
"Ada apa sih? Kok berisik sekali, aku juga dengar kak Bara teriak marah marah. Ada apa?" Kata Citra yg muncul di antara pintu.
"Audrin?!" Kata teman teman Citra secara bersamaan.
"Citra?!" Kata Riska terkejut melihat adiknya muncul.
"Audrin?!" Kata Bara terkejut sembari menghembuskan nafas lega.
"Jadi tadi pak dokter?..."kata mang iman mempertanyakan.
"Saya hanya menggoda kalian saja, yg ingin saya sampaikan adalah kabar baik."
"Kabar baik? Kabar baik apa?"
"Gadis ini hamil." Kata pak dokter dengan mantap.
"Hah?! (Apa?!)" Kata semuanya secara bersamaan.
"Ha...hamil?!" Kata bara dan Citra secara bersamaan terbata bata Karna terkejut.
"Hamil? Kata teman teman Citra saling menoleh satu sama lain.
Riska hanya terdiam Karna terkejut dengan kata kata pak dokter. Riska pun angkat bicara kepada Bara.
"Itu kamu iya kan?! Kamu yang menghamili adik aku iya kan?!" Ketus Riska.
Mendengar pertanyaan itu semua mata menatap Bara.
"Apa?! Ngak ngak" Ucap Bara panik.
Bara sangat terkejut dengan itu, Riska terus menatap tajam Bara, kemudian Citra maju ke tengah tengah Bara dan Riska untuk menyudahi semuanya.
"Bak Riska udah, Bukan kak Bara Kok. Lagian aku jelas anak gadis mana mungkin bisa hamil? Pak dokter nya aja tuh yang bercanda." Ujar Citra menyela.
"Haha iya iya, Saya cuma bercanda kok." Ucap pak dokter tersenyum cengengesan.
"Pak Dokter!!" Teriak semuanya geram.
Semuanya geram dengan candaan dari pak dokter, mereka sudah terkejut bukan main dan ternyata semuanya hanyalah candaan dari pak dokter.
"Haha maaf maaf, sebenarnya kabar baiknya itu, Emm selamat untuk kamu Citra. Fondasi tubuh kamu perlahan mulai kokoh, tetap jaga kesehatan agar kamu bisa cepat sembuh dan tubuh kamu bisa sekuat orang lain."
"I-ini... Pak Dokter gak bercanda lagi kan? Tubuh saya benar benar sudah membaik?"
"Iya, saya sangat serius sekarang, selamat ya.
"Ahh dek, Kamu bakal sembuh dek." Ujar Riska memeluk Citra.
"Haha iya bak, aku seneng banget." Ucap Citra membalas pelukan Riska dengan tangis haru.
Semuanya hanya tersenyum, apalagi Bara, Dia amat senang dengan kabar itu. Setelah puas dengan rasa bahagia nya, Bara maju ke hadapan pak dokter.
"Eh eh eh!! Saya salah apa apalagi?" Ujar pak dokter panik.
"Maaf atas perlakuan saya sebelumnya pak dokter, saya terlalu cemas." Ujar Bara membungkukkan badan nya.
"Ah, iya tidak apa apa, saya paham kamu khawatir." Ucap pak dokter membangunkan Bara.
"Terimakasih atas pengertian nya Dok."
"Pak Dokter, Terimakasih banyak Dok." Ujar Citra menatap pak dokter.
"Ah, ini semuanya Karna kamu sendiri, kamu yang sering mengkonsumsi makanan yang mengandung banyak nutrisi penting untuk tubuh kamu, sehingga tubuh kamu menjadi lebih baik." Ujar pak dokter panjang lebar.
"Dan khe Khem!! Kamu baru saja sadar dan sekarang sudah berjalan dan berdiri begitu lama disini. Sebenarnya itu tidak baik untuk mu." Ujar pak dokter lagi.
Pernyataan pak dokter ini pun sontak membuat Bara menatap Citra, dia berjalan menghampiri Citra dan membawa Citra kedalam pangkuan nya.
"Ah! Kak Bara ngapain?"
"Kamu gak dengar apa kata dokter? Kamu gak boleh jalan."
"Iya, Tapi aku bisa jalan sendiri kok Kak. Turunin aku ya?"
"Gak bisa."
"Kak, pliss... Malu diliat orang."
"Pokoknya gak bisa."
"Kak... Turunin aku ya? Pliss kak."
"Udah, kamu nurut sama aku sekali ini aja, Ok?!" Ujar Bara menatap tajam Citra.
".... Ok deh aku nurut nih!" Celetuk Citra manyun.
"Nah begini kan bagus." Ucap Bara seraya membawa Citra masuk ke dalam ruang rawat Citra.
Bara pun membawa Citra masuk, sampainya di dalam, Bara menurunkan Citra ke bangsal nya pelan. Semua orang pun ikut masuk setelah pak dokter dan suster pergi.
"Senangnya melihat gadis itu tersenyum bahagia dengan kabar yang dokter berikan."
"Hemm. Kamu tau laki laki yang gadis itu panggil Kak, emm Kak Bara?"
"Iya, ada apa dok?"
"Laki laki itu suka sama gadis itu, cuma gadis itu yang tidak menyadari nya."
"Ha? Dokter tau dari mana?"
__ADS_1
"Kamu ini remehin saya, saya itu sudah berpengalaman, semuanya gak akan lolos dari pandangan mata saya."
"Ohh Terus kenapa Dokter belum menikah juga?"
"Uh!! Lu-lupakan itu, ayo bergegas, kita masih punya pasien lain yang butuh di periksa."
"Baiklah....."
• HAHA, PAK DOKTER TERTAMPAR!🤣•
🌬️🌬️🌬️🌬️🌬️
"Drin, gimana? Udah baikan?" tanya Fara mendekati Citra.
"Gue gak apa-apa kok Far, Lo tenang aja."
"emm syukur deh kalo gitu, aku mau pamit pulang dulu, soalnya ini udah terlambat, takut mama nyariin aku."
"Ohhh Iya gak apa-apa kok Far, tenang aja. Lo bisa balik dengan tenang."
"Ok, dah Citra. Semoga cepat sembuh ya." Ujar Fara seraya bersiap untuk pergi.
"Iya." jawab Citra singkat.
"Eh eh Far!! Lo jangan main balik gitu aja, Lo jangan lupa kalo Lo bawa penumpang!" Celetuk Mira.
"Oh iya, aduh maaf gue lupa."
"Huh! Dasar Lo." Celetuk Mira manyun.
Yang lainnya hanya bisa tertawa dengan apa yang mereka lihat. Tak terkecuali Riska, dia tak menyangka bahwa teman teman Citra sangat lucu.
"Btw kata Dokter tubuh Lo udah gak apa-apa kan nih, jadi gue bisa kejutin Lo kapan pun dong?!"
"Tetep gak boleh ya! Awal kalo Lo berani kejutin audrin, Gue hukum Lo Risa."
"Upsss, ampun mas pawang! Saya gak berani."
"Risa-Risa, Lo ada ada aja." Ujar Citra seraya menggeleng gelengkan kepalanya.
"Hahaha ya udah ya drin, gue sama Fara balik duluan ya. Bye bye." Pamit Mira melambaikan tangan pada Citra.
"Iya, hati hati." Belas Citra tersenyum.
Mira dan Fara hanya membalas nya dengan senyuman pula. sesaat kemudian mereka berdua sudah menghilang dari pandangan mata Semuanya.
1 jam kemudian Risa juga telah berpamitan pulang, Kini di rumah sakit hanya ada Bara Dan Riska yang menemani Citra, namun kemudian Riska keluar dengab mang iman untuk memebli makanan untuk Citra. Dan sekarang hanya tersisa Bara yang menemani.
Di sisi lain Mama panik Saat sampai di rumah tak ada seorang pun yang terlihat. hanya ada beberapa pelayan. namun mereka tidak mengetahui Riska kemana. Karna telah amat bingung dan cemas, akhirnya mama menghubungi Riska.
"Assalamualaikum Riska. Kamu dimana nak?" Tanya mama yg telah menelepon Riska.
"Apa?! Riska-Riska, kenapa hal serius begini bisa lupa sih?!"
"Maaf ma, terlalu panik soalnya."
"Ya udah, kalian di rumah sakit mana? Mama segera susul kalian."
"Di rumah sakit sejahtera ma. Mana sebelum kesini suruh bik Maryam buatin susu mangga buat Citra. Nanti mama bawa ke rumah sakit."
"Oh ok ok. Ya udah mama tutup dulu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
__________
"Kak bara lelah ya?" Kata citra yg melihat bara menguap.
"Ngak kok, aku gak lelah. Aku bakal jagain kamu Sampe Riska Dateng." Kata bara menatap Citra dari sofa.
Di rumah sakit setiap ruang rawat ada sofa dan meja buat keluarga pasien. Jadi jangan heran bara duduk di sofa sedangkan dia ada di rumah sakit.
"Kak bara pasti boong. Kak bara baru datang dari Jakarta, gak pulang sama sekali, sekarang jagain aku di sini, pasti lelah. Kak bara tidur aja dulu."
"Ngak Drin aku gak lelah kok, kamu tenang aja."
"Kalo kak Bara gak mau istirahat, aku turun nih ya." Kata citra mengancam sembari menurunkan Kaki nya."
"Eh jangan jangan. Aku bakal tidur kalo kamu juga tidur."
"Ok aku tidur nih ya, awas aja kak bara gak tidur."
Tak lama melihat Citra tidur, bara pun ikut tidur, Karna bara yang sebenarnya sudah amat kelelahan bara tertidur sangat nyenyak, melainkan citra, Citra hanya berpura-pura tidur agar bara mau beristirahat.
Citra Bagun dari bangsal nya, Citra menuju gorden yang terbuka di dekat bara, Citra menutup gorden itu agar tidak menggangu bara yang sedang tidur.
*Selamat istirahat pangeran berkuda putih ku.* Batin Citra menatap Bara.
"Ahh Kak bara benar benar sangat tampan! .....Ternyata Bunga ini sudah mekar Karena kamu. Jika suatu saat bunga ini mekar dengan sempurna, kapan sang kesatria akan memetik sang bunga?" Tukas Citra pelan sembari menatap wajah bara lembut.
Citra menatap bara dalam waktu yg lama, Karna Riska yg lama mencari makanan, citra memanfaatkan kesempatan ini untuk bisa menatap wajah laki laki yg ia rindukan itu tampa sungkan.
Citra tidak sadar bahwa bara sudah mulai bangun dari tidurnya. Saat bara menggerakkan matanya, Citra terkejut dan buru buru berdiri untuk kembali ke bangsal nya.
"Mau kemana kamu?" Kata bara memeluk Citra dari belakang.
"Ah, aku...aku..." Kata citra gugup.
"Bilang aja, kamu suka aku kan? Jangan bohongi diri kamu sendiri Drin."
__ADS_1
"Kak, kak Bara jangan bicara aneh aneh deh! Lepaskan pelukan kak Bara Dari Aku."
"Gak mau."
"Kak Bara jangan aneh aneh, lepas dong kak."
"Citra Audrina Putri Wulandari, aku sayang sama kamu, aku cinta kamu. Kamu juga punya rasa yang sama dengan ku kan Drin?" Kata bara meniup telinga Citra.
Seketika telinga citra merah, dan pipinya merona. Citra tidak dapat berbohong pada dirinya sendiri, bahwa dia juga mencintai laki laki yang memeluknya saat ini.
"Kak, kamu ngigo ya? Cepat lepasin aku, nanti bak Riska sama mang iman Dateng dan ngira ada hal aneh aneh lagi, apa lagi di sini gelap Karna gorden di Tutup."
"Jangan mengalihkan topik Drin. Jawab aku, kamu punya rasa yang sama kan sama aku?"
Citra terdiam dan berfikir untuk menjawab bagaimana. ".....ngak, aku cuma menganggap kak bara kayak Kakak ku sendiri." Jawab citra dengan wajah bersalah.
Bara menahan rasa kecewa di hatinya. Dan membalikkan badan citra menghadap nya untuk mencari keseriusan dari kata-kata yang citra lontarkan.
"Tatap mata aku, dan katakan hal itu." Kata bara memutar badan citra dan menatap matanya.
Citra terdiam sesaat sebelum akhirnya melontarkan pernyataan nya. "....Audrin gak sayang sama kak bara." Ucap Citra memalingkan wajahnya.
Citra tidak bisa mengatakan tidak sedangkan hatinya ia, citra tidak bisa berbohong. Citra memalingkan wajahnya Karena citra tidak bisa menatap mata bara untuk mengatakan kebohongan.
"Drin, tatap mata aku!" tukas Bara.
"Iya iya aku tatap! Sekarang apa?"
"Sekarang katakan lagi Kalimat tadi."
"............" Citra hanya diam sembari menatap mata Bara.
*Aku Gak bisa menatap mata kamu untuk berbohong, mungkin memang benar aku sayang sama kamu kak, Tapi... Hati aku aja yg belum siap. Aku takut kalau kalau hati aku akan kecewa.* Batin Citra menatap mata Bara.
Tampa citra sadari, Matanya menyiratkan kata hatinya. Dan bara melihat jawaban dari pertanyaan nya yang tersirat di mata indah Citra.
"Ok, Aku minta maaf, kamu tidak perlu menjawab pertanyaan ku. Anggap saja aku tidak pernah menanyakan hal itu." Kata bara mengelus rambut Citra dengan lembut.
"Kak Bara kebiasaan, rambut aku jadi berantakan gara gara kak Bara elus muluk!" Kata citra merapikan rambutnya.
"Aku suka dengan itu. Drin? aku Gk akan memaksa kamu, yg perlu kamu tau, aku sayang sama kamu, dan aku tidak akan menyerah, aku akan berusaha untuk bisa mendapatkan hati kamu." Ucap Bara tersenyum manis sembari membantu Citra merapikan rambutnya.
Citra hanya diam dan menatap bara, Dia tidak menyangka bahwa bara sangat menjaga dengan hati-hati Hati miliknya.
"Gak papa kan Drin, kalo aku kejar kamu?" Tanya bara memegang pipi Citra.
Citra tidak menjawab pertanyaan dari bara, Citra hanya memperlihatkan senyum manis nan indahnya pada bara, ya senyum itu adalah jawaban dari pertanyaan Bara.
"Terimakasih sudah memberiku kesempatan, aku gak akan menyia-nyiakan kesempatan yang kamu berikan ini."
"Nah, sekarang udah bisa lepasin rangkulan kak Bara kan? Aku mau tiduran. Kaki ku lemas karena berdiri terus." Kata citra melihat ke arah kakinya.
"Ah maaf maaf, aku bawa kamu duduk ke bangsal." Kata bara melepaskan rangkulannya dari tubuh citra dan segera membawa citra ke dalam pangkuan nya lalu berjalan menuju bansal rawat citra.
********
"Citra?" Kata mama membuka pintu ruang rawat citra.
"Mama?" Kata citra terkejut melihat kedatangan mama.
"Sayang bagaimana keadaan kamu? Baik baik aja kan?!" Tanya mama cemas.
"Citra gak kenapa Napa kok ma, malah kata dokter, tubuh citra udah mulai stabil. Gak lemah lagi."
"Beneran, aaa selamat sayang, habis ini kamu bisa melakukan apapun yg kamu sukai Tampa harus khawatir lagi."
"Iya ma."
"Tapi jangan lupa istirahat kalo udah sembuh ya."
"Siap mama."
"Ini siapa Cit?" Kata mama menatap Bara.
"Kenalin ma, Kak bara. Dia anaknya temen Paman. Dia yg selalu jagain citra waktu di Jakarta."
"Bara Tante." Ucap Bara mencium punggung tangan mama.
"Ohh, ini nak bara yg Riska bilang selalu kamu sebut?! Ganteng kok Cit, sopan juga, jadikan calon mantu mama aja sekalian." Kata mama tersenyum melihat bara.
Citra menengadah mendengar perkataan mama, Bara terkejut dan menatap Citra, Bara tidak menyangka bahwa mama adalah orang yg terus terang.
"Mama apaan sih?!"
"Loh kenapa? Mama kan cuma restuin kalian aja."
"Haha Saya sih seneng banget Tan, cuma Audrin nya aja yg gak mau." Kata bara meladeni mama.
"Kak bara!! Kak bara kok malah ikut ikutan?!"
"Ya camer udah membuka pintu, aku sebagai calon mantu siap masuk Drin. Tinggal nunggu kamu siap aja."
"Yee siapa yg mau sama kak bara."
"Tuh kan Tan, Audrin nya yg gak mau."
"Ihh tau deh! Kak bara sama mama sama aja! Nyebelin!" Ketus Citra memalingkan wajahnya.
BERSAMBUNG..........................................
__ADS_1