
Penguasa Ratu Pantai Selatan, membawa Arya dan Somadihardja, memasuki istananya yang besar dan megah. Keduanya dipersilahkan duduk di kursi kehormatan, dan dijamu oleh Sang Ratu dengan berbagai macam sajian rumput kristal (agar-agar laut) serta buah-buahan energi tingkat tinggi.
"Silahkan dinikmati sajian khusus dari kami, Penguasa Agung," ucap Penguasa Ratu Pantai Selatan, mempersilahkan Arya dan Somadihardja, menikmati sajiannya.
"Terimakasih, Penguasa Ratu Pantai Selatan," balas Arya, sambil menikmati hidangan sajian rumput kristal.
Setelah Arya dan Somadihardja, menikmati makanan rumput kristal dan buah-buahan energi tingkat tinggi, diapun mengeluarkan buah-buahan dewa dan sumberdaya energi tingkat dewa, dari cincin penyimpanannya, yang kemudian diserahkan kepada Penguasa Ratu Pantai Selatan, untuk membalas kebaikannya.
"Harap diterima hadiah yang tidak seberapa ini," ucap Arya, sambil menyerahkan dua peti berisi buah-buahan dewa dan sumberdaya energi tingkat tinggi, kepada Penguasa Ratu Pantai Selatan.
Penguasa Ratu Pantai Selatan terkejut, begitu membuka kedua isi peti itu, karena sudah ribuan tahun dia baru melihat lagi buah-buahan dewa, dan sumberdaya energi tingkat dewa.
Dahulu kala, Penguasa Ratu Pantai Selatan pernah mendapatkan buah apel dan anggur dewa, dari sahabatnya yang menjadi komandan pengawal Penguasa Agung kelima, ketika Ratu Pantai Selatan naik ke Alam Dewa.
"Terimakasih Penguasa Agung, ini merupakan suatu hadiah yang sangat besar bagi kerajaan kami, dan buah-buahan ini juga mengingatkanku kepada Komandan Pengawal Penguasa Agung kelima, yang pernah memberikan buah-buahan seperti ini, ketika aku naik ke Alam Dewa," ucap Ratu Pantai Selatan, yang ingatannya kembali kebelakang, ke ribuan tahun lalu ketika dia berkunjung ke Alam Dewa.
Mendengar cerita itu, Arya mengerti apa yang dipikirkan oleh Ratu Pantai Selatan, maka dia mengeluarkan Komandan Pengawal Penguasa Agung kelima yang dia temukan di Goa Gunung Gede. Walaupun usianya sudah ribuan tahun, namun penampilannya tidak berubah sedikitpun, masih tetap tampan dan gagah. Begitu juga dengan Ratu Pantai Selatan, masih tetap cantik dan awet muda.
Whuuss.... Whuuss.... Whuuss....
Tiba-tiba Komandan Pengawal beserta bawahannya, muncul dihadapan Ratu Pantai Selatan, sehingga membuat Penguasa Laut Kidul itu terkejut, hingga terbelalak matanya melihat ratusan orang muncul dihadapannya.
Itulah Arya, yang selalu membuat kejutan-kejutan dihadapan orang-orang.
Setelah menyadari apa yang ada dihadapannya, Penguasa Pantai Selatan pun menyambut sahabatnya.
"Salam sahabat ku... Selamat datang di Istana Kerajaan kami, mari kita rayakan pertemuan ini dengan menikmati jamuan dari istana kami," sambut Penguasa Pantai Selatan.
"Terimakasih Ratu Penguasa Pantai Selatan, yang telah sudi menyambut kehadiran kami," balas Komandan Pengawal Penguasa Agung kelima.
Mereka semua menikmati jamuan yang disediakan oleh Ratu Penguasa Pantai Selatan, diselingi dengan obrolan-obrolan yang mengundang tertawaan lucu, hingga membuat mereka tertawa penuh kegembiraan.
Setelah puas menikmati hidangan dari sari rumput kristal laut, mereka menyempatkan waktu berkeliling diseputaran kawasan kerajaan laut selatan. Menikmati keindahan alam lautan, yang jauh berbeda dengan alam daratan dan alam atas.
Di Alam Lautan, mereka juga disuguhi berbagai macam hiburan tradisional tanah Jawa, yang dimainkan oleh para pendatang dari tanah Jawa, yang sudah menetap menjadi warga laut selatan.
"Sangat indahnya alam disini, begitu pula dengan hiburan dan musik-musik tradisionalnya, yang mengalun mengiringi para penari," ucap kagum dari Komandan Pengawal.
"Sungguh luar biasa, musik gamelan dari Daratan Tanah Jawa ini, mengandung aura mistis, yang sanggup membuat hati dan pikiran menjadi tenang," sambung Somadihardja.
Arya tersenyum renyah mendengar obrolan dari bawahannya, begitu pula dengan Ratu Pantai Selatan, merasa bangga karena mendapat pujian dari sahabat-sahabatnya.
Usai berkeliling dikawasan Kerajaan Pantai Selatan, Arya beserta rombongannya, undur diri pamitan kepada Ratu Penguasa Laut Kidul dan rakyatnya, untuk melanjutkan perjalanannya lagi.
Arya dan rombongannya, melesat keluar dari tengah laut terbang ke atas, sehingga membuat warga dan pengunjung pantai Pelabuhan Ratu terkesima melihat pemandangan yang menakjubkan seperti itu, karena yang mereka lihat hanya ratusan siluet berbagai macam cahaya yang melesat terbang menembus langit.
Ada cahaya biru mengkilau, cahaya kuning keemasan, cahaya merah pink, dan cahaya putih kemilau yang mereka lihat.
Berbagai tanggapan keluar dari masing-masing warga dan pengunjung, ada yang mengatakan itu sejenis barang-barang pusaka, ada juga yang mengatakan itu khodam penguasa laut, dan juga ada yang mengatakan itu sebagai penglihatan fatamorgana.
__ADS_1
Dengan kekuatan ranahnya yang tinggi, Arya beserta rombongannya, mampu menyembunyikan wujud dirinya sebagai manusia, dan yang terlihat oleh semua orang, hanya siluet berbagai macam cahaya, melesat terbang ke atas langit.
Di atas langit, Arya bersama bawahannya, melayang terbang dengan kecepatan rendah, sambil menikmati pemandangan alam dibawahnya.
Hamparan persawahan yang hijau dan bukit-bukit, terlihat dari atas begitu indahnya. Begitu menarik perhatian dari mereka, sehingga mereka ingin lebih dekat lagi menikmati pemandangan alam tersebut.
Namun Arya menyadarinya, begitu mereka melayang turun mendekati area persawahan, akan membuat warga yang melihatnya menjadi heboh dengan kehadiran mereka, yang bisa terbang. Karena di Alam Bumi ini, tidak ada satu orangpun yang mampu terbang.
Arya tersenyum sendiri memikirkan hal itu, karena dia baru menyadarinya, kalau seratus bawahannya yang baru ditemukan di Gunung Gede itu, sekarang sudah bisa dilihat oleh semua orang, setelah mereka berendam di Air Kehidupan, Air Abadi, Air Suci Dewa Nirwana, serta Air Energi Dewa Cahaya.
Setelah berpikir dengan penuh pertimbangan, akhirnya menyuruh semua bawahannya kembali masuk kedalam dunia jiwanya.
Kini dia ingin berpetualang di Alam Bumi sendirian, dengan menyamar sebagai pemuda biasa, yang tidak memiliki kemampuan sama sekali.
Arya mengenakan pakaian sederhana, ala pakaian pemuda gunung di Alam Bumi, dengan celana pangsi hitam, dipadu keatasannya dengan sebuah kaos hitam yang murah, kepalanya diikat oleh kain hitam. Semuanya serba hitam, serta menggendong ransel hitam di punggungnya.
Dia melangkah menuruni sebuah bukit hijau, dan melintasi hamparan persawahan, menuju ke perkampungan yang terdekat.
Tampak ada sorang pemuda kampung, yang tengah menyadap pohon aren, untuk membuat gula aren sebagai mata pencaharian sehari-harinya.
Pemuda yang baru menginjak usia sembilan belas tahun itu, dimata Arya terlihat tampan dan gagah, ada sebuah aura kekuatan yang terselubung didalam dirinya, sehingga Arya tertarik, untuk menjadikan Pemuda itu menjadi bawahannya di Alam Bumi ini.
Arya menghampiri pemuda itu, yang ternyata sangat ramah dan sopan.
"Hendak pergi kemana, Kang," sapa pemuda itu kepada Arya, dengan logat dan bahasa sundanya (dalam cerita ini tidak diterjemahkan kedalam bahasa Sunda).
"Oh, kalau begitu, mari singgah dulu di kampung ku," ajak pemuda itu, kepada Arya.
"Terimakasih, Kang," jawabnya singkat.
"Oh, iya. Panggil saja aku Wardi," katanya lagi, memperkenalkan dirinya.
"Terimakasih, Kang Wardi. Dan panggil juga aku dengan nama Arya," jawab Arya, sama-sama memperkenalkan dirinya.
"Mari, Kang Arya. Singgah dulu di kampung ku," ucap Wardi mengajak Arya.
Keduanya berlalu meninggalkan tempat itu, menuju kesebuah kampung yang tidak jauh dari tempat menyadap pohon aren.
Wardi adalah seorang pemuda tangguh, dia tidak mudah menyerah walaupun hidupnya serba kekurangan, dia terus berjuang bersama adik perempuannya, setelah kedua orangtuanya meninggal, tertimpa longsoran tebing beberapa tahun lalu, bersama warga lainnya yang menjadi korban.
Mata pencaharian Wardi sehari-harinya, membuat gula aren, dibantu oleh adik perempuannya, dan menjajakannya keliling desa, bahkan kalau hasil olahan gula arennya banyak, dia membawanya ke Pasar.
"Warsih, kenalkan nih teman Akang," Wardi mengenalkan Arya kepada adiknya, setelah tiba di rumah panggung yang sederhana.
Adiknya yang bernama Warsih, sama dengan kakaknya, baik dan ramah. Mereka berdua sama-sama tangguh, tidak pernah mengeluh dengan keadaannya yang serba kekurangan itu. Terutama dengan adiknya, yang baru berusia tujuh belas tahun, sangat gesit dan cekatan membantu kakaknya.
Arya semakin tertarik dengan ketangguhan kedua kakak beradik itu, sehingga Arya berniat mendidik keduanya menjadi orang yang hebat. Menjadi pengusaha yang tangguh dan sukses.
"Kang Wardi, semua gula arennya tidak usah dijual ke pasar, biar aku saja yang beli. Semuanya berapa harganya, Kang?" Tanya Arya.
__ADS_1
Wardi terkejut mendengar ucapan dari Arya, dia tidak menyangkanya sama sekali, bertemu dengan seorang pemuda petualang yang baik.
"Serius Kang, mau memborong gula aren ku?" Wardi malah balik bertanya, antara percaya dan kaget.
"Benar, Kang Wardi. Semuanya berapa harganya, Kang?" Tanya Arya lagi.
Setelah Wardi menyadarinya, bahwa Arya benar-benar serius ingin memborong gula aren hasil olahannya, baru dia menjawabnya dengan senang hati.
"Semuanya delapan puluh ribu, Kang," balas Wardi senang, tidak usah repot-repot adiknya menjajakan gula arennya.
Arya memberikan lima ratus ribu rupiah kepada Wardi.
"Ini kebanyakan, Kang," ucap kaget Wardi bercampur senang.
"Sisanya untukmu. Tapi besok antarkan gula aren itu ke rumahku, anggaplah kalian berdua jalan-jalan ke kota Bogor," ucap Arya, sambil menyerahkan sebuah kartu nama kepada Wardi.
Wardi terkejut dua kali, pertama karena Arya memborong gula aren hasil olahannya dengan harga yang lebih mahal, kedua dia melihat kartu nama Arya, yang tertera didalam kartu nama itu sebagai pemilik perusahaan Prabu Agung, yang perusahaannya telah membantu memberikan santunan kepada keluarga korban longsoran tebing di kampungnya.
"Kenapa dengan kartu nama itu, Kang?" Tanya Arya tersenyum.
"Ini benar Kang Arya pemilik perusahaan yang besar itu?" Tanya Wardi, antara percaya dan kaget.
"Benar, Kang. Memangnya kenapa?" Tanya Arya lagi.
Wardi pun menceritakan awalnya dia mengenal perusahaan Prabu Agung itu, ketika di kampungnya ada musibah longsoran tebing. Dia dengan warga yang lainnya, mendapat santunan dari perusahaan besar itu, untuk membangun kembali rumahnya yang hancur diterjang longsoran.
Kebetulan waktu kejadian itu, Wardi dan Warsih sedang ke pasar menjajakan gula aren olahan kedua orangtuanya, namun ketika kembali ke kampungnya, keduanya terkejut, melihat musibah yang menimpa kedua orangtuanya.
Dari peristiwa itulah, Wardi dan Warsih mengenal perusahaan Prabu Agung, yang merupakan perusahaan besar di negeri ini.
"Begitulah ceritanya, Kang. Pertamanya aku mengenal perusahaan Prabu Agung itu," ucap Wardi diakhir penuturannya.
"Oh, seperti itu kejadiannya," sambung Arya, menatap kepada Wardi dan Warsih. "Baiklah, kalau memang seperti itu, kalian berdua ikut denganku, untuk bekerja di rumahku," ajak Arya.
"Apa ini benar, Tuan...?" Tanya gugup Wardi, yang tiba-tiba memanggil Arya dengan sebutan Tuan.
"Tidak usah sungkan seperti itu, biasakan kembali memanggilku dengan sebutan Arya," ucap Arya.
"Baik, Tuan... Eh, Kang Arya," balasnya gugup.
"Hahaha.... Nah begitu dong, anggaplah aku ini sebagai saudara kalian," ucap Arya tertawa.
"Kang Wardi, ajaklah adikmu itu untuk bersiap-siap. Kita langsung berangkat ke kota Bogor," tambah Arya.
Kedua kakak beradik itupun, mempersiapkan dirinya masing-masing, dan menitipkan rumah serta hewan ternak peliharaannya kepada saudaranya.
Setelah semuanya selesai, ketiganya pergi hendak menuju ke Kota Bogor.
Bersambung.......
__ADS_1