
• Sementara itu...............
"Pa, kenapa mama jadi kepikiran Citra ya Pa? Mama takut Citra kenapa-kenapa." Ujar Mama Fahira pada sang suami.
"Udah Ma, Mungkin cuma perasaan Mama aja, Udah mama yang tenang, Ada bara yang jagain Cicit."
"Emn, semoga aja emang cuma perasaan mama." Lirih Mama Fahira memegangi dadanya.
"Amin... Udah sekarang mama berangkat aja, nanti bank keburu tutup loh ma."
Yah! Saat ini mama Fahira tengah rapi karena ingin pergi ke bank, ia ingin menarik sejumlah uang tahunan keluarga. Juga untuk gaji para Maid dan pelayan yang lain.
"Iya, Pa. Mama pergi dulu ya pa, assalamualaikum." Ujar Mama Fahira menciumi tangan suaminya yang di balas senyuman oleh nya.
"Waalaikumsalam."Ucap Papa Ilham
________________
____
"Mama!" Panggil Sandy pada sang Mama.
"Iya sayang kenapa?" Jawab Mama Fahira menoleh ke arah Sandy.
"Mama, bisa gak kita jalan jalan ke luar kota?" Ujar Sandy pada sang Mama.
"Emang mau kemana?" Tanya Mama Fahira mengangkat sebelah alisnya.
"Aku ingin ke Dufan Ma, pengen main yang muter-muter itu, yang sering aku liat di Televisi." Ucap Sandy tersenyum manis.
"Dulu Sandy gak pernah punya kesempatan untuk ngajak ke luar kota, soalnya gak punya uang, sekarang kan kita udah banyak uang hehe." Sambung Sandy nyengir kuda.
"Insyaallah ya sayang, nanti kalo udah liburan sekolah, Mama ajak kalau Papa bolehin." Balas Mama Fahira tersenyum seraya mengelus rambut Sandy lembut.
Sandy mengangguk antusias dan tersenyum menyetujui perkataan sang mama, setelah itu ia pergi lagi bermain dengan teman temannya. Dan mama Fahira langsung tancap gas bersama pak Jojo menuju Bank.
******
"Bunda, Udah bisa dihubungi belom?" Tanya Om Lukman pada sang istri.
"Belom yah, tumben banget Bara gak bisa dihubungi." Jawab Bunda Lista khawatir.
"Coba hubungi Jonh atau sekertaris Jen." Ucap Om Lukman memberi Saran.
Bunda Lista mengangguk dan segera menghubungi Jonh yang selaku supir Bara di Amrik. Alhasil Bunda lista terkejut mendengar jawaban dari Jonh bahwa Bara ada di rumah sakit. Bagaimana tidak? Baru saja sampai ke negara Paman Sam ini mereka malah mendapati kabar Bara ada di rumah sakit.
__ADS_1
Tampa basa basi bunda Lista menanyakan letak rumah sakit yang Bara datangi saat ini, mereka pun langsung menuju ke alamat yang di share Jonh.
Sementara Bunda Lista dan sang suami menuju ke rumah sakit, Dirumah sakit Semua menjadi sedikit kacau balau.
"Bar, Citra Bar!" Pungkas Marina panik.
Bara yang mendengar itu pun langsung menoleh dan menatap Citra yang ada di pangkuan Marina sejak beberapa saat lalu.
"Ada apa? Citra Kenapa?" Ujar Bara panik mendekati Citra.
"Tubuhnya Semakin dingin, Wajahnya juga pucat." Jawab Marina yang membuat Bara menyentuh tangan Citra dan secara spontan mengambil alih Citra ke dalam pelukannya.
Tepat saat Bara akan membawa Citra, anak buahnya telah datang membawa 5 orang dokter, yang tentu para dokter itu mendapat tatapan menusuk bak orang yang siap membunuh dokter itu dalam hitungan detik.
"Darimana saja kalian! Apa kalian tak mendengar aku berteriak meminta bantuan?! Dokter macam apa kalian ini!!" Bentak Bara pada ke 5 dokter itu.
Para dokter itu diam, mereka yang memang lalai dalam menangani pengunjung. Sudah ada beberapa orang yang mendemo Tampa pasien lain ketahui.
"Ba-Bara.... Kamu tenang dulu, kondisi Citra Bar." Celetuk Marina yang membuat Bara menegang seketika.
"Cepat! Periksa dia!" Bentak Bara emosi.
"Ba-Baik Baik. Cepat ambil bangsal cepat." Ucap Salah satu dokter pada dokter satunya.
Segera salah satu dokter itu mengambil bangsal dan membawanya ke hadapan Bara. Bara segera membaringkan tubuh Citra dengan pelan dan dalam sekejap mata bangsal di dorong secepat mungkin menuju ruang rawat.
"Tuan Muda, minum lah dulu." Ujar Kenzo menyodorkan air mineral kepada Bara.
"Tidak." Tolak Bara menyingkirkan botol air mineral itu.
Kenzo menghembuskan nafas panjang, ia pasrah, ia tau bahwa atasannya itu tengah khawatir. Kenzo pun menyingkir dan menunggu di sisi bangku tunggu. Sementara yang lain berdiri tegap di koridor rumah sakit dekat ruangan Citra.
*****
"Tuan." Ucap Kenzo yang kembali lagi kehadapan Bara setelah beberapa saat yang di balas daheman oleh nya.
"Anak buah kita yang lain telah berhasil menyelidiki orang orang yang anda sebutkan sebelumnya." Ujarnya menyodorkan ponselnya kehadapan Bara, yang tentu di dalamnya terdapat data trio pengganggu itu.
Prok Prok! Kenzo menepuk tangannya 2 kali dan seketika anak buahnya maju dan menyodorkan iPad pada Kenzo.
Kenzo menunjukkan rekaman di dalamnya yang membuat Bara seketika refleks membanting iPad itu karena tersulut emosi. Kenzo dan para anak buahnya tersentak karena terkejut, apa lagi Marina yang sontak menjadi kikuk karena takut.
"Bangsat!! Sialan kalian! Beraninya main main dengan ku!" Umpat Bara dengan emosi yang membakar hatinya.
"Ada apa ini?" Tanya seseorang bingung dengan suara nyaring mendekat ke arah Bara.
__ADS_1
Bara menoleh terkejut mendengar suara yang tak asing di telinganya. "Ayah? Bunda?" Ucap nya yang amat sangat terkejut dengan kedatangan kedua orangtuanya itu.
"Mereka.... Apa ini Bar?" Tanya Lukman bingung dengan kondisi di sekitar Bara.
"A-Ayah... Ini, ini itu..." Ucap Bara tergagap bingung ingin menjawab bagaimana.
"Bara? Kamu tidak apa-apa kan nak? Gak terluka ya kan?" Tanya bunda Lista khawatir.
"Ngak Bun, aku baik baik aja." Jawab Bara mengelus tangan bunda Lista yang ada di lengannya dengan lembut.
"Udah Bunda, Biarkan Bara menjelaskan semua ini." Ujar Lukman menatap sekeliling.
Bunda Lista pun diam, ia menyingkir kembali ke sebelah Sang suami. Sementara Bara menunduk seraya melirik Kenzo dengan isyarat mata memerintahkan untuk Mendur.
Kenzo pun mundur perlahan Tampa menatap mata orang orang di depannya. Ia kemudian berdiri tegap di antara anak buahnya yang lain.
"Sebelumnya sudah kau salin rekaman tadi kan?" Bisik Kenzo bertanya kepada anak buahnya yang tadi memberikan iPad padanya.
"Sudah Tuan, semua ada di sini." Jawab nya tak kalah berbisik seraya menyerahkan flashdisk pada Kenzo.
"Bagus." Ucap Kenzo singkat.
*Untung kami hafal perangai tuan muda. Jika tidak barang buktinya akan hilang dalam sekejap mata.* Batin Kenzo seraya menaruh flashdisk itu kedalam saku jas nya.
Yah, jika anak buah nya tak menyalin rekaman itu sudah pasti barang buktinya akan hilang, secara iPad itupun sudah hancur karena Bara banting.
Kenzo dan para anak buah Bara yang lain amat hafal perangai Bara saat emosi, ia akan Tampa berfikir membanting apapun di tangannya. Dulu di masa lalu ia juga seperti itu. Sudah banyak elektronik mahal yang hancur di tangan Bara dalam sekali sentuh.
"Bara, jawab ayah, ada apa ini? Dan pecahan iPad itu kamu, kan? Ada apa Bara? Apa yang terjadi hingga kamu kehilangan kendali begini?" Tanya Lukman bertubi-tubi.
"Iya, iPad itu karena aku emosi, aku tak dapat menahannya ayah." Jawab Bara mengenai iPad dan menghindari pertanyaan tentang anak buahnya.
"Jangan menghindari pertanyaan, Siapa mereka, jawab jujur Bara." Tegas Lukman menunjuk ke arah orang orang berjas hitam itu.
"Mereka anak buah ku, ayah." Jawab Bara pelan.
"Ayah maaf, aku menyembunyikan semuanya dari ayah. Aku ingin mengatakan nya di waktu yang pas, dan sebenarnya ini juga alasan aku tak tertarik pada bisnis." Sambung Bara menunduk tak sanggup menatap mata sang ayah.
Lukman hanya Diam, lantas ia menatap sang istri yang juga menatap nya seraya tersenyum. Lukman pun menghembuskan nafas panjang dan tersenyum menatap putranya yang sedang menunduk diam di depannya.
Lukman menghampiri Bara dan menepuk bahu nya. "Ternyata kakek mu benar." Pungkasnya tersenyum melirik Bara.
Sontak Bara menatap sang ayah dengan wajah yang tak mengerti maksud pembicaraan nya, bukannya seharusnya ayahnya marah padanya? Tapi mengapa ini lain cerita?.
"Mak-maksud ayah?" Tanya Bara tak mengerti.
__ADS_1
YUHU DI GANTUNG KEK JEMURAN 😝
BERSAMBUNG..........................................