
β’ 3 TAHUN KEMUDIAN βοΈ
Hari ini Citra sudah selesai dengan acara wisudanya, dan akhirnya ia berhasil mendapatkan gelar sarjananya. Di balik kebahagiaannya Citra juga merasa sedih karena keluarganya tak bisa melihat langsung dirinya yang telah resmi menjadi sarjana.
Kedua orangtuanya hanya bisa menyaksikan kelulusan Citra lewat Vedcoll, sebenarnya bukan hal sulit untuk mereka pergi ke Amerika, secara uang sudah tidak masalah bagi keluarga Citra.
Hanya saja keluarga Citra tak pernah bepergian Keluar Kota, apalagi ke luar negeri. jadi Citra khawatir untuk membiarkan keluarganya ke Amerika tanpa di temani orang yang sudah berpengalaman.
"Selamat ya... anak Papa Udah resmi jadi sarjana." Celetuk Papa Ilham tersenyum senang dan bangga.
"Hiks... Cicit pengen cepet pulang..." Lirih Citra yang tak kuasa menahan air matanya.
"Jangan nangis dong cantiknya Papa, Masa di hari bahagia nangis." Ujar Papa Ilham berusaha menghibur.
Citra lantas menyeka air matanya dan mengangguk. "Citra kangen banget sama kalian." Ungkap Citra tersenyum sendu.
"Kami juga, Jangan sedih lagi dan bersenang-senanglah." Tutur Papa Ilham lembut.
Mereka pun berbincang bincang lumayan lama, Yang hadir di acara lulusan Citra adalah Bara dan Lista, Sementara Lukman sedang ada di kota sebrang namun tetap negeri yang sama yaitu Amerika.
Bara mengusap punggung Citra guna memenangkan nya, Citra tersenyum dan kemudian mengajak Bara untuk mengobrol bersama keluarganya. Dan tentu dengan senang hati Bara ikut berbincang bincang dengan keluarga Citra.
20 menit kemudian Citra sudah selesai dengan acara vedcoll nya bersama keluarganya, Ia pun lanjut berfoto foto bersama teman-temannya tentunya hanya Marina yang dekat dengan Citra.
Setelah selesai berfoto foto Citra pun pulang ke apartemennya bersama Bara. Namun Bara mencegah Citra, ia bilang masi ada satu sesi yang belum Citra lewati. Citra pun bertanya-tanya apa itu? Dan mengapa ia tidak tau jika ada acara lain?
"Acara apa lagi sih kak? Bukannya semuanya udah selesai?" Tanya Citra mengernyit.
"Ada deh, Tapi Kita pindah tempat, ada kejutan di taman samping universitas." Jawab Bara penuh misteri.
"Kejutan?" Tanya Citra lagi. Ia sekarang mejadi penasaran dan Bara hanya mengangguk.
Citra pun mengikuti Bara menuju taman samping universitas, Terlihat beberapa orang masih berlalu lalang di sana, foto bersama keluarga dan yang lainnya.
Citra menoleh sana sini mencari hal baru yang mungkin merupakan kejutan yang Bara maksud, namun Citra tak menemukan apapun, semuanya normal dan tampak seperti biasanya.
Tanpa diketahui oleh Citra, Dari arah belakang muncul sekelompok orang yang akan sangat membuatnya terkejut. bunga dan berbagai hadiah terlihat di tangan mereka, sungguh indah di pandang mata.
"Sayang, Lihat di belakang mu." Tutur Bara tersenyum.
Citra pun menoleh kebelakang, Betapa terkejutnya ia melihat orang-orang yang sudah sangat ia rindukan selama ini. Citra lantas meneteskan air matanya tak menyangka, ia begitu bahagia dengan kedatangan mereka.
__ADS_1
"Mama? Papa?..." Cicit Citra gemetar.
Papa Ilham dan Mama Fahira lantas membuka tangannya lebar guna memberikan tempat bagi Citra untuk memeluk mereka.
Dengan senyuman indah nya Citra berlari kecil menuju orangtuanya dan sigap memeluk mereka erat, Citra menangis tersedu-sedu tak bisa melukiskan betapa bahagianya ia kali ini.
"Shutt udah jangan nangis lagi." Ucap Papa Ilham mengelus rambut Citra lembut.
"Cantiknya ilang kalo nangis lagi sayang." Celetuk Mama Fahira terkekeh kecil.
Citra lantas melepaskan pelukannya dan menyeka air matanya, ia tatap satu persatu keluarganya yang ternyata lengkap, semuanya tengah ada di hadapannya saat ini, mulai dari kakak dan adik adiknya.
Tiba-tiba Citra merasakan anak kecil memeluk kakinya, Citra lantas menunduk dan melihat siapa yang memeluknya itu, terlihat bocah laki-laki kurang lebih umur 2 tahun tengah asik mendusel duselkan kepalanya di kaki Citra.
Citra menyeka air matanya dan menggendong bocah itu. "Anak dari mana ini? Kok bisa ada disini? Dimana orang tuanya?" Ucap Citra Bertanya-tanya.
"Sayang? Mana Yuda?" Tanya Aris dengan nafas ngos-ngosan.
"Tuh!" Jawab Riska menunjuk ke arah Citra.
Aris lantas menatap ke arah yang Riska tunjuk. "Ya ampun.... Langsung nempel sama tantenya, padahal baru ketemu." Ucap Aris mendengus kasar.
"Ya itu anaknya Riska sama Aris Cit." Jawab Mama Fahira menimpali.
Citra lantas kaget, Ia tatap bocah dalam gendongannya yang juga sedang menatapnya, Citra pun menatap kakak dan kakak iparnya dengan tatapan penuh pertanyaan, sejak kapan Riska mengandung? Dan mengapa tak ada yang memberitahunya sebelumnya? Begitulah pikiran Citra saat ini.
"Kok kalian gak ada beritahu aku sih? Sejak kapan mba Riska hamil?" Ujar Citra sedikit masam.
"Aku yang larang mereka kasih tau kamu Cit, Aku mau kasih kejutan buat kamu." Ucap Riska menghampiri sang adik.
"Mba'.... Kamu ini ck! Tega tau gak?!" Cetus Citra berdecak kecil.
"Seneng atau engga nih?" Ujar Riska menggoda.
"Hehe seneng sih. Uhh keponakan kecilnya aunty." Celetuk Citra menciumi pipi keponakannya.
Semua orang tersenyum melihat Citra yang menempel dengan keponakannya itu, tak berselang lama mereka semua pun pulang.
Citra membawa keluarganya ke apartemennya, sementara Aris kembali ke hotel karena ada pekerjaan yang harus ia selesaikan. Sebelum berpisah keluarga Citra dan Bara sudah menetapkan janji Party Guardition untuk Citra nanti malam.
Karna waktu masih terbilang siang, Citra dan keluarganya berbincang-bincang di apartemen Citra, apartemen Citra lumayan besar karena Bara yang menyiapkan apartemen itu untuknya. Jadi muat untuk keluarganya, dan kebetulan Riska juga tidak menginap, karena Riska akan pulang ke hotel ketika Aris menjemput.
__ADS_1
"Yuda? Liat aunty punya mainan disini, Ayo kesini." Celetuk Citra memperlihatkan mainan kecil di tangannya.
Bocah kecil itupun berjalan dengan penuh semangat ke arah Citra, ia meracau tidak jelas dengan senyum yang mengembang di bibirnya, semua anggota keluarga juga ikut tersenyum melihat tingkah bocah kecil itu.
"Arsha, Gimana rasanya masuk sekolah dasar?" Tanya Citra melirik Arsha.
"Sama saja." Jawab Arsha malas.
"Ha? Sama saja gimana maksudnya?" Tanya Citra.
"Ya sama aja rasanya kayak masuk TK, bedanya cuma temen-temennya dan aku yang tambah dewasa." Jawab Arsha.
"Hahaha Dek.... Kamu ini makin dewasa kok malah makin cuek gini?" Ujar Citra terkekeh.
"Di ajari Bang Rendi." Ucap Arsha spontan.
"Khuk khuk! Kok malah abang yang kena sih Cha?" Tanya Rendi canggung.
"Lah kan emang iya, Abang tuh kalo bicara singkat.... banget! Terus mukanya gini." Ucap Arsha yang kemudian mencontoh wajah datar Rendi biasanya.
Semua orang lantas tertawa hebat dengan apa yang mereka saksikan, sementara Citra menatap Rendi yang membuat Rendi malu, sebenarnya Rendi mencontoh sifat dingin Citra, dan ternyata Rendi nyaman dengan sifat dingin seperti Citra, karena itu ia terbiasa dengan mudah sejak ia masih umur 5 tahun.
"Jadi kamu nyontoh abang?" Tanya Riska terkekeh.
"Iya, Aku penasaran banget gimana bang Rendi bisa sebegitu cuek nya." Jawab Arsha.
"Aca kalo mau nyontoh bang Rendi jangan sekarang, Nanti aja kalo udah umur 10 tahun ke atas." Ucap Citra.
"Kenapa?" Tanya Arsha.
"Takutnya kamu gak punya teman sayang." Timpal Mama Fahira menjawab pertanyaan Arsha.
"Ishh biarkan saja." Cetus Arsha tak perduli.
Semuanya hanya bisa menggelengkan kepala mereka saat mendengar jawaban Arsha yang sama sekali tak peduli apakah dirinya memiliki teman atau tidak.
Mereka tak khawatir, karena teman akan ada disaat Arsha menemukan yang tulus untuk menjadi temannya. Lagipula bukan tidak terlalu buruk jika Arsha memiliki sifat dingin dan kewaspadaan sejak dini, hal itu akan membuat Arsha memiliki sifat kehati-hatian yang tinggi.
MAAF YA GUYS AKU LAMA UP NYA, DEMI APA AKU LUPA LAGI KARENA SIBUK SAMA PERSIAPAN PATπ MAAF READER'S ππ₯
BERSAMBUNG..........................................
__ADS_1