
Mang iman terkejut bukan kepalang mendengar suara yang sangat tidak asing ditelinga nya.
"No-no-non..non non Audrin?!" Ucap mang iman tergagap.
"Mang iman ini ya?! Aku panggil dari tadi gak nyahut, ternyata asik main kartu disini! Khuk khuk!!" Ucap Citra sedikit kesal dan terbatuk-batuk.
"Non Audrin gak papa?"
"Gak papa, bik Ina sama yang lain kemana mang? Kok di dalam rumah gak ada orang satu pun?"
"Ada di Paviliun non" Jawab mang iman menunjuk rumah yg citra buat untuk para pembantu yg biasa di sebut dengan paviliun.
"Paviliun? Lagi Istirahat ya?"
"Lagi nyuci pakaian keluaga non."
"Kalau mama?"
"Ibuk lagi sama bak Novi non, Nemani den Arsha main di taman bunga milik non."
Mendengar itu Citra langsung berlari ke arah taman bunga nya.
"Mama?"
"Eh Citra? Udah baikan nak?"
"Lumayan ma."
"Kak Novi. Citra minta tolong dong."
"Iya, apa itu non?"
"Tolong kupasin aku mangga, nanti sisir sisir dan taruh aja di ruang tamu. Bisa kan?"
"Tentu non, itu tugas saya untuk melayani non Citra."
Novi pun pergi menuju rumah utama untuk melaksanakan tugas nya. Citra duduk sebentar di bangku taman bersama mama.
"Arsha mana ma?"
"Tau di sana tuh. Gak tau ngapain."
"Kok mama biarin?"Ucap Citra yang segera pergi mecari adiknya di antara bunga bunga yang setinggi kaki itu.
Citra mencari di bagian bunga Lily namun tak ada. Lalu Citra berjalan lagi ke bagian bunga aster miliknya, dan Citra menemukan adiknya sedang memotong sesuatu.
"Aca jangan yang itu!!" Teriak Citra kaget melihat adiknya yang ingin memetik bunga aster kesayangan nya.
Mama yang mendengar teriakan Citra kaget dan berjalan menuju tempat dimana citra berada.
"Kak Cicit?" Ucap Arsha mendongak.
"Dek, Jangan di rusak bunganya. Nanti jadi gak bagus lagi. Emang Aca mau liat bunganya jadi jelek?
"Gak mau, Aca mau Bunga nya tetep cantik kayak kak Cicit."
"Ada apa Cit?" Tanya mama yang telah ada di belakang Citra.
Citra mengabaikan pertanyaan mama, Citra meneruskan pembicaraan nya dengan adiknya itu.
"Maka itu, Aca gak boleh merusaknya."
"Maaf ya kak, Aca gak sengaja."
"Gak papa, nanti kak Cicit perbaiki."
"Aca rusak bunganya kak Cicit?"
"Aca Gak sengaja mama.."
"Ya udah, Aca kedalam rumah sama bik Ina ya?"
Ucap Mama yang kemudian memanggil bik Ina, setelah bik Ina sampai, mama langsung menyuruh bik Ina membawa Arsha masuk ke dalam rumah. Bik Ina pun langsung membawa arsha ke dalam rumah dan menemaninya bermain.
Citra memungut sisa bunga yang di rusak oleh arsha. Pak Jaka yang baru datang mengambil anakan bunga yg baru untuk di tanam, tak sengaja melihat citra yang memungut bunga-bunga yang telah rusak, pak Jaka langsung membantu Citra memungut bunga yang rusak itu.
"Gak usah pak, pak Jaka tanam aja bibit yang baru itu. Aku bisa beresin sendiri kok."
"Tapi non..." Ucap pak Jaka ragu.
Mama memberi isyarat agar pak Jaka menuruti keinginan Citra, mama tau bagaimana rasa sayang citra pada bunga bunganya itu. Pak Jaka pun langsung pergi Tampa bertanya apapun.
"Citra?" Ucap Mama Berjongkok dan memeluk Citra dari belakang.
"Mama... Ada apa?"
"Jangan ditahan lagi nak, mama tau kamu sedih."
Seketika Air mata Citra yang telah di bendung beberapa saat itu bercucuran membasahi pipinya. Citra memeluk mama dengan erat. Mama mengelus punggung Citra dengan kasih, mama mengerti perasaan Citra, mama mencoba menenangkan Citra yang sangat sedih akan bunga bunganya yang rusak.
"Hiks hiks hiks!" Tangis Citra pun terdengar ditelinga mama.
"Tenang ya sayang..."
"Hiks bunga bunga ini udah seperti bagian hidup Citra ma... Mereka yang menyegarkan Citra saat Citra kelelahan datang kerja dan dari manapun."
"Mama tau sayang... lihat 2 bunga yang rusak ini, ini masih bisa diperbaiki." Ucap Mama menyentuh bunga di tangan citra.
__ADS_1
"Gimana ma? Bunganya udah rusak parah begini gak mungkin bisa hidup walau di tanam kembali."
"Bisa kok, serahin aja sama mama bunganya, kamu tenang aja, jangan sedih lagi dong"
"Mama serius?" Ucap Citra melepas pelukan mama.
"Iya, tapi cuma yang 2 ini yang masih bisa."
"Gak papa ma, Citra udah seneng kalo ada yang masih bisa di perbaiki."
"Ya udah senyum dong...."
Mama berhasil menghibur Citra, Citra lega bunga bunganya yang rusak masih ada yang bisa diperbaiki. Citra tersenyum sumringah pada mama, mama ikut tersenyum melihat anak gadisnya itu tersenyum ceria.
___________
__
• Sore Hari.
"Ini beneran rumah Audrin? Kalo ikut kata tetangga ya ini sih rumah audrin. Tapi masa iya?" Ucap seseorang yang ada di depan gerbang rumah Citra.
"Ada satpamnya lagi."
Pak Dodi yang melihat ada orang di depan gerbang rumah, langsung memberi tau pak Hadi.
"Pak! Ada orang tuh." Ucap pak Dodi menepuk bahu pak Hadi.
"Hah?! Mana?" Ucap pak Hadi celingak-celinguk.
"Oh iya! Ayo samperin pak." Sambung pak Hadi beranjak dari tempat duduknya.
Pak Dodi yang melihat pak Hadi telah bergegas menuju gerbang ikut Bangun dan bergegas menyusul pak Hadi dari belakang.
"Cari siapa ya mas?" Tanya pak Hadi menghadap orang tersebut.
"Ah! Apa ini benar rumah Audrin?" Tanyanya hati-hati.
"Iya Benar." Jawab pak Hadi mengangguk.
*Gilaa, orang kaya ternyata! Tapi gue liat dia tampil kayak bukan orang kaya. Sepeda motor aja dia selalu pakai yg rusak itu. Gak pernah tuh gue liat di perbaiki, terus selalu kotor lagi sepeda motor nya. Eh... Rumahnya sebesar ini, ada satpamnya lagi.* Batin Ragil tak menyangka.
"Mas?! Mas?!" panggil Pak Dodi pada seseorang di depan nya yang tiba tiba terdiam.
"Halo mas, mas ini siapa dan cari siapa?" Tanya pak Hadi pada seseorang itu.
Mereka berbicara pada seseorang itu, Namun sedikit pun tak ada respon dari nya.
Pak Dodi dan pak Hadi saling memandang heran dengan tingkah seseorang itu.
"Hey mas!!" Panggil pak Dodi nyaring.
"Kenapa malah melamun sih mas? Saya sedang bertanya sama mas. Mas ini cari siapa?"
"Saya Ragil temennya audrin, saya kesini mencari Audrin."
"Ohh cari non Audrin. Bentar saya sampaikan dulu, mas tunggulah disini."
Pak Dodi pergi ke depan pintu rumah, di sana ada mang iman yang sedang bersama Sandy, pak Dodi menyampaikan bahwa ada tamu yang ingin bertemu dengan Citra.
Mang iman selaku supir khusus Citra masuk kedalam rumah dan pergi ke lantai atas untuk memanggil Citra.
"Permisi non?" Ucap mang iman di balik pintu.
"Iya mang? Ada apa?" Ucap Citra Tampa membuka pintu.
"Ada tamu yang ingin bertemu sama non."
"Siapa mang?"
"Kurang tau non.
"Ohh ya udah, mang iman turun aja, aku nanti nyusul."
"Baik non."
Mang iman pun turun ke bawah dan pergi keluar rumah untuk menyampaikan pada pak dodi apa yang citra katakan.
Setelah mang iman menyampaikan apa yang Citra katakan pada pak dodi, pak dodi pun segera pergi menuju gerbang lagi menemui ragil. pak dodi menyuruh ragil untuk menunggu karena citra akan turun sebentar lagi.
"tolong tunggu sebentar ya mas, Non Audrin akan turun sebentar lagi."
"Ohhh Iya Iya pak, Tak apa."
Ragil pun menuruti apa yang pak Dodi katakan dia menunggu dengan sabar dan menanti nanti kehadiran citra.
Citra yang sudah selesai bergosip dengan teman-temannya pun turun dan pergi keluar rumah untuk mengetahui siapa yang ingin bertemu dengannya. sampai sampai di luar rumah, citra benar-benar terkejut dengan kedatangan ragil, dia tidak menyangka bahwa ragil ada di rumah nya.
*Tau darimana dia keberadaan rumah gue? Bisa bisanya dia sampai kesini.* Batin Citra tak suka.
"Non, ini dia orangnya, Apa mau di persilahkan masuk?"
"Gak perlu, biarin aja dia bicara di luar. Kalian bisa pergi." Ucap Citra dingin.
Pak Dodi dan pak hadi amat terkejut mendengar perkataan citra yang begitu dingin, walaupun mereka tahu bahwa sifat citra memang dingin tapi citra tidak pernah berbicara begitu dingin selama ini di depan mereka. mereka baru kali ini mendengar citra berbicara begitu dingin dengan aura dinginnya yang disebarkan.
*Ada apa ini? Jangan jangan non Audrin gak suka dengan kedatangan tamu ini..* Batin Pak Hadi
__ADS_1
Pak Dodi dan pak hadi yang merasa takut akan nada bicara citra bergegas pergi tanpa bertanya apa pun, mereka langsung masuk ke pos satpam dan bermain kartu untuk menghilangkan rasa takut mereka.
Citra yang melihat para satpamnya sudah masuk ke pos satpam, berbicara pada ragil apa yang dia inginkan hingga dia berani mencari keberadaan rumah citra dan bahkan berani datang bertamu.
"mau apa Lo dateng ke sini?" Tanya citra tak suka.
"katanya kamu sakit, aku mau kasih ini buat kamu." Jawabnya seraya menyodorkan sesuatu.
*Ini aroma bakso! tahu dari mana dia kalau gue lagi pengen bakso* pikir citra heran.
"apa itu?" Tanya citra cuek yang sebenarnya sudah tau apa isi kantong itu.
"bakso buat kamu."
"Gue lagi nggak pengen, Lo bisa bawa balik."
"Aku udah jauh-jauh datang ke sini Drin, tolong terimalah."
"Kan gue nggak nyuruh Lo dateng."
"Please Terima ya Drin, hargai pemberian aku please, aku gak akan pergi sebelum kamu terima ini."
Mendengar perkataan itu citra langsung memanggil salah satu pembantunya, citra tidak mau Ragil tetap ada di rumahnya, karena citra sangat tidak suka dengan kehadiran Ragil.
Tanpa mereka sadari sepasang mata menatap mereka dari kejauhan, mata itu menatap tajam apa yang terjadi di depan gerbang rumah citra, sepasang mata itu berada berjarak 1 rumah dari rumah citra, sehingga seseorang yang menetap itu bisa mendengar jelas apa yang sedang terjadi.
"Bik Atun, ambil itu bik."
"Ohh baik baik non." Ucap Bik Atun mengambil bakso yang diberikan Ragil.
"Bakso pemberian Lo udah gue terima, sekarang Lo udah bisa pergi dari rumah gue kan?!"
"Ok.. Aku pergi sekarang, sampai jumpa Senin depan."
Citra mengabaikan perkataan ragil dan pergi menuju ke dalam rumahnya.
Sepasang mata yang menetap citra dan ragil dari kejauhan itu tampak menggenggam tangannya erat, yang tak lain orang itu adalah Bara, Bara amat kecewa di hatinya melihat Citra yang menerima pemberian orang lain, Bara menganggap bakso yang ada di tangannya sia-sia saja dia bawa karena citra sudah menerima bakso dari laki-laki lain.
Bik Atun yang mengikuti langkah citra dari belakang angkat bicara soal bakso yang dia pegang.
Note: Bik Atun adalah pembantu citra yang lain yang pernah memasuki kamar citra waktu itu, bik Atun adalah wanita yang terkagum-kagum melihat kamar citra waktu pertama kali masuk ke dalam kamar citra beberapa waktu lalu.~
"Non, ini baksonya nanti mau diantar ke kamar non Audrin?"
"Gak usah, bakso itu buat bik Atun."
"Ha?? buat bibik? Ini kan pemberian teman non tadi."
"Aku gak suka terima pemberian dari laki-laki lain." Ucap Citra santai.
"Maunya cuma pemberian dari mas bara ya non."
"apaan sih bik." Ucap Citra tersenyum malu.
Bara yang tengah merasakan kecewa di hatinya menjadi tersenyum sumringah saat mendengar pembicaraan yang dibicarakan oleh Bik Atun dan Citra, Bara keluar dari tempat persembunyiannya dan bergegas menuju gerbang rumah Citra.
Hal itu dilihat oleh ragil yang kebetulan belum pulang, ragil masih ada di jalan raya melihat ke arah rumah citra berharap citra tidak membuang pemberian darinya, hal itu Tampa diduga membuat ragil melihat bara yang keluar dari tempat persembunyian nya tadi.
"Itu bukannya cowok yang waktu itu ada di sekolah ya? Dia siapa sih? Gue harus liat." Ucap Ragil yang bergegas bersembunyi di tempat persembunyian bara sebelumnya.
"Pak Dodi?" Panggil bara dari arah gerbang.
"Loh itu mas bara! Sebentar mas saya ambil kuncinya." Jawab pak Dodi nyaring.
"Iya pak." Balas Bara.
Setelah mengambil kunci pak dodi langsung menuju gerbang dan membukakan gerbang rumah untuk mempersilahkan bara masuk.
"Silahkan mas."
"Makasih ya pak."
"Sama sama mas."
"Loh loh, dia kok langsung di izinin masuk Tampa bilang ke audrin?! Siapa sih dia?"
Ragil yang melihat hal itu langsung keluar dari tempat persembunyiannya dan mendekati gerbang.
"Dia kok di izinin masuk pak?! tadi saya harus bilang dulu sama audrin, kenapa dia langsung diizinkan masuk? Bapak kan belum lapor sama Audrin kalau dia datang."
"kamu tidak berhak menanyakan itu, karena non Audrin tidak menyukai mu. yang jelas mas tadi bisa masuk kapan saja dia mau, karena non adrian tidak akan pernah melarangnya masuk, bahkan jika dia datang, pintu rumah ini terbuka lebar untuknya.
"Apa?! Kenapa?"
"Dia adalah calon pendamping yang terpilih untuk non Audrin."
Ragil hanya diam, Dia pun pergi meninggalkan rumah Citra. Rasa aneh di dalam hatinya, niat sebelum yang hanya ingin menaklukkan si gadis gunung es untuk menang taruhan dengan teman tongkrongan nya, Sekarang hatinya ada rasa yang mengganjal Tetang Citra.
_
_
"Kak Bara?! Kak Bara Dateng kok gak bilang-bilang sih?" Ucap citra yang merasa senang akan kedatangan Bara.
"Bawain kejutan buat kamu."
"Ha? Kejutan?"
__ADS_1
"Iya, nih buat kamu." Ucap Bara seraya menyodorkan sesuatu.
BERSAMBUNG..........................................