
Di Kota Dewa Matahari, hanya ada sebuah penginapan yang mewah dan bertingkat, yang lainnya hanya penginapan sederhana. Penginapan mewah ini, lengkap dengan berbagai fasilitas, seperti ruangan untuk berkultivasi, berlatih beladiri, berendam, dan ada rumah makan dengan menu istimewa.
Arya dan Nawangsari, bergegas masuk kedalam penginapan mewah, hendak memesan sebuah kamar yang besar dan nyaman.
Tiga pelayan wanita muda, menyambut kedatangan Arya dan Nawangsari, dengan ramah dan santun.
"Selamat datang di penginapan Bunga Lotus, apakah ada yang bisa kami bantu?" Sambut pelayanan wanita
"Kami memesan kamar yang besar dan nyaman. Apakah ada di penginapan ini?" Balas Arya, balik bertanya.
"Ada, Tuan...! Mari ikuti kami!" Ajak para pelayan wanita.
Dua pelayan wanita, berlalu menuju ketingkat tiga, sambil membawa kunci dan perlengkapan kamar, diikuti oleh Arya dan Nawangsari dari belakang.
"Nah, ini Tuan...! Kamarnya," ucap pelayan wanita itu, sambil membuka pintu kamar, dan menyimpan kain handuk dan sprei.
"Terimakasih, Nona. Ini untuk kalian berdua," balas Arya, sembari memberikan uang tip kepada kedua pelayan wanita.
"Terimakasih, Tuan Muda dan Tuan Putri," ucap pelayan wanita senang, diberi uang tip oleh Arya.
Setelah kedua pelayan wanita itu pergi, Arya segera mengunci pintu kamar. Lalu keduanya masuk kedalam dunia jiwa, untuk berlatih dan berkultivasi, meningkatkan ranah kekuatannya.
Tiga tahun didunia jiwa, sama dengan tiga hari didunia luar. Karena Arya mempercepat waktu, untuk proses peningkatan ranah kekuatan kultivasinya.
Arya dan Nawangsari, berendam di empat kolam air ajaib, yaitu Kolam Air Abadi, Kolam Air Suci Dewa Nirwana, Kolam Energi Dewa Nirwana, dan terakhir di kolam Air Kehidupan.
Keduanya berendam sambil berkultivasi, dengan mengkonsumsi buah-buahan dewa, serta sumberdaya energi tingkat dewa.
Keduanya terus-menerus berlatih dan berkultivasi, hingga dalam waktu tiga tahun didalam dunia jiwa, ranah keduanya meningkat.
Arya naik tiga tahap selama tiga tahun, karena semakin tinggi ranahnya, semakin sulit untuk meningkatkan ranah kekuatan kultivasinya. Beda dengan Nawangsari, karena ranahnya masih rendah, hingga dia naik tingkat secara gila-gilaan.
Ranah kekuatan Arya, sekarang berada ditingkat God King Tahap Sempurna Bintang Lima Puncak, yang semula berada ditingkat God King Tahap Sempurna Bintang Empat Puncak. Naik tiga tahap.
Sedangkan Nawangsari naik sembilan tingkat, satu tahun tiga tahap. Jadi sekarang ranahnya berada ditingkat God King Tahap Puncak, dua langkah lagi menuju ketingkat sempurna bintang satu awal.
__ADS_1
Ranah Nawangsari, semula berada ditingkat Great Imortal Bintang Sembilan tahap puncak, namun setelah menjadi kekasih Arya, ranahnya meningkat drastis, hingga dua langkah lagi mencapai tingkat sempurna.
Kini ranah Nawangsari, sudah mencapai batas akhir di Alam Dewa Agung ini, karena di alam ini ranah tertingginya berada ditingkat God King tahap puncak. Dan juga yang sudah mencapai ditingkat itu, hanya Leluhur Alam Dewa Agung Lapisan kedua, yang sudah naik ke alam di atasnya.
Sedangkan ranah Penguasa alam ini, yang sudah ditaklukkan oleh Arya, hanya berada ditingkat High God tahap puncak. Dan para Penguasa Benuanya, rata-rata berada ditingkat Low God tahap puncak, dan semuanya sudah ditaklukkan oleh Arya dan bawahannya. Tinggal hanya satu Penguasa lagi, yaitu Penguasa Benua Dewa Bintang Kejora, yang sekarang akan ditaklukkan oleh Nawangsari, sebagai balas dendam yang belum terbalaskan.
Setelah Nawangsari membersihkan dirinya dan mengganti pakaiannya, serta dirinya sudah cukup kuat, Arya mengajaknya lagi keluar dari dalam dunia jiwa.
Whuuss.... Whuuss....
Keduanya muncul ditempat semula, dikamar penginapan yang cukup besar. Kebetulan suasana didunia luar masih gelap, sekitar jam empat subuh. Akhirnya Arya rebahan ditempat tidur, sambil meluk Nawangsari, yang kepalanya berada di atas dada kanan Arya, hingga keduanya tertidur pulas.
Esok harinya, keduanya terbangun, Arya duluan masuk ke kamar mandi, untuk membersihkan dirinya, dan mengganti pakaiannya dengan pakaian kultivator petualang, begitu pula dengan Nawangsari, dia juga sama mengenakan pakaian kultivator petualang, dan sama seperti Arya, menekan ranah kultivasinya hingga ketingkat dasar.
Lalu keduanya keluar dari dalam kamar, menuruni anak tangga, menuju rumah makan ditingkat bawah.
Arya langsung memesan makanan dan minuman, yang paling enak di kota Dewa Matahari, setelah tiba didalam rumah makan mewah, yang masih bersatu dengan penginapan.
Keduanya duduk disebelah sudut ruangan rumah makan, sambil menunggu pesanan tiba. Arya mengeluarkan minuman energi, yang dibuat dari sari buah-buahan dewa, dari cincin penyimpanannya, dan menuangkannya kedalam dua cangkir, untuk Nawangsari dan untuk dirinya.
Tak lama kemudian, empat pelayan wanita menghampiri Arya dan Nawangsari, membawa pesanan makanan dan minuman khas kota Dewa Matahari, yang harganya sangat mahal sekali.
Empat pelayan wanita itu, menyajikan hidangan makanan dan minuman pesanan Arya, dimeja makan dihadapan Arya dan Nawangsari.
"Silahkan Tuan dan Nona, dinikmati hidangannya," ucap pelayan wanita itu, sambil menyodorkan jumlah harga makanan dan minuman yang sangat mahal.
Arya memberikan sekantong koin emas, yang isinya tiga ribu koin emas, sekali makan hidangan mewah.
Empat pelayan wanita, menghitung jumlahnya, ada lebihnya sekitar tiga puluh koin emas.
"Ini kelebihan, Tuan Muda," ucap salah seorang pelayan wanita.
"Lebihnya ambil untuk kalian," balas Arya.
"Terimakasih, Tuan Muda. Jika nanti ada perlu sesuatu, bisa hubungi kami," ucap pelayan wanita itu, senang menerima uang tip dari Arya.
__ADS_1
Arya dan Nawangsari, menikmati hidangan makanan dan minuman khas kota Dewa Matahari, yang paling mahal adalah olahan masakan daging rusa, karena daging itu didatangkan dari luar kota Dewa Matahari, dan memasaknya memakai rempah-rempah sumberdaya energi tingkat tinggi, sehingga harganya selangit.
Ditengah-tengah menikmati hidangan makanan olahan daging rusa, tiba-tiba muncul kelompok pemuda yang arogan dan sombong. Mereka datang dari ibukota Dewa Bintang Kejora, yang langsung menghampiri Nawangsari.
"Hai, Nona cantik. Bolehkah aku duduk bersammu," ucap seorang pemuda perlente itu, sambil menarik sebuah kursi, lalu hendak duduk di samping Nawangsari. Tidak menghargai Arya, yang berada dihadapan Nawangsari.
Namun secara refleks, tangan kiri Nawangsari, menghantam tubuh pemuda perlente itu, hingga terlempar kebelakang, menabrak dinding rumah makan.
Tentu saja, hal itu membuat teman-temannya terkejut, karena tidak menyangkanya. Tuan Muda kota Dewa Bintang Kejora, hanya dengan sekali serangan tunggal, langsung ambruk, padahal ranah kultivasi Tuan Muda Kota, berada ditingkat Low God tahap awal.
Ranah tinggi saja langsung ambruk, apalagi teman-temannya, yang ranahnya lebih rendah, tentunya akan mengalaminya lebih buruk lagi, jika mereka berani melawan Nawangsari, apalagi disampingnya ada Arya, yang ranah kultivasinya lebih mengerikan.
Kelompok pemuda itu, akhirnya berbalik arah, hendak keluar lagi dari rumah makan mewah, namun keburu dicegat oleh Nawangsari, yang langsung melesat menghadang kelompok pemuda perlente, untuk membayar kerusakan dinding rumah makan.
"Mau pada kemana kalian, hah! Mau pada kabur? Tidak mau bertanggung jawab, atas kerusakan ditempat ini," hardik Nawangsari, sambil menindas mereka, dengan aura kekuatan God King tahap puncak, hingga membuat para pemuda perlente itu, jatuh tersungkur.
Nawangsari memukul dantian pemuda perlente, pemimpin kelompok pemuda songong, yang semula ingin melecehkannya. Pukulan telak Nawangsari, menghancurkan basis kultivasinya.
Dug.... Bug.... Argh....
Terdengar suara pukulan dari bawah perut pemuda itu, dan suara erangan kesakitan yang luar biasa.
Lalu Nawangsari mengambil cincin penyimpanannya, dan mengeluarkan sejumlah koin emas, untuk mengganti kerusakan yang diakibatkan oleh perbuatan pemuda perlente, dan menyerahkan kepada pemilik rumah makan.
"Ini Tuan, sekedar mengganti kerusakan dinding rumah makan. Aku rasa lebih dari cukup," ucap Nawangsari, sambil menyerahkan sejumlah uang koin emas, kepada pemilik rumah makan.
"Terimakasih, Nona. Ini lebih dari cukup," balas pemilik rumah makan itu, tersenyum senang.
"Sekarang kalian keluar dari kota ini, dan sampaikan kepada Penguasa Ibukota Dewa Bintang Kejora, tunggu kedatanganku, untuk membalas kedzaliman Penguasa Ibukota dan antek-anteknya!" Seru Nawangsari, mengusir para pemuda perlente.
Mereka keluar membopong pemuda pimpinannya, yang ranah kultivasinya sudah dilumpuhkan, sambil membawa amarahnya yang terbendung, dan ada rasa dendam dihatinya.
Dan untungnya, didalam rumah makan, belum ada pengunjung, baru Arya dan Nawangsari yang memesan makanan, sehingga kejadian itu tidak banyak yang tau. Hanya ada pelayan dan pemilik rumah makan, yang mengetahui ranah kekuatan Nawangsari, sudah mencapai batas akhir di alam ini.
Nawangsari kembali ketempat duduk semula, menikmati hidangan makanan dan minumannya kembali.
__ADS_1
Bersambung.....