
Rombongan Arya tiba di Istana, kedatangannya disambut oleh Nawangsari beserta bawahannya. Mereka langsung masuk kedalam aula Istana, Nawangsari memerintahkan para pelayan istana, untuk menyajikan hidangan makanan dan minuman khas Alam Dewa Agung.
Wulan terus memperhatikan wajah Nawangsari, ada kesamaan dengan saudara sepupunya yang hilang.
"Maaf, Adik Nawang. Ada sedikit pertanyaan yang mengganjal didalam hati. Apakah adik Nawang ini anaknya Paman Sutamanggala, adiknya Ratnawati?" Tanya Wulan, sambil menatap Nawangsari.
Tentu saja Nawangsari terkejut, mendapat pertanyaan seperti itu.
"Kakak ini siapa? Kok tau aku anaknya Ayah Sutamanggala!" Seru Nawangsari, penuh keheranan.
Wulan menatap Arya, dia surti apa yang diinginkan istrinya. Lalu Arya mengeluarkan Ratnawati dari dalam dunia jiwanya, yang sengaja disembunyikan dulu atas permintaan Wulan, untuk membuat kejutan kepada Nawangsari, kalau benar dia adiknya Ratnawati.
Whuuss.....
Ratnawati muncul dihadapan Arya dan Wulan, lalu dia menatap tajam kearah Nawangsari.
"Kak Ratna....!" Seru Nawangsari, menghampiri Ratnawati dan langsung memeluknya, sambil nangis terharu bisa bertemu dengan kakak kandungnya lagi, setelah tujuh tahun dia diculik oleh prajurit iblis.
"Adik Nawang, kakak dan seluruh keluarga berusaha mencari mu. Namun aku kehilangan jejak, dan untungnya ada Kak Arya, yang telah mempersatukan kita kembali," ucap haru Ratnawati, memeluk adiknya.
"Aku dibawa ke alam ini oleh prajurit iblis, dan aku sama juga di tolong oleh Kak Arya," balas Nawangsari. "Aku dididik dan dilatih didunia jiwanya, sehingga aku sekarang bisa seperti ini," imbuhnya.
Nawangsari memang berasal dari Alam Bawah, berada di Alam Dewa Agung karena dia diculik oleh prajurit iblis, yang membawanya ke alam ini, dan diserahkan kepada salah seorang bangsawan yang tidak memiliki anak, dan kebetulan bangsawan itu sangat baik sekali, hingga mengangkat Nawangsari menjadi putrinya.
Namun musibah datang kepada kedua orangtua angkatnya, kedua orangtua angkatnya diracun oleh adik tirinya, yang ingin menguasai seluruh hartanya. Dan dirinya di jual ke Penguasa Benua Dewa Bintang Kejora, untuk dijadikan budak pemuas nafsu bejadnya.
Untungnya dia bisa melarikan diri ke Benua Dewa Bintang Timur, ketika adik tiri ayah angkatnya, mabuk berat bersama Penguasa Benua Dewa Bintang Kejora, kesempatan itu dimanfaatkan oleh Nawangsari, untuk melarikan diri lewat jalan rahasia, yang muncul disebuah hutan, dan langsung terbang menuju kearah Benua Dewa Bintang Timur.
Setibanya di Ibukota Benua Dewa Bintang Timur, dia hendak di perdaya oleh sekelompok berandalan kota, di alun-alun ibukota. Dan untungnya, dia keburu di tolong oleh Arya, dan mendidiknya hingga membuat dirinya menjadi penguasa Alam Dewa Agung.
"Aku sangat berterimakasih kepada Kak Arya yang telah menolong dan membuatku seperti ini," ucap Nawangsari, yang masih dipeluk oleh kakaknya.
Wulan lalu menghampiri keduanya, dan membelai rambut adik sepupunya.
__ADS_1
"Jika adik Nawang menyukai suami Kakak, kakak rela dimadu. Karena sudah sewajarnya, Penguasa memiliki selir," ucap Wulan, dan memang, pada jaman kerajaan, para raja dan Penguasa banyak memiliki selir.
Hanya Arya masih bertahan, sebelum dia mendapat izin dari istrinya.
Dan sekarang, Arya sudah mendapatkan izin dari istrinya, namun sayangnya, Nawangsari belum bisa memutuskan, karena tanggungjawabnya sebagai Penguasa Alam Dewa Agung, yang tidak bisa ditinggalkan.
"Aku tidak bisa memberikan keputusan sekarang, karena aku harus memikirkan lebih jauh lagi. Apalagi sekarang, aku sudah menjadi pemimpin di alam ini, yang memerlukan tanggungjawab yang besar dan berat," balas Nawangsari, yang sebenarnya dia juga menyukai Arya, namun karena tanggungjawabnya sebagai Penguasa Dewa Agung semakin besar, dia tidak bisa memutuskan secepatnya.
"Kakak sangat mengerti dengan keputusanmu, tapi jangan lama-lama berfikirnnya. Nanti keburu diambil yang lain," seloroh Wulan tersenyum.
"Ah, Kak Wulan. Pandai bercanda," balas Nawangsari.
Lalu mereka bertiga akrab mengobrol, sambil tertawa gembira, bisa bertemu kembali dengan Kakak kandung dan kakak sepupunya, setelah tujuh tahun lebih hilang.
Waktu pun tak terasa, sudah menjelang malam lagi. Ketiganya lalu menghampiri hidangan yang telah disajikan, oleh para pelayan istana.
Namun Arya dan yang lainnya, sudah tidak ada di aula Istana. Mereka pada ke air terjun. Ada yang berendam sambil menyerap energi dari dasar air, ada pula yang jalan-jalan sambil menghirup udara yang segar dan sejuk.
Arya duduk disebuah gazebo sendirian, memperhatikan mereka yang sedang berkultivasi di atas batu-batu , dipinggiran air terjun.
Sementara tanggungjawab di Alam Dewa Agung, diserahkan kepada Panglima Argadana dan Jenderal Besar Handaka, untuk menjaga keamanan dan mengurus alam ini.
Argadana dan Handaka, disumpah oleh Arya, agar tidak menyalahgunakan kewenangannya, sebagai wakil dari Nawangsari.
"Kami bersumpah atas nama Langit dan Alam Dewa Agung, bahwa kami akan tetap setia dan patuh kepada Ratu Nawangsari dan Penguasa Agung. Serta kami bersumpah dengan nyawa dan darah kami, bahwa kami tidak akan menyalahgunakan kekuasaan, dan kami akan menjaga Alam Dewa Agung sebaik-baiknya," ucap mereka berdua, dihadapan Nawangsari dan Arya, disaksikan oleh seluruh bawahan Arya.
Duarr.... Jeder.... Jeder.... Riyeg.... Riyeg....
Suara petir dan guntur saling bersahutan, disusul dengan guncangan Alam Dewa Agung, seperti dilanda gempa.
Kejadian itu merupakan suatu tanda, bahwa sumpah keduanya diterima oleh langit dan Alam Dewa Agung. Namun lain bagi para penduduk ibukota, mereka menganggapnya, kejadian barusan merupakan sebuah badai yang melanda Benua Dewa Dewi Bulan.
Lalu Arya memberikan perintah kepada Argadana dan Handaka, agar segera mengumpulkan seratus ribu prajurit pilihan, untuk dididik dan digembleng didalam dunia jiwa, agar ranah kekuatan kultivasi mereka meningkat.
__ADS_1
Dengan cepat, Panglima Argadana dan Jenderal Besar Handaka, bergerak melaksanakan perintah dari Arya, mengumpulkan seratus ribu prajurit pilihan di seluruh benua Alam Dewa Agung Lapisan Kedua. Kurang dari sebulan, seratus ribu prajurit pilihan dari berbagai benua di alam ini, berkumpul di lapangan Ibukota Dewa Dewi Bulan, menunggu perintah dari Arya.
Arya memerintahkan kepada Jenderal Adiwiyata, Jenderal Anggadiredja, Komandan Seno Adji dan Ratu Derwani, untuk melatih dan menggembleng mereka didalam dunia jiwa.
Gegas Arya membuka gerbang dunia jiwanya, untuk memasukkan seratus ribu prajurit pilihan, yang dipimpin oleh Panglima Argadana dan Jenderal Besar Handaka.
Whuuss.... Whuuss.... Whuuss.... Whuuss.... Whuuss....
Mereka berloncatan memasuki gerbang dunia jiwa, setelah seluruh prajurit pilihan masuk bersama Panglima Argadana dan Jenderal Besar Handaka, diikuti oleh bawahan Arya dari belakang, untuk melatih dan menggembleng mereka.
Waktu didalam dunia jiwa dipercepat oleh Arya, seperti biasa, satu tahun didalam dunia jiwa, sama dengan satu hari didunia luar.
Arya menargetkan mereka dalam waktu sepuluh hari didunia luar, atau sepuluh tahun didalam dunia jiwa, agar mereka dapat meningkatkan ranah kekuatan kultivasinya, serta meningkatkan kemampuannya dalam bertempur.
Setelah seluruhnya berada didalam dunia jiwa, Arya menutup gerbang dunia jiwanya kembali. Dan berlalu meninggalkan lapangan itu, ingin berkeliling kota sendirian.
Dia melangkahkan kakinya, menyusuri jalanan diperkotaan, memantau situasi keamanan secara langsung, dengan menyamar sebagai pemuda petualang.
Tak jauh dari dia berjalan, tampak ada sebuah kerumunan. Arya segera menghampiri kerumunan orang-orang, dan menyibakkan beberapa orang didepannya, untuk melihat ada apa sebenarnya?
Dia terkejut melihat ada bayi mungil tergeletak, lantas dia mendekatinya. Terlihat dimata malaikat Arya, bayi mungil itu masih bernyawa. Dia segera memanggil Wulan, Nawangsari dan bawahannya melalui telepati jarak jauh, untuk segera datang ketempat dimana ditemukannya bagi mungil itu.
Tak lama kemudian, Wulan bersama Nawangsari, Ratnawati dan yang lainnya, tiba ditempat bayi mungil itu.
Semua orang yang berkerumun itu minggir, ketika Penguasa Alam Dewa Agung datang.
"Salam Penguasa Dewa Agung," hormat mereka, membungkuk dihadapan Nawangsari.
Nawangsari tersenyum ramah dan menganggukkan kepalanya, tanda salam dari mereka diterima. Nawang bersama Wulan dan Ratnawati, mendekati Arya, dan Wulan meraih bayi mungil itu, lalu Arya membuka gerbang dunia jiwanya, yang kelihatan oleh Wulan dan bawahannya.
Wulan membawa bayi itu kedalam dunia jiwa, diikuti oleh Nawangsari dan Ratnawati. Tentu saja semua orang yang berada ditempat itu terkejut, tiba-tiba Wulan, Nawangsari dan Ratnawati menghilang dari hadapan mereka.
Itulah Arya, hobinya selalu membuat orang terkejut dan penasaran. Dan tanpa banyak basa-basi, dia bergegas meninggalkan tempat itu, diikuti oleh bawahannya, kembali ke Istana Alam Dewa Agung.
__ADS_1
Bersambung......