
Dua kereta kuda dengan pengawalan dua puluh orang, melaju dengan kecepatan sedang dipinggiran hutan, menuju kesebuah Ibukota Benua Dewa Bintang Timur Alam Dewa Agung Lapisan kedua.
Di atas kereta kuda paling depan, Arya duduk disamping kusir, mengawasi keadaan disekelilingnya, sambil terus mengedarkan pandangan mata malaikatnya, kearah depan yang akan dilalui.
Dia melihat, ada sebuah kelompok begal, yang tengah menunggunya didepan.
"Pak Tua, tetap di atas kereta kuda. Aku akan membereskan para begal didepan, yang tengah menunggu kita lewat," ucap Arya kepada kusir, sambil melesat terbang kearah depan.
"Baik, anak muda," balas Pria Tua, kusir kereta kuda.
Tentu saja kepergian Arya yang tiba-tiba itu, membuat tanda tanya Tuan Saudagar kaya, yang duduk didalam kereta kuda.
"Mang Karta, ada apa dengan anak muda itu?" Tanya Tuan Saudagar kaya, kepada kusir kereta kuda.
"Dia akan membereskan para begal didepan sana, yang tengah menunggu kita lewat," jawab Mang Karta.
"Sungguh hebat anak muda itu, dia sudah mengetahui keberadaan begal yang sedang menunggu kita lewat. Ayo, lekas kita kesana," ucap Tuan Saudagar kaya.
"Baik, Tuan," balas kusir kereta kuda, yang langsung memacu kudanya berlari kencang.
Arya tiba dihadapan para begal, yang tengah bersiap-siap untuk menghadang mangsanya.
"Jangan harap kalian bisa menghadang rombonganku," hardik Arya, tiba-tiba muncul di atas pohon dekat mereka.
Tentu saja mereka terkejut, karena secara tiba-tiba, ada suara menghardik mereka dari atas sebuah pohon besar.
"Siapa kamu? Ayo turun pengecut! Hadapi kami, kalau benar kamu bukan seorang pecundang!" Seru pemimpin begal itu, menatap ke atas pohon besar.
"Hahaha.... Yang pecundang itu kalian, yang beraninya keroyokan," ejek Arya, memprovokasi mereka.
"Bajingan pengecut! Ayo hadapi aku, kalau mau mu begitu. Satu lawan satu!" Ucap marah pemimpin begal, menantang Arya.
Duarr.... Duarr....
Tiba-tiba terdengar beberapa kali suara ledakan, yang melemparkan mereka ratusan meter, hingga menabrak pepohonan yang berada dipinggiran hutan.
Arya melesat kearah mereka, sambil melemparkan rantai baja mistis, untuk mengumpulkannya di satu tempat. Rantai baja mistis itu, dengan sendirinya melilit sekujur tubuh mereka, lalu Arya menariknya kepinggir jalan.
Sementara rombongan Saudagar kaya, yang bergerak kearah Arya, mendengar beberapa kali suara ledakan dari arah depan.
"Cepatlah.... Pacu kudanya lebih kencang lagi," ucap saudagar kaya itu, memerintahkan kepada kusir kereta kuda.
Kedua kuda besar yang menarik kereta kuda, dicambuk oleh sang kusir, agar larinya lebih kencang lagi.
Kuda besar itu meringkik, lalu melesat lari dengan cepat membawa kereta, sehingga tidak membutuhkan waktu lama, rombongan Saudagar kaya, tiba ditempat para begal yang sudah ditaklukkan.
"Ampuni kami, Tuan Muda! Ampuni kami...!" Ucap mereka bersamaan, memohon pengampunan dari Arya.
__ADS_1
"Apa yang akan kalian lakukan, setelah aku mengampuni kalian?" Tanya Arya, kepada kelompok begal.
"Kami menyerah takluk, Tuan Muda. Kami semua bersedia menjadi budak Tuan Muda," jawab mereka berlutut dihadapan Arya.
"Aku tidak menyukai perbudakan," ucap Arya.
"Kami mohon, Tuan Muda. Ampuni kami. Kami bersedia menjadi pengikut Tuan Muda," balas mereka.
"Berdirilah...! Permohonan ampunan kalian, aku terima. Tapi dengan satu syarat, kalian harus patuh dan taat, kepada aturan yang aku buat," ucap Arya tegas, sambil menarik kembali rantai baja mistis yang melilit mereka.
"Baik, Tuan Muda. Terimakasih Tuan Muda telah mengampuni kami," sahut mereka hampir bersamaan.
Saudagar kaya yang melihat para anggota begal memohon ampunan kepada Arya, hanya bisa menggelengkan kepalanya. Sebenarnya dia tidak setuju, para begal itu diampuni oleh Arya. Seharusnya dilumpuhkan dulu kekuatannya, baru diusir suruh pergi.
Namun Saudagar kaya sendiri, mengakui kehebatan Arya. Bukan hanya kuat saja, tapi hatinya juga sangat mulia. Dia selalu mengampuni orang lain, serta selalu menolong orang-orang. Walaupun orang itu menghina dan menyakitinya, jika mereka ada kesulitan, pasti Arya akan segera menolongnya.
Itulah sebabnya, dia selalu disegani oleh semua bawahannya. Apalagi dimata Arya, semua orang sama, dia tidak pernah membeda-bedakannya. Baik kaya, kuat, lemah ataupun miskin, semuanya dianggap sama oleh Arya.
Hari ini, dia menerima empat puluh anggota begal, resmi menjadi pengikutnya. Dan pemimpin begal yang bernama Sudira, dijadikan komandan grup oleh Arya, untuk mengurus kota didalam dunia jiwanya.
Usai menyelesaikan urusannya, dia kembali melanjutkan perjalanannya, duduk kembali disamping kusir kereta kuda, yang mulai bergerak maju kearah ibukota Dewa Bintang Timur.
Beberapa waktu berjalan, Arya bersama rombongan kereta kuda, tiba di gerbang masuk ke ibukota. Setelah selesai diperiksa oleh para penjaga, rombongan saudagar kaya kembali meneruskan perjalanannya, menuju ketengah kota, mencari sebuah penginapan mewah.
Arya turun dari kereta kuda, berpisah dengan rombongan saudagar kaya.
"Lho, kok turun disini. Kenapa tidak ikut ke penginapan saja, kita bisa saling menukar informasi," balas saudagar kaya.
"Lain kali saja, jika kita bertemu lagi," ucap Arya, menatap saudagar kaya dengan senyuman ramah.
"Baiklah, kalau begitu. Semoga kita nanti bertemu lagi," balas saudagar kaya, berlalu meninggalkan Arya, di jalanan ibukota yang cukup ramai.
Arya pun melangkahkan kakinya, menyusuri jalanan ibukota Dewa Bintang Timur, menuju kearah Alun-alun kota, yang tampak ramai dengan para pengunjung, dan para pedagang yang menggelar dagangannya.
Ada juga kelompok yang menjual sumberdaya energi tingkat menengah, sambil atraksi memperagakan kekuatannya, berusaha menarik para pengunjung alun-alun untuk berkumpul ditempatnya.
Arya melihatnya sebentar, lalu pergi lagi melihat-lihat para pedagang lainnya. Tepat disudut alun-alun, ketika dia ingin duduk disebuah bangku, melihat ada sepuluh berandalan kota, sedang mengancam seorang gadis cantik, yang ranah kekuatannya dibawah berandalan, hingga dia sama sekali tidak berdaya ketika dilecehkan oleh mereka.
Arya yang melihat hal itu, langsung bertindak menolong anak gadis cantik, dari penindasan para berandalan kota.
"Kalian semua benar-benar pecundang yang tidak tau malu, beraninya terhadap wanita yang lemah. Hadapi aku kalau kalian benar-benar punya nyali," hardik Arya, menantang berandalan kota.
"Bangsat kau, beraninya menantang kami. Ayo serang dia!" Seru seorang pria, yang merupakan pemimpin berandalan, memberi perintah kepada anggotanya.
Mereka serempak menyerang Arya, dengan berbagai senjata ditangannya. Arya sedikitpun tidak bergeser dari tempatnya, dia malah menadah serangan mereka dengan kekuatan sepuluh persen, hingga kekuatan para berandalan beradu dengan kekuatan Arya.
Duarr.... Duarr.... Duarr....
__ADS_1
Beberapa ledakan terdengar menggema diseputaran alun-alun, membuat semua orang yang berada ditempat itu terkejut.
Apalagi ketika mereka melihat para anak bangsawan, yang dipimpin oleh anak Penguasa ibukota, yang menjadi berandalan kota, terlempar beberapa puluh meter, hingga menabrak beberapa pohon yang ada ditempat itu.
Belum lagi mereka bangun, langsung Arya menghancurkan basis kultivasi mereka, dengan gerakan cepat tanpa bisa dilihat oleh mata manusia biasa.
"Silahkan kalian semua pergi dari tempat ini, dan laporkan kepada para pelindung kalian. Sampaikan salam dariku, jangan sekali-kali melindungi orang-orang yang jahat," ucap Arya, mengusir mereka.
Para berandalan itu pergi, dengan berjalan tertatih-tatih, meninggalkan tempat itu.
Arya segera menolong gadis cantik, dengan memberikan sebuah kain sutera, untuk menutupi sebagian tubuhnya, yang pakaiannya sudah dirobek oleh para berandalan kota.
"Terimakasih, Tuan Muda. Telah menolongku," ucap gadis cantik itu, menatap Arya, dengan linangan air mata. "Kalau sekiranya Tuan Muda, tidak segera menolongku, tentunya aku akan kehilangan kesucian ku," tambah gadis cantik.
"Siapa namamu?" Tanya Arya.
"Nawangsari, Tuan Muda. Panggil saja aku dengan sebutan Nawang," jawab gadis cantik, bernama Nawangsari.
"Namamu bagus sekali," ucap Arya. "Namaku Arya, panggil saja aku dengan Kak Arya. Jangan memanggil Tuan Muda," tambahnya tersenyum renyah.
"Baik Tuan.... Eh Kak Arya," balasnya, agak sedikit canggung.
"Nah begitu, kan enak di dengarnya. Jangan sungkan-sungkan," ucap Arya.
"Terimakasih, Kak Arya," balas Nawang tersenyum malu-malu, tapi hatinya mekar bahagia, bisa berkenalan dengan seseorang pria gagah dan hebat, serta baik hati seperti Arya.
"Kalau boleh tau, tinggalnya dimana?" Tanya Arya lagi.
"Aku tidak punya tempat tinggal," jawab Nawang sedih, lalu dia menceritakan kisah hidupnya, setelah ditinggal pergi oleh kedua orangtua angkatnya, untuk selama-lamanya.
Ketika itu, keluarga Nawangsari kedatangan adik tiri ayah angkatnya, paman tiri Nawangsari, yang berkunjung kerumahnya. Paman tirinya membawa sebuah guci minuman anggur, kesenangan kedua orangtua angkatnya. Lalu kedua orangtua angkatnya meminum anggur pemberian Paman tirinya, namun beberapa waktu setelah minum anggur, kedua orangtua angkatnya tidak sadarkan diri, hingga pergi untuk selamanya.
Adik tiri ayah angkat Nawangsari, begitu tega meracuni kedua orangtua angkatnya, hanya ingin menguasai seluruh harta kekayaan kedua orangtua angkat Nawang, sebagai bangsawan nomor satu di ibukota Dewa Bintang Kejora, dan dia sendiri dijual oleh adik tiri ayah angkatnya, kepada Penguasa Ibukota Dewa Bintang Kejora.
Namun keberuntungan berpihak kepada dirinya, ketika Penguasa Ibukota Dewa Bintang Kejora bersama paman tirinya tengah mabuk, dia berhasil kabur lewat jalan rahasia yang berada dibelakang rumahnya, berjalan menyusuri lorong rahasia menuju kesebuah hutan dibelakang rumahnya, setelah berada didalam hutan, dia terbang sekencang-kencangnya, hingga terdampar di Alun-alun Ibukota Dewa Bintang Timur.
"Begitulah ceritanya, Kak Arya," ucap Nawangsari, menutup kisah perjalanan hidupnya.
"Benar-benar biadab," balas Arya lirih.
Mata Nawang berkaca-kaca, hingga meneteskan air mata kesediaannya.
"Ya, sudah. Nanti kita balas kejahatan yang dilakukan oleh paman tirimu itu. Sekarang, lebih baik kita segera pergi dari tempat ini," ajak Arya, menenangkan Nawangsari.
Keduanya berlalu meninggalkan tempat itu, hendak pergi kesebuah toko pakaian, untuk membeli beberapa pakaian baru, terutama membeli pakaian buat Nawang, yang tidak membawa bekal sama sekali, karena didalam cincin penyimpanannya, hanya ada sedikit sumberdaya tingkat menengah, dan beberapa keping koin emas.
Bersambung.....
__ADS_1