
"Hey! Kau ini apa-apaan sih! Atasan pun berani kamu halangi?!" Ketus sekertaris Jen pada petugas keamanan itu.
"Jadi tuan ini benar benar bos muda kita?" Tanya petugas keamanan itu terkejut.
"Kau pikir apa?! Jelas jelas fotonya terpampang jelas di berbagai sisi perusahaan!" Bentak Sekertaris Jen emosi.
"Sekarang kamu dipecat!" Tegas sekertaris Jen.
Petugas keamanan itu pun tersentak karena terkejut dengan pernyataan dari sekertaris Jen. Ia benar benar tak ingin pekerjaan nya berakhir.
"Khe Khem! Sekertaris Jen, apa kau melupakan keberadaan ku?" Tanya Bara mengintimidasi.
"Ti-tidak.... Saya tidak berani." Jawab sekertaris Jen gugup.
Bara tak mengatakan apapun, ia menatap petugas keamanan itu dan angkat bicara padanya.
"Kamu akan tetap bekerja disini, kamu tidak akan dipecat, lanjutkan pekerjaan mu sebaik mungkin, jangan mengecewakan ku." Ucap Bara menepuk pundak petugas keamanan itu lalu beranjak pergi.
Sekertaris Jen mengikuti langkah Bara masuk kedalam perusahaan, sementara petugas keamanan itu membungkukkan badan seraya mengucapkan terimakasih.
Sekertaris Jen tercengang seraya menatap Bara dari belakang, kabar yang ia dapat dari tuan besarnya ya itu Lukman Mahardika, Bara memiliki tempramen dingin dan kejam, namun yang ia lihat hari ini tidak seperti itu.
Sementara Bara di perusahaan, Citra di apartemen nya sudah siap untuk pergi ke kampus nya. Ia memberitahu Bara sebelum berangkat bahwa ia telah telah siap untuk berangkat, setelah menghubungi Bara Citra pun bergegas menuju universitas.
"Kak Bara gak balas pesan ku? Apa dia sibuk ya?" Tanya Citra pada dirinya sendiri.
"Ya sudahlah, aku harus segera tiba di kampus, aku sudah berjanji pada Marina akan belajar bareng sebelum kelas dimulai." Ucap Citra yang kemudian menghentikan taxi yang lewat.
Taxi tumpangan Citra itupun melesat pergi menuju universitas Citra, sampainya disana Marina telah menunggu di bangku taman universitas dengan sebuah buku yang lumayan tebal.
"Hay Marina, udah lama nunggu ya?" Tanya Citra menghampiri Marina.
"Tidak, aku juga baru saja sampai." Jawab Marina menatap Citra.
__ADS_1
"Ohh baguslah, ku kira aku sudah membuat mu menunggu."
"Hahaha tentu saja tidak, ayo duduk. Aku masih banyak pertanyaan untuk mu." Ucap Marina menepuk bangku di sisinya untuk mempersilahkan Citra duduk.
"Apa? Materi hari ini?" Tanya Citra seraya duduk di sebelah Marina.
"Bukan, tapi masalah Cinta." Celetuk Marina antusias.
Sontak pernyataan dari Marina itu membuat Citra tersedak, padahal dirinya tidak sedang makan ataupun minum, tapi bisa bisanya tersedak mendengar perkataan Marina itu.
"Mengapa tiba tiba ingin menanyakan hal itu?" Tanya Citra gugup.
"Haha tidak apa-apa, apa kau tau bahwa si tampan itu menyukaimu?"
"Si tampan?" Tanya Citra bingung.
"Itu loh.... Yang sering bareng kamu, Bara si Cool King." Ucap Marina seraya membalik balikkan buku di tangannya.
"Iya deh iya..." Ucap Marina pasrah.
Marina dan Citra pun mulai belajar bersama, untung saja Marina tak bertanya lebih, Jika tidak Citra benar benar tidak akan tau apa yang harus ia katakan.
• SEMENTARA ITU DI PERUSAHAAN HANDIKA CABANG.... 🏢
"Hanya tersisa kurang lebih 3 tahun! Apa aku benar benar akan siap untuk masuk ke dalam dunia bisnis?" Tanya Bara pada dirinya sendiri.
Bara sedang ada di ruangannya di masa depan, ia menatap Kota dari kaca ruangan itu. Perasaan bingung mengacaukan pikiran nya.
"Haihh, sebenarnya aku tak tertarik sama sekali dengan semua harta keluarga, tapi sebagai anak satu-satunya aku tidak bisa memikirkan keinginan ku sendiri."
"Tapi jika dipikir-pikir, Apa yang ayah dan Bunda katakan tidak salah, jika aku ingin melindungi sesuatu yang berharga bagi ku, aku memang membutuhkan kuasa. Dunia ini penuh dengan akal bulus, pikiran licik yang bahkan bisa membunuh." Ucap Bara menggenggam erat gelas yang ia pegang.
Bara benar benar tidak menginginkan kehilangan sesuatu yang amat berharga baginya, mau tak mau Bara harus siap memasuki dunia bisnis walau dirinya tak tertarik dengan semua itu. Walaupun sebenarnya Bara memiliki status lebih menakutkan dari pada Bos perusahaan besar.
__ADS_1
Bara sebenarnya tak ingin menggunakan kuasa menakutkan yang ia sembunyikan dari semua orang bahkan orang tuanya. Namun... Itu masih harus dilihat dari belakang dan ke depan. Jalan hidup tak bisa di prediksi. Begitu kata Bara.
Tok tok tok!...
"Masuk." Ucap Bara yang mendengar ketokan pintu dari luar.
"Bos, Mobil sudah siap, anda ingin berangkat sekarang atau..." Ucapannya terpotong oleh Bara.
"Sekarang. Dan berkas yang kamu serahkan tadi, Cetak ulang semua itu, semuanya salah. Perhitungkan semua baik baik aku tak ingin perusahaan rugi!" Tukas Bara dingin dan tegas masih dengan posisi yang sama.
"Ha? Salah?" Tanya sekertaris Jen bingung sekaligus gugup.
"Benar! Kau periksalah sendiri! Siapa sebenarnya yang mengerjakan itu? Mengapa sangat ceroboh?!" Sarkas Bara dingin.
Sekertaris Jen segera meraih berkas yang ia serahkan tadi, ia membuka lembaran itu dan membaca satu persatu kata yang tertulis, dan ya! Semua tak sesuai dengan yang ada.
Sekertaris Jen menatap punggung Bara yang tampak seperti memancarkan aura dingin, sekertaris Jen menjadi gugup dan gemetar. Ia tak menyangka bahwa Bara mampu memahami Semuanya saat dirinya masih dalam persiapan. Dan waktunya pun masih tersisa 3 Tahun.
*Apa ini yang di bilang masing belum siap? Bahkan ia sudah sangat teliti. Mengapa masih belum siap? Jika tuan muda sudah benar benar masuk dunia bisnis, aku yakin ia akan mendominasi seluruh dunia bisnis ini.* Batin sekertaris Jen panjang lebar.
"Aku akan laporkan masalah ini pada ayah, Untuk urusan lebih lanjutnya kamu tanya saja pada ayah, beliau lebih paham, aku masih dalam tahap belajar." Ucap Bara seraya berbalik dan beranjak pergi.
"Jika kesalahan ini masih terjadi, posisi mu akan aku pertimbangan ulang, mau tak mau ayah pun harus setuju. Mengerti?!" Ujar Bara lagi.
"Ba-Baik Bos Muda." Ucap sekertaris Jen gagap yang kemudian mengikuti langkah Bara.
Bara dan sekertaris Jen pun pergi dari ruangan itu, Sekertaris Jen mengantarkan berkas tadi kepada yang bertugas untuk mencetak file file itu. Sedangkan Bara bergegas pergi untuk segera berangkat menuju kampus.
"Selamat jalan Tuan Muda..." Ucap semuanya serempak melepas kepergian Bara ketika melihat bara menuju pintu keluar.
Bara hanya mengangguk dan segera masuk kedalam mobil yang sudah dibukakan pintu oleh supirnya. Setelah itupun Bara dan mobilnya melesat pergi meninggalkan perusahaan.
BERSAMBUNG..........................................
__ADS_1