
Setelah agak lama, Citra terbangun lagi Karna cahaya matahari menyinari Matanya. kali ini pelukan Bara agak longgar dari sebelumnya. Jadi Citra dapat bangun dan menutup gorden lapisan kedua.
"Nah... Seperti ini tidur kak Bara gak akan terganggu." Ucap Citra setelah menutup gorden.
KRIETT ~Riska membuka pintu. 😀
Citra menoleh seketika saat Riska membuka pintu ruangan.
"Kamu udah bangun?" Tanya Riska yang melihat Citra.
"Shutt, mbak jangan berisik, Kak bara masih tidur." Jawab Citra menunjuk ke arah Bara.
"Upss, maaf maaf, aku kira kalian sudah bangun." Ucap Riska memelankan suaranya.
"Ada apa bak?"
"Kamu cepat ganti baju, bentar lagi Kita pulang, mbak udah melapor sama pak dokter."
"Ohh iya." Kata Citra mengambil baju gantinya dan masuk ke kamar mandi yang ada dalam ruangan dan segera berganti baju.
Bara yang tidur telah bangun, Bara yang tidak melihat Citra saat membuka matanya membuat Bara cemas mencari.
"Audrin? Dimana dia?" Ucap Bara berdiri mencari Citra.
"Audrin?" Panggil Bara lagi. Namun sekarang dengan suara yang nyaring.
"Kak Bara udah bangun? Aku di kamar mandi kak." Teriak Citra dari dalam kamar mandi menjawab panggilan Bara.
"Kamu gak papa Drin?" Tanya Bara yang ada di balik pintu kamar mandi.
"Gak papa kok kak, audrin lagi ganti baju."
"Ohhh ya udah, aku tunggu di Sofa ya Drin."
"Iya."
_________
• Beberapa saat kemudian.
"Audrin? Kenapa lama? Ada apa?" Tanya bara mendekati pintu kamar mandi karena sedari tadi Citra tidak selesai selesai berganti pakaian.
Citra tidak menjawab panggilan Bara, citra malu untuk mengatakan apa yang terjadi.
"Drin? Kamu gak papa kan? Jangan buat aku khawatir deh."
"Drin? Aku buka pintunya ya?"
"Eh jangan jangan kak, Aku baik baik aja kok." Kata Citra dengan sigap setelah mendengar pertanyaan dari Bara.
"Kenapa gak keluar keluar kalo gak papa? Ada apa Drin?"
*Aduu gue harus jawab apaan nih, masa harus bilang kalo resleting nyangkut?! Malu gue..* Batin Citra menggeleng gelengkan kepalanya.
"Drin? Kenapa sih? Udah ganti baju kan?!"
"U-udah! Tapi..."
"Tapi apa? Aku masuk ya?" Kata bara membuka pintu kamar mandi.
Citra sontak terkejut dan langsung menyandar ke tembok kamar mandi di belakangnya.
"Drin? Kamu kenapa sih? Udah ganti baju kok gak keluar?" Kata bara mendekati Citra.
"Kak bara jangan maju, tetep disana aja! Ja-jangan kemari." Kata Citra merasa canggung.
"Ada apa sih Drin? Kamu aneh banget." Kata bara mengabaikan perkataan Citra dan maju mendekati Citra.
Citra hanya menundukkan kepalanya. Tidak mau melihat bara.
"Drin? Ada apa sih?"
"Anu kak.... Res-Res... Res-Resletingnya..." Kata Citra tergagap melihat Bara dengan wajah memelas.
"Resleting nya kenapa?"
"Res-Resletingnya... Resleting nya nyangkut."
"Puftt!!! Kamu kenapa gak bilang dari tadi? Aku kan bisa bantuin kamu."
"Tuh kan ngetawain!! Aku malu... Kak bara belom pantes buat bantuin aku perbaiki resleting."
"Ya udah sini."
"Kak bara mau ngapain? Kak Bara gak dengar aku tadi bicara apa?"
"Denger kok! Tenang aja, aku gak akan liat, kamu gak perlu berpaling, tetap menghadap aku dan tatap mata aku. Aku akan menatap mata kamu sambil memperbaiki resleting nya. Gak masalah kan?"
"O-Ok." Ucap Citra mulai maju mendekati Laki laki tinggi di hadapannya itu.
"Sini, tatap mata aku." Kata bara mendekap Citra dalam pelukannya.
Citra hanya diam, Citra menatap mata Bara seksama, Bara pun juga begitu, Bara menatap mata Citra sembari memperbaiki resleting baju Citra.
Mata mereka saling menatap, dan resleting yang telah di perbaiki bergerak sealunan nada detak jantung Bara dan Citra.
"Drin, Kamu Cantik." Kata bara yang terpesona dengan kecantikan dari gadis di hadapannya itu.
"Ap-apaan sih?! Gombal muluk."
"Aku serius! Andai kamu Istri aku, mungkin udah aku makan kamu." Kata bara yang sudah selesai dengan resleting baju Citra.
"Ahh, bicara omong kosong apaan sih! Ayo keluar, kita udah di tunggu mama."
".... Ok."
********
• Rumah Citra.
"Aku kira kak Bara Bawa Mobil, ternyata pakek sepeda motor.
"Ya kamu tau sendiri, aku lebih suka pakek sepeda motor dari pada pakek mobil."
"Kapan motor kak Bara Ada disini? Waktu datang aja bukannya di antar Om Lukman ke sekolah?"
__ADS_1
"Pas aku pulang dari rumah sakit motor aku udah ada di samping rumah."
"Seneng dong!"
"Iyalah seneng."
Bara dan Citra mengobrol seru di Ruang tamu. Bercanda, kadang kadang Bara menggoda Citra. Mereka berbincang agak lama hingga mama datang memanggil.
"Nak bara, ayo ke belakang. Kita makan bareng."
"Nah, ayo kak, Kak bara Dari semalam belom makan kan?!
"Beneran?! Ya udah ayok cepat, jangan sungkan, anggap aja rumah sendiri."
"Gak nolak nih ya Tante Hahaha."
"Harus gak nolak dong, Calon mantu kenapa harus nolak?"
"Ih mama! Bercanda muluk ih!" Teriak Citra jengkel.
Citra Bara dan yang lainnya makan bersama. Niatnya mau sarapan ehh waktunya kesiangan. Udah terhitung makan siang aja ini.
Saat makan bareng, Citra angkat bicara, Citra mengatakan pada mama tentang kontrak yang Citra terima waktu itu.
"Ma, Citra ada terima kontrak baru, tadi kak Eza hubungi citra dan bilang pemotretannya akan di adakan 2 hari lagi."
"Khukk!! Dimana? Kondisi kamu baru pulih nak, Jangan terlalu lelah dulu."
"Di pulau Senka ma. Cuma pemotretan kok, gak akan terlalu lelah."
"Pulau Senka? Deket dong. Tapi bukannya pulau itu udah lama kosong ya? Kenapa mau di jadikan tempat pemotretan?"
"Mungkin Karena pemandangan nya yang indah ma."
"Iya sih, pulau itu emang bagus banget Cit."
Bara hanya diam, Bara mencerna setiap kalimat Citra sembari memakan makanannya. Bara berfikir mengapa Eza tidak memberitahunya. Karna biasanya, jika Citra menerima kontrak baru, Eza akan melapor pada bara.
"Drin, aku ikut ya?" Kata bara menghentikan makannya.
"Emm boleh kak, Kan lumayan pawang gratis."
"Eh kamu ini... Enak aja sebut aku pawang."
"Mau gak?"
"Ya mau sih."
"Ya udah, gak salah dong aku sebut kamu pawang."
"Khuk khuk!! Tadi kamu panggil aku apa? Kamu?" Tanya Bara memastikan.
Bara tersedak dengan panggilan dari Citra, memang ini pertama kalinya citra memanggil bara dengan sebutan kamu. Bara amat senang mendengar panggilan itu keluar dari mulut Citra langsung.
"Kak...kak Bara salah denger! Ma, Citra pergi duluan udah kenyang."
Citra beranjak pergi dari meja makan, Bara pun menyusul Citra pergi, mama dan Riska hanya tersenyum melihat tingkah bara dan Citra.
"Drin! Tunggu."
Citra menghentikan langkahnya di taman bunganya, Dia duduk di bangku yang sudah terpasang khusus. Taman itu adalah tempat favorit Citra yang kedua setelah kamar dan balkon nya.
"Bagus banget Drin."
"Disini adalah tempat yang sering aku kunjungi beberapa hari lalu."
"Ngapain?" Tanya Bara yang duduk di sebelah Citra.
"mengingat seseorang." Jawab Citra tersenyum miris.
"Siapa?"
"Aku tidak tau harus menyebutnya bagaimana, tapi yang pasti... Seorang laki laki Yang istimewa bagi ku."
"Laki-laki?!" Kata Bara terkejut dengan rasa kecewa dihatinya.
"Pacar kamu?" Tanya bara lagi memastikan.
"Bukan, tapi aku menunggu keseriusan nya."
"Siapa laki laki itu?"
"Ada deh.... Kak bara gak perlu tau, kalo tiba saatnya aku akan memperkenalkan sendiri laki laki itu."
Bara menunduk dengan senyuman terpaksa nya, Bara merasakan sakit di hatinya. Dia menduga, alasan penolakan Citra terhadap nya, Karna Citra telah menyukai orang lain.
"Kenapa diem kak?"
"Eng.... La-lagi mikir, Taman bunga seindah ini bagaimana cara kamu merawat nya."
"Sekarang aku serahin urusan taman ini sama pak Jaka."
"Ohhh, udah cocok tuh, pak Jaka kan suka sekali berkebun."
"Nah itu kak Bara tau."
Bara berusaha berbicara dengan biasa saja. agar bara tidak canggung di hadapan Citra. Mereka berdua berbicara asik, sampai bara pergi untuk menelepon seseorang.
"Halo, za."
"Eh mas bara? Ada apa mas?"
"Ada apa- ada apa! Kenapa kamu gak bilang audrin ada kontrak baru?!"
"Kemarin saya pergi ke rumah mas bara untuk cari mas bara, tapi orang orang bilang lagi pergi liburan."
"Bukan liburan, Aku ke kampung!"
"Ha? Kampung? Mas bara juga tau pergi ke kampung?! Ya Allah... Aku pasti berkhayal ini."
"Mengkhayal apaan sih!! Aku beneran di kampung! Kenapa begitu banget kamu?!"
"Ya... Secara, mas Bara kan adalah...."
"Diam!! Atau aku akan memecat mu dari pekerjaan manajer Audrin."
__ADS_1
"Ya ampun mas... Kan saya gak jadi bilang. Jangan dong mas."
"Makanya kerja yang benar! Jangan banyak omong kosong."
"Iya mas, gak lagi deh!"
Bara dan Eza berbincang di telepon lumayan lama. Eza adalah salah satu orang kepercayaan Bara, Bara sengaja memperkerjakan Eza sebagai manager Citra, agar Bara bisa menjaga Citra melalui Eza.
Bara berada di rumah Citra lumayan lama, bara sempat shalat dhuhur bersama keluarga Citra, setelah itu dia berpamitan untuk pulang, Karna masih punya kerjaan yg belum selesai.
___________
_______
• 2 Hari Kemudian.
Citra sudah siap untuk pergi ke pulau Senka, Citra sudah dalam perjalanan menuju pelabuhan, setibanya di pelabuhan, Citra menghubungi Bara untuk bertanya bara ada dimana.
"Kak, kak Bara dimana?"
"Di pelabuhan Drin."
"Dimana? Kok aku cari gak ketemu ketemu?" Ucap Citra menoleh ke sana kemari.
"Makanya cari pakai hati dong!"
"Apaan sih!!"
"Aku serius, coba aja kalo gak percaya."
"Gimana caranya?"
"Tutup mata kamu, bayangin aku, panggil namaku."
"Ihhh ngapain! Ngak ah! Kak bara cepet kesini!"
"Aku gak bisa kalo Gk kamu panggil."
"Kak bara jangan bercanda lagi deh. aku matikan telepon nya nih ya!"
"Pokoknya aku mau kamu panggil." Ucap Bara manja.
"Ihh kayak anak kecil."
"Cuma sama kamu loh ini."
Citra hanya diam, Tampa sadar terukir senyum manis di antara bibirnya.
Citra melakukan apa yang Bara mau, Citra menutup matanya, membayangkan kehadiran Bara, dan menyebutkan nama bara. Saat Citra membuka matanya, laki laki tinggi telah ada di hadapannya.
Citra mendongak untuk melihat laki laki yang berdada bidang di hadapannya.
"Kak...Kak Bara?!" Kata Citra sedikit terkejut.
Citra terdiam sejenak hingga akhirnya, Bara melontarkan pertanyaan.
"Ada apa? Kok diem?"
"Ah! Eng.... Gak papa kok kak." Kata Citra langsung memalingkan wajahnya.
"Huftt!! Ya udah yuk, Kita naik ke kapal sekarang, Eza udah nungguin dari tadi." Kata bara memecah kecanggungan Citra.
"Ok!" Kata Citra tersenyum.
"Pantai!! Aku datang..." Teriak Citra gembira.
"Dasar... Suatu hari, akan aku bangun sebuah Villa di dekat pantai untuk mu, agar kamu bisa menikmati suasana pantai sepuasnya." Kata bara pelan sembari menatap Citra.
Bara menyusul Citra naik ke atas kapal, Citra memakai rok biru dengan motif jaring jaring di bagian luarnya, di padukan dengan baju pendek berlengan panjang transparan berwarna putih, tidak lupa topi di kepalanya.
Citra tampak manis dengan tampilan itu, bara memakai baju kaos putih dan celana jeans Hitam. Dengan hiasan kacamata sebagai pelengkap.
Semua orang berlayar dengan gembira. Namun mereka yg awalnya di luar menikmati pemandangan terpaksa masuk kedalam kapal Karna cuaca mulai mendung.
"yah! Kok mendung sih? Padahal lagi seru serunya." Kata citra melihat ke langit.
"Drin, cepat masuk, jangan terus di luar Drin, sebentar lagi bakal turun hujan." Kata bara menghampiri citra.
"Oh iya ya kak, yuk masuk." Kata Citra beranjak pergi.
Bara mengikuti langkah Citra masuk ke dalam ruangan kapal pesiar itu, Di dalam kapal, Citra masuk ke dalam kamarnya, Dan Bara juga masuk ke dalam kamarnya yang terletak di sebelah kamar Citra.
"Wah! Di depan itu kan pulau Senka! Ternyata udah hampir sampai." Kata Citra yang melihat pulau Senka dari balik jendela.
"Sepertinya Di sana cerah! Hanya hujan setengah wilayah rupanya." Kata Citra yang terus memandangi langit.
Setelah beberapa menit melewati wilayah laut yang turun hujan, akhirnya semuanya tiba di pulau Senka, sepuluh menit dari ketibaan mereka di pulau Senka, grup fotografer profesional dari perusahaan "beauty dress Design" mempersiapkan perlengkapan pemotretan.
Citra juga sedang bersiap di dalam kapal pesiar, Dia dibantu oleh perias untuk merias wajahnya, Citra memakai gaun pengantin berwana putih agak kebiruan, di padukan dengan hiasan berlian kecil dan manik manik di bagian bawah gaun. Tampak indah dan pas di badan citra.
"Wahh nona tampak cantik sekali!" Kata perias mengagumi kecantikan dari Citra.
"Ahh tidak, Kamu berlebihan bak."
"Sungguh, padahal masih 17 tahun, tapi dengan riasan ini seperti wanita 20 tahunan yang sudah Siap naik ke pelaminan! Seperti pengantin sungguhan saja."
"Apa aku kelihatan tua?" Tanya citra sembari melihat dirinya di cermin.
"Tidak nona, anda tampak sempurna!" Jawab perias begitu bersemangat.
"Iya kah? Apa benar cocok sekali?"
Citra memutar badannya sembari melihat ke cermin, Citra ingin sekali melihat jelas seberapa cocok dirinya memakai gaun itu.
"Be...." Ucap perias yang terputus karna seseorang mengetuk pintu.
"Tok tok tok"
"Sebentar!" Kata perias beranjak kearah pintu.
"Siapa?" Tanya Perias sembari membuka pintu.
• SIAPA KIRA KIRA YANG DATANG? YUK KITA SIMAK LEBIH LANJUT DI EPISODE SELANJUTNYA.... BYE.
BERSAMBUNG..........................................
__ADS_1