ayah pun menghembuskan nafas terakhirnya." Ucap Lukman sendu.
Lista selaku sang istri refleks mengusap punggung Lukman saat melihat raut wajahnya yang sendu akibat mengingat mendiang sang ayah.
"Jadi wasiat kakek yang membuat ayah tidak memaksa ku untuk masuk dunia bisnis?" Tanya Bara menebak pasti.
"Benar, dan ayah senang kamu bersedia mengemban tanggung jawab itu sekarang." Jawab Lukman mengangguk kecil.
"Sepertinya ayah sudah memperhitungkan segalanya. Bara, kakek mu pasti senang bahwa cucu tercintanya telah tumbuh dewasa." Sambung Lista menimpali seraya tersenyum dan melihat langit langit rumah sakit seolah melihat sosok mendiang ayah mertuanya.
Bara pun diam, ia membayangkan wajah sang kakek yang bahkan tak sempat ia lihat, ia hanya tau wajahnya Karena sebuah foto keluarga. Jika tidak maka ia tak akan pernah tau bagaimana rupa sang kakek yang menjadi legenda dalam bisnis.
"Bara, Berapa bawahan yang kamu punya saat ini?" Tanya Lukman menatap Bara serius.
"Eng... Itu... Se- Seribu orang lebih ayah." Jawab Bara membuang muka seraya menggaruk pipinya dengan telunjuknya. Yah itu kebiasaan Bara jika merasa gugup dan canggung.
CEKLEKK
"Tu-Tuan...." Ucapnya pelan karena gugup.
Bara yang mendengar itu sontak menoleh. "Bagaimana dia? Baik baik aja, kan?!" Tanya Bara sedikit membentak dan cemas.
"Tuan, Kondisinya amat lemah, nona juga memiliki riwayat tubuh lemah dari awal, di tambah lukanya yang terendam air yang hampir menyebabkan radang. Saya takut jika kami--" Ucapannya di potong saat terakhir.
__ADS_1
"Lakukan yang terbaik! Jika aku mendengar kabar buruk dari mulut mu, maka kau tak akan bisa melihat bulan malam ini!" Tekan Bara membentak tak ingin mendengar kata terakhir yang akan dokter itu katakan.
Dokter itu terdiam. Ia bingung ingin mengatakan apa. Kondisi Citra amat kritis karena kondisi tubuhnya dari awal. Dan sekarang bertambah luka bekas pembullyan itu.
"Ken!!" Sentak Bara memanggil Kenzo.
Kenzo pun maju mendengar panggilan dari tuan mudanya. "Ya tuan muda." Ucapnya sopan menghadap Bara.
PRAKK KREKKK
Sebuah bunyi senjata menggema di telinga Kenzo, ia bingung dari mana bunyi itu karena senjatanya masih di kantongnya dan tak ia pegang sedikitpun.
"Dengar baik-baik! Nyawa mu tak berharga untuk ku! Tapi jika dia... Ckck KAU AKAN IKUT BERSAMANYA!!" Tekan Bara mengancam dengan pistol mengarah tepat ke kepala dokter itu seraya tersenyum devil.
Semua orang di sana pun tersentak, mereka terkejut dengan apa yang Bara lakukan. Lista hanya bisa menutup mulutnya karena terkejut putranya bisa sekejam itu.
*Sejak- Sejak kapan tuan muda mengambil nya dari ku?* Batin Kenzo terkejut dan Tampa alasan tangannya bergetar hebat.
*Ayah! lihatlah cucu mu ini, Bara benar benar mirip dengan mu, tapi apa yang sebenarnya terjadi hingga ia bisa sekejam ini pada seorang dokter?* batin Lista lirih.
"Cepat masuk!! Selamatkan dia! Lakukan segalanya atau nyawamu berakhir di ujung peluru ini!!" Tekan Bara.
"MASUK!!" Bentak Bara yang sontak membuat dokter itu secara naluriah langsung masuk.
Setelah dokter itu masuk Bara pun duduk lemas di lantai. Ia benar benar sudah tak tahan berpura pura kuat.
"Hiks Audrin ayah..." Lirih Bara dengan tangis yang menggema di telinga Lukman.
Sungguh bagai Guntur di hari cerah jawaban yang Bara lontarkan. Lukman pun sigap memeluk putranya itu guna memenangkan nya yang sudah gemetar hebat.
Sementara Kenzo langsung berbalik badan menghadap ke arah lain saat melihat sisi lemah Bara. Melihat Kenzo berbalik anak buahnya yang lain ikut berbalik kearah lain guna menghindari apa yang seharusnya tidak mereka lihat. Kenzo menuntun semuanya menjauh Tampa suara menghindari perhatian orang tua tuan mudanya.
______________
_____
"Dok Bagaimana ini? Lukanya berhasil dibersihkan. Namun kondisinya tak henti hentinya menurun." Ujar dokter lain yang mengawasi Citra.
"Kita harus berusaha sebisa mungkin." Tegas dokter itu seraya memakai masker nya.
"Tapi kenapa aku yang dokter kandungan juga jadi kena sih?" Celetuk nya heran.
"Sudah jangan banyak omong! kau mau mati ya? Keluar gadis ini bukan orang sembarangan." Balas nya tegas.
"Dokter gawat! Detak jantung nya menurun!" Celetuk dokter kandungan itu yang menjadi pengawas Icd monitor.
"Apa?! Cepat ambil AED (Automated External Defibrillator)." Ucap dokter itu memerintahkan.
__ADS_1
Salah satu dokter pun buru buru mengambil alat yang diminta dokter tersebut. Sementara dokter yang lain berusaha memompa detak jantung Citra dengan tangannya berusaha mempertahankan detak jantung nya untuk tetap stabil.
"Ini dok." Ucap dokter tadi menyerahkan AED itu.
"Cepat cepat, 1, 2, 3, Ayo." Ucapnya menggosok alat itu seraya menatap ke arah Icd monitor dan kemudian menempelkan nya ke dada Citra.
Deg
Satu percobaan tak membuat detak jantung Citra kembali. Para dokter itu tak menyerah, mereka masih mencoba hingga percobaan ketiga.
Deg
Titt..............
"Tidak tidak! Kembali lah! Kembalilah! Nona kembalilah! Aku tak ingin mati!" Tukas nya berusaha memompa dada Citra dengan cemas saat melihat Icd monitor nya bergaris lurus.
Sementara dokter yang terus di tekan Bara tadi berusaha sekuat tenaga, salah satu dokter keluar dengan membawa berita buruk di telinga Bara dan semuanya.
"Tuan, Maaf. Nona tak bisa di selamatkan." Ujarnya yang membuat Bara seketika tersentak.
"KAU BERANI MENGANTAR BERITA BURUK PADA KU!!" Sentak Bara siap menembak mati dokter itu namun Lista dan Lukman buru buru menenangkan.
"Nak tenang nak, ini rumah sakit." Ujar Lista berusaha membujuk sementara Lukman menahan pistol di tangan Bara ke arah lain.
"Aku tak peduli!" Sentak Bara emosi.
"Bara dengarkan ayah! Lepaskan dokter ini, kondisi audrin yang lebih penting, ayah percaya dia tidak akan semudah itu meninggalkan mu." Ujar Lukman menenangkan.
Bara terdiam, kemudian ia menurunkan senjatanya dan melemparkannya ke sembarang tempat. Ia menerobos masuk kedalam ruangan dimana Citra terbaring dengan dokter yang masih berusaha keras disana.
"Pergi kau!" Sentak Bara mendorong dokter itu.
Bara menatap Icd monitor dan Lalu menatap Citra yang terbaring lemah di depannya itu. Ia benar benar tak percaya dengan apa yang ia lihat.
"Tidak! Kamu pasti sedang menjahili ku kan? Bangun! Candaan mu tak lucu. Audrin bangun! Audrin!" Sentak Bara frustasi mengguncang tubuh Citra pelan. Namun yang di panggil tak bergeming sedikitpun.
"Akhhh tidak! Kau tidak boleh meninggalkan ku atau rumah sakit ini akan ku hancurkan dalam semalaman! Bagun! Bangun! Kumohon kembalilah!" Tekan Bara dalam keputusasaan nya.
Bara terus memompa dada Citra guna berusaha mengembalikan detak jantung Citra, berkali kali nafas buatan ia berikan dan ia ulang berkali kali memompa detak jantung itu hingga saat terakhir........
Air mata Bara jatuh di pipi putih Citra. Perjuangan Bara tak kunjung berhasil mengembalikan detak jantung Citra. Bara Memeluk Citra dengan histeris, tangisnya pecah di dalam ruangan itu bahkan kedua orangtuanya dapat mendengar itu.
"Kau harus bangun... Ahk hk hk hk! Hiks." Tangis Bara tersedu sedu pecah tepat di telinga Citra yang sedang ia peluk.
APA BENERAN CITRA UDAH MENINGGAL??? 😱🥺
BERSAMBUNG.............................................
__ADS_1