
3 Bulan pun berlalu, Kini Rendi sedang menempuh pendidikan di korea selatan, Ia sudah 2 bulan di korea, bahasa koreanya pun sudah Rendi kuasai 1 bulan sebelum berangkat ke korea, ia juga telah memiliki beberapa teman baru di korea selatan.
"Kim Xuebin, Saya duluan ya." Ucap Rendi pada temannya.
"Ok, Hati-hati👋" Respon Xuebin ramah.
Rendi hanya mengangguk, kemudian ia bergegas untuk pulang ke Villanya, Villa yang Citra siapkan untuk Rendi, Citra membeli Villa tersebut sebenarnya untuk Sandy, namun sekarang digunakan bersama saja, barang kali ketika mereka healing ke korea maka tidak perlu menginap di hotel.
_
_
...Author: Bayangin ini udah sore bukan pagi yak👆🥺...
"Selamat datang Tuan." Sambut seorang Writer yang membukakan pintu Villa.
"Hemm." Dahem Rendi menyahuti, maklum bagi seorang Kulkas berjalan.
Rendi masuk kedalam Villa lalu pergi ke kamarnya dan merebahkan tubuhnya sebentar di ranjang king size nya, setelah dirasa cukup Rendi pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri, ia berencana menghubungi Citra hari ini.
...🛀🏻...
...🧖🏻...
...🚶🏻...
"Hufft, cape banget hari ini." Seru Rendi seraya mencari pakaian gantinya di lemari.
"Omong-omong keputusan Kakak ngirim aku kesini gak buruk juga, aku malah senang ada disini, hanya saja berharap bisa ada kakak dan adik-adik juga disini, pasti seru." Sambung Rendi berbicara sendiri, tampangnya penuh harap.
Selesai berpakaian, Rendi segera turun kebawah untuk makan malam, setelah itu ia pergi ke kolam renang dan duduk santai disana, tak lupa membawa ponselnya juga, karena ia ingin menghubungi sang kakak.
"Kakak habisin uang berapa sih beli ini Villa? Kenapa gak nyewa apart aja? Kan hemat." Bingung Rendi bertanya-tanya.
"Kakak bahkan sampai sekarang belum memberitahu aku alasannya, mau nanya langsung takut, tapi gak nanya penasaran." Sambung Rendi.
"Ish, Kakak mana sih? Dihubungi kok gak diangkat-angkat!" Desis Rendi ketika nomor yang coba ia hubungi tak kunjung merespon.
Rendi terus mencoba, setelah mencoba yang ke 5 kalinya panggilan darinya berhasil direspon, Citra mengangkat panggilan telepon darinya, hal itu membuat Rendi lega dan senang.
"Kak, kok dari tadi gak di angkat?" Tanya Rendi.
"Maaf, Tadi kakak lagi usaha nemuin Adek, dia gak tau kenapa gak mau ketemu kakak." Jelas Citra.
"Emang kenapa? Kok bisa sampe gitu?" Tanya Rendi lagi.
"Gak tau, Pulang dari sekolah bareng mama tadi, Adek langsung masuk kamar dan menghindari kakak." Jawab Citra bingung.
"Gak nanya sama Mama?" Tanya Rendi lagi.
"Mama gak mau jelasin, katanya suruh tanya sendiri ke Adek." Jawab Citra.
"Ya udah lupain, Gimana Abang disana? Lancarkan hari ini? Ada menemui kesulitan tidak?" Tutur Citra di selingi pertanyaan.
__ADS_1
"Lancar kak, teman-teman baruku juga bisa dipercaya." Jawab Rendi.
"Syukurlah kalo gitu, Jaga kesehatan disana ok, dengerin Pak Kim, dia itu udah kakak percayai, dan udah tau yang baik untuk kamu, anggap dia keluarga sendiri, mengerti?" Tutur Citra lembut.
"Mengerti kak." Saut Rendi mangut-mangut.
"Abang udah makan malam?" Tanya Citra.
"Sudah kak." Jawab Rendi.
Mereka berdua berbincang lumayan lama, dari telepon hingga beralih ke vedcoll, karena Citra datang menemui orang tuanya tak lama setelah itu, Rendi pun berbincang bersama ke 3 orang yang amat ia sayangi hingga gelap malam mulai menyapa sekelilingnya.
"Tuan, maaf mengganggu, Silahkan masuk dulu, diluar dingin." Tutur Pak Kim, Writer yang menyapa Rendi tadi sepulang kuliah.
Rendi mengangguk, kemudian masuk kedalam rumah dan duduk di sofa ruang tengah, dengan kondisi masih vedcoll dengan keluarganya, tak lama kemudian Rendi menutup teleponnya, karena masing-masing memiliki urusan mereka sendiri, Tidur, makan, atau yang lainnya.
Sementara itu di rumah, Citra masih berusaha untuk menemui Sandy yang terus menghindarinya setelah makan malam bersama, Citra merasa cemas juga sedih melihat adiknya menghindari dirinya sepanjang waktu.
"Bang, buka pintunya." Pinta Citra namun di dalam hanya diam tanpa suara.
"Bang, buka pintunya, bicara sama kakak." Pinta Citra sekali lagi.
"Engga." Saut Sandy dari dalam kamar.
"Kenapa?" Tanya Citra lembut.
"Takut." Jawab Sandy rilih, tak terdengar oleh Citra.
"Sandy farhan galih❄️" Panggil Citra dingin.
CEKLEKK🚪🔓
"Bang, Kamu kenapa hem?" Tanya Citra lembut.
"Takut." Jawab Sandy lirih.
"Bang sandy kenapa kak?" Tanya Arsha yang datang entah darimana.
"Eh, Adek mau istirahat ya?" Tanya Citra.
"Iya kak, tadinya mau ngajak Bang Sandy main game bentar sebelum tidur, tapi kaya'nya gak bisa deh, bang Sandy dari tadi aneh." Jawab Arsha.
"Tuh, kamu liat, Adek aja ngerasa kamu aneh, ayo bicara sama kakak, kenapa?" Tutur Citra.
Sandy menggeleng, ia takut untuk menjawab, kemudian Citra menyuruh Arsha pergi ke kamarnya untuk istirahat awal, sementara Citra langsung menarik Rendi keruang belajarnya untuk memperjelas masalah yang ada.
...Author: Anggap malam hari👆😭...
"Duduk." Tegas Citra, dan Sandy hanya diam.
"Duduk bang." Tutur Citra lembut, dan akhirnya Sandy menurut.
"Bang, ada masalah apa hem? Ayo cerita." Tutur Citra selembut mungkin.
__ADS_1
Sandy lantas menangis tersedu-sedu. "Hiks engga mau, nanti kakak marah." Tolak Sandy.
"Kenapa kakak harus marah hem? Kamu ada buat salah?" Tanya Citra dan Sandy mengangguk.
"Ayo cerita, kakak gak akan marah sama kamu😊" Tutur Citra.
"Hiks, engga, takut😢" Tolak Sandy menggeleng.
Citra lantas menangkup wajah adiknya itu, lalu memeluknya erat dan membujuknya, hal itu sontak membuat Sandy menangis sejadi-jadinya.
"Ish, anak cowo masa nangis, cengeng deh." Ejek Citra terkekeh.
"Anak cowo gak boleh cengeng, harus kuat, dan harus berani menghadapi permasalahan yang ada, laki-laki juga harus berani mengakui kesalahannya." Sambung Citra mengandung kesan mendidik.
"Hiks, aku gagal kak😭" Ucap Sandy.
"Gagal apa?" Tanya Citra masih selembut sutra.
"Gagal nepatin janji, aku udah janji bakal selalu juara kelas, tapi kali ini hiks,,, kali ini malah gagal hiks🥺" Jawab Sandi yang masih sesenggukan.
"Kakak jangan marah, jangan cabut izinnya, Sandy mohon kak🥺" Sambung Sandy cepat karena takut.
"Ishh, Kamu gagal atau berhasil itu bukan masalah, Bang." Desis Citra terkekeh.
"🥺"
"Mau kamu berhasil ataupun gagal, kakak gak akan cabut izinnya, kakak udah bilang, kakak dukung apapun impian kalian, asalkan kalian serius. Jangan sedih lagi, gagal kali ini bukan berarti gagal untuk kedepannya." Tutur Citra lembut.
"Hiks eum, iya kak, makasih." Ucap Sandy mengusap air matanya.
"Yaudah sana, kamu kembali dan istirahat, jangan aneh-aneh ya, support kakak masih sama." Tutur Citra tersenyum, dan Sandy mengangguk dihiasi senyuman.
Sandy pun kembali, sementara Citra stay di tempatnya, beberapa saat kemudian panggilan telepon masuk di ponselnya membuat fokus Citra teralihkan. Panggilan telepon itu dari Eza, Citra langsung saja menjawabnya kemudian membahas perihal yang ingin Eza sampaikan, dan tentu saja tentang pekerjaan.
Citra sebenarnya sudah kembali ke Jakarta 2 bulan 3 minggu yang lalu, ia juga telah memiliki kontrak kerja dengan sebuah perusahaan besar, yang meluncur produk terkenal di seluruh negeri, Yaitu dari perusahaan Louis Vuitton(LV). Kontrak tersebut baru terjalin 1 bulan yang lalu, dan 3 hari yang lalu Citra kembali ke kampung halamannya karena masalah pribadi.
"Aku akan segera kembali ke Jakarta kak, untuk jadwal pemotretan berikutnya bisa kamu kirim ke email ku, agar aku bisa mengatur waktu yang ada." Tutur Citra.
"Baiklah, nanti aku langsung kirim ke email kamu." Saut Eza.
"Ada banyak permintaan untuk kamu disini, rata-rata untuk memasuki dunia hiburan, gimana?" Tanya Eza.
"Tolak❄️" Tegas Citra.
"Gak kamu pikirkan ulang? Ini sangat meng-" Ucap Eza berusaha membujuk namun langsung di potong oleh Citra.
"Pokonya tolak ya tolak! Apapun yang menyangkut dunia hiburan tolak saja, nanti kalau aku berubah pikiran baru dibicarakan lagi, aku sedang ingin fokus dengan kontrak kerja kali ini." Tegas Citra.
"Eumn baiklah, aku tidak memaksa lagi." Ucap Eza pelan.
"Ok."
Tuttt~
EKSTRA PART NYA MENGECEWAKAN KALIAN GAK SIH?
__ADS_1
BERSAMBUNG..........................................