Kultivator Tingkat Dewa

Kultivator Tingkat Dewa
33. Menahan Pasukan Iblis


__ADS_3

Setelah memantau situasi keamanan di wilayah yang dianggap mencurigakan, Arya singgah disebuah perkampungan pinggiran hutan Wayang. Sebuah perkampungan yang jauh dari keramaian kota. Dipesisir pantai selatan Benua Timur.


Perkampungan itu tidak diberi nama, hanya mengikuti nama hutan, yaitu 'Wayang'. Entah kenapa perkampungan itu disebut kampung Wayang, padahal penduduknya sama sekali tidak mengerti soal membuat kerajinan Wayang.


Cerita dari sesepuh perkampungan, disekitar hutan itu sering terdengar suara wayang, lengkap dengan gamelan, Gong yang ditabuh dan berbagai jenis suara Wayang.


Penduduk disekitarnya, tidak ada yang berani masuk kedalam hutan, karena mereka menganggapnya, hutan tersebut dihuni oleh sejumlah mahluk halus, hanya Arya pernah sekali masuk kedalam hutan, dan dia masuk kedalam Goa Hutan Wayang, ketika Raja Agung dan Ratu Kencana Ungu bersembunyi didalam dunia kecil, yang berada didalam Goa, dari kejaran Pasukan Iblis, sebelum Istana Kerajaan Agung dipindahkan kedalam dunia jiwa.


Hari ini, Arya singgah disebuah kampung yang tak jauh dari hutan Wayang. Dia berjalan menuju kearah gerbang Kampung, diikuti oleh beberapa tatapan mata yang mengawasinya.


Arya mengetahui ada beberapa orang mengawasi dirinya, namun dia tidak ambil peduli, bahkan menunggunya agar mereka muncul.


Dengan langkah kakinya yang santai, dia terus melangkah menuju ke gerbang kampung.


Namun sebelum Arya mendekati gerbang, tiba-tiba dari atas pohon berloncatan sejumlah orang menghadang Arya.


"Berhenti....!" Teriak seorang pria setengah baya, yang merupakan pemimpin kelompok itu.


"Ada apa, Tuan? Menghentikan langkahku?" Tanya Arya, menatap mereka.


"Darimana kamu, dan ada perlu apa kamu ke kampung ini?" Pria itu malah balik bertanya.


"Aku seorang petualang, Tuan. Dan aku tersesat di daerah ini," jawab Arya berbohong.


"Jangan bohong kamu!" Seru pria itu lagi, menatap Arya mulai dari bawah hingga keatas kepalanya.


"Benar, Tuan. Aku tidak berbohong. Aku Arya Sang Petualang," balas Arya, sambil menatap mereka satu persatu.


"Tujuanmu mau kemana?"


"Entahlah, Tuan. Aku sendiri tidak tau tempat ini daerah mana," ucap Arya, pura-pura kebingungan.


"Orang luar dilarang masuk ketempat ini, karena tempat ini akan dijadikan markas pertahanan pasukan Raja Ular Hitam," kata pria itu menjelaskan.


"Ada hubungan apa tuan dengan pasukan iblis itu?" Tanya Arya, menatap tajam kearah pria tua.


"Jangan sembarangan kamu, dia bukan pasukan iblis, tapi Pasukan Raja Ular Hitam," sergah pria tua itu balik menatap Arya.


"Ya sama saja, Tuan," sahut Arya.


"Bajingan kamu, kami ini orang-orang kepercayaannya Jenderal Pasukan Raja Ular Hitam, yang diperintahkan untuk menjaga kampung ini, dan orang lain tidak diperbolehkan masuk kedalam kampung ini, kecuali ada izin dari jenderal pasukan Raja Ular Hitam," balas pria setengah baya itu.


"Oh.... Jadi kalian ini antek-anteknya jenderal iblis," sahut Arya lagi, memprovokasi mereka.


"Dasar bajingan kau, tidak bisa diajak bicara baik-baik," balas pria tua itu marah.


"Yang bajingan itu siapa, aku atau kalian?" Arya sengaja memperolok mereka.


"Kawan-kawan, ayo kita cincang dia.... Hiaattt.... Teriaknya, memerintahkan kelompoknya untuk menyerang Arya.


Arya sengaja ingin mempermainkan mereka, tidak melayaninya dengan serius. Dia pura-pura kewalahan, bahkan dirinya beberapa kali kena pukulan dan tendangan.

__ADS_1


"Serang terus, jangan diberi ampun," teriak pria pemimpin kelompok itu.


Arya beberapa kali berkelit menghindari tendangan dan pukulan mereka, dia masih ingin bermain-main, berlarian menghindari serangan dan terjangan mereka.


"Jangan hanya bisa menghindar, berlari kesana-kemari, hadapi kami kalau kamu benar-benar seorang petualang," ucap kesal pria pemimpin kelompok antek-antek pasukan iblis.


"Baiklah, kalau itu yang kamu inginkan," balas Arya, sambil mengeluarkan jurus Cakar Rajawali Sakti.


Duarr.... Duarr....


Pukulan Cakar Rajawali Sakti, melemparkan semua antek-anteknya pasukan iblis.


Arya menghampiri mereka, lalu sebuah gerakan cepat yang tidak dapat dilihat oleh mata, mendarat dibawah perut, menghancurkan basis kultivasi mereka.


"Ahhh......!" Teriak mereka, merasa kesakitan dibawah bagian perutnya.


"Bagaimana sekarang, rasanya menjadi sampah yang tak berguna?" Tanya Arya, berlalu meninggalkan mereka.


Dia terus melesat masuk ke perkampungan Wayang, yang terlihat sangat sepi, hanya ada beberapa orang yang terikat dibawah beberapa tiang, didepan sebuah rumah besar, Arya mengedarkan mata malaikatnya kedalam rumah besar itu, dia tidak menemukan orang lain, selain dari enam belas pria dan wanita yang terikat dibawah tiang.


"Pak Tua, siapakah yang telah mengikat kalian?" Tanya Arya, sambil membebaskan mereka.


"Mereka yang telah berkhianat," ucap seorang pria sepuh, mewakili yang lainnya.


"Mereka siapa, Pak Tua?" Tanya Arya penasaran, sambil mengedarkan pandangannya kesegenap penjuru.


Setelah keadaan Pak Tua dan yang lainnya tenang, baru pria sepuh, menceritakan semua kejadian yang menimpa dirinya dan warga kampung Wayang.


Pria sepuh sebagai Ketua Kampung Wayang, menolak keinginan segelintir orang yang ingin bersekutu dengan pasukan Raja Iblis Ular Hitam, dan ingin menjadikan kampung itu sebagai basis pertahanan pasukan iblis (yang sebenarnya pasukan iblis itu sudah ditahan oleh Arya didalam dunia jiwa).


"Begitulah ceritanya anak muda," ucap Tetua Kampung menjelaskan.


"Jangan khawatir Pak Tua, semuanya sudah aman. Mereka semua telah pergi ketempat yang lain, ketempat yang lebih besar dari tempat ini, disebelah utara hutan Wayang, aku tadi melihat rombongan mereka menuju kesebelah utara," balas Arya sedikit berbohong.


"Benarkah itu, anak muda!" Seru Tetua Kampung sumringah senang.


"Benar, Pak Tua," ujar Arya.


"Baiklah anak muda, kalau begitu, aku akan mengabari semua penduduk yang mengungsi ke sebelah timur. Terimakasih sebelumnya anak muda," balas Ketua Kampung tersenyum senang.


Ketua kampung beranjak dari tempat itu, berniat membawa lagi warganya yang sedang mengungsi, Arya pun melanjutkan perjalanannya kembali menuju kearah kota Metropolitan.


Didalam perjalanan, Arya terus memantau dan mengawasi semua pergerakan, yang dianggapnya benar-benar membahayakan situasi keamanan. Dia tak segan-segan menindak segala bentuk kelompok pengacau.


Seperti yang telah dia temukan, ditempat yang jauh dari jangkauan patroli keamanan, dipesisir pantai wilayah selatan. Ribuan prajurit dari pasukan iblis Raja Ular Hitam, telah ditangkap dan ditahan oleh Arya didalam dunia jiwanya.


"Ini semua menjadi bahan evaluasi untuk seluruh pasukan, terutama pasukan khusus pengaman benua, pasukan elit pengamanan wilayah pantai, dan pasukan pengaman hutan, untuk segera mengamankan seluruh wilayah benua," gumam batin Arya.


Sejak Arya membentuk beberapa pasukan khusus dan pasukan Elit, dia tidak pernah berkeliling mengawasi situasi keamanan, baru kali ini dia terjun langsung ke tempat-tempat tertentu, yang jauh dari jangkauan patroli keamanan.


Pasukan Khusus yang dibentuk oleh Arya, adalah Pasukan Pengaman Garuda Benua, Pasukan Khusus Tempur Prabu Widjaya, Pasukan Khusus Penyapu Ranjau Cakrabenua, Pasukan Khusus Pengaman Wilayah Laut Katak Hitam, Pasukan Khusus Pengaman Hutan Laba-laba Hitam, Pasukan Elit Rajawali Sakti dan Pasukan Elit Pemanah Beracun, serta Pasukan Khusus Wanita Srikandi.

__ADS_1


Seluruh pasukan bertugas sesuai dengan pungsinya masing-masing, namun entah kenapa, disebagian wilayah hutan dan laut, sama sekali tidak ditemukan patroli keamanan dari Pasukan Katak Hitam dan Laba-laba Hitam, yang seharusnya menjaga keamanan wilayah hutan dan pantai.


Arya terus melesat terbang dengan kecepatan tinggi, karena masih banyak yang harus dia selesaikan menjelang pertemuan Tingkat Tinggi Tiga Benua besok pagi.


Dari balik awan, Arya terus melesat kearah kota Garuda Kencana, setelah hampir mendekati gerbang kota sebelah barat, lima ratus meter sebelum pintu gerbang, dia melayang turun dipinggiran hutan.


Lalu melanjutkan perjalanannya dengan berjalan kaki, begitu sampai di jalan utama menuju gerbang kota, Arya terkejut melihat para pengunjung kota yang mengantri hingga ratusan meter, baik yang berjalan kaki seperti Arya, ataupun yang menggunakan kereta kuda dan menunggang kuda sendiri.


Dia pun ikut mengantri di jalur para pejalan kaki, bersama pria setengah baya dan rombongannya.


"Maaf Tetua, sedikit mengganggu. Ada apa sebenarnya didalam kota Metropolitan itu, hingga banyak orang berdatangan?" Ucap Arya, bertanya pada pria disebelahnya.


Pria setengah baya itu menatap Arya, sambil menerangkan bahwa didalam kota Metropolitan Garuda Kencana, selain besok akan diadakan pertemuan tiga benua, juga telah berlangsung pemilihan calon prajurit khusus dan prajurit elit. Siapa yang beruntung terpilih, dia akan dididik menjadi seorang perwira muda yang tangguh di Pusat Pendidikan Dan Pelatihan Khusus Prajurit Seluruh Benua, di Hutan Larangan dengan ranah kekuatan ditingkat Penguasa tahap puncak.


"Kami kesini mengantar anak dan keponakan yang hendak mengikuti pemilihan tersebut, kami para orang tua sangat bangga bila anak-anak dan keponakan kami terpilih," harap pria setengah baya itu menuturkan.


"Semoga saja anak dan keponakan Tetua terpilih," balas Arya.


"Terimakasih anak muda, apakah anak muda juga mau ikutan pemilihan calon prajurit elit?" Tanya pria itu lagi sambil menatap Arya.


"Tidak Tetua, aku hanya seorang petualang saja, yang penasaran dengan kota Metropolitan ini," jawab Arya berbohong.


"Apakah anak muda baru berkunjung ke kota Metropolitan?" Tanyanya lagi.


"Benar Tetua," jawab Arya singkat .


Tak terasa, Arya dan rombongan pria setengah baya, sudah berada didepan gerbang kota, tinggal menunggu giliran diperiksa.


Tampak, ratusan prajurit khusus dan prajurit elit, membantu para petugas penjaga pos memeriksa para pengunjung kota. Sekarang, yang ditempatkan untuk menjaga pos pemeriksaan itu, ditingkatkan ranah kekuatannya, dari Pendekar Dewa Surga tahap puncak, diganti dengan prajurit ditingkat Penguasa tahap puncak.


Semakin tinggi pengaruh kota Metropolitan Garuda Kencana ke seluruh benua, semakin tinggi pula prajurit penjaga pos pemeriksaan itu.


Sedangkan para prajurit yang masih ditingkat Pendekar Dewa Surga tahap puncak, dikembalikan ke Hutan Larangan untuk dilatih kembali, agar ranah kekuatannya lebih meningkat lagi, harus seimbang dengan ranah para perwira muda yang baru menyelesaikan pendidikan dan pelatihan di Hutan Larangan, yaitu ditingkat Penguasa tahap puncak.


Bagi mereka yang sudah tua, namun ranah kultivasinya masih dibawah Kekuatan Penguasa tahap puncak, akan ditempatkan di daerah-daerah hingga kota-kota terpencil.


"Sungguh luar biasa kekuatan di Kota Metropolitan ini," decak kagum pria setengah baya itu, menatap para perwira muda Pasukan Pasukan Khusus.


Arya hanya tersenyum, melihat kekaguman pria setengah baya itu.


Tiba giliran rombongan pria setengah baya dan Arya diperiksa. Untungnya para perwira muda tidak mengenal Arya, yang mengenakan jubah hitam dan caping.


"Identitasnya, Saudara?" Pinta perwira muda, yang diperbantukan memeriksa para pengunjung.


Arya mengeluarkan identitasnya dari Perguruan Beladiri Suramanggala di Benua Tengah, dan menyerahkannya kepada perwira muda itu dengan tersenyum penuh arti.


"Tiga koin emas biaya masuknya," ucap perwira muda, sambil menyerahkan kembali identitas milik Arya.


Sekarang ada kenaikan biaya masuk ke kota metropolitan, yang semula dua koin emas, kini naik menjadi tiga koin emas.


Biaya masuk atau pajak masuk, dikelola oleh kantor Walikota Metropolitan Garuda Kencana, termasuk pajak-pajak lainnya. Semua itu untuk menggaji para pegawai dan seluruh pasukan, serta biaya pemeliharaan dan pengembangan kota Metropolitan.

__ADS_1


Usai pemeriksaan terhadap dirinya, Arya lekas meninggalkan kerumunan orang-orang yang sedang mengantri. Dia cepat melangkah menuju ke Markas Gabungan Pasukan Garuda Kencana, untuk melihat secara langsung perekrutan calon prajurit elit dan calon prajurit khusus, yang ditempatkan di arena Markas Komando Gabungan.


Bersambung........


__ADS_2