Kultivator Tingkat Dewa

Kultivator Tingkat Dewa
38. Menangkap Pemimpin Kota


__ADS_3

Arya terus melangkah menyusuri jalan utama kota Singa Kencana, setelah keluar dari rumah makan, dia berniat mengunjungi Istana Kota, untuk memberikan pelajaran kepada Pemimpin Kota dan orang-orangnya.


Ditengah perjalanan, dia dihadang oleh ratusan prajurit kota.


"Berhenti, kamu yang telah melumpuhkan kekuatan Tuan Muda Kota dan para pengawalnya?" Hardik Komandan Kota menatap Arya dengan tajam.


"Bukan aku, itu karena kelakuan mereka sendiri, yang selalu menindas orang-orang yang lemah," balas Arya, balik menatap Komandan Kota.


"Apapun alasannya, tetap kamu yang salah, karena membuat keributan didalam kota ini," sambung komandan kota, tetap menyalahkan Arya.


"Oh, begitu. Baiklah..." Ucap Arya, tanpa banyak basa-basi, dia melumpuhkan kekuatan komandan kota dengan gerakan cepat, yang tidak dapat dilihat oleh mata, memukul dantian komandan kota, untuk membuatnya cacat seumur hidup.


"Ahhh..... Bajingan kau!" Keluh kesakitan komandan kota, yang dantiannya sudah cacat oleh Arya.


"Hahaha.... Bagaimana rasanya sekarang, setelah kamu menjadi sampah. Sakit bukan...?" Tanya Arya, sambil mengejek komandan kota. "Bawa seluruh prajurit kembali ke Istana Kota, sebelum mereka mengalami seperti dirimu. Dan sampaikan salam ku kepada Pemimpin Kota, untuk menyambut kedatanganku," tambah Arya, sambil menyuruh mereka pergi.


"Apakah kalian tidak mendengar, ataukah kalian ingin bernasib yang sama seperti komandan kota?" Tanya Arya, menghardik mereka.


Para prajurit kota saling pandang diantara teman-temannya, sambil memberi kode dengan gerakan kepala dan bahunya, akhirnya mereka pergi dari hadapan Arya, membawa komandan kota yang kekuatannya sudah dilumpuhkan.


Pemimpin kota Singa Kencana, begitu mendengar orang-orangnya dan anaknya dilumpuhkan oleh seorang pemuda di ranah rendah, tingkat Pendekar Dewa Bumi tahap puncak, tentu saja dia sangat marah, apalagi Arya mengatakan akan datang sendiri berkunjung ke Istana Kota, untuk melumpuhkan kekuatan Pemimpin Kota. Benar-benar sebuah penghinaan bagi dirinya.


"Siapkan semua prajurit elit untuk menangkap pemuda bajingan itu, jangan biarkan dia lolos. Dan segera laporkan kepada Jenderal Pasukan Garuda Benua, untuk membantu mengamankan Istana," perintah Pemimpin Kota kepada seluruh bawahannya.


"Siap Pemimpin Kota, kami akan segera melaksanakan perintah pemimpin," balas semua bawahannya, langsung bergerak untuk menangkap Arya, yang menyamar sebagai petualang.


Sementara Pemimpin Pasukan Garuda Benua, Jenderal Komang Hadipura, yang ditunjuk oleh Panglima Jenderal Partakomara, untuk membentuk keamanan di Benua Utara dan sekitarnya, begitu mendapat laporan dari bawahan Pemimpin Kota, langsung bergegas menuju ke Istana Kota.


"Mari jenderal, kita berbicaranya sambil menikmati secangkir teh favorit di kota ini," sambut Pemimpin Kota, mengajak Jenderal Komang Hadipura setelah tiba di Istana Kota.


Duarr.... Duarr....


Tiba-tiba terdengar ledakan tidak jauh dari Istana Kota, membuat keduanya terkejut.


"Pemimpin kota, lebih baik kita hadapi dulu si pengacau. Biarlah minum secangkir teh itu bisa kita tunda dulu, yang penting kota ini tetap aman," ucap Jenderal Komang Hadipura, batal menikmati secangkir tehnya.


"Baiklah Jenderal, ayo kita tangkap pemuda bajingan itu, jangan sampai pemuda itu menghancurkan istana," ajak Pemimpin Kota.


Keduanya melesat meninggalkan Istana Kota, menuju kearah suara ledakan.


Duarr.... Duarr....


Serangan pukulan jarak jauh prajurit itu, menghantam sebuah bangunan dan pohon, karena dihindarkan oleh Arya, yang ingin sejenak bermain bersama prajurit.


Dug.... Bug....


Pukulan dan tendangan silih berganti, dengan gencar menerjang kearah Arya, dengan gerakan cepat Arya menangkis pukulan dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya menyodok iga burungnya.


Hegk.... Ahhh....


Komandan Prajurit Elit kota menjerit terkena pukulan balasan dari Arya, begitu juga dengan beberapa tendangan dari prajurit lainnya, dengan mudah dihindari.


Arya masih ingin mengajak bermain beberapa prajurit elit kota, sehingga dia tidak melancarkan serangan yang mematikan.


Dug.... Bug....


Pukulan dan tendangan saling beradu dengan Arya, yang hanya mengeluarkan lima persen dari kekuatannya.

__ADS_1


Dug.... Hegk.... Ahhh....


Beberapa prajurit elit kota merintih menahan sakit dibawah perutnya, terkena pukulan yang melumpuhkan kekuatan mereka.


Pemimpin Kota bersama Jenderal Garuda Benua, tiba ditempat pertarungan itu. Langsung keduanya bergerak hendak menangkap Panji, namun Jenderal Garuda Benua menarik gerakannya, dia mengenali penyamaran Arya, yang sering menemaninya ketika di Kota Metropolitan Garuda Kencana.


Jenderal Komang Hadipura hanya berdiri, agak jauh dari tempat pertarungan, dia merasa bersalah karena membiarkan Pemimpin Kota telah menyinggung atasannya.


"Hai, pemuda laknat. Lekaslah kamu menyerah dan bersujud dihadapan ku, sebelum aku bertindak tegas," ucap Pemimpin Kota menatap tajam kearah Arya.


"Yang laknat itu kalian semua, yang telah melakukan tindakan sewenang-wenang, dan menindas terhadap orang-orang yang lemah. Apakah kalian sudah bosan tinggal di kota ini?" Ucap Arya, bertanya pada Pemimpin Kota dan orang-orangnya.


"Dasar laknat...! Beraninya  kamu berbicara yang tidak sopan dihadapan ku ," balas pemimpin kota geram.


"Tangkap pemuda bajingan itu!" Seru Pemimpin Kota berteriak, memerintahkan seluruh bawahannya untuk menangkap Arya.


"Sudah cukup bermain-mainnya, mari kita sudahi permainan ini," ucap Arya, sambil mengeluarkan jurus Dewa Rajawali Mengunci Lawan, yang ditujukan kepada mereka.


Tentu saja Pemimpin Kota beserta para prajurit elitnya, berubah menjadi patung.


Semua orang yang menyaksikan kejadian itu, terpana dibuatnya. Akhirnya mereka semuanya tau, hanya ada satu orang yang memiliki jurus seperti itu di alam ini, tak lain dan tak bukan hanyalah seorang Penguasa Agung, yang selalu menyamar sebagai pemuda petualang.


Begitu pula dengan Pemimpin Kota dan orang-orangnya, yang telah berani menyinggung Arya, dan berbuat sewenang-wenang terhadap orang-orang yang lemah.


Arya pun menghampiri Pemimpin Kota, dan dengan isengnya mencabuti kumis tebalnya, dan hanya menyisakan sebelah kumisnya, di atas sebelah kiri mulutnya.


Semua orang tersenyum melihat perbuatan Arya yang konyol itu, dan masih sempat-sempatnya mengerjai Pemimpin Kota yang arogan.


Jenderal Komang Hadipura yang melihat kejadian itu, segera menghampiri Arya dan berlutut dihadapannya.


"Salam Penguasa Agung, maafkan kesalahan ku yang membiarkan pemimpin kota berbuat sewenang-wenang,"  ucap Jenderal Komang Hadipura, yang masih tetap berlutut ketakutan.


"Terimakasih Penguasa Agung, perkataan Penguasa Agung akan selalu aku patuhi," balas hormat Jenderal Komang Hadipura, sambil berdiri dari berlututnya.


"Jenderal, kirimkan mereka semua kedalam tahanan di Hutan Larangan," perintah Arya, kepada jenderal bawahannya.


"Baik Penguasa Agung," balas Jenderal Komang Hadipura, sambil merantai pemimpin kota dan orang-orangnya.


"Siapkan calon pengganti mereka semua. Terutama calon Pemimpin Kota, yang harus benar-benar seorang pengemban amanah," tambah Arya.


"Baik Penguasa Agung," balas jenderal bawahannya.


"Baiklah, aku akan segera meneruskan perjalanan lagi," Ucap Arya berlalu meninggalkan tempat itu, dan meneruskan langkah perjalanannya.


Langkahnya sebagai petualang yang bebas, tidak pernah merasa terbebani oleh rasa takut. Walaupun dirinya harus berhadapan dengan seorang penguasa benua dan para pengikutnya, jika mereka bersalah, Arya tidak akan segan-segan untuk menindaknya, dan menggantikannya dengan orang yang lebih baik lagi.


Arya terus melangkahkan kakinya, menuju gerbang keluar kota, untuk melanjutkan perjalanannya ke kota-kota lainnya.


Setelah berada diluar gerbang kota, Arya tidak segera terbang, malah dia meneruskan perjalanannya dengan berjalan kaki, menuju kearah barat, melalui pinggiran hutan jati yang lebat dan gelap.


Karena Arya telah mendapatkan informasi, dari para pengunjung disebuah rumah makan, di kota Singa Kencana, bahwa disepanjang hutan jati yang lebat dan gelap itu, telah dihuni oleh beberapa kelompok begal yang sangat kejam.


Karena hal itulah, dia ingin meneruskan perjalanannya dengan berjalan kaki, untuk mengajak bermain jurus dengan para begundal-begundal hutan jati.


Ditengah-tengah perjalanannya, dia mendengar suara pertarungan dari arah depannya. Gegas Arya melesat menuju sumber suara itu.


Begitu tiba ditempat pertarungan, tampak ada dua kelompok tengah bertarung, tak jauh dari arena pertarungan, sebuah kereta kuda terparkir dipinggiran hutan, kusir dan sejumlah pengawal kereta kuda, terlibat dalam pertarungan melawan kelompok begal.

__ADS_1


Arya memperhatikan kedua kelompok yang tengah bertarung, dari atas dahan sebuah pohon besar.


Trang.... Trang.... Tring....


Bunyi suara beradunya beberapa pedang terdengar nyaring, keringat bercampur darah bersatu ditubuh mereka, menandakan mereka pada terluka terkena goresan pedang.


Dug.... Bug....


Disusul dengan pukulan dan tendangan yang silih berganti, saling menerjang dan menyerang.


Dug.... Ahhh....


Keluh kesakitan terkena pukulan dan tendangan, membaur dengan ******* nafas tersengal-sengal dari kedua kelompok.


Setelah puas menyaksikan pertarungan itu, Arya berusaha ingin menangkap semua gerombolan para begal.


Dengan jurus penguncinya, dia tujukan kearah semua gerombolan begal. Tak ayal lagi, kelompok begal itu semuanya berubah menjadi patung.


Tentu kejadian ini membuat para pengawal Kereta kuda terkejut, karena mereka semuanya sudah pada mengenali si pemilik jurus tersebut.


"Penguasa Agung, Penguasa Agung berada disini!" Seru Kepala Pengawal Kereta Kuda, mencari sosok yang disebut itu.


"Apa! Ada Penguasa Agung disini!" Seru yang lainnya.


Terdengarnya seruan serta ucapan dari kepala pengawal dan para anggota pengawal, membuat terkejut penumpang kereta kuda yang berada didalamnya.


Tampak didalam kereta kuda ada tiga orang, satu orang pria sepuh, satu orang wanita setengah baya, dan satu orang lagi seorang gadis belia nan cantik. Ketiganya merupakan keluarga bangsawan terkaya di Ibukota Kerajaan Benua Utara.


"Kepala pengawal, apakah benar Penguasa Agung yang telah membantu kita," ucap pria sepuh keluarga bangsawan itu.


"Benar, Tuan. Karena hanya Penguasa Agung lah yang memiliki jurus seperti itu," balas Kepala Pengawal, sambil menunjuk kearah kelompok begal yang sudah pada menjadi patung semua.


"Iya, aku ingat sekarang. Jurus itu warisan dari Prabu Widjaya, kakeknya Penguasa Agung," sambung pria setengah baya, sambil keluar dari dalam kereta kudanya, kemudian dia berdiri disebelah kereta kuda miliknya, dan berteriak dengan lantang sekali.


"Wahai cucunya Prabu Widjaya Suryamanggala, ayo turunlah kemari, aku ingin berjumpa dengan keturunan asli dari Prabu Widjaya Suryamanggala. Aku adalah Widarta Suryamanggala, adik bungsu dari Prabu Widjaya Suryamanggala," teriak pria sepuh, yang ternyata adik bungsu Kakeknya Arya.


Karuan saja Arya terkejut, mendengar teriakkan pria sepuh itu, yang ternyata adik kakeknya berada di Benua Utara, setelah sekian puluh tahun dicari tidak ketemu, akhirnya muncul dihadapannya.


Arya pun tidak membuang-buang waktu lagi, dia segera melesat turun dari atas dahan pohon besar, menghampiri menuju adik kakeknya.


"Salam Kakek Widarta Suryamanggala, aku dan Kakek Prabu Widjaya, telah mencari Kakek Widarta kemana-mana, namun tidak berjumpa. Dengan secara kebetulan, ditempat ini kita bertemu," ucap Arya, memberi salam hormat kepada Kakek Widarta, sambil mengeluarkan Prabu Widjaya dan Wulan dari dunia jiwanya.


Whuuss.... Whuuss....


Keduanya berloncatan keluar dari dunia jiwa, dan muncul dihadapan Widarta Suryamanggala.


"Kakak Prabu Widjaya...!" Teriak adiknya terkejut, melihat secara tiba-tiba kakaknya muncul dihadapannya.


"Widarta! Apakah kamu Widarta?" Tanya Prabu Widjaya, sama-sama terkejut menatap adiknya berada ditempat itu, bersama dengan Arya.


"Iya, Kakak Prabu Widjaya," jawab adiknya.


Keduanya berpelukan melepaskan rasa kangen dan rindu, setelah puluhan tahun berpisah, sejak terjadinya perebutan kekuasaan di Kerajaan Daha, antara kedua kakaknya.


Prabu Widjaya pun mengenalkan Arya sebagai cucunya, dan Wulan sebagai mantu dari cucunya. Begitu pula sebaliknya, Widarta juga mengenalkan anak dan cucunya yang bernama Dewi Kusumawati, dan cucunya bernama Ayu Andini Kusumawati.


Akhirnya, setelah membereskan para begal, dan melumpuhkan ranah kekuatannya. Mereka semua saling melepaskan rindunya, antara adik dan kakaknya, hingga Prabu Widjaya, Arya dan Wulan berkunjung ke kediaman Widarta Suryamanggala, di Ibukota Kerajaan Benua Utara.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2