
Jenderal Adiwiyata dan Wiraseda, tergesa-gesa menuju ke pinggiran hutan dekat ibukota, menemui Arya untuk melaporkan hasil temuannya.
"Salam Penguasa," ucap Adiwiyata berlutut ketika sampai dihadapan Arya.
"Berdiri, Salammu aku terima," balas Arya penasaran. "Apa yang kalian dapat dari ibukota?" Tanya lanjut Arya.
Lalu keduanya bercerita saling melengkapi, dari mulai awal bertemu dengan kedua adik kembar Wiraseda, pamannya Wiraseda dan para petinggi Aliansi, yang berniat menggulingkan kekuasaan Raja Ranggasetu, yang didukung oleh Pasukan Raja Iblis dan aliran hitam, juga tempat tinggalnya pasukan iblis dan semua aliran hitam.
"Bagus...! Kalian beristirahatlah, sambil berkultivasi didalam dunia jiwa. Tinggal kalian berdua harus naik tingkat, karena yang lainnya sudah pada naik," ucap Arya, sambil membuka gerbang dunia jiwa.
Whuuss.... Whuuss....
Lalu keduanya pun berloncatan masuk, diikuti oleh yang lainnya. Tinggal Arya dan Wulan berada diluar, karena keduanya ingin berkeliling jalan-jalan di ibukota.
Arya dan Wulan, bergerak melangkah meninggalkan pinggiran hutan, menuju ke gerbang ibukota. Telah banyak orang mengantri menunggu giliran pemeriksaan. Arya dan Wulan juga ikut mengantri paling belakang.
Tiba giliran keduanya diperiksa. "Tunjukkan identitas kalian!" Pinta prajurit penjaga pintu menatap keduanya.
Arya dan Wulan menunjukkan identitasnya, dari Perguruan Beladiri Suramanggala Benua Tengah.
"Silahkan Tuan Muda dan Tuan Putri, melanjutkan perjalanannya, biaya masuknya satu koin emas," ujar prajurit ramah, setelah tau indentitas Arya dan Wulan dari Benua Tengah.
"Terimakasih," balas Arya, sambil memberikan dua keping koin emas.
"Ini kebanyakan Tuan," ucap penjaga gerbang
"Sisanya untuk kalian."
Prajurit penjaga senang, mendapat uang tip dari Arya. "Terimakasih...... Terimakasih Tuan," ucapnya.
Arya dan Wulan berlalu dari pos penjagaan. Keduanya bergegas menyusuri jalanan di ibukota kerajaan benua selatan.
Sambil melirik ke kiri dan kanan, disepanjang pertokoan jalanan ibukota, Arya dan Wulan pun menyempatkan diri untuk masuk kedalam sebuah Toko busana.
"Sekamat datang Tuan Muda dan Tuan Putri di toko kami, apakah ada yang bisa kami bantu?" Tanya salah seorang pelayan Toko.
"Aku mau lihat-lihat dulu, sambil memilih mana yang pas dan cocok," jawab Arya.
"Silahkan Tuan," ucap pelayan ramah.
Lalu Arya dan Wulan berkeliling diarea toko itu. Satu persatu pakaian dan beberapa barang di toko itu dicobanya. Jika ada yang pas, dia pisahkan. Begitu pula dengan Wulan, sama-sama memilih pakaian yang pas dan cocok dengan dirinya.
Setelah puas berbelanja. Keduanya segera mencari sebuah penginapan untuk beristirahat.
Tak jauh dari pertokoan, terlihat sebuah penginapan mewah bertingkat. Arya dan Wulan segera menuju ke penginapan tersebut.
"Selamat datang Tuan Muda dan Tuan Putri di penginapan Grand Hills, apa yang bisa saya bantu?" Tanya pelayan penginapan mewah.
"Aku pesan kamar yang nyaman dan besar untuk tiga hari," Jawab Arya, sambil mengeluarkan sekantong koin emas.
"Apakah ini cukup."
Pelayan itu memeriksa isi kantong, dan menghitung kepingan koin emas dari Arya.
"Tuan, ini lebih dari cukup!" Seru pelayan.
"Sisanya untuk kamu."
"Terimakasih Tuan," ucap pelayan senang, menerima uang tip dari Arya.
Kemudian pelayan itu mengantarkan Arya dan Wulan, menuju ke kamar yang dipesannya, dilantai tiga. Sebuah kamar VVIP, cukup besar dan nyaman.
Arya mengunci pintu kamar, lalu keduanya masuk kedalam dunia jiwa. Mereka bergegas menuju ke Istana Agung. Setelah mendapat ijin dari Raja Agung, Keduanya menuju kolam air kehidupan.
Terasa segar dan nyaman, rasa letih dan nyeri disendi-sendi tulang. Kembali pulih dan menjadi lebih kuat lagi. Keduanya menyerap energi air kehidupan.
__ADS_1
Terus-menerus keduanya menyerap energi dan menstabilkan pondasi kultivasinya. Setelah merasa cukup, mereka beranjak dari kolam, kemudian menuju batu hitam tempat khusus berkultivasi.
Arya dan Wulan, berusaha semaksimal mungkin untuk menaikkan ranah kultivasinya, sehingga keduanya bisa membalaskan dendam Raja Agung kepada Raja Iblis.
Karena itulah, mereka berdua terus bersemangat berlatih dan berkultivasi.
Satu tahun berlalu, keduanya berendam dan berkultivasi. Tidak terasa mereka berdua sudah menerobos lagi secara gila-gilaan.
Bom.... Bom.... Bom.... Bom.... Bom.... Bom.... Bom.... Bom.... Bom.... Bom....
Sepuluh kali suara terendam dari dalam tubuhnya terdengar. Masing-masing naik tingkat sepuluh tahap. Benar-benar lebih daripada monster.
Ranah Arya kini naik sepuluh tingkat, ke ranah Semi Abadi Bintang Tujuh tahap awal. Sedangkan Wulan naik ke ranah Semi Abadi Bintang Enam Awal. Keduanya berpacu terus saling kejar-kejaran naik ke ranah tinggi.
Arya dan Wulan keluar dari Istana Agung, menuju Istana Rajawali, sambil memanen buah-buahan dewa dan sumberdaya lainnya, dibantu oleh beberapa bawahannya, yang tengah mengurus perkebunan.
Arya berniat membantu kelompok Aliansi menjadi kuat, karena dia punya tujuan ingin menaklukan semua raja-raja, dan nantinya disetiap benua Harus ada pilar yang lebih kuat. Untuk itulah, dia memanen buah-buahan dewa dan sumberdaya lainnya, untuk diberikan kepada Aliansi gabungan aliran putih, para pendekar dan para kultivator bebas.
Setelah semuanya selesai dan memasukkannya kedalam cincin penyimpanan, Arya dan Wulan, diikuti bawahannya bergegas menuju Istana Rajawali Sakti.
"Salam Penguasa," ucap semua bawahan Arya, serempak memberi salam.
"Selamat, kalian semua sudah pada naik tingkat. Teruskan Kultivasi kalian, biar tambah kuat," ucap Arya, tersenyum senang melihat bawahannya terus berkembang kuat.
"Baik Penguasa, kami tidak akan mengecewakan Penguasa," balas mereka bersamaan.
"Teruslah berlatih, aku dan Wulan akan meneruskan perjalanan lagi," ujar Arya, sambil berlalu keluar dari istana, diikuti oleh Wulan.
Sekarang Arya dan Wulan sudah menjalin hubungan, sudah menyatakan kesukaannya masing-masing. Tidak ada lagi keraguan dan kecanggungan diantara mereka. Bila mereka tengah berduaan, terlihat begitu mesra. Saling bergandengan dan saling berpelukan.
Seperti saat ini, Arya mengecup kening Wulan dengan penuh kasih sayang, dan menggandengnya keluar dari dunia jiwa.
Whuuss.... Whuuss....
Keduanya muncul ditempat semula, disebuah kamar penginapan yang dia tempati, karena masih malam, keduanya langsung rebahan sambil mengobrol.
Arya tersenyum dan mengangguk. Keduanya lalu berpelukan, hingga tertidur pulas.
Esok harinya, setelah keduanya membersihkan tubuh, keduanya lekas keluar kamar, menuju ke restoran yang ada diruang bawah hotel.
Arya memesan makanan yang terenak, lalu memilih tempat duduk disebelah pojok. Tak lama pesanan makanan pun datang, dibawa oleh tiga pelayan restoran, dan langsung menghidangkannya di meja.
"Silahkan Tuan dan Nona, dinikmati hidangannya," ucap wanita pelayan ramah.
Belum lama Arya dan Wulan menikmati makanannya. Tiba-tiba muncul sekelompok orang. Seorang pemuda yang dikawal oleh dua puluh prajurit kerajaan, memandang wajah Wulan, lantas menghampirinya.
"Nona cantik, bolehkah aku duduk disampingmu," ucap pemuda itu sambil menarik tempat duduk, dan memaksakan diri duduk disebelah Wulan. Tentu saja Wulan terkejut dan marah. Dengan replek Wulan melambaikan tangannya, hingga membuat pemuda itu terlempar.
Duar....
Ledakan menggema diruangan itu, melemparkan Tuan Muda Kota, hingga menabrak dinding rumah makan.
Tentu saja kejadian tersebut, membuat semua orang yang berada diruang itu, terpana melongo. Termasuk sepuluh prajurit kota yang mengawalnya.
"Bajingan....! Kamu telah berani memukul Pangeran Benua Selatan. Rasakan ini! Hiaatt...." Beberapa prajurit menerjang Wulan dan Arya. Keduanya tersenyum tenang, sambil tetap menikmati hidangannya. Tidak merasa terganggu oleh kecoak-kecoak itu.
Sebelum terjangan prajurit sampai, Arya melambaikan tangan dengan setengah kekuatannya. Tak ayal lagi, beberapa prajurit yang menerjangnya Arya dan Wulan, langsung terlempar.
Duar.... Duarr....
Sekali lagi terdengar beberapa kali ledakan, dan ledakan itu melemparkan empat prajurit, hingga menabrak dinding dan meja.
"Masih ada lagi yang berani mengganggu kami?" Hardik Arya, menatap prajurit ibukota yang masih tersisa.
"Am.... Ampun Tuan, ka.... kami tidak berani," ucap mereka ketakutan.
__ADS_1
"Sampaikan salamku pada raja kalian. Kami akan datang mengunjunginya. Siap-siaplah menyambut kehadiran kami."
"Baik Tuan, kami permisi," balas prajurit kerajaan, buru-buru meninggalkan tempat itu, sambil membawa Tuan Muda Kota dan empat prajurit yang sudah tidak bergerak lagi.
Semua mata tertuju pada Arya dan Wulan, yang masih tenang, seolah tidak terjadi apa-apa. "Rupanya dua kultivator kelas tinggi, yang sedang menyamar," bisik-bisik para pengunjung restoran.
Tak lama, ada dua orang pengunjung restoran menghampiri Arya dan Wulan, mereka tak lain adalah Wirasaba dan Wiraboma, adiknya Wiraseda.
"Salam Tuan Muda dan Tuan Putri, maafkan kami sedikit menganggu. Kami Wirasaba dan Wiraboma, ingin menjalin hubungan baik dengan Tuan Muda dan Tuan Putri," ucap Wirasaba, menangkupkan kedua tangannya, sambil membungkuk tanda hormat.
Degh.... Arya dan Wulan terkejut. Arya pun tidak berbasa-basi lagi, dia langsung mengeluarkan Wiraseda dan dua jenderalnya.
"Salam Penguasa," hormat ketiga bawahannya berlutut.
Tentu saja membuat kakak beradik itu terkejut bukan main, begitu pula dengan para pengunjung lainnya, dengan kemunculan ketiganya secara tiba-tiba.
Terkejut bercampur senang dan gembira, karena yang muncul itu adalah kakak kembarnya, Wiraseda dan kedua jenderal bawahannya. "Berarti Tuan Muda adalah seorang Penguasa Benua Tengah," batin Wirasaba dan Wiraboma, senang bisa bertemu dengan penguasa Benua Tengah, yang terkenal sangat mengerikan.
"Salam kakak Wiraseda," ucap Wirasaba, memberi ucapan salam pada kakaknya.
_______________
Di Istana Kerajaan.
Raja Ranggasetu marah besar, ketika mendapat kabar anaknya meninggal dihancurkan oleh sepasang muda-mudi, apalagi yang membunuh anaknya itu akan datang sendiri ke istananya. Kemarahannya bertambah, karena hal itu merupakan suatu tantangan untuk raja.
"Panglima, perintahkan semua pasukan untuk menyambut bajingan itu," geram raja marah.
"Baik Yang Mulia," jawab Panglimanya.
Lantas semua pasukan terkuatnya, dipersiapkan untuk menyambut Arya dan rombongannya. Sedangkan Arya dan bawahannya, masih santai menikmati hidangannya.
Semua bawahan Arya, dari dunia jiwa pun telah dikeluarkan, sekarang berkumpul bersama-sama diruang restoran. Merencanakan penggempuran besar-besaran.
Arya tidak ingin berlama-lama bermain di Benua Selatan, dia ingin segera menuntaskan semuanya dengan cepat. Karena dia harus kembali ke Benua Tengah, untuk segera mempersiapkan pernikahannya dengan Wulan.
Semua bawahan Arya, begitu semangat mendengar rencana penggempuran Istana, yang dilindungi oleh pasukan iblis dan aliran hitam. Semuanya sudah siap untuk berangkat.
Para pengunjung dan pengelola restoran, merasa senang, bahkan ingin turut membantu menghancurkan kedzaliman rajanya, yang bersekutu dengan Pasukan Raja Iblis dan aliran hitam.
Semua rakyatnya sudah cukup menderita, oleh kekejaman pasukan iblis dan aliran hitam, yang tidak segan-segan menindasnya.
Dengan adanya kelompok dari Benua Tengah, mereka menyambut baik dan bahkan mendukungnya.
Dari mulut ke mulut mereka bercerita, akhirnya rencana penyerangan ke Istana Raja pun sudah menyebar kemana-mana.
Diluar restoran, sudah berdatangan para penduduk ibukota, para pendekar dan para kultivator bebas. Mereka berkumpul untuk bersama-sama turut menyerang istana, diantara mereka, sudah hadir pasukan Aliansi gabungan aliran putih.
Para petinggi Aliansi, segera masuk kedalam restauran, menemui Penguasa Benua Tengah.
"Salam Penguasa, salam jenderal," ucap pimpinan Aliansi, Ki Ranggaseta berlutut diikuti petinggi lainnya.
"Berdirilah, tak usah sungkan Tetua. Salam kalian semua aku terima," ucap Arya, menyuruh mereka untuk berdiri.
"Penguasa, semua pasukan kami sudah siap membantu," ujar Ki Ranggaseta semangat.
"Baiklah, semua pasukan aliansi dan para kultivator, pimpinan oleh tetua. Kami akan menggempurnya dari atas," balas Arya.
Semuanya keluar dari restoran. Ki Ranggaseta memimpin pasukan aliansi, para pendekar dan para kultivator bebas.
Arya mengeluarkan dua burung rajawali raksasanya.
"Semuanya mulai bergerak, dan jangan langsung menyerang. Tunggu aba-aba dari ku," ucap Arya.
"Baik Penguasa," balas Ki Ranggaseta semangat.
__ADS_1
Arya pun bergerak naik ke punggung rajawali, diikuti bawahannya. Dua burung itu melesat menuju kearah Istana Raja Ranggasetu.
Bersambung.....