
"Sesungguhnya aku kasihan padamu. Aku lihat kau tidak seperti gadis yang kejam, tapi aku tidak tau apa yang terjadi hingga kamu bisa melakukan tindakan pembullyan yang menurutku bertentangan dengan mu." Tukas nya yang sontak membuat Helena menatapnya.
"Hiks... Sebenarnya aku tidak ingin tapi Jessi bilang hanya mengurungnya jadi aku setuju, aku tidak tau kalau Oliv melukainya Hiks.. Hiks." Isak Helena semakin menjadi jadi.
"Maafkan aku... Aku menyesal hiks... Hiks.." Isak Helena yang membuat anak buah Bara itu hanya bisa menghela nafas panjang.
*****
Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang akhirnya Bara dan Citra tiba di wilayah mansion Delwyn. Mobil Mercedez Benz C-Class hitam itu masuk ke pekarangan rumah besar itu setelah di bukakan gerbang oleh penjaga rumah.
Bara turun dan membantu Citra duduk di kursi rodanya kemudian mendorongnya memasuki mansion. Para pelayan dan penjaga juga pengawal disana begitu kaget melihat tuan mudanya yang sedari kecil berhati dingin dan membenci wanita sekarang malah tersenyum kepada seorang gadis.
"Siapa gadis itu ya? Ya ampun.... Apa kau melihatnya? Tuan Muda tersenyum!" Tukas seorang maid bertanya tanya yang berakhir pekikan melihat seulas senyum terlukis di bibir Bara.
"Pak Tom, Buatkan susu hangat dan antar ke kamar ku." Perintah Bara pada pelayan yang kerap di panggil Pak Tom dengan bahasa internasional nya.
"Baik Tuan Muda." Balas Pak Tom menunduk hormat.
Saat ingin mendorong kursi roda ke lift yang tersedia di mansion, Citra memegang tangan Bara yang ada di dorongan kursi rodanya. Hal itu lantas membuat Bara mengehentikan langkahnya dan beralih menatap Citra.
"Ada apa hem..? Apa kamu menginginkan sesuatu?" Tanya Bara dengan lembutnya yang sontak membuat para maid yang melihatnya menjadi tersentak karena kaget.
"Apa di mansion ini ada taman?" Tanya Citra lemah.
"Ada, kamu mau ke sana sebelum tidur?" Jawab Bara dan sekaligus bertanya yang dibalas anggukan oleh Citra.
Bara tersenyum kemudian mendorong kursi roda Citra keluar dan menuju taman. Sampainya di taman Citra mulai terisak yang sontak membuat Bara kalang kabut karena khawatir.
"Hiks... Kenapa? Kenapa kamu berbohong kak... Kenapa kamu tidak bersedia mengatakan identitas aslimu? Hiks..." Tanya Citra dalam Isak tangisnya.
"Aku minta maaf.... Aku tak berniat membohongi mu... Maaf, Maafkan aku..." Lirih Bara berlutut seraya menggenggam kedua tangan Citra dan tanpa sadar ikut menangis.
"Aku mohon jangan pernah membohongi ku, aku benci di bohongi..." Lirih Citra semakin terisak mengingat masa lalunya.
"Aku minta maaf, aku janji setelah kamu sembuh aku akan membawamu melihat markas dan juga perusahaan. Aku akan jujur padamu tentang semuanya, Maaf sayang Maaf..." Ujar Bara semakin tak tega melihat gadis yang ia cintai itu menangis.
__ADS_1
"Janji?" Tanya Citra menyodorkan kelingkingnya pada Bara.
"Iya aku janji." Jawab Bara melakukan janji kelingking dengan Citra.
"Sekarang ayo masuk ya, ini sudah larut, kamu harus banyak istirahat." Ujar Bara yang dibalas anggukan oleh Citra.
Bara pun mendorong kursi roda Citra kembali kedalam mansion, terlihat Lukman dan Lista yang duduk di Sofa ruang tamu menunggu anak dan calon menantu nya setelah mendengar kabar dari Kenzo bahwa Citra pulang ke mansion ini.
"Tuan Muda susunya sudah saya letakkan di kamar anda." Ucap Pak Tom menghadap Bara yang hanya dibalas daheman oleh nya.
Lista berdiri dari duduknya dan berjalan tergesa-gesa menghampiri Bara dan Citra. Begitupun Lukman ikut berdiri dan menghampiri mereka juga.
"Audrin sayang... Kamu gak apa-apa kan?" Tanya Lista yang tampak khawatir.
"Iya Tante, Aku cuma lelah aja." Jawab Citra tersenyum.
"Ya udah kamu istirahat aja langsung." Ujar Lukman menatap Citra dan Bara bergantian yang langsung dimengerti oleh Bara.
"Ya udah ma, Pa, Aku bawa Audrin masuk dulu. Kalian juga istilah lah." Ucap Bara yang sudah siap mendorong kursi roda Citra.
_________________
_____
"Sayang ayo minum dulu susunya." Ujar Bara yang di angguki oleh Citra.
"Kak, Boleh minta seseorang menemaniku malam ini? Aku takut sendirian." Lirih Citra menunduk dalam.
Bara lantas bersimpuh dan menangkup wajah Cantik Citra, Bara memberikan senyuman hangatnya guna memberikan ketenangan pada Citra.
"Sayang tenang ya, disini kamu aman. Tunggu sebentar aku panggil maid untuk menemani kamu." Ucap Bara mengelus punggung tangan Citra lembut.
"Dan... Aku pamit sebentar mau keluar, kamu istirahat ya." Sambung Bara tersenyum.
"Kak Bara bukan berencana untuk....." Ucap Citra menggantung Kalimatnya.
__ADS_1
"Ngak kok, tenang aja." Balas Bara yang mengerti maksud Citra.
"Baiklah, jangan lupa untuk istirahat." Pesan Citra mengizinkan Bara pergi.
Bara tersenyum dan mengangguk, kemudian dia keluar memanggil maid yang bernama Alice untuk menemani Citra, selain telaten dia juga seumuran dengan Bara yang Bara yakini bisa menyelaraskan suasana hati keduanya, yang tentu akan bisa menghibur Citra.
Setelah maid itu datang ke kamar nya, Bara pamit kepada Citra dan berlalu pergi. Bara mengendarai mobil nya sendiri tanpa supir, mobil milyaran itu melesat dengan kecepatan tinggi memecah jalanan malam yang tidak tau kemana tujuannya.
Hanya 25 menit yang Bara butuhkan untuk tiba di tempat tujuannya, Bara menggebrak pintu sebuah ruangan luas yang sontak membuat orang orang yang ada di sana tersentak kaget.
"Tuan Muda?" Ucap Kenzo terkejut.
Yah! Bara pergi ke markas lebih awal dari yang mereka ketahui, Raut wajah suram dan nafas memburu dapat terlihat jelas di mata para anak buah Bara. Mereka gemetar ketakutan tak terkecuali Kenzo yang melihat Tuan Muda bak seorang pembunuh.
"Leon! Glen! Mike! Maju kalian!" Teriak Bara memanggil 3 anak buah ahlinya yang di tugaskan menjaga Citra.
3 orang itu lantas maju dengan langkah berat, mereka bertiga menelan saliva nya berat menahan rasa takut mereka mengahadapi amarah Tuan Muda nya, mungkin mereka tau atau bahkan sangat tau apa yang membuat tuan mudanya itu murka.
BUGHH!!
Leon mendapat tonjokan di pipinya.
BUGHH!!
Glen mendapat tonjokan di pipinya bahkan hampir tersungkur.
BUGHH!!
Mike mendapat tonjokan di pipinya yang berhasil membuat darah mengalir di sudut bibirnya.
"Tidak becus! Tak berguna! Lalai! Itu adalah kalian!" Sentak Bara emosi seraya menunjuk tajam 3 orang di hadapannya itu.
"Bodohnya aku mempercayakan kalian untuk menjaga Audrin." Sambung Bara memutar pergelangan tangannya yang habis di gunakan untuk memukul 3 orang itu.
• TAKUT KALIAN LUPA, AKU INGATKAN LAGI YA.... INI PAKAI BAHASA INTERNASIONAL. BTW BARA MENAKUTKAN JUGA YA? 😖
__ADS_1
BERSAMBUNG............................................