
Diarena pertarungan calon prajurit pilihan Pasukan Prabu Widjaja, dari seribu lebih yang mendaftar, kini hanya tersisa dua ratus calon prajurit. Terdiri dari ranah Pendekar Dewa dan Pendekar Spritual.
Kedua ratus itu dibawa ke Aula Pasukan Prabu Widjaja. Mereka dikumpulkan untuk didata ulang, karena akan dikirim ke Hutan Larangan untuk Latihan Lanjutan.
Setelah selesai, mereka disuruh istirahat terlebih dahulu. Karena esok harinya sudah diberangkatkan ke Hutan Larangan.
"Silahkan kalian beristirahat, untuk mempersiapkan diri berangkat latihan," ucap komandan pelatihan calon prajurit baru.
Mereka diantar menuju ke barak militer untuk beristirahat. Didalam barak, sudah dipersiapkan khusus untuk para prajurit baru. Masing-masing sudah mendapatkan tempatnya.
_____________
Diatas langit, tampak burung rajawali raksasa, melesat menuju ke Benua Selatan membawa rombongan Arya. Sebenarnya, Arya dan Wulan mampu untuk terbang, karena sudah mencapai ranah Penguasa dan Maha Penguasa. Namun untuk menghemat energinya, keduanya memanfaatkan burung rajawali, untuk terbang menuju Benu Selatan.
Arya menyuruh semua bawahannya, untuk masuk ke dunia jiwa, karena Arya sekarang sudah memiliki dunia jiwa, untuk berkultivasi, membawa dan menyembunyikan bawahannya.
Untuk pertama kalinya, mereka dibimbing oleh Arya masuk kedalam dunia jiwa, lalu menuju ke Istana yang besar dan megah, karena didalam istana, sudah disediakan ruangan khusus untuk berkultivasi.
Sebelum berkultivasi, mereka semua disuruh berendam dulu di sebuah kolam air kehidupan, yang sudah dipindahkan dari kerajaan kuno milik Raja Agung Darma Kusumah, ke dunia jiwa miliknya.
Setelah mereka berendam, Arya memberikan buah-buahan dewa pada mereka, untuk meningkatkan ranah kultivasinya, dan berbagai sumber energi yang ada di dunia jiwa untuk dipergunakan.
"Silahkan kalian semua berkultivasi, agar ranah kalian naik ke tingkat lebih tinggi lagi," ucap Arya, menatap mereka.
"Baik Penguasa," balas mereka senang.
"Terimakasih Penguasa," imbuhnya.
Sebelum mereka masuk keruangan khusus untuk berkultivasi, terlebih dulu mereka diperkenalkan dengan pria gagah dan wanita cantik. Raja Agung Prabu Darma Kusumah dan Istrinya.
Setelah Raja Agung memberikan arahannya, kemudian mereka masuk keruangan khusus untuk berkultivasi. Hanya Arya dan Wulan, yang tidak berkultivasi, karena keduanya sudah naik beberapa tingkat.
"Yang Mulia, kami berdua hendak melanjutkan perjalanan lagi," ucap Arya.
"Silahkan Nak Arya, Nak Wulan. Hati-hati dalam perjalanannya." Raja Agung mengingatkan Arya.
"Terimakasih yang mulia," balas Arya, menangkupkan tangannya sambil membungkuk.
Whuuss..... Whuuss...
Arya dan Wulan, keluar dari dunia jiwanya. Kini mereka sudah berada di atas punggung rajawali lagi, untuk melanjutkan perjalanannya.
Tak lama kemudian, keduanya sampai disebuah kota kecil, kawasan perbatasan antara Benua Tengah dengan Benua Selatan.
Kota kecil itu masuk dalam wilayah kekuasaan Kerajaan Benua Selatan. Benua kedua terbesar setelah benua tengah.
"Kita turun disini saja, Lalu jalan kaki menuju kota," ucap Arya, kepada Wulandari.
"Baik Kak," balas Wulan.
Keduanya turun dipinggir hutan, tiga ratus meter dari arah gerbang kota.
Setelah memasukkan burung rajawali kedunia jiwanya, mereka berdua bergegas menuju ke pintu gerbang kota.
Tak lama berjalan, Arya dan Wulan tiba didepan gerbang kota.
__ADS_1
Di atas gapura gerbang, tertulis kalimat, 'Selamat Datang Di Kota Harimau Perak'.
Arya dan Wulan membaca tulisan tersebut.
"Aneh! Apakah penguasa kota ini dari perguruan Harimau Perak? Tanya Wulan, sambil memperhatikan tulisan di atas gapura.
"Bisa jadi!" Balas Arya singkat.
Bergegas keduanya masuk kedalam kota. Suasananya sangat ramai, banyak kultivator dan pedagang berdatangan. Mereka berjalan beriringan menuju ke Alun-alun Kota.
"Ada apa? Mereka pada menuju ke Alun-alun Kota," batin Arya, memperhatikan mereka. "Rata-rata ranah kultivasi mereka berada pada tingkat Pendekar Spiritual ke atas," tambahnya dalam batin.
"Kak Arya, coba kita tanya pada mereka," ucap Wulan.
"Benar juga."
Keduanya bergegas menghampiri sebuah rombongan.
"Salam, Tuan. Maaf sedikit mengganggu," ucap Arya, menangkupkan tangannya sambil membungkuk.
"Ya, ada apa?" Tanya seorang pria sepuh menatap Arya.
"Maaf tuan, mereka itu mau pada kemana?" Tanya Arya penasaran, sambil menunjuk kearah Alun-alun Kota.
"Oh, itu! Mereka semua pada mau daftar jadi prajurit kerajaan," jawab pria sepuh itu, sambil menatap Arya. "Apakah kamu orang baru," lanjutnya.
"Ya, tuan. Kami berdua dari Benua Tengah," sahut Arya.
Pria sepuh terkejut mendengar jawaban dari Arya, karena Benua Tengah terkenal dengan kekuatannya. Sedangkan Arya dan Wulan, tidak memiliki ranah kekuatan kultivasi sama sekali, karena keduanya menyembunyikan ranah kekuatan kultivasinya ke titik dasar, sehingga tidak bisa dilihat oleh orang lain.
"Apakah benar kalian dari Benua Tengah?" Tanya pria sepuh, sambil memindai tubuh Arya dan Wulan, karena tidak percaya. Namun pria sepuh itu tetap tidak dapat melihat ranah kultivasi Arya dan Wulan, karena keduanya sangat rapih menyembunyikan kekuatannya.
"Oh.... Pastas saja kalian tidak memiliki kekuatan sama sekali. Tapi hati-hati, anak muda. Di kota ini banyak orang-orang yang kuat, yang selalu menindas orang-orang yang lemah," ujar pria sepuh pemimpin rombongan, menakuti Arya, karena Arya dan Wulan tidak memiliki ranah kekuatan kultivasi sama sekali.
Jika mereka mengetahui ranah kultivasi Arya dan Wulan yang sebenarnya, pasti mereka akan muntah darah. Karena diusia dua puluh tiga tahun, ranah Kultivasi Arya sudah ditingkat Maha Penguasa tahap puncak, yang dengan mudah dapat menghancurkan Benua Selatan.
Arya dan Wulan pun tersenyum. "Terimakasih Tuan, atas penjelasannya," ucap Arya berterimakasih.
Rombongan pria sepuh itu berlalu dari hadapan Arya, sambil tertawa menghina Arya dan Wulan.
"Hahaha..... Ternyata hanya pemuda dan pemudi sampah, tidak memiliki kekuatan sama sekali," ejek rombongan itu pada tertawa.
Arya dan Wulan menggelengkan kepalanya, lalu meneruskan perjalanan lagi, mencari sebuah rumah makan.
Beberapa waktu berjalan, keduanya singgah disebuah rumah makan mewah bertingkat. Lalu masuk memesan tempat khusus, serta memesan makanan dan minuman yang terenak.
Arya dan Wulan duduk disudut, dekat sebuah jendela rumah makan. Tak lama kemudian, dua pelayan datang mengantarkan makanan dan minuman pesenannya.
"Lihat, kedua sampah itu, ternyata mereka juga makan disini," ucap salah seorang pengikut rombongan, yang tadi bertemu dengan Arya, mengejeknya.
Rombongan pria sepuh itu, lantas melihat kearah Arya. "Kasihan mereka! Mereka berdua bakalan ditindas, karena kekuatan penduduk di kota ini rata-rata ditingkat Pendekar Spiritual," ucap seorang rombongan, menyepelekan Arya.
"Mereka berdua disini hanya sampah, di kota ini mereka akan menjadi bulan-bulanan orang-orang yang kuat," sambung pengikut lainnya, menganggap Arya dan Wulan sebagai pemuda sampah.
Arya dan Wulan, hanya tersenyum mendengar celotehan mereka. Hanya sesekali melirik kearah rombongan itu, sambil terus menikmati makanan dihadapannya.
__ADS_1
Tidak berapa lama, sekolompok orang datang memasuki ruangan restoran. Bila dilihat dari penampilan dan pakaiannya, sepertinya kelompok itu tuan muda bangsawan, atau tuan muda kota bersama para pengawalnya.
Kelompok itu melangkah menghampiri sebuah meja tempatnya Arya dan Wulan. "Bolehkah aku bergabung denganmu nona cantik," ucap pemuda yang dikawal, menatap wajah Wulan, tidak menganggap Arya yang berada dihadapan Wulan.
Wulan tidak menanggapinya. Tetap acuh sambil menikmati makanannya.
Merasa tidak ditanggapi. Pemuda itu menatap tajam kearah Wulan sambil berkata, "Cantik-cantik bisu dan tuli."
Duarr.... Duarr.... Duarr....
Tanpa disadari oleh mereka, dengan lambaian tangan Wulan, pemuda dan delapan pengawalnya tiba-tiba terlempar menabrak tiang dan dinding rumah makan.
Tentu saja, hal itu membuat semua pengunjung restoran terkejut, termasuk rombongan pria sepuh.
Melihat kenyataan, tuan muda dan para pengawalnya tak berdaya, pengelola restoran dan penjaganya langsung menghampiri Arya dan Wulan.
"Beraninya kamu memukul Tuan Muda Kota dan para pengawalnya, kamu berdua...." Belum selesai berbicara, pengelola rumah makan dan penjaganya, sama dilemparkan oleh Wulan keluar lewat jendela.
Dia sudah tidak mau berbasa-basi lagi terhadap orang-orang yang sombong, atau berkompromi dengan orang-orang yang berani mengganggu.
Dengan tegas Wulan bertindak. Maka, tidak ada ampun lagi bagi mereka yang berniat jahat.
Melihat kejadian tersebut, semua orang yang berada di sana, tidak berani berbuat apa-apa. Mereka melongo seperti patung.
"Untung saja kita tidak menyinggung mereka secara berlebihan," ucap pria sepuh, yang juga menghina Arya dan Wulan.
"Mereka berdua pasti kultivator ahli tingkat tinggi yang menyamar, dengan menekan ranah kultivasinya," sambung yang lainnya.
"Ya, mereka berdua datang dari Benua Tengah, tentunya juga kekuatannya melebihi dari Benua Selatan," celoteh rombongan pria sepuh.
Semuanya pada bergidik, melihat kejadian yang mengerikan itu.
Sementara Arya dan Wulan, bergegas menuju kasir rumah makan, membayar makanan yang dipesannya, sambil berucap, "Semua kerusakan itu minta pada Tuan Kota, dan sampaikan salam dariku. Aku tunggu kehadiran mereka di kota ini," ucap Arya, sambil membayarnya.
"Baik Tuan, terimakasih sudah berkunjung ke rumah makan ini," balasnya.
Arya dan Wulan, bergegas keluar dari rumah makan, dengan diiringi tatapan semua mata pengunjung dan pelayan restoran. Keduanya berniat mencari sebuah penginapan berkelas di kota ini, untuk beristirahat, sambil menunggu rombongan Tuan Kota dan para pasukannya.
Keduanya terus berjalan, tidak sampai satu jam, Arya melihat sebuah penginapan mewah, lalu keduanya masuk ke penginapan mewah bertingkat itu, dan langsung memesan sebuah kamar yang besar dan nyaman.
Setelah masuk kedalam kamar penginapan, dan mengunci pintu. Keduanya langsung masuk kedalam dunia jiwa, untuk berkultivasi.
"Salam Penguasa," ucap semua bawahannya, memberikan salam, setelah Arya tiba di Istana Megah dunia jiwanya.
"Selamat ya, kalian sudah pada naik tingkat," ucap Arya dan Wulan, memberikan selamat kepada mereka.
"Terimakasih Penguasa, ini semua berkat Penguasa," imbuh mereka bersamaan.
"Penguasa, bagaimana dengan kabar didunia luar?" Tanya jenderal Adiwiyata penasaran.
"Nanti akan aku jelaskan, setelah selesai berkultivasi, dan aku juga berniat membawa kalian semua," ucap Arya, menatap mereka.
"Baik Penguasa. Terimakasih!" Ucap semuanya senang.
Lalu Arya dan Wulan, masuk keruangan kultivasi. Waktu diruangan itu dipercepat. Satu tahun diruang Kultivasi, sama dengan satu hari didunia luar.
__ADS_1
Setelah keduanya mengkonsumsi buah-buahan dewa, dan menyerap sumber energi lainnya. Baru keduanya khusyuk berkultivasi.
Bersambung...