Kultivator Tingkat Dewa

Kultivator Tingkat Dewa
48. Bertemu Ratu Pantai Selatan


__ADS_3

Malam harinya, di Kota Hujan Bogor, suasananya begitu mencekam. Hujan deras disertai angin kencang dan petir, serta gledek terus menerus terdengar sangat keras sekali, hingga menggetarkan kota Bogor.


Seluruh warga Bogor tidak ada yang berani keluar, ketakutan disambar oleh petir. Ada yang menyembunyikan dirinya dibalik selimut, sambil meringkuk ditempat tidur, ada yang berdo'a meminta perlindungan.


Namun cuaca yang ekstrim itu, bagi sepuluh bawahan Arya, tidak ada pengaruhnya sama sekali. Malah mereka melesat terbang dibalik awan hitam, karena di atas awan cuacanya begitu cerah. Hujan deras disertai angin dan petir itu, adanya dibawah awan hitam.


Kesepuluh bawahan Arya, yang mendapat tugas membawa Cokro Soediro beserta keluarganya, kesuatu tempat yang dirahasiakan, dan membawa semua antek-anteknya, melesat terbang dengan kecepatan tinggi kearah yang telah ditunjukkan lewat peta.


Kesepuluhnya memiliki daya rekam jejak yang sangat tinggi, begitu alamat dan namanya ditunjukkan kepada kesepuluh bawahan Arya, langsung meresponnya dengan sangat cepat sekali.


Seperti malam ini, kesepuluh bawahan Arya terbang ke beberapa tempat, mengikuti arahan yang telah ditunjukkan didalam peta. Mereka dengan cepat mengarah ke masing-masing tempat, menangkap semua mafia bawahannya Cokro Soediro, yang telah menugaskan mereka untuk menjegal semua proyek-proyek yang dikerjakan oleh PT. Prabu Agung.


Sedangkan Cokro Soediro beserta keluarganya, terlebih dahulu diamankan kesuatu tempat yang sangat dirahasiakan.


Kesepuluh bawahan Panji, selain memiliki kekuatan yang sangat dahsyat, juga memiliki daya rekam jejak yang sangat kuat, sehingga mampu mendeteksi targetnya dari jarak jauh, dan mampu bergerak tanpa diketahui dan disadari oleh pihak lawan.


Keberhasilan dalam tugasnya, tak lepas dari dukungan Arya, yang telah banyak memberikan support dan berbagai sumberdaya energi tingkat tinggi, untuk lebih meningkatkan kekuatannya.


Sehingga mereka mampu bergerak cepat, tanpa diketahui oleh pihak lawan, dan mampu mencari jejak walaupun dari jarak jauh.


Disuatu tempat yang dirahasiakan, Cokro Soediro dirantai disatukan dengan keluarganya, sekujur tubuhnya dililit oleh rantai baja hingga tidak bisa bergerak. Begitu pula dengan para antek-anteknya, mereka disatukan dalam satu ikatan rantai baja.


Mereka yang semula berangasan, galak dan kejam. Sering menindas yang lemah, kini sudah tak mampu lagi untuk bergerak. Mereka semua sama sekali sudah tidak berdaya lagi dihadapan Arya, bertekuk lutut memohon ampunan.


"Maafkan kami Tuan, ampunilah kami," ucap mereka.


"Apakah kalian suka mengampuni orang-orang yang lemah, yang memohon ampunan pada kalian. Ini adalah karma yang harus kalian terima," balas Arya, menatap mereka satu persatu.


"Aku berusaha membangun didaerah-daerah itu, untuk membantu masyarakat di daerah, yang tidak memiliki pekerjaan, bukan untuk kepentingan pribadi. Karena bagi mereka yang tidak memiliki pekerjaan, bisa berjualan dengan harga sewa yang murah, dan mereka juga bisa bekerja di proyek itu, sesuai dengan keahliannya masing-masing. Bukan malah dijegal, dan menggantikannya dengan para pekerja asing. Mana hati nurani kalian?" Tutur Arya, diakhiri dengan sebuah pertanyaan.


Mereka semua terdiam seribu bahasa, satu orang pun tidak ada yang berani berbicara.


"Sekarang kalian harus mempertanggungjawabkan semuanya, karena yang dirugikan adalah warga setempat yang kehilangan pekerjaan. Bukan kalian, yang selalu menindas rakyat yang lemah," tambah Arya.


"Perdi, bereskan mereka semua, agar tidak menjadi masalah dimasa depan!" Perintah Arya, kepada ajudan pribadinya.


"Baik, Tuan Muda," balasnya, langsung memberikan perintah kepada sepuluh bawahan Arya, untuk membereskan mereka semua.


Tinggal Perdi dan Somahardja, ajudan dan supir pribadinya Arya, yang menemani Arya ditempat itu.


Menurut penyelidikan kesepuluh bawahannya, masih ada empat kelompok lagi yang bersaing dengan perusahaan milik Arya, yang belum disentuhnya, karena mereka juga tidak mengganggunya. Namun jika mereka berani mengusik Arya, sudah barang tentu Arya tak tinggal diam.


Satu dari keempat kelompok itu, merupakan kelompok besar, karena mereka memiliki dukungan kekuatan dari jago-jago ilmu beladiri dari seluruh tanah air, dengan berbagai ilmu Hitam yang dapat menyerangnya dari jarak jauh, menggunakan media iblis untuk menghancurkan lawan-lawannya.


Namun bagi Arya, yang tidak pernah memberikan ampunan jika berhadapan dengan para iblis, hanya tersenyum mendengar ada satu kelompok lagi, yang merupakan kelompok terkuat, karena bersekutu dengan iblis.


"Biarkan saja, selama mereka tidak berurusan dengan kita, kecuali kalau mereka membuat ulah, dan merugikan banyak orang, apalagi menindas orang-orang yang lemah, baru diberi pelajaran yang berharga," ucap Arya pada bawahannya.

__ADS_1


"Hanya aku ingin tau saja, kelompok iblis mana yang bersekutu dengan mereka itu?" Tanya Arya.


"Kalau begitu, biar aku saja yang menyelidiki kebenarannya," jawab Somahardja, salah seorang bawahan Arya.


"Boleh, tapi jangan bertindak gegabah. Biarkan mereka duluan yang bikin ulah," ucap Arya lagi.


"Baik, Tuan Muda," balasnya singkat.


Kemudian Arya meninggalkan tempat rahasia itu, dengan diikuti oleh bawahannya. Mereka langsung melesat terbang menembus awan dengan kecepatan tinggi, mengitari seluruh kawasan Gunung Gede dan Gunung Salak. Tampak banyak pasukan asing dikedua gunung itu, namun oleh manusia di alam ini tidak terlihat. Hanya oleh Arya dan orang-orangnya, yang dapat melihat keberadaan mereka.


Mereka keluar masuk sebuah Goa dikedua gunung itu, sepertinya ada hubungannya antara Gunung Gede dengan Gunung Salak.


"Kita dekati mereka, apakah mereka itu pasukan iblis atau bukan?" Ajak Arya, kepada kedua bawahannya.


"Baik, Tuan Muda," jawabnya hampir bersamaan.


Mereka melayang turun menghampiri sekelompok pasukan asing itu, begitu sudah mendekati mereka. Ketiganya langsung menghadang didepan sekelompok asing.


"Berhenti kalian! Apakah kalian dari kelompok iblis atau bukan?" Cegah Arya sambil bertanya.


Kelompok itu terkejut melihat ada tiga manusia yang dapat melihat keberadaannya, bahkan ketiganya berani menghadang mereka.


"Sebenarnya kalian itu siapa? Dan darimana? Kenapa kalian bisa mengetahui keberadaan kami?" Tanya pria tua, yang merupakan pemimpin kelompok itu.


"Ditanya malah balik nanya," jawab Arya. "Baiklah, kalau kalian ingin mengetahui siapa aku, dan darimana asalku. Nih rasakan oleh kalian," jawab Arya, sambil mengeluarkan rantai baja yang dialiri oleh kekuatan mistis tingkat Dewa. Rantai baja itu langsung membelit sekujur tubuh mereka.


Tentu saja mereka semua terkejut, karena yang memiliki rantai baja dengan kekuatan mistis tingkat Dewa itu, adalah seorang Penguasa Agung seluruh alam.


"Aku adalah pewaris tunggal dari Penguasa Agung kelima," jawab Arya.


Karuan saja mereka tambah terkejut, ketika mendengar ucapan dari Arya, dan dengan spontan mereka menjatuhkan dirinya berlutut dihadapan Arya.


"Ampuni kami Penguasa Agung, kami tidak tau bahwa Penguasa Agung berada di alam ini juga," balas mereka sambil berlutut dihadapan Arya.


"Siapa sebenarnya kalian ini?" Tanya Arya penasaran.


"Kami adalah bawahan dari Penguasa Agung kelima, sebelum Penguasa Agung ditarik ke Alam Dewa tingkat tinggi," jawab pria tua itu. Lalu dia menceritakan, awal keberadaan mereka di alam ini.


Ribuan tahun yang lalu, mereka terlempar ke Alam Bumi ini, ketika mengawal Penguasa Agung kelima, memasuki sebuah portal penghubung antara Alam Dewa dengan Alam Dewa Nirwana. Didalam portal itu, mereka diterjang badai ruang dan waktu yang sangat dahsyat, hingga melemparkannya ke alam ini.


Namun anehnya, di alam ini justru mereka tidak dapat dilihat oleh manusia bumi, hanya orang-orang tertentu yang dapat melihatnya, yaitu orang-orang yang memiliki ilmu batin tingkat tinggi.


Bahkan, sudah banyak manusia yang bersekutu dengannya, lewat perantara orang-orang yang memiliki ilmu batin, untuk meminta bantuan kekuatannya, dengan memberikan kerbau bule sebagai imbalannya.


"Nah, begitu ceritanya, Penguasa Agung. Kami mohon pengampunannya, agar kami bisa hidup layak seperti mereka," ucapnya, sambil memohon kepada penguasa agung, untuk dapat hidup layak seperti yang lainnya.


"Oh, jadi seperti itu ceritanya," balas Arya termangut-mangut. "Baiklah, sekarang kumpulkan orang-orang kalian semuanya, nanti aku akan membuat kalian sama seperti diriku," tambah Arya.

__ADS_1


"Baik, Penguasa Agung," balas mereka bersamaan.


Merekapun berpencar memanggil teman-temannya, untuk segera berkumpul dihadapan Penguasa Agung.


Beberapa waktu berjalan, mereka semuanya berdatangan kehadapan Arya, memberi salam dan berlutut.


"Berdirilah kalian," ucap Arya. "Apakah semuanya sudah berkumpul?" Tambahnya, sambil bertanya.


"Sudah, Penguasa Agung," balas pria tua itu.


"Jumlah seluruhnya ada berapa orang?" Tanya Arya lagi.


"Ada seratus orang, Penguasa Agung," jawab pria.


"Perdi, sekarang ajak mereka kedalam dunia jiwa," perintah Arya, kepada bawahannya, sambil membuka gerbang dunia jiwanya.


"Baik, Tuan Muda," balas Perdi. "Ayo ikuti aku," tambahnya, mengajak mereka memasuki dunia jiwa.


Whuuss.... Whuuss.... Whuuss....


Mereka berloncatan masuk kedalam dunia jiwa.


"Ayo Soma, kita lanjutkan perjalanannya," ucap Arya, langsung melesat terbang diikuti oleh Somahardja dari belakang.


Keduanya melayang terbang, dengan kecepatan sedang kearah pantai selatan.


"Kita istirahat dulu sejenak, di atas batu karang itu," ucap Arya, menunjuk kearah batu karang.


"Baik, Tuan Muda."


Keduanya turun menuju kesebuah batu karang yang besar, di pantai selatan Pelabuhan Ratu.


Arya mengedarkan pandangan mata malaikatnya ke dasar laut, tampak ada beberapa kerajaan termasuk kerajaan besar. Lalu dia mengirimkan sinyal kekuatan Penguasa Agung seluruh alam, kepada para penghuni dasar laut.


Tentu saja Ratu Laut selatan terkejut, melihat ada siluet cahaya dari Penguasa Agung Seluruh Alam Semesta berada di atas batu karang, dengan spontan dia langsung melesat naik ke atas kepermukaan Laut dengan diikuti oleh dua asistennya.


Arya tersenyum melihat kedatangan tiga wanita cantik menghampiri kearahnya, yang paling depan seorang wanita cantik memakai mahkota dan selendang kuning, diikuti oleh dua wanita cantik lainnya, yang merupakan asisten Ratu Pantai Selatan.


"Salam, Penguasa Agung. Selamat datang di wilayah kerajaan kami," sambut Ratu Pantai Selatan.


"Salam dari Ratu aku terima, dan aku ucapkan salam terimakasih atas sambutan dari Ratu Pantai Selatan," balas Arya, dengan senyuman ramah.


"Apakah Penguasa Agung bersedia mampir ke istana kami?" Ajak Ratu Pantai Selatan menawari Arya.


"Terimakasih, Penguasa Ratu Pantai Selatan," balas Arya.


"Kalau begitu, ayo ikuti kami," ucap Ratu Pantai Selatan, kepada Arya dan bawahannya.

__ADS_1


Ratu Pantai Selatan dengan kedua asistennya, kembali masuk kedalam laut, diikuti oleh Arya dan Somahardja. Mereka berlima melayang didalam air, seperti tengah melayang terbang di atas langit.


Bersambung.....


__ADS_2