Kultivator Tingkat Dewa

Kultivator Tingkat Dewa
85. Ikut Mengantri


__ADS_3

Ibukota Dewa Dewi, dari tahun ke tahunnya, banyak dikunjungi oleh para pendatang, mereka kebanyakan para imigran dari seluruh benua.


Para imigran itu, ada yang mendirikan sebuah perusahaan, berdagang, dan buka usaha lainnya, serta ada yang menjadi pekerja dibeberapa perusahaan, perdagangan, dan di proyek-proyek pembangunan.


Kota Dewa Dewi, sebuah kota yang terkenal dengan keramahan penduduknya, serta ketegasan dari pemimpinnya, yang melarang adanya pungutan liar, dan memungut sembarang pajak yang merugikan masyarakat. Kecuali hanya pajak usaha yang dikenakan setahun sekali, dan pajak penghasilan yang hanya lima persen, lebih rendah dari benua-benua lainnya, yang memungut pajak penghasilan di atas dua puluh persen, dan bea masuk kedalam kota lebih rendah dari kota-kota lainnya.


Karena itulah, kota Dewa Dewi semakin maju pesat, dibandingkan dengan kota-kota besar di seluruh benua Alam Dewa Agung, dan semakin banyak para pendatang yang tinggal di kota ini.


Dari hari ke hari, kota Dewa Dewi semakin ramai dikunjungi, terutama tempat-tempat wisata, seperti air terjun Dewa Dewi Bulan, yang memancarkan aura energi ke setiap penjuru, sehingga tempat ini selalu dibanjiri oleh para pengunjung, terutama para kultivator bebas, untuk menyerap energi yang tak pernah ada habisnya.


Tiket masuk ditempat wisata ini, hanya sebesar lima belas koin emas, lebih murah dari tempat-tempat wisata lainnya, sehingga membuat tempat wisata air terjun Dewa Dewi Bulan, menjadi padat oleh para pengunjung, bahkan mereka rela mengantri, hanya untuk bisa berkultivasi didalamnya, dan menyerap energi yang sangat besar, yang keluar dari dasar air terjun.


Di atas langit ibukota Dewa Dewi, dari balik awan, Arya dan Nawangsari, mengawasi semua pergerakan dibawahnya. Terlihat sangat ramai dipadati oleh para pengunjung, begitu pula dengan penjagaan di pintu gerbang masuk ibukota, sangat ramai sekali, banyak antrian yang memanjang, menunggu giliran pemeriksaan, untuk bisa masuk kedalam ibukota.


Arya dan Nawangsari, menukik turun di pinggiran hutan kota Dewa Dewi, sekitar lima ratus meter dari gerbang ibukota, karena dia sendiri yang melarang terbang Di atas kota Dewa Dewi, tanpa ada pengecualian.


Keduanya mendarat dipinggiran hutan, lalu meneruskan perjalanannya dengan berjalan kaki, menuju kearah gerbang ibukota.


Antrian yang sangat panjang, mewarnai kehidupan sehari-hari dipinggiran hutan, dekat pintu masuk ibukota. Para pedagang berjajar di sepanjang jalan, menggelar berbagai macam dagangannya.


Arya dan Nawangsari, turut mengantri diurutan belakang, karena identitas dirinya sebagai penguasa, tidak ingin diketahui oleh orang lain, dan selain itu, dia sendiri ingin mengetahui pelayanan para bawahannya, di Pos Pemeriksaan secara langsung.


Namun disetiap keramaian, keributan pasti selalu ada. Seperti yang terjadi dibelakang Arya, yang sudah banyak mengantri. Selalu saja ada yang bikin ulah, dari sekelompok orang yang tidak mau mengantri, karena mentang-mentang dari keluarga bangsawan, ingin menyerobot antrian yang sudah lama menunggu giliran pemeriksaan.


Keributan itu mengundang perhatian dari prajurit ibukota, yang membantu mengamankan disekitar pinggiran hutan.


Para prajurit ibukota, yang mengamankan tempat itu, memperbolehkan kelompok pemuda pemudi dari keluarga bangsawan langsung masuk kedalam kota, dengan pengawalan ketat dari puluhan prajurit.

__ADS_1


Namun sebelum mereka mendekati pintu gerbang, Arya langsung melesat menghadang mereka.


"Berhenti kalian semua! Jangan mentang-mentang kalian punya pengaruh, seenaknya saja tidak mau ikut mengantri. Ayo kembali ke belakang, ikut mengantri dibarisan paling belakang, atau aku lumpuhkan kalian semuanya!" Seru Arya, menghardik mereka dengan ancaman.


"Bajingan kau! Berani menghadang dan mengancam kami! Apa kamu belum tau siapa kami, hah?" Bentak pemimpin rombongan itu, menganggap rendah Arya.


"Aku tidak mau tau siapa kalian, yang perlu kalian ketahui. Disini semuanya mengantri sudah lama, menunggu giliran pemeriksaan untuk bisa masuk kedalam ibukota. Namun kalian seenaknya saja ingin menyerobot, tidak mau ikut mengantri," ucap tegas Arya.


"Alah.... Kamu berlagak sok jadi jagoan. Rasakan ini...!" Seru pemimpin kelompok itu, menindas Arya dengan aura kekuatan Low God tahap puncak.


"Hahaha.... Hanya kekuatan yang tidak seberapa, sudah berani menindas ku. Bagaimana kalau sekarang giliran ku yang menindas kalian," balas Arya, balik menindas mereka.


Karuan saja mereka semua terkejut, dengan ranah kekuatan yang terpancar dari tubuh Arya, yang sudah melebihi batas ranah kultivasi di alam ini. Dan aura kekuatan yang terpancar dari tubuh Arya, menindas mereka semua, hingga dipaksa berlutut dihadapannya.


Tak hanya sampai disitu, Arya melilit sekujur tubuh mereka, termasuk dengan para prajurit ibukota, dengan rantai baja mistis.


"Sekarang kalian semua tidak akan aku ampuni, karena kalian sudah bikin keributan didalam antrian ini. Tunggu saja, sebentar lagi kalian dibuang ke alam iblis!" Seru Arya, menggertak mereka, sambil menghubungi komandan Seno Adji dan Ratu Derwani, untuk segera datang ke gerbang masuk ibukota.


Banyak juga yang merasa senang, karena ada seorang pemuda yang kuat, berani menentang keluarga bangsawan dan prajurit ibukota, yang seenaknya saja tidak mau ikut mengantri.


Tak lama kemudian, Komandan Seno Adji dan Ratu Derwani, yang diangkat oleh Arya menjadi Penguasa Alam Dewa Agung untuk sementara waktu, tiba dihadapan Arya. Keduanya langsung memberikan salam penghormatan, sambil berlutut dihadapan Arya.


"Salam Penguasa Agung Semesta Alam Raya, kami sudah lama menanti kehadiran Penguasa Agung," ucap keduanya.


"Berdirilah, salam kalian aku terima," balas Arya.


"Terimakasih, Penguasa Agung," ucap bawahannya bersamaan.

__ADS_1


"Komandan Seno, bawa mereka semuanya. Dan masukan kedalam portal iblis, biar mereka menjadi penghuni alam iblis!" Seru Arya, memberikan perintah kepada bawahannya.


"Baik, Penguasa Agung," balas bawahan Arya bersamaan.


Semua orang yang berada ditempat itu, terkejut mendengar ucapan Penguasa Alam Dewa Agung Lapisan kedua, menyebut seorang pemuda yang berada didepannya, dengan sebutan Penguasa Agung Semesta Alam Raya, termasuk para prajurit dan keluarga bangsawan. Mereka semuanya memohon ampunan dari Arya, agar tidak dibuang ke alam iblis.


"Ampuni kami, Penguasa Agung. Kami tidak tau, bahwa kami berhadapan dengan Penguasa Agung Semesta Alam Raya. Mohon Penguasa Agung, mengampuni kami!" Ucap mereka, memohon ampunan dari Arya.


"Sudah terlambat! Komandan Seno, cepat bawa mereka, dan segera masukkan kedalam portal iblis," tegas Arya, tidak memberikan ampunan lagi. "Dan ini suatu contoh bagi yang lainnya, untuk tidak membuat onar didalam ibukota. Karena aku tidak akan pandang bulu, siapa yang melakukan kesalahan didalam ibukota Dewa Dewi Bulan, pasti akan ku buang ke alam iblis. Camkan itu oleh kalian," tambah Arya tegas, dan kembali dia ketempat semula, ikut mengantri.


Semua orang terdiam, tidak berani berkata sepatah kata pun. Semuanya menunduk, ketika bertatapan dengan Arya.


Dalam batin mereka, memuji Arya yang bersikap tegas dan tidak pandang bulu. Dan yang lebih membuat mereka kagum, Arya tidak sombong dan arogan, meskipun dia seorang Penguasa Agung Semesta Alam Raya, namun tetap sederhana, dan mau bergabung dengan masyarakat biasa, dan lebih menghargai orang yang tidak memiliki kekuatan, seperti dia menekan ranah kekuatannya hingga ke titik dasar, sehingga banyak orang yang menyepelekannya.


Begitu juga dengan para prajurit ibukota, dan para penjaga pos pemeriksaan, begitu tau seorang pemuda yang menyembunyikan kekuatannya ikut mengantri, mereka lebih hati-hati lagi dalam menjalankan tugasnya. Tidak seperti beberapa prajurit yang sudah ditangkap oleh Arya.


Arya dan Nawangsari, tetap ikut mengantri, menunggu giliran pemeriksaan, dibawah tatapan semua orang yang merasa kagum.


"Jika semua pemimpin seperti dia, tentunya di seluruh benua ini akan aman dan nyaman, seperti di ibukota Dewa Dewi," ucap mereka, didalam batinnya masing-masing.


Tiba giliran Arya dan Nawangsari diperiksa, namun para penjaga pos memberi salam penghormatan kepada Arya dan Nawangsari, dan mempersilahkan keduanya masuk kedalam ibukota, tanpa ada yang berani memeriksanya.


Arya dan Nawangsari, segera meninggalkan pos penjagaan, berjalan menuju kearah istana Penguasa Agung, di kawasan air terjun Dewa Dewi Bulan.


Sebenarnya, jika Arya mau, sudah disediakan kereta kuda untuk dinaikinya. Namun dia lebih memilih berjalan kaki, karena tidak ingin membuat perhatian semua orang.


Keduanya menyusuri jalan utama perkotaan, sebelum menuju ke Istana Agung, Arya dan Nawangsari, menyempatkan diri melihat-lihat kota yang dibangunnya. Jika masih ada yang tidak pas dengan hatinya, dia akan memerintahkan seluruh bawahannya, untuk menata ulang tata kota, ke yang lebih nyaman lagi.

__ADS_1


Setelah puas, Arya dan Nawangsari, baru keduanya memasuki kawasan Air Terjun Dewa Dewi Bulan, lewat jalan samping, karena gerbang utama kawasan air terjun, penuh sesak dengan antrian para pengunjung.


Bersambung.....


__ADS_2