
Dalam perjalanan, dua jenderal bawahan Arya melihat sebuah pergerakan yang mencurigakan. Jenderal Adiwiyata segera memberi informasi kepada Arya lewat telepati. Arya segera membuka kedua matanya.
"Disebelah mana?" Tanya Arya.
"Dibawah bukit itu," balas Adiwiyata, sambil menunjuk tempat yang mencurigakan.
Dengan kekuatan mata malaikatnya, Arya melihat kearah yang ditunjuk bawahannya.
"Kita kearah sana! Sepertinya disana ada segerombolan bandit!" Seru Arya, menunjuk kearah tempat bandit.
Burung rajawali menukik turun, dengan cepat kearah yang ditunjuk Arya. Lalu dengan gerakan cepat, dari atas punggung rajawali, Arya dan bawahannya berloncatan kehadapan pimpinan bandit.
Swhus... Swhuusss...
Arya diikuti rombongannya, muncul dihadapan pimpinan bandit.
"Siapa kalian?" Pimpinan Bandit terkejut, karena tiba-tiba Arya dan rombongannya, muncul dihadapannya.
"Siapa kami, kalian tidak perlu tau!" Balas Arya.
"Lancang....! Ku bunuh kau!" Teriak pemimpin bandit.
"Hanya semut kecil saja, sudah berani menggertak ku," ucap Arya, sambil menindasnya dengan kekuatan aura Maha Dewanya. Langsung pemimpin bandit, jatuh tersungkur dan muntah darah.
Semua mata anggota bandit menatap Arya. Apa yang telah dilakukan oleh pemuda itu, sehingga membuat pemimpin mereka tidak berkutik.
"Hahaha.... Apakah kalian semua cukup bernyali?" Tanya Arya, menatap mereka dengan aura mistisnya.
"Ma.... Maafkan ka.... kami, Tuan. Kami tidak berani." Mereka sangat ketakutan.
Melihat itu, Arya bertanya kepada pemimpinnya. "Bajingan tua! Jelaskan alasan kalian berada ditengah hutan ini?"
Pemimpin bandit, tidak segera menjawab. Dalam hatinya, jika tidak jujur. Tentunya dia bakal dibunuhnya dengan mudah. Dia terdiam cukup lama. Bahkan bunyi ******* nafasnya, terdengar kasar.
"Hahaha... Bajingan tua! Apakah kamu sudah bosan hidup?" Arya menatap tajam pemimpin bandit.
"A.... Ampun Tuan."
"Cepat katakan! Atau aku iris-iris kupingmu," hardik Arya kesal.
"Dalam hitungan sepuluh, jika kamu tidak mengatakannya dengan jujur, satu persatu kupingmu akan terlepas. Satu..... Dua...." Arya mulai menghitungnya.
Bawahan Arya juga merasa kesal. Namun mereka tidak berani berbicara, hanya menunggu keputusan darinya.
"Enam.... Tujuh..... Delapan...." Arya terus menghitung.
"Mohon ampunan, Tuan. Semuanya akan aku ceritakan," ucap pimpinan bandit.
"Cepat katakan!"
Pemimpin bandit segera menceritakan keberadaannya di hutan, dari awal merampok hingga mendapatkan gulungan peta harta karun, peninggalan kerajaan kuno.
Dalam gulungan peta itu dijelaskan, ribuan tahun lalu sebuah kerajaan telah menghilang tanpa jejak. Keberadaan kerajaan itu, terletak di tengah hutan Alas Roban.
Mendengar penjelasan itu, kekuatan mata malaikat Arya, mengitari seluruh hutan. "Hmm.... Ada aura kuat dari sebelah Utara hutan ini," batin Arya.
"Kalian aku ampuni, tapi dengan satu syarat, kalian harus berhenti jadi bandit, dan bersedia menjadi pelayan kami," pinta Arya pada mereka.
"Siap Tuan, kami bersedia," sahut mereka bersamaan.
Arya menghampiri mereka. Lalu sebuah cahaya Dari jari telunjuknya, mengarah pada keningnya masing-masing.
__ADS_1
"Agrh....." Teriak mereka, ketika cahaya itu masuk menembus relung pikiran dan jiwanya. Tidak begitu lama, rasa sakit itu menghilang. Dan kembali seperti biasa.
"Mulai saat ini, kalian jadi pelayan ku. Namun, jika kalian mengkhianati ku. Kalian akan tau akibatnya," ancam Arya.
"Siap Tuan, kami bersumpah dengan darah kami. Kami akan patuh dan siap menjadi pelayan Tuan." Mereka bersamaan bersumpah.
Duar.... Jeder.... Jeder....
Suara petir menggelegar di atas langit, tanda sumpah mereka diterima.
Akhirnya mereka berjalan mengikuti Arya, kearah utara. Tidak begitu lama, mereka tiba disebuah lembah yang curam, Arya mengitari lembah itu dengan kekuatan mata malaikatnya.
Dibawah lembah, tampak ada sebuah goa tertutup tetumbuhan rapat sekali. Sehingga goa tersebut tidak akan pernah ditemukan.
Aura kuno sudah terasa oleh Arya, dia lalu memanggil rajawali raksasanya. Tampak rajawali melayang turun, menghampiri tuanya. Arya dan rombongannya, berloncatan naik ke punggung rajawali, dan terus membawa mereka kedalam lembah.
Tiba di dasar lembah, Arya memeriksa sekelilingnya dengan kekuatan mata malaikat. Lalu matanya tertuju pada sebuah goa, yang tertutup tetumbuhan itu. Dibalik tetumbuhan, ada banyak jebakan. Lalu dia mengeluarkan kekuatan petir dari telapak tangannya. Seberkas cahaya hitam keemasan, melesat menyambar goa.
Duar.... Duar.... Bom....
Beberapa ledakan terdengar dari dalam goa, menghancurkan ratusan ranjau jebakan yang mengerikan.
"Ayo kita masuk!" Seru Arya.
Setelah mereka berada didepan mulut goa, Arya memerintahkan kedua jenderal bawahannya, beserta para pelayan barunya, berjaga didepan mulut goa, hingga Arya menyelesaikan urusan didalam goa.
Arya dengan diikuti oleh Dewi Wulandari, Anjani, Saraswati, Komalasari dan Darmasena memasuki goa. Mereka berenam terus menelusuri lorong-lorong goa, hingga sampai pada ruangan besar seperti aula. Dalam ruangan itu ada, empat pintu menuju arah yang berbeda.
Mata malaikat Arya menembus setiap pintu. Hanya di pintu nomor tiga, kekuatan aura yang cukup kuat, menarik-narik Arya.
"Kalian berempat berjaga disini, aku dan Wulandari akan masuk kedalam pintu nomor tiga. Harap hati-hati, jangan sampai lengah," ucap Arya, mengingatkan mereka.
Arya dan Wulandari, melangkahkan kakinya menuju pintu nomor tiga. Lalu membuka pintu batu , dengan kekuatan mistis mata malaikatnya. Tak lama pintu batu pun bergeser. Aura energi kuno yang sangat kuat menarik Arya, keduanya bergegas melesat masuk.
Selang beberapa menit, keduanya sampai pada sebuah ruangan. Disudut ruangan, terdapat batu altar. Diatasnya ada satu pasang cincin penyimpanan. Mereka berdua menghampiri batu altar itu.
"Wahai anak manusia, selamat datang di istana ku." Tiba-tiba menggema suara tanpa wujud. Dua cahaya terang muncul dihadapannya.
"Kami sudah lama menunggu kalian berdua. Sampai membuat kami bosan menunggu," ucap suara didalam dua cahaya itu.
Arya dan Wulan, terkejut mendengarnya.
"Anda siapa, Tuan?" Tanya keduanya hampir bersamaan.
"Kami pemilik goa ini, yang sebenarnya adalah istana kerajaan kami."
Whuuss... Secara tiba-tiba, ruangan itu berubah menjadi sebuah kamar istana yang besar dan megah.
Arya dan Wulan, dibuat ternganga kagum.
"I.... Ini dimanakah?" Tanya Arya, heran dan gugup ketika dihadapannya melihat seorang Raja, yang mengeluarkan aura agung dan ratu yang sangat cantik.
"Ini diruangan khusus istana kerajaan kami," ucapnya.
"Istana kerajaan! Lalu anda berdua ini siapa?" Tanya Arya, penuh keheranan.
"Kami adalah Raja Agung Prabu Darma Kusumah, dan ini istriku Ratu Kencana Ungu," jelas pria sepuh nan gagah itu
"Oh, maafkan kami yang mulia, atas kelancangan kami," balas Arya, lalu memberi salam tanda menghormati Raja Agung dan Ratunya, diikuti oleh Wulandari.
"Salam yang mulia," ucap Arya dan Wulan bersamaan.
__ADS_1
"Terimakasih. Salam kalian berdua kami terima," ucap Raja Agung dan Ratu tersenyum.
"Silahkan kalian duduk," ucap Raja Agung, mempersilahkan Arya dan Wulan duduk.
Setelah berempat duduk. Kemudian Raja Agung menjelaskan, apa dan siapa yang mereka tunggu.
Ribuan tahun, mereka berdua dengan sabar menantikan kedatangan keturunannya. Kesabaran mereka membuahkan hasil, hari ini mereka bertemu. Tidak salah lagi, karena setelah Raja Agung meneliti dengan Mata Dewanya. Terlihat ada tanda khusus pada keduanya. Dan lagi, siapa yang bisa membuka dan masuk kedalam istana ini. Itulah keturunannya.
Dengan senang dan bahagia, Raja Agung dan Ratu pun menyerahkan sepasang cincin penyimpanan pada Arya dan Wulan. Didalam cincin terdapat miliaran keping emas, platinum, ribuan buah dewa dari Alam Dewa sejenis apel dan anggur. Berjuta-juta batu kristal langit tingkat tinggi, bermacam-macam kitab kuno, senjata tingkat dewa, rumput kristal dan spiritual, dan berbagai macam sumber daya lainnya.
"Silahkan dipakai cincinnya. Itu untuk kalian berdua,"ucapnya.
"Terimakasih yang mulia," balas keduanya.
"Masing-masing dari kalian, sebelum keluar dari istana ini, dipersilahkan kalian berdua berendam di air kehidupan itu," ucap Raja Agung, menunjuk sebuah kolam yang ada di pojok ruangan tersebut.
"Baik yang mulia."
"Setelah berendam, kalian berkultivasi di batu Hitam itu, dan memakan buah-buahan dewa. Tenang saja, waktu disini dipercepat. Satu tahun didalam istana ini, satu hari Di dunia luar," jelas Raja Agung.
Arya dan Wulan, melangkah menuju ke kolam air kehidupan. Keduanya lalu berendam dengan posisi duduk bersila. Airnya hanya sebatas leher.
Begitu keduanya masuk kedalam air, tubuh mereka merasakan ada sesuatu yang menjalar, mengalir ke seluruh relung-relung didalam tubuhnya. Terasa hangat dan nyaman, sehingga membuat mereka tenang.
Tidak terasa, enam bulan sudah berendam didalam air kehidupan. Badannya terasa ringan dan kuat. Sehingga keduanya dapat bergerak dengan cepat sekali.
Setelah beranjak dari kolam air kehidupan, mereka memakan dua buah apel dewa, yang sudah berevolusi. Kemudian diteruskan dengan berkultivasi, di atas batu Hitam.
Satu bulan berjalan, terdengar sepuluh kali suara terendam didalam tubuhnya.
Bom.... Bom.... Bom.... Bom.... Bom.... Bom.... Bom.... Bom....
Bom.... Bom....
Keduanya menerobos sepuluh tingkat dalam waktu satu bulan. Benar-benar monster. Jika semua orang tau, pasti mereka akan muntah darah melihatnya.
Ranah Arya, yang awalnya Maha Dewa tahap awal, kini naik sepuluh tingkat menjadi Maha Dewa Surga tahap menengah. Sedangkan Wulan, yang awalnya Pendekar Dewa Langit tahap puncak, kini naik juga sepuluh tingkat menjadi Maha Dewa Langit tahap awal.
Keduanya benar-benar monster, sudah tidak ada tandingannya di Alam Dewa Agung Lapisan Bawah ini.
Keduanya berlanjut menstabilkan pondasi kultivasinya. Terus menerus berkultivasi tiada henti.
Satu tahun setengah di dalam istana Raja Agung. Enam bulan berendam didalam air kehidupan, dan satu tahun berkultivasi. Kini kekuatannya semakin bertambah. Arya naik tujuh tingkat lagi, menjadi Maha Penguasa tahap puncak. Wulandari juga sama naik ranah lagi, sama-sama naik tujuh tingkat, dan kini ranah Wulan menjadi Penguasa tahap menengah.
"Selamat, ranah kalian berdua naik ke tingkat Penguasa dan Maha Penguasa," ucap Raja Agung Darma Kusumah dan Ratu Kencana Ungu, memberikan ucapan selamat atas keberhasilan Arya dan Wulan naik tingkat.
"Khusus untuk nak Arya, kamu bisa membuka dunia jiwa, dan membangunnya. Dunia jiwa seperti didunia luar, namun ruang dan waktunya kita yang mengaturnya. Kekuatan energi juga tergantung kekuatan energi sipemiliknya. Karena dunia jiwa itu, ada didalam si pemilik tubuh Kaisar Langit," ujar Raja Agung menjelaskan.
Lalu Raja Agung mengajarkan cara-cara membuka dunia jiwa, membangunnya, keluar dan masuk kedalam dunia jiwa.
Setelah paham dan mempraktekannya, Arya pun kini memiliki dunia jiwa. Tempat berkultivasi, menyembunyikan dan membawa orang-orangnya, agar tidak ketahuan oleh orang lain.
Sebelum Arya dan Wulan meninggalkan Istana, Arya memindahkan semua isi Kerajaan Agung, kedalam dunia jiwanya, termasuk Istana Raja Agung, Raja Agung dan Ratu Kencana Ungu, Kolam Air Kehidupan, pohon buah-buahan dewa, tanaman herbal, serta seluruh yang ada di Kerajaan Agung, kini berpindah ke dunia jiwa milik Arya.
Sebelum Arya dan Wulan melanjutkan perjalanannya, keduanya mengganti pakaiannya, yang diambil dari cincin penyimpanannya, dengan pakaian kultivator petualang, dan kembali menekan ranah kekuatannya, hingga ke titik dasar.
Beberapa waktu berjalan, keduanya sudah berada didalam goa lagi. Arya dan Wulan, meninggalkan teman-temannya baru satu hari setengah. Karena ketika didalam Istana Raja Agung, waktunya dipercepat, satu tahun didalam istana, satu hari didunia luar. Jadi satu tahun setengah didalam Istana, satu setengah hari didunia luar.
Kini mereka berkumpul lagi bersama teman dan pelayanannya, untuk melanjutkan perjalanannya lagi. Kultivasi keduanya ditekan ke titik dasar, sehingga terlihat keduanya tidak memiliki kekuatan sama sekali, dan dia juga menekankan kepada teman-teman dan bawahannya, untuk menekan kultivasinya seperti yang telah dilakukan oleh Arya dan Wulandari.
Bersambung....
__ADS_1