
"Kau harus bangun! Ahk hk hk hk! Hiks." Tangis Bara tersedu sedu pecah tepat di telinga Citra yang sedang ia peluk.
"Kamu pasti bercanda, iya kan? Haha pasti iya. Sayang ayo bangun, bukannya kamu masing ingin aku memasak setiap hari untuk mu? Setelah menikah kamu ingin mengerjakan pekerjaan rumah layaknya seorang istri pada umumnya kan?" Ucap Bara yang sudah seperti orang gila
"Ayo bangun, Aku akan mengizinkan mu melakukan nya. Haha iya aku janji akan mengizinkan nya. Aku janji haha, maka itu ayo bangun, Kembalilah pada ku. KEMBALILAH AGHHHH!" lanjut Bara histeris.
Lukman dan Lista tak berani masuk bahkan mengintip kedalam, mereka tak sanggup untuk melihat sisi lemah dan hancur putranya saat mendengar kabar buruk itu, Lista hanya bisa menangis tersedu-sedu, ia juga merasa kehilangan dengan kabar buruk itu.
_________
__
"Jika kau tak mengembalikan kekasih ku, aku akan merenggut nyawa mereka!" Sentak Bara menatap ke langit langit seolah menghadap langsung dengan sang kuasa.
"Khuk! Khuk!" Suara batuk menggema di telinga Bara.
suara batuk dari bawahnya terdengar jelas. Suara yang selalu ia rindukan, yang selalu memarahinya itu terdengar tepat dari mulut gadis yang ia peluk, gadis yang sangat ia cintai, yang mampu membuatnya gila kembali bersuara.
Dengan tangan yang gemetar ia merebahkan kembali tubuh Citra, ia menatap ke arah Icd monitor yang terlihat kembali garis berlekuk lekuk, nafas yang terdengar lemah kembali berhembus di hidung Citra, walaupun lemah, tapi ia telah kembali. Kembali dan menyelamatkan nyawa para dokter itu.
"Dokter! Dokter! Cepat kemari!" Teriak Bara tergesa-gesa.
Dokter yang ada diluar pun bergegas masuk mendengar panggilan Bara. "Ada apa tuan?" Tanyanya panik.
"Periksa! Cepat periksa! Tadi kekasih ku batuk batuk, detak jantungnya juga kembali." Jawab Bara tergesa-gesa seraya menunjuk Icd monitor di sana.
Dokter itupun terkejut, sungguh keajaiban detak jantung Citra kembali lagi. Namun ia juga senang karena nyawanya sudah terjamin selamat.
Buru buru dokter itu memeriksa kondisi Citra, sementara Bara bersandar ke tembok dengan kasar lalu menyeka rambutnya dari kanan kiri dengan kedua tangannya guna melepas ketegangan di hatinya.
_
_
"Tuan." Panggil dokter itu seraya melepas alat stetoskop dari telinganya.
"Bagaimana? Dia baik baik saja kan?!" Tanya Bara cemas.
"Nona baik baik saja, ia sudah melewati masa kritis nya, kini hanya tinggal menunggu perkembangan dan menunggu nya untuk siuman."
"20 menit ke depan saya akan kembali dan memeriksa kekasih anda." Lanjut nya seraya menatap Citra.
"Baiklah aku mengerti, kau boleh pergi." Ujar Bara seraya mengibaskan tangannya.
"Baik, permisi tuan." Ucapnya seraya beranjak pergi.
__ADS_1
Dokter itupun pergi, Bara menghampiri Citra dan meraih kursi di dekat bangsal Citra, ia duduk di sisi Citra, menggenggam tangannya seraya menciumi nya, Bara amat sangat bersyukur karena Citra kembali padanya.
"Sayang, Ku mohon jangan pernah meninggalkan ku. Aku bisa gila jika kau pergi...Hiks." Lirih Bara seraya menunduk menyandarkan tangan Citra di dahinya. Air mata yang masih membekas jatuh kembali dari mata indah milik Bara.
"Audrin, kamu gadis pertama yang mampu membuat ku menangis, Kau sangat berarti untuk ku, jadi kumohon... Jangan pernah meninggalkan ku. Ayo sadarlah, kau boleh marah marah pada ku sepuasnya, buka matamu... Aku ingin mendengar suaramu lagi." Sambung Bara seraya mengelus rambut Citra lembut.
__
__
"Dokter, mereka berdua baik baik saja kan?" Tanya Lista Lirih melirik kedalam ruang rawat Citra.
"Nyonya tenang saja, nona sudah melewati masa kritis nya, dan tuan muda juga baik baik saja. Ia sedang menemani nona di dalam."
Betapa senangnya hati Lista mendengar pernyataan dari dokter itu, ia menangis haru dengan sang suami yang sigap memeluknya. Lukman juga turut senang bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Terimakasih Dokter." Ucap Lukman menatap dokter itu.
"Sama-sama Tuan, saya permisi." Ucap Dokter itu yang di balas anggukan kepala oleh Lukman.
"Bunda duduk dulu ya, ayah mau kedalam melihat mereka." Ujar Lukman seraya mendudukkan Lista di bangku tunggu.
"Om nitip Tante ya?" Ujar Lukman pada Marina yang sedari tadi menjadi penonton dan pendengar dengan bahasa internasional nya.
Lukman pun masuk kedalam untuk menemui anak dan calon menantu nya. Sampainya di dalam Lukman menemukan Bara dengan posisi yang masih sama. menyandarkan tangan Citra di dahinya.
"Bara, Kamu harus kuat, kamu laki-laki, jangan tunjukkan kelemahan mu ini. Yang harus kamu lakukan sekarang adalah menemukan pelakunya." Ujar Lukman seraya mengusap bahu putranya itu.
"Ayah tau darimana?" Tanya Bara mendongak melihat sang ayah di sebelahnya.
"Teman kamu diluar sudah menceritakan semuanya. Kamu harus tegas dan jangan lemah begini nak. Kamu itu penerus kakek mu, yang memiliki sifat tegas! Kuat! Dan tak akan pernah menunjukkan kerapuhan nya, karena itu ia menjadi legenda dalam bisnis." Jawab Lukman yang kemudian memberi penjelasan pendukung.
"Saingannya tak ada yang tau harus menghancurkan nya dengan Cara apa. Karna apa? Karena kakek mu tak pernah menunjukkan kelemahan nya dimana." Lanjut Lukman menatap Bara dengan senyuman tegasnya.
Seketika Bara diam. ayahnya benar, jika ia menunjukkan kelemahan nya maka musuh yang mengetahuinya akan menargetkan orang yang sangat berarti baginya. Seperti sekarang Citra terluka karena dendam gadis gila yang memiliki obsesi pada Bara.
"Iya ayah. Terimakasih."
"Ayah, aku titip Audrin ya." Sambung Bara seraya berdiri dari duduknya.
"Kamu mau kemana?" Tanya Lukman penasaran.
"Menghancurkan keluarga meida!" Tekan Bara seraya beranjak pergi.
"Aih.... Sepertinya Om tidak perlu bertindak lagi, Bara akan menyelesaikan Semuanya sendiri." Ucap Lukman menatap Citra.
__ADS_1
*****
"Oliv, apa sungguh tak apa? Dia terluka." Ucap Helena cemas mengingat Citra yang terluka tadi.
"Sudah tenang saja, biarkan dia tau kalau berani berebut pria dengan mu." Balas Oliv menenangkan.
"Tapi aku takut Bara tau." Ucapnya khawatir.
"Sudah tenang saja. Bara tidak akan bisa melakukan apapun pada mu." Balas Oliv percaya diri.
"Benar, ada keluarga kita juga yang mendukung mu, Bara pasti tak bisa melakukan apapun, dia dari Indonesia, dan pasti tak memiliki pengaruh di negara ini." Sambung Yessi membujuk Helena.
Helena diam, sebenarnya Helena memang ingin memberi pelajaran kepada Citra, namun tidak dengan terluka juga. Helena cuma ingin memberikan peringatan agar menjauhi Bara, namun siapa sangka teman temannya itu sangat ganas hingga sanggup melukai Citra. Bahkan menyiram Citra dengan air dan menguncinya di toilet.
"Oh ayolah Helen, ayo makan saja makanan mu. Setelah ini kita belanja dan pulang." Ucap Oliv membujuk.
Yah seperti yang Oliv bilang, mereka bertiga sekarang sedang makan di Mall, setelah makan baru mereka akan belanja besar besaran dan pulang. Kebalik? Iya memang, tapi begitulah yang terjadi.
"Ba-baiklah..." Balas Helena pelan.
______________
____
"Baiklah sudah selesai, Ayo kita belanja! Aku membutuhkan baju baru untuk pesta nanti malam." Celetuk Yessi seraya berdiri dari duduknya.
"Ha? Pesta? Pesta apa?" Tanya Helena yang tak tau menahu tentang pesta seraya menatap temannya itu.
"Oh ya ampun, aku lupa memberi tau kalian ya? Baiklah baiklah, kalian aku undang untuk pesta ulang tahun ibu ku." Jawab Yessi tersenyum canggung yang tentu mendapat delikan tajam dari kedua temannya itu.
"Ohh ulang tahun paman?" Ucap Helena mangut mangut.
"Iya, datang ya." Balas Yessi tersenyum.
"Ok kami akan datang, iya kan Helen?" Ujar Oliv menatap Helena.
"Iya, sekarang ayo pergi, kau membutuhkan baju pesta, pasti akan lama." Balas Helena seraya beranjak pergi.
"Baiklah baiklah ayo belanja....." Ucap Yessi bersemangat seraya menyusul langkah Helena.
• KHE KHEM!! Cuma sekedar mengingatkan, ini pakai Bahasa Inggris ya, cuma sengaja di tulis Indonesia. Kan gak mungkin aku tulis English, secara tidak semua orang pandai bahasa asing, jadi sengaja aku tulis Indonesia karena takut ada pembaca yang tidak bisa bahasa internasional.
Ok terimakasih pengertian nya, salam dari ku 🙏 bye bye 👋
BERSAMBUNG.................................................
__ADS_1