
Malam Jum'at Kliwon telah tiba, orang-orang yang hendak mengadakan acara ritual persembahan di Bukit Lodan, mengurungkan niatnya ketika melihat tempat Nyai Derwani rusak parah.
Semua orang bertanya-tanya, satupun tidak ada yang bisa menjelaskan kejadian yang sebenarnya. Termasuk para kuncen tempat itu, semuanya bungkam.
Hanya ada seorang kuncen tua, yang sedikit menjelaskan awal kejadiannya. Ketika dia bersama para mengadakan ritual malam kamisan, dari langit turun sebuah cahaya biru mengkilau, menuju kearah Bukit Lodan, tidak lama kemudian, terdengar beberapa kali ledakan, disusul oleh angin ****** beliung.
Kuncen tua itu menjelaskan apa yang dilihat dan dia dengar, karena saat itu, ledakan demi ledakan terus terdengar. Hujan deras dan angin ****** beliung, memporak-porandakan tempat itu, disusul dengan suara petir bersahut-sahutan, dan dibarengi dengan gemuruhnya suara guntur yang menggelegar, serta bumi berguncang seperti gempa hebat.
"Namun anehnya, lima ratus meter dari tempat Nyai Derwani, tidak terasa adanya gempa, atau hujan deras dan angin ****** beliung. Malah cuacanya sangat cerah," jelas Kuncen Tua, diakhir penuturannya.
"Kejadian aneh itu hanya ditempat Nyai Derwani, sedangkan ditempat Nyai Ronggeng dan Mbah Brojo, tidak terjadi apa-apa," sambung seorang tamu yang menginap di rumah kuncen.
"Aneh sekali!" Seru para tamu, penuh dengan tanda tanya.
"Jadi sekarang bagaimana, Pak Tua? Apakah kita terus melanjutkan acara ritual itu, atau kita...."
Duarr.... Duarr....
Belum selesai para tamu berbicara, bunyi suara ledekan terdengar dari Bukit Lodan, disusul oleh gemuruhnya suara angin ****** beliung yang memporak-porandakan tempat Nyai Ronggeng.
Karuan saja semua orang yang berada didekat Bukit Lodan terkejut, terutama para pengikutnya Nyai Ronggeng, yang tempatnya hancur berantakan.
"Itu, tempat Nyai Ronggeng hancur!" Seru pengikut Nyai Ronggeng berteriak.
"Persis sama seperti kejadian kemarin," ucap tamu yang menginap di rumah kuncen.
Mereka semua akhirnya pada berkumpul di rumah kuncen tua, yang jaraknya sekitar lima ratus meter dari Bukit Lodan.
Di Alam Siluman, Arya terus menggempur Istana Nyai Ronggeng, dibantu oleh Ratu Derwani yang mengeluarkan hujan deras dan angin ****** beliung, sehingga ratusan pengawal Nyai Ronggeng tidak berdaya, bertekuk lutut dihadapan Arya dan Ratu Derwani.
Sementara Nyai Ronggeng yang berada ditempat menyepinya, yang tidak jauh dari Istananya, terkejut mendengar suara ledakan, yang disusul dengan hujan deras dan angin ****** beliung.
"Ini pasti kelakuannya Derwani! Ada apa dia menyerang istanaku?" Seru Nyai Ronggeng bertanya-tanya, karena dia sudah hapal betul dengan suara angin dan hujan, yang diciptakan oleh Ratu Derwani.
Nyai Ronggeng segera keluar dari tempat menyepi, lalu menuju ke istananya. Alangkah terkejutnya Nyai Ronggeng, ketika dia sampai, istananya hancur rata dengan tanah.
Tak jauh dari reruntuhan bangunan istana Nyai Ronggeng, seorang pemuda kampung berdiri tegak, disamping Ratu Derwani yang tersenyum menatap Nyai Ronggeng.
"Bajingan kalian berdua! Beraninya menghancurkan istanaku!" Seru Nyai Ronggeng, menghardik Arya dan Ratu Derwani.
"Itu bukan istana, tapi gubuk tua yang sudah lapuk!" Seru Arya, mengejek Nyai Ronggeng.
"Apa katamu? Gubuk tua yang sudah lapuk! Matamu picak!" Balas Nyai Ronggeng marah.
"Terserah kamu saja nenek peot!" Arya terus menerus memprovokasi Nyai Ronggeng.
"Kurang ajar kau, berani menghina ku!" Teriak marah Nyai Ronggeng. "Rasakan ini... Hiiaaatttt....!" Teriak Nyai Ronggeng, menerjang Arya dengan serangan yang dahsyat.
Arya menadah terjangan Nyai Ronggeng dengan jurus Cakar Rajawali, bentrokan dua kekuatan tidak dapat dihindari.
__ADS_1
Duarr.... Duarr....
Dua kekuatan yang dahsyat beradu, melemparkan Nyai Ronggeng puluhan meter. Sementara Arya, hanya bergeser kebelakang lima meter, hampir menabrak sebuah pohon besar.
Nyai Ronggeng cepat bangkit dan langsung menari, dengan diiringi suara gamelan yang mengandung mistis tingkat tinggi.
Luak-liuk lekukan tubuh Nyai Ronggeng, jika manusia biasa yang melihatnya, akan terhipnotis oleh pengaruh tubuh sintalnya yang menggairahkan, apalagi dengan suara gamelan yang memekakkan telinga.
Namun Arya hanya tersenyum tenang, menghadapi pengaruh mistis yang dikeluarkan oleh Nyai Ronggeng. Malah Arya balik menyerangnya, dengan kekuatan jurus Dewa Rajawali Mengunci Lawan, hingga membuat gerakan nari Nyai Ronggeng terkunci, tidak bergerak sama sekali, menjadi patung.
"Sekarang giliran mu, Ratu Derwani! Terserah mu, mau dipakai mainan apa," ucap Arya sekenanya.
"Baiknya dipakai kumis diatas bibirnya, lalu dikasih brewok. Biar tambah ganteng," balas Ratu Derwani, terus mengambil arang dari kayu yang terbakar.
Dengan isengnya, Ratu Derwani mencorat-coret wajah Nyai Ronggeng. Di atas bibirnya, dibikin kumis yang baplang, lalu dikedua belah pipinya, dikasih brewok yang tebal. Ditengah-tengah jidatnya, dikasih tahi lalat yang besar.
"Wah, guantengnya si Nenek peot. Pasti banyak kakek-kakek yang naksir, hihihi....!" Serunya sambil tertawa cekikikan.
Arya melihat kelakuan Ratu Derwani, tertawa ngakak.
"Hahaha.... Sekarang benar-benar menjadi kakek yang ganteng!" Seru Arya, tertawa mengejek.
Nyai ronggeng hanya bisa marah didalam hatinya, dia pasrah wajahnya dibuat permainan oleh Ratu Derwani.
Matanya melotot kearah Ratu Derwani, dengan sorot mata yang mengandung rasa dendam.
"Cikcikcik.... Itu mata si Nenek, kayak mata Ratu Leak," Ratu Derwani terus mengejek Nyai Ronggeng.
"Ahhh..... Aduh..... Ampun.....!" Teriak Ratu Derwani, semakin banyak bergerak, semakin kuat remasan rantai baja mistisnya.
"Bagaimana sekarang? Apakah kamu mau menyerah, atau tetap terikat terus dengan rantai itu?" Tanya Arya, menatap Nyai Ronggeng.
"Ampun, Tuan...! Aku menyerah!" Jawab Nyai Ronggeng, merasakan sakit disekujur tubuhnya.
"Kalau sudah menyerah, lalu apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Arya lagi.
"Aku akan kembali ketempat asalku, didasar jurang Gunung Cadas," balas Nyai Ronggeng.
"Kenapa kembali ketempat itu?" Tanya Arya, sambil menarik kembali lilitan rantai baja mistisnya.
"Itu tempat terakhirku, ketika aku dibuang oleh para pembunuh bayaran istri juragan Karta," ucap Nyai Ronggeng menjelaskan, lalu dia menuturkan apa yang dia alami.
Dahulu kala, ribuan tahun lalu, semasa Nyai Ronggeng masih hidup, dia banyak disukai para pria muda dan lelaki hidung belang, termasuk juragan Karta, orang terkaya di desanya.
Seiring dengan waktu, juragan Karta menikahinya secara diam-diam, tidak ingin diketahui oleh istrinya.
Namun sangat disayangkan, istri juragan Karta sudah mengetahuinya dari orang bayarannya. Kemudian istri juragan Karta membayar beberapa pembunuh bayaran, untuk melenyapkan Nyai Ronggeng.
Para pembunuh bayaran itu membawa Nyai Ronggeng kepuncak gunung Cadas, lalu melemparkannya ke jurang, hingga dia ditolong oleh seorang kakek pertapa sakti, yang menyanggah tubuhnya dari dasar jurang, dan dibawa kesebuah Goa, lalu diajarkan berbagai ilmu Kanuragan tingkat tinggi, serta ilmu awet muda dan ilmu keabadian, biar hidupnya abadi sampai Sang Pencipta menjemputnya.
__ADS_1
Hingga sekarang, dia masih tetap awet muda, walaupun usianya sudah ribuan tahun.
Namun, karena dendamnya kepada istri juragan Karta yang membara, dia pergi dari dasar jurang menuju ke Bukit Lodan, dan membuat tempat khusus untuk dikunjungi oleh para pengikutnya.
Dengan cara melampiaskan semua dendamnya melalui para wanita, yang meminta bantuan darinya, untuk memelet dan mengguna-gunai para lelaki yang sudah punya istri, agar semua lelaki yang sudah terkena pengaruh guna-gunanya, mau menceraikan para istri-istrinya.
"Begitulah ceritanya, hingga aku bisa memiliki ilmu seperti para siluman, dan bisa menyamarkan istanaku menjadi sebuah batu besar, agar menarik banyak pengunjung untuk meminta bantuan," jelas Nyai Ronggeng diakhir penuturannya. "Dengan batu besar yang bisa berbicara, mereka berduyun-duyun berdatangan ketempat ku untuk meminta bantuan, hingga saat sekarang ini," tambah Nyai Ronggeng.
"Oh, seperti itu ceritanya!" Seru Arya.
"Iya, Tuan. Aku undur diri, Tuan...." Ucap pamit Nyai Ronggeng, yang langsung melesat terbang, dan menghilang dibalik awan.
Arya dan Ratu Derwani bergesas menuju ketempat Mbah Brojo, untuk menggempur istananya.
Diluar Alam Siluman, semua orang yang akan mengadakan acara ritual persembahan Kliwonan, pada berkumpul di rumah kuncen tua. Mereka semua menunggu kabar dari juru kunci Bukit Lodan.
"Kita tunggu sebentar lagi, aku akan segera masuk ke kamar untuk menghubungi Penguasa Bukit Lodan," ucap kuncen tua, juru kunci Bukit Lodan.
Lalu kuncen tua itupun segera masuk kedalam kamarnya, setelah berada didalam kamar, gegas dia membakar dupa dan kemenyan, dengan mulut komat-kamit membaca sebuah mantra.
Whuuss.... Whuuss....
Dua asap hitam tebal muncul di kamarnya, dan asap itu berubah menjadi dua makhluk iblis bertanduk. Iblis yang sangat menyeramkan itu, berbicara kepada kuncen tua.
"Huahahahahaa.....! Ada apa kamu memanggil kami?" Tanya dua makhluk bertanduk kepada kuncen tua.
"Penguasa Yang Mulia, hamba mohon bantuan dari Penguasa. Bagaimana caranya menangani semua permintaan dari para tamu, yang sudah berkumpul di rumah ini?" Tanya kuncen tua, menyembah makhluk iblis bertanduk itu.
"Huahahahahaa.... Hahahaaa....! Suruh mereka semua kepinggir kali disebelah utara Bukit Lodan, adakan acara persembahan untuk kami berdua disebuah batu besar pinggir kali itu, dan mereka semua suruh mandi dengan menghadap ke batu besar itu," ucap makhluk iblis bertanduk.
"Baik, Penguasa. Semua perintah Penguasa, akan hamba jalankan," balas kuncen tua, sambil terus menerus menyembah dua makhluk iblis bertanduk.
"Huahahahahaa.....! Bagus, bagus sekali. Terimakasih atas pengabdian mu kepada kami," ucap dua makhluk iblis bertanduk yang menyeramkan itu, langsung menghilang dari hadapan kuncen tua.
Segera kuncen tua keluar dari dalam kamarnya, lalu memberi tau mereka, agar mereka semua mengadakan acara ritual persembahannya, disebuah batu besar pinggir kali, disebelah utara Bukit Lodan.
Cara-cara ritualnya dijelaskan oleh kuncen tua secara terperinci, setelah acara persembahan, mereka semua disuruh mandi didalam kali, sambil menghadap ke batu besar, dan mengucapkan segala permohonannya.
Setelah mendengar semua penjelasan dari kuncen tua, merekapun beriringan berjalan menuju kesebuah kali, yang diperintahkan oleh makhluk iblis bertanduk.
Mereka berjalan menyisir Bukit Lodan sebelah utara, melewati sasak yang terbuat dari bambu gombong.
Satu orang persatu orang, dengan hati-hati sekali, mereka menyeberang jembatan yang terbuat dari bambu gombong, yang sudah ada yang patah.
"Jembatan ini harus segera diperbaiki, agar nantinya lebih mudah lagi untuk menyeberangnya," ucap beberapa orang pengikut acara ritual pesugihan.
"Benar itu, Pak Kuncen. Malam Kliwonan bulan depan, jembatannya harus sudah diperbaiki," sambung yang lainnya.
"Iya, nanti akan Mbah perbaiki," balas kuncen tua, yang memimpin jalannya acara ritual.
__ADS_1
Mereka semua terus berjalan, menuju kearah batu besar di hulu kali, melewati jalanan setapak dipinggir kali.
Bersambung......