
Suasana hening yang mencekam membuat semua yang ada di ruangan itu bergidik ngeri. 3 orang tawanan itu merinding melihat raut wajah yang tampan namun sekarang suram dengan nafas memburu yang begitu mengancam.
"Hari ini kalian berdua bebas! Tapi ingat baik-baik, jika kalian macam macam lagi nyawa kalian ada di tangan ku, bahkan kekasih ku pun tak bisa mencegah ku! Paham kalian!!" Tekan Bara menjambak rambut keduanya.
"Pa-Paham..." Lirih Helena menahan sakit.
Berbeda dengan Jessi yang hanya diam, dirinya benar-benar lemah karena basah kuyup semalaman. Hanya air mata yang menjadi jawaban kesedihan dan rasa sakit yang ia rasakan.
"Mereka bebas? Lalu aku?!" Sentak Oliv penuh pertanyaan.
Bara lantas melepaskan rambut kedua gadis itu. "Hahahaha." Tawa lepas Bara membuat suasana mencekam itu semakin menjadi.
"Mimpi!!" Sambung Bara menyentak tepat di depan wajah Oliv.
Bara mengibaskan tangannya tanda memerintah yang lain pergi dan melepaskan Helena dan Jessi. Bara hanya meninggalkan Kenzo untuk tetap tinggal di ruangan mencekam itu.
"Lepaskan aku!! Mengapa mereka bebas dan aku tidak?! Lepaskan aku bedebah!!" Teriak Oliv memberontak.
"Karena kau telah membuatnya terluka! Bebas hanya akan menjadi angan mu!" Sentak Bara mencekik Oliv dan kemudian menghempaskan nya setelah Oliv merasa sesak.
"Kau akan terus merasakan penderitaan seperti ini, perasaan yang lebih baik mati dari pada hidup! Sebaiknya kau nikmati permainan ini baik baik, kalau tidak, permainan ini tidak akan seru." Ujar Bara panjang lebar dan tersenyum devil lalu beranjak pergi.
*****
"Alice, dimana ponsel ku?" Tanya Citra meminta ponselnya.
"Ini Nona." Ucap Alice menyerahkan ponsel milik Citra.
"Terimakasih." Ujar Citra tersenyum.
DLING.... DLING......
"Eh, baru juga mau di telepon. Panjang umur banget." Celetuk Citra tersenyum.
"Halo Kak, Gimana udah sampai kampus?" Sambung Citra bertanya.
"Udah sayang, kamu udah sarapan?" Jawab Bara berbohong sekaligus bertanya balik.
"Sudah." Jawab Citra singkat dan tersenyum.
"Istirahat nya cukup?"
"Iya.
"Udah baikan belom?"
"Udah kok."
__ADS_1
"Butuh dokter untuk periksa lagi?"
"Gak usah kak." Jawab Citra tersenyum canggung.
*Aduh kak Bara nih banyak nanya nya ya Allah... Jadi gemes.* Batin Citra terkekeh kecil.
"Tangan kamu masih sakit gak?" Tanya Bara sendu.
Citra lantas terdiam, dirinya teringat akan rasa sakit melukai dirinya sendiri, juga teringat bahwa orang yang ia cintai telah membohonginya bertahun-tahun.
"Jika tidak ada kejadian ini, apa kau akan terus membohongi ku?" Tanya Citra dengan Isak tangis yang dirinya tahan.
Deg.....
Jantung Bara terasa berhenti sesaat mendengar pertanyaan dari Citra, Jujur dirinya tak ingin membohongi Citra, namun kenyataannya ia telah melakukan nya.
"Audrin Maaf... Aku tak berniat membohongi mu, aku berencana jujur di waktu yang tepat." Ujar Bara lemah mendengar Citra yang memanggilnya dengan sebutan KAU bukan kamu.
"Tapi kapan itu? Nyatanya kau membohongi ku, bahkan bertahun-tahun. Kenapa kau setega itu?" Tanya Citra dengan Isak tangis yang sudah tak dapat ia tahan.
"Audrin aku mohon jangan menangis, aku janji kedepannya tidak akan menyembunyikan apapun lagi." Ucap Bara merasa bersalah.
tidak terdengar apapun dari Citra, namun sesaat kemudian sebuah teriakan di sebrang telepon membuat Bara tersentak kaget dan khawatir. Bara langsung mematikan panggilan teleponnya dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju mansion besar Handika.
Hanya tinggal beberapa KM saja sampai di kampusnya Bara harus putar balik karena sebuah teriakan heboh dari maid di mansion Bara yang terdengar ke telepon.
20 menit, yah hanya 20 menit waktu yang Bara butuhkan memecah jalanan ramai dengan kecepatan tinggi. Jangan ragukan lagi kemampuan Bara mengendarai mobil dirinya bisa menerobos keramaian tanpa khawatir dengan kecelakaan.
"Tuan Muda." Sambut seorang maid paruh baya menghampiri Bara.
"Dimana Audrin?" Tanya Bara panik dengan bahasa internasional nya.
"Di kamar sedang di periksa oleh dokter Joshua." Jawab nya menunduk.
Bara lantas langsung berlari menaiki anak tangga berlekuk di mansion nya. setelah sampai di kamarnya, Bara membuka kasar pintu kamar karena rasa khawatirnya.
"Bunda, Audrin- Audrin gak apa-apa kan? Apa kata dokter? Apa yang terjadi sebenarnya?" Ujar Bara menghujani sang ibu dengan berbagai pertanyaan.
"Bara tenang, Dokter masih memeriksa nya, duduk dulu." Ujar Lista berusaha menenangkan putranya itu.
"Tidak aku tidak bisa tenang bunda, Bunda tau sendiri arti Audrin untuk ku kan?" Titah Bara cemas.
"Iya bunda ngerti, tapi tenanglah jangan menggangu dokter memeriksa Audrin." Ucap bunda Lista mengangguk.
Bara pun mencoba untuk tetap tenang, Ia menunggu dengan perasaan berkecamuk, pikiran nya was-was memikirkan Citra.
Di tengah kecemasannya dokter berpaling dan menatap Bara, Bara was-was dan sontak menanyai kondisi Citra yang di balas gelengan kepala oleh dokter yang kerap di panggil Joshua itu.
__ADS_1
"Apa maksudmu?" Tanya Bara dengan Bahasa internasional nya.
"Saya membaca laporan kesehatan nya kemarin semuanya baik baik saja, namun saya sarankan nona segera di bawa kerumah sakit." Jawab Joshua berat.
"Maksud anda apa?" Tanya Lista yang ikut khawatir.
"Saya menemukan bahwa nona menghirup gas berbahaya, dan itu harus segera di bersihkan sebelum menyerang paru-paru nya." Jawab Dokter Joshua berat.
"Kalau begitu apa yang kau tunggu!! Cepat siapkan Semuanya di rumah sakit! Aku akan segera membawanya." Sentak Bara tak sabaran karena cemas.
Dokter Joshua tak bisa mengatakan apapun, ia diam dan mengangguk kemudian langsung beranjak pergi untuk menuju kerumah sakit.
Bara tak menunggu waktu lagi, ia segera membawa Citra kerumah sakit dan menjalani perawatan disana. 1 jam lamanya dokter mengambil tindakan pada kondisi Citra, kemudian dokter Joshua menemui Bara dan mengantar kabar baik.
"Gas berbahaya itu sudah berhasil di bersihkan. Namun pasien belum bisa di temui sampai 7 jam ke depan." Ucap Dokter Joshua menghela nafas.
"Baiklah, terimakasih sudah berusaha, dan maaf atas perilaku saya tadi dokter Joshua." Ucap Bara tulus.
Dokter Joshua lantas terdiam dan kaget, ia tercengang mendengar kata maaf dari mulut Bara yang belum pernah ia dengar.
Dokter Joshua pun gagap, ia tidak tau harus mengatakan apa, dirinya merasa tak pantas untuk menerima permintaan maaf itu dan juga tidak enak jika tidak membalas permintaan maaf tersebut.
Dokter Joshua memilih menjawab dengan senyuman dan kemudian pamit pergi, setelah itu Bara pamit pada Lista dan meminta Lista menjaga Citra dengan baik selama ia pergi.
Lista lantas mengangguk dan menasehati putranya itu untuk menahan emosinya, sebab Lista tau kemana putranya itu akan pergi.
"Aku akan berusaha Bunda." Ucap Bara seraya beranjak pergi.
SKIP BIAR CEPET YA HEHE 😁
****
Sampainya di markasnya Bara memerintahkan semua anak buahnya keluar dari markas, ia menemui Oliv sendiri dengan Kenzo yang menjaga pintu memastikan tak ada bawahan nya yang berani menguping.
"Itu kau, iya kan?" Tanya Bara santai namun tampak menekan.
"Apa?! Oh hahaha jangan jangan dia sudah mau mati ya? Hahaha itu memang pantas untuk nya!" Tukasnya tertawa puas.
PLAKKK!!!
Tamparan mulus mendarat di pipi putih Oliv hingga ia hampir menangis menahan sakit yang ia rasakan.
"Apa kesalahannya terhadap mu hah?! Mengapa kau bisa senekat itu?!" Tekan Bara suram.
"Kau bertanya apa salahnya?! Dia sudah merebut perhatian dosen yang aku kagumi dari ku!! Dia telah merebut sorotan yang seharusnya milik ku!! Dia telah merebut semua milik ku!! Apa kau tau betapa sakitnya saat semua yang kau miliki tiba tiba direbut orang baru?! Bahkan orang baru yang sama sekali tidak pantas untuk menjadi saingan ku!!" Sentak Oliv menjawab panjang lebar.
HAHAHA.....
__ADS_1
Tawa Bara menggema memenuhi ruangan sunyi itu. "Dengar baik-baik! Dia memang pantas mendapatkan itu! Kau belum mengenalnya! Dia bahkan bisa mendapatkan 10 penghargaan dalam sehari! Apa kau bisa?" Cercah Bara menekan dan meremehkan.
BERSAMBUNG...........................................