
Bara dan mama tertawa kecil melihat Citra jengkel, tak lama kemudian Riska dan mang iman datang, Riska masuk ke dalam ruangan namun tidak dengan mang iman.
Saat sampai di rumah sakit, mang iman menunggu diluar bersama pak jojo, supir khusus mama dan papa yang di tunjuk langsung oleh citra.
"Shut!! Tau gak?" Celetuk mang iman yang duduk di sebelah pak jojo.
"Apaan? Kamu kan gak bilang, mana saya tau."
"Hehe iya juga, udah dengerin aku ngomong sekarang."
"Apa? Cepetan bilang."
"Mas Bara ada di pulau ini pak Jo."
"Ha? Beneran?!" Tukas pak jojo nyaring Karna terkejut.
"Shutt!! Non Audrin lagi sakit! Berisik banget!." Ucap mang iman menutup mulut pak jojo.
"Ya namanya juga terkejut mang."
"Tahan dong pak, mas Bara di dalam." Ujar mang iman menunjuk ke dalam ruangan.
"Kenapa mas Bara ada di sini pak?" Tanya pak Jojo heran.
"Ya jelas buat temui non Audrin, apa lagi?!" Jawab mang iman mantap.
"Oh iya juga."
________
"Tante, Bara keluar dulu ya Tan." Pamit Bara.
"Ohh iya iya nak, silahkan."
Saat bara sudah mulai melangkah pergi, citra meraih tangan bara dan menghentikan langkah kaki bara yang akan pergi.
"Kak bara mau kemana?" Tanya Citra yang sudah terbiasa bersama Bara.
"Ada apa? Gak rela aku pergi?"
"Bu-bukan kok, cuma...cuma nanya aja." Jawab Citra menundukkan kepalanya.
"Beneran cuma nanya nih?" Kata Bara menggoda Citra.
"Ka...kalau mau pergi ya pergi aja." Kata Citra melepaskan tangan Bara yang di pegang nya.
"Aku cuma pergi sebentar kok, aku akan datang lagi nanti." Jawab Bara mengelus rambut Citra dengan lembut.
"Em Ok... Kak bara hati hati ya."
"Iya, baik baik istirahat nya, Ok?!"
"Iya."
___________
Bara pun pergi meninggalkan Citra bersama mama dan Riska yg menemani. Saat di luar ruangan, bara sempat bicara sebentar dengan mang iman dan pak Jojo. Setelah itu bara pun pergi ke tempat tujuannya.
• Ruangan Dokter.
"Mas...Mas Bara ya?!" Tanya pak dokter pada bara yang duduk di depannya.
"Benar pak dokter, saya kesini mau nanya kondisi Audrin."
"Audrin? Maksudnya Citra kan?"
"Iya dok."
"Saya bingung, ada yang memanggil citra juga audrin, jadi mana nama yang benar?."
"Ah masalah itu... Yang memanggil Citra keluarga dan orang orang desanya, sedang saya dan yang lainnya terbiasa memanggilnya Audrin.
"Ohh begitu... Kondisi nya sangat baik. Tapi Citra baru boleh keluar dari rumah sakit besok. Takut kalo kalo kondisi berubah."
"Owhh iya iya dok. Terimakasih banyak dok, kalau begitu saya permisi dulu."
"Iya, silahkan mas." Kata pak dokter mempersilahkan.
Setelah Keluar dari ruangan Dokter, Bara menuju Keluar, Dia menunggu jemputan, Dan mengabari Citra lewat WhatsApp.
"Drin, aku pulang dulu, ayah nyuruh aku pulang, katanya ada urusan, nanti malam aku kesini lagi." Tulis bara dalam sebuah pesan untuk Citra.
Jemputan Bara pun tiba, bara segera naik ke mobilnya dan pergi dari wilayah rumah sakit. Di ruangannya Citra membuka pesan singkat dari Bara dan membalas nya.
"Iya, Hati hati kak, Salam sama Om Lukman." Tulis Citra membalas pesan dari bara.
"Salam siap jadi mantu?" Balas bara lagi.
__ADS_1
Bara dan Citra saling berbalas pesan. Hingga bara sudah sampai rumah dan mematikan ponselnya.
"Bara? kamu kenapa lama sekali? udah puas ketemu audrin?" Tanya Lukman yang sudah melihat Bara datang.
"Maaf ayah, lumayan puas, tapi audrin masuk rumah sakit yah."
"Apa?! Kenapa?" Tanya Lukman terkejut.
"Ayah tau sendiri, tubuh audrin lemah banget."
"Iya, kasian anak itu, baik, cantik, sopan, tapi harus ada dalam kondisi seperti itu."
"Tapi ayah, dokter bilang kalau tubuh Audrin perlahan mulai stabil. Fondasi tubuhnya mulai kokoh sedikit demi sedikit."
"Alhamdulillah kalau begitu. Kamu juga, jaga Dia baik baik, ayah gak mau ya mantu idaman ayah di rebut orang."
"Hahaha ayah ini, ayah tenang aja, Bara serius sama audrin, bara gak akan biarin orang lain rebut audrin dari bara."
"Hahaha, bagus bagus, semangat kejar Cinta Audrin."
"Ihh ayah lebay banget. Jadi ini, rumah yang ayah beli dulu?"
"Iya, masih bagus Bar, cuma ya gini, udah lama di tinggal. Cat nya pudar, berlumut, mesti di rombak kalo kita mau tinggal di sini. Atau kamu mau cari tempat tinggal lain? Di pulau ini ada hotel kok bar, cuma yang namanya kampung, hotelnya gak kayak hotel di kota."
"Gak usah ayah, Kita tinggal di sini aja, ada bara sama pak Andi yang akan bantu ayah rombak rumah."
"Bener nih?"
"Iya, Bara yang ngecat, nanti pak Andi bersihin lumut lumut yang menempel."
"Ok deh, ayok mulai sekarang, Ayah udah beli Cat tadi." Kata Lukman menunjuk ke arah Cat yg di belinya.
Bara dan Lukman mulai merombak ulang rumah, genteng yang sudah rusak bara ganti dengan yang baru, Di cat ulang, rumput yang sudah memanjang pak Andi potong.
Semuanya bekerja keras sangat lama. Malam hari bara, Lukman, dan pak Andi berhenti, pekerjaan rumah hanya tinggal setengah langkah, besok bisa di selesaikan dalam setengah hari.
Saat jam 9 malam Bara pamit pada Lukman untuk pergi ke rumah sakit, Karna bara sudah berjanji pada Citra, Lukman mengizinkan, namun Lukman tidak bisa ikut Karna dia sudah kelelahan habis membereskan rumah.
• Rumah Sakit Sejahtera.
"Kak bara kenapa belom datang?" Tanya Citra pada dirinya sendiri.
"Aku tidur aja deh, mungkin kak Bara Lagi sibuk." Kata citra pada dirinya sendiri sembari memejamkan matanya.
Mama di suruh pulang oleh Riska, jadi di rumah sakit hanya ada Riska dan mang iman yang menemani. Riska dan mang iman ada di luar ruangan karena Citra ingin sendirian untuk bisa beristirahat dengan tenang.
Saat semuanya terlelap tidur. Seseorang masuk ke dalam ruangan Citra. Dia berjalan mendekati Citra yang tertidur, Karna sifat Citra yg selalu waspada, Citra terbangun dari tidurnya tepat saat seseorang itu ingin menyentuh kepala Citra.
"A ugh!" Kata Citra yg ingin berteriak namun seseorang itu sigap menutup mulut Citra.
*Siapa ini? Aku takut sekali... Apa dia orang jahat?* Batin Citra resah.
"Gadis cantik, jangan berteriak." Ucap seseorang itu dengan suara yg serak. Lalu melepaskan bungkaman nya.
"Si-siapa kamu? Ja-jangan macam macam ya!" Ucap citra pelan karena takut untuk bicara keras.
"Tidak penting siapa aku, yg kamu harus tau, aku ingin memiliki kamu." Kata seseorang itu memegang dagu Citra.
*Sinar lampu meja ini hanya menyinari bagian bawah, aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas, siapa sebenarnya ini?* Batin Citra takut.
"Mengapa diam?! Ohh aku tau diam artinya setuju." Kata seseorang tersebut yang langsung naik keatas ranjang dan menindih tubuh citra.
"Ma-mau apa kamu?! Aku sudah punya seseorang yang aku Cintai. Jangan macam macam kamu, atau aku akan berteriak!"
"Oh? Punya Orang yang di cintai? Silahkan Teriak saja, pada saat itu semua orang akan melihat kita dengan posisi yang menyenangkan."
"Aku mohon... Jangan apa apakan aku... Aku tidak ada masalah dengan mu, kumohon lepaskanlah aku." Kata Citra dengan air mata yang membasahi.
Citra tidak dapat lagi membendung air matanya, Citra sangat takut, Citra takut orang yang menindih nya benar-benar akan berbuat macam macam pada dirinya.
"Kamu?! Kamu menangis?! Maaf maaf, aku minta maaf, aku bara Drin, aku bercanda, kumohon berhentilah menangis." Kata bara panik melihat citra menangis.
"Kak bara?! Kenapa kak Bara bercanda segitunya?! Aku- aku pikir benar benar ada orang asing yang masuk dan akan- akan berbuat macam macam pada ku. Aku sudah takut setengah mati gara gara kak Bara." Kata Citra menangis tersedu sedu.
"Iya aku minta maaf, aku salah, kamu bisa hukum aku, pukul aku! Atau kamu mau tampar aku juga boleh, tapi kumohon berhentilah menangis, itu membuat ku sakit." Kata bara menyeka air mata Citra.
Citra terus menangis karna rasa takutnya barusan, dia membendung air matanya untuk sesaat sebelum Citra kehilangan kendali dan menangis. Jelas saja, Citra tidak bisa menghentikan air matanya yang terus mengalir dengan sendirinya.
"Drin... Aku mohon berhentilah, aku tidak bisa melihat kamu menangis seperti ini." Kata bara dengan ekspresi menahan sakit.
"Huhuhuhu hiks hiks hiks hiks aku pikir, aku akan, akan... Huhu kak Bara jahat banget sama audrin."
"Maaf, sudah ya, berhentilah menangis, aku minta maaf sudah membuat mu terkejut."
Citra tidak bisa menghentikan air matanya, Bara yang melihat Citra terus menangis membuat nya merasakan sakit di hatinya, bara membawa citra duduk di sofa dan memberinya minum untuk menenangkan hati Citra.
Citra yg memang takut gelap dengan suasana hening, malah di tambah dengan candaan dari bara, Citra benar benar terguncang Karna mengira akan kehilangan hidupnya.
__ADS_1
*apa yang sudah aku lakukan? Ahh Bara kamu bodoh, kamu membuat nya menangis!* Batin Bara penuh rasa penyesalan.
Citra masih tetap menangis, Bara juga harus kuat menahan sakit di hatinya melihat gadis yang Dia Cintai menangis karna ulahnya sendiri.
Bara yang sudah tidak sanggup menahan sakit di hatinya, sigap mendekap Citra dalam pelukannya, Citra masih menangis namun tidak separah sebelumnya dalam pelukan Bara.
"Udah ya, Aku temani kamu malam ini, kamu yg tenang ok?" Kata bara yang membawa Citra duduk Di pangkuannya.
"Hiks, janji gak pergi?" Tanya Citra dalam keadaan setengah menangis. Citra tidak sadar dimana dia duduk.
"Iya, aku janji, kamu bisa tidur dengan tenang." Ucap Bara mendekap Citra erat kedalam pelukannya.
Citra yang kelelahan menangis tertidur pulas. Bara hanya terus memandangi wajah Citra yang tertidur. Bara mengelus pipi Citra penuh kasih.
"Maaf, aku tidak akan membiarkan air mata mu menetes lagi." Kata Bara mencium kening Citra.
Bara membenarkan duduknya, bara menyandar ke tembok dan punggung Citra bara biarkan bersandar ke Sofa. Bara terus memeluk Citra Tampa mengeluh lelah dan lainnya. Saat waktu sudah sangat malam, bara pun ikut tertidur Tampa melepaskan pelukannya pada tubuh citra.
__________
• Pagi Harinya.
"Cit, temen temen kam..." Kata Riska membuka pintu namun kalimat nya tergantung melihat Citra dan Bara.
"Ada apa kak Riska?" Tanya Risa yang penasaran.
"Shut!! Jangan berisik, Mereka sedang tidur." Kata Riska dengan suara pelan yang seketika berbalik menyuruh semuanya untuk tidak berisik.
"Ha? Mereka?" Kata Risa dan yang lainnya secara bersamaan dengan suara pelan.
Kemudian mereka mengintip bersusun. Mang iman paling bawah, Aliya, lalu Risa, Fara, Mira, indah, Wulan dan Firly terakhir yang berada paling atas Karna Firly paling tinggi di antara teman-temannya yang lain.
"Wahhhh" kata Risa dan yang lainnya secara bersamaan dengan suara pelan yang masih belum merubah posisi mengintipnya.
"Adu romantis banget mereka, jadi iri." Celetuk Mira setelah mereka membenarkan posisi.
"Huh!! Sana minta sama Rafi! Suruh dia buat romantis kayak kak Bara ke Audrin." Sarkas Risa pada Mira.
"Ah ngak deh, gue pengen Rafi romantis dengan kemauannya sendiri."
"Ah dasar Lo Mira, bucin!" Tukas Fara menyenggol bahu Mira pelan.
"Udah ya, kalian berangkat ke sekolah aja, hari ini Citra udah boleh pulang. Kalo kalian mau, kalian bisa jenguk kerumah aja. Tapi ya... Kak Riska harus tanya dulu sama Citra." Ujar Riska.
"Ohh ok ok deh kak, gak enak juga mau ganggu mereka yang lagi tidur romantis." Balas Risa melirik kedalam ruang rawat Citra.
"Ya udah, kak Riska, Kami pergi dulu ya kak, assalamualaikum." Pamit Fara membimbing yang lain pergi.
"Waalaikumsalam." Balas Riska menatap kepergian Risa dan yang lainnya.
Setelah Semuanya pergi, Riska segera menelepon mama. Mama menyuruh mama untuk tidak perlu ke rumah sakit, Karena Citra akan pulang pagi hari jam 9 nanti.
"Mama gak usah kesini, siapkan aja sarapan dan susu mangga untuk Citra. Jangan lupa rumah harus rapi atau Citra akan ngomel."
"Haha tenang, disini kan ada bik ina dan bik Maryam yang bantuin mama, juga ada Novi. Jadi rumah akan selalu rapi."
"Ok deh ma, Nanti Bara sepertinya akan ikut ke rumah deh ma, jadi mama siapkan sesuatu untuk nyambut Bara."
"Ok, gak masalah." Kata mama percaya diri.
__________
"Hoamm!" Citra menguap bangun dari tidurnya.
"Eh dimana aku duduk?!" Tukas Citra terkejut melihat bara memeluknya.
Citra langsung merona melihat bara yang memeluknya sepanjang malam, menjaganya, bahkan membiarkan citra duduk di atas kakinya Tampa mengeluh. Citra langsung berusaha untuk melepaskan pelukan Bara di tubuhnya
Saat berusaha melepaskan pelukan Bara di tubuhnya, Citra malah membuat Bara terbangun.
"Mau kemana sih Drin?" Tanya bara yang masih memejamkan matanya.
"Mau bangunlah kak, emang kak Bara gak pegal aku duduki kek gini?" Jawab Citra melihat Bara.
"Ngak, udah kamu tetap disini, jangan ganggu aku tidur aku ngantuk banget." Kata bara yang kembali menarik citra kedalam pelukannya.
"Kak?"
"Jangan bergerak atau aku cium kamu."
Citra langsung diam dengan ancaman dari bara, Citra takut Bara akan benar benar menciumnya jika dia bergerak sedikit saja.
*Tapi dalam pelukan kak Bara begini....benar benar hangat dan nyaman.* Batin Citra.
Bara Diam diam tersenyum Karna Citra tidak bergerak sedikitpun, lalu bara melanjutkan tidurnya yang belum selesai. Tampa sadar, Citra juga kembali tertidur.
BERSAMBUNG..........................................
__ADS_1