
"Kau bertanya apa salahnya?! Dia sudah merebut perhatian dosen yang aku kagumi dari ku!! Dia telah merebut sorotan yang seharusnya milik ku!! Dia telah merebut semua milik ku!! Apa kau tau betapa sakitnya saat semua yang kau miliki tiba tiba direbut orang baru?! Bahkan orang baru yang sama sekali tidak pantas untuk menjadi saingan ku!!" Sentak Oliv menjawab panjang lebar.
HAHAHA.....
Tawa Bara menggema memenuhi ruangan sunyi itu. "Dengar baik-baik! Dia memang pantas mendapatkan itu! Kau belum mengenalnya! Dia bahkan bisa mendapatkan 10 penghargaan dalam sehari! Apa kau bisa?" Cercah Bara menekan dan meremehkan.
"Tidak mungkin!! Dia adalah anak dari keluarga miskin di kepulauan iya kan?! Mana mungkin gadis rendahan seperti dia bisa melampaui ku?!" Sentak Oliv tak terima.
"Terserah jika kau tak percaya. Namun ingat satu hal dengan baik, jangan macam-macam padanya atau kau hanya akan bertahan 1 jam di tangan ku." Tukas Bara dingin.
"Mengapa?! Mengapa kau hanya melihat dia?! Tidak bisa kan kau melihatku?! Aku menyukaimu! Namun kau hanya melihat Citra! Citra dan Citra! Selalu Citra! Bahkan Helena juga tidak kau pandang! Kenapa?!" Sentak Oliv mempertanyakan.
"Karena dia tidak ada duanya." Jawab Bara bangga.
"Gadis rendahan seperti dia tidak pantas untuk mu! Murahan! ******! Bahkan dia siap kapan saja menjual tubuhnya pada orang lain!!" Sentak Oliv mencaci maki Citra.
BRAKK!!......
Bara menendang kursi yang Oliv duduki hingga ia terjatuh keras ke lantai, terlihat langsung bagian siku yang ia gunakan menopang tubuhnya memar.
Bara melepaskan ikatan Oliv dan membiarkan ia merasakan kelegaan sementara. Namun kemudian Bara meraih leher Oliv dan mencekik nya hingga ia tak menapak tanah.
"Kau yang ******! Bukan dia!!" Sentak Bara yang kemudian menghempaskan Oliv ke lantai.
Bara menghampiri Oliv dan melakukan hal yang sama seperti sebelumnya. "Kau tak pantas membandingkan dirimu yang licik ini dengan dia!!" Cercah Bara seraya menghempaskan Oliv lagi.
Berkali kali Bara mengulangi hal yang sama pada Oliv hingga membuat Oliv babak belur bahkan telah mengalami luka yang cukup banyak, dan bisa dibilang cukup parah.
"Khukk khukk!! Dia... Akan mati! Hahaha." Tawa puas Oliv yang sedang terengah-engah.
"Oh, tapi maaf mengecewakan mu, dia sangat baik-baik saja, Sekali lagi kau tidak menjaga mulut mu dengan baik, maka kau akan langsung aku binasakan!!" Sentak Bara penuh penekanan.
BRAKK!!!.......
Bara menghempaskan Oliv ke arah pintu, sangking kuatnya hingga pintu itu terbuka bagaikan sedang di dobrak. Kenzo yang ada di depan pintu menjadi kaget karena dirinya hampir terkena bantingan pintu itu jika tidak cepat cepat menghindar.
Kenzo lantas menatap apa yang menabrak pintu hingga menimbulkan kejadian mengejutkan itu, betapa kagetnya Kenzo melihat Oliv terkapar penuh darah akibat siksaan dari Bara.
__ADS_1
"Panggil dokter dan sembuhkan dia, Jika sudah sembuh kabari aku, aku akan membuatnya memilih untuk mati namun itu tak akan pernah ia dapatkan." Cercah Bara tersenyum misterius yang mengerikan.
"Bahkan jika ia mati, aku tidak akan melepaskan mayatnya sekalipun! Haha lihat saja, berani bermain berani mengakhiri." Sambung Bara tersenyum devil seraya beranjak pergi.
Kenzo menatap kepergian Bara bahkan tanpa alasan dirinya bergidik ngeri, Bara memang tidak kejam pada orang lain, namun lain cerita untuk orang orang yang sudah memprovokasi nya. Namun meski begitu Kenzo tak pernah melihat sisi kejam Bara yang senang menyiksa seperti ini.
"Oh tuhan.... Sepertinya kelompok ini akan melampaui keberadaan kelompok mafia." Gumam Kenzo merasa ngeri.
"Berubah, benar benar telah berubah. Kelompok yang menjaga keamanan perusahaan kini telah berubah total seiring tampaknya sisi kejam tuan muda." Sambung Kenzo geleng kepala.
Kenzo pun membawa Oliv ke ruangan yang lebih layak untuk merawat lukanya, kemudian ia menghubungi dokter untuk yang biasanya merawat para bawahannya yang terluka akibat latihan dan lainnya.
Sementara itu disisi lain 2 keluarga tengah memperingati kedua anaknya untuk tidak berulah lagi atau mereka akan berakhir seperti Oliv yang entah bagaimana nasibnya nanti.
Kedua keluarga itu tengah hidup di perumahan kecil yang berdampingan, mereka saling mendukung sama seperti saat mereka masih berjaya. Walaupun susah namun mereka berusaha menyesuaikan diri untuk hidup di kalangan masyarakat biasa itu, atau mereka tak akan bisa hidup lagi.
"Ayah, apakah kita tidak bisa melakukan apapun agar bisa memperbaiki kehidupan kita? Walaupun tidak seperti dulu, setidaknya lebih baik dari ini." Ujar Jessi pada sang ayah.
"Sudahlah Jessi, kita jalani saja kehidupan kita ini, setidaknya kita masih hidup." Jawabnya bijaksana.
"Lalu apa yang akan kita lakukan untuk makan sehari hari? Sedangkan uang tabungan kita tidak akan cukup untuk membuka usaha." Ujarnya lagi bertanya-tanya.
Jessi terdiam, karena ulahnya kehidupan keluarga nya menjadi terpuruk hingga harus bekerja pada orang lain demi makanan sehari-hari.
*****
🌕🌕🌝✨
"Jonh, benar kau tidak mencium bau darah dari tubuhku kan?" Tanya Bara pada Jonh yang ada di lorong rumah sakit.
"Tidak ada tuan muda." Jawab Jonh yakin.
"Baguslah." Celetuk Bara yang kemudian beranjak pergi menuju ruangan Citra dirawat.
"Bara? Kamu udah kembali?" Tanya Lista tampak khawatir.
"Iya, Bunda pulanglah... Besok audrin akan dirawat di mansion."
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu, Ingat jaga emosi kamu." Pesan Lista sebelum akhirnya beranjak pergi.
Bara hanya diam, kemudian ia menatap Citra dari kaca bundar yang terdapat di pintu ruangan itu, setelah puas ia duduk di bangku tunggu dan menenangkan hatinya.
DLING.... DLING.....
Notif panggilan masuk itu mengalihkan perhatian Bara, Terlihat nama Eza di layar ponsel Bara, Bara bertanya tanya mengapa Eza tiba-tiba menelepon? Seharusnya masalah kerjaan Citra masih di tunda.
"Ya? Ada apa?" Tanya Bara dingin.
"Tuan, Di sosial media sedang panas berita nona yang berada di Amerika." Jawab Eza To the point.
"Bagaimana mereka tau?" Tanya Bara terkejut.
"Menurut informasi, orang yang menyebarkan kabar itu adalah mahasiswi di universitas tempat nona kuliah." Jawab Eza.
"Lebih detail anda bisa melihat di akun sosial media nona, dan juga di Twitter sedang menjadi Top 1." Sambung Eza menjelaskan.
Bara lantas meminta ponsel salah satu anak buahnya. "Kau punya akun Twitter kan?" Tanya Bara datar.
"Punya, tuan muda." Jawab nya sopan.
Bara dengan cepat mencari aplikasi biru itu, setelah di temukan Bara segera membukanya dan mencari topik pencarian terpanas, benar saja berita Citra sedang kuliah di Amerika sedang panas-panasnya menjadi pembahasan.
Bara melihat foto postingan itu dan membaca berbagai komentar yang ada. Ternyata ada yang mengenali Citra dalam penyamaran nya dan langsung ia sebarkan di sosial media. Tapi sungguh membuat kagum, rata-rata semua komentar isinya komentar positif semua.
"Eza, Hubungin Dirgantara Group, minta mereka membatasi penyebaran postingan itu, kau mengerti maksud ku tanpa harus ku jelaskan lagi kan?" Tanya Bara dingin.
"Mengerti Tuan, Akan saya hubungi segera." Ucap Eza.
"Ya, lakukan dengan baik." Balas Bara dingin.
Usai mengatakan itu Bara pun memutuskan panggilan teleponnya sepihak tanpa menunggu balasan dari Eza.
Setelah itu Bara pun mengembalikan ponsel anak buahnya tadi, dan itu berbarengan dengan kedatangan Dr. Joshua yang ingin memeriksa perkembangan kondisi Citra.
"Tuan muda, Maaf mengganggu, ini sudah jam periksa Nona." Ucap Dokter Joshua sopan.
__ADS_1
"Iya Dok, langsung periksa saja." Balas Bara mempersilahkan.
BERSAMBUNG..........................................