
Penguasa Negeri Dewa Bulan, yang telah dikuasai oleh makhluk iblis merah bertanduk, sangat marah mendengar laporan bawahannya, yang ditugaskan menjaga di perkampungan besar Dewa Naga Bulan, melaporkan bahwa air terjun Dewa Naga Bulan direbut oleh seorang pemuda sampah, yang ranahnya masih ditingkat paling rendah, tingkatan yang ada di Alam Dewa Agung Lapisan Bawah.
Kelompok iblis yang menguasai Negeri Dewa Bulan itu, dari Alam Hitam, sebuah alam bawahan Raja Iblis Ular Hitam dari Alam Neraka Besar.
Kekuatan ranah pemimpin iblis di Negeri Dewa Bulan, paling tinggi berada ditingkat Abadi Bintang Sembilan tahap puncak, di atas Penguasa Negeri Dewa Bulan tiga tahap.
Penguasa Negeri Dewa Bulan, yang telah bersekutu dengan iblis, awalnya karena dibantu oleh pasukan iblis merah bertanduk, ketika dia ranahnya masih ditingkat Dewa Kuning, untuk merebut kekuasaan yang dipegang oleh kakaknya sendiri.
Dia dengan pasukan iblis merah bertanduk, sudah melakukan sumpah dengan darahnya, untuk berjanji setia dan patuh pada peraturan yang dibuat oleh Raja Iblis, hingga sekarang dia membolehkan semua wanita menjadi budak pemuas nafsu bejad para iblis.
Namun begitu mendengar laporan dari bawahannya, bahwa ada seorang pemuda yang membebaskan semua wanita dari cengkeraman makhluk iblis, dan berani menentang kebijakannya. Penguasa Negeri Dewa Bulan, sangat geram kepada pemuda yang dibilang sampah itu. Dan juga dia sangat penasaran, dengan identitas pemuda yang mengaku dari Alam Dewa Agung Lapisan Bawah itu.
"Apakah benar, Pemuda sampah itu dari Alam Lapisan Bawah?" Tanya Penguasa Negeri Dewa Bulan, yang bersekutu dengan iblis itu penasaran.
"Menurut keterangan dari penjaga gerbang perkampungan Dewa Naga Bulan, menyatakan bahwa pemuda itu datang dari Alam Lapisan Bawah, bersama empat wanita cantik," jawab pemimpin iblis, dari Perkampungan Dewa Naga Bulan.
Duarr..... Brak.....
Penguasa Negeri Dewa Bulan marah, memukul meja hingga hancur berantakan.
"Kalian benar-benar lemah, melawan pemuda sampah saja tidak mampu!" Seru Penguasa Negeri Dewa Bulan marah.
Semua bawahannya terdiam, karena mereka mengakui kalah telak oleh seorang pemuda sampah, yang membuat mereka kehilangan kekuatannya.
"Siapkan seluruh prajurit elit untuk menggempur pemuda itu, jangan biarkan dia lolos. Dan para wanita cantiknya, tangkap mereka hidup-hidup, dan bawa semuanya kemari," perintah Penguasa Negeri Dewa Bulan kepada seluruh bawahannya.
"Baik, Yang Mulia," ucap bawahannya, sambil berlalu pergi untuk menggempur pemuda itu, dengan seluruh kekuatan pasukan elit mereka.
Tidak begitu lama, tiga ribu prajurit pasukan elit Negeri Dewa Bulan, berbaris disebuah lapangan, dipimpin langsung oleh Jenderal utamanya, yang ranahnya berada ditingkat Abadi Bintang Tujuh tahap puncak, dengan dibantu oleh jenderal bawahannya, yang rata-rata ranahnya berada ditingkat Abadi Bintang Tujuh tahap awal, serta tiga ribu prajurit elit, yang rata-rata kekuatannya berada ditingkat Abadi Bintang Empat, hingga Bintang Lima tahap puncak.
Begitu mengerikan, dengan kekuatan sebanyak itu, akan menggempur seorang pemuda sampah.
Namun bagi Penguasa Negeri Dewa Bulan, tidak mau kecolongan, karena dia berpikir lebih jauh lagi, mengenai seorang pemuda yang dibilang sampah, tapi mampu mengalahkan kekuatan ditingkat Semi Abadi Bintang Sembilan tahap puncak, dan Abadi Bintang Satu tahap puncak. Tidak masuk akal bila dia seorang sampah, mampu mengalahkan kekuatan yang lebih tinggi di atasnya.
__ADS_1
Karena itulah, dia menerjunkan seluruh pasukan Elitnya, untuk menangkap seorang pemuda.
Jenderal utama pasukan iblis memimpin langsung penangkapan itu, didampingi oleh enam orang jenderal bawahannya.
Seluruh prajurit elit itu, berjalan menuju gerbang ibukota Negeri Dewa Bulan. Karena didalam kota Dewa Bulan, tidak diperbolehkan untuk terbang, kecuali Penguasa Negeri Dewa Bulan.
Setelah keluar dari gerbang kota, mereka langsung pada melesat terbang menuju ke air terjun Dewa Naga Bulan, dengan kecepatan tinggi.
Didalam area Air Terjun Dewa Naga Bulan, Arya dan seluruh bawahannya, sudah menunggu ribuan prajurit ibukota, yang akan menyerangnya.
Seluruh bawahan Arya, yang dipimpin oleh Ratu Derwani dan Komandan Seno Adji, terbang melayang di atas Perkampungan Dewa Naga Bulan, yang akan menghadang ribuan musuh-musuhnya.
"Komandan Seno, kita bagi dua grup, satu grup menghadang dari arah kanan, dan satu grup lagi dari arah kiri," ucap Ratu Derwani.
"Baik, Ratu," balas Komandan Seno Adji, yang langsung memerintahkan kepada bawahannya, sebagian ikut bergabung dengan Ratu Derwani.
Ratu Derwani beserta pasukannya, bergerak kearah kiri untuk menghadang lawannya, dan Komandan Seno Adji bergerak kearah kanan.
Meskipun hanya sedikit, namun ranah kultivasinya rata-rata sudah mencapai Absolute tahap awal, dan Ratu Derwani serta Komandan Seno Adji, ranahnya sudah mencapai tingkat Absolute tahap menengah.
Kedua grup itu, menunggu musuh-musuhnya dari balik awan, agar begitu mereka tiba dibawah awan, langsung digempur oleh kedua grup kecil itu.
Beberapa waktu berjalan, ribuan prajurit Negeri Dewa Bulan, terlihat terbang seperti lebah menuju kearah bawahannya Arya, yang telah bersiap-siap menghadapi mereka.
"Siap, Komandan Seno," ucap Ratu Derwani, lewat telepati kepada Komandan Seno Adji.
"Baik, Ratu," balas Komandan Seno Adji, melalui telepati juga.
"Ayo gempur!" Perintah Ratu Derwani kepada prajuritnya.
Duarr.... Duarr.... Duarr....
Ribuan prajurit yang tengah melayang terbang, secara tiba-tiba digempur oleh pasukan Ratu Derwani, dan pasukan Komandan Seno Adji dari balik awan, hingga melemparkan setengah prajurit Negeri Dewa Bulan keberbagai arah, termasuk para jenderalnya. Hanya tersisa sekitar seribu lima ratus prajurit lagi, tanpa dipimpin oleh jenderalnya.
__ADS_1
Arya yang menyaksikan dari jarak jauh, langsung melesat menghampiri ketujuh jenderal Negeri Dewa Bulan, yang sudah terlempar, dan merantai mereka dengan rantai baja mistis.
Lalu Arya menarik ketujuh jenderal itu, dibawa terbang dengan kecepatan tinggi menuju ke Istana Dewa Bulan.
Begitu tiba di Istana, langsung melemparkan mereka kehadapan Penguasa Dewa bulan, sambil menggepur istananya, agar semua prajurit iblis keluar dari sarangnya.
Duarr.... Duarr.... Duarr....
Beberapa suara ledakan terdengar saling bersahutan, meratakan bangunan istana. Semua iblis tertimbun oleh reruntuhan bangunan istana, hanya Penguasa Dewa Bulan dan pemimpin iblis, yang menyeruak muncul dari reruntuhan bangunan istana, dalam keadaan keadaan tubuhnya penuh luka.
"Hahaha... Hanya segitukah kekuatan pemimpin para iblis itu?" Tanya Arya tertawa.
Aura kekuatan ranah Great Imortal Bintang Tiga tahap puncak dari tubuh Arya, merembes keluar menindas pemimpin iblis dan Penguasa Dewa Bulan, yang langsung tersungkur dan muntah darah.
Kedua pemimpin iblis itu tidak berdaya menghadapi Arya, yang ranah kekuatannya jauh lebih tinggi dari mereka berdua. Lalu Arya menghampiri keduanya, dan merantai mereka dengan rantai baja mistis, menyatukannya dengan ketujuh jendral bawahannya.
Arya menarik mereka ketengah alun-alun kota, agar semua penduduknya menyaksikan, bahwa pemimpin iblis yang dzalim dan bejad itu sudah ditangkap, sudah tidak ada lagi yang bisa menindas rakyat yang lemah, karena semua kekuatan mereka sudah dimusnahkan oleh Arya. Dan kini mereka sudah menjadi sampah.
Begitu juga dengan tiga ribu prajurit elit Dewa Bulan, sudah dilumpuhkan oleh bawahan Arya, dan mereka semua digiring ke alun-alun.
"Lapor, Penguasa Agung! Semua prajurit yang bersekutu dengan iblis, sudah dilumpuhkan," ucap Komandan Seno Adji, memberikan laporan kepada Arya.
"Bagus...! Sekarang bereskan semuanya, dan untuk sementara waktu, Negeri Dewa Bulan ini aku serahkan kepada Komandan Seno Adji dan Ratu Derwani, sebagai Penguasa Dewa Dewi Bulan, serta hubungan kalian berdua harus segera diresmikan, agar Dewa Dewi Bulan menjadi satu," ucap Arya, kepada Komandan Seno Adji dan Ratu Derwani, yang nampak di wajah keduanya, ada rasa senang bercampur dengan rasa kaget. Wajah keduanya terlihat merona merah, yang tidak bisa menyembunyikan perasaan malu dan senang.
"Dan pusat kekuasaannya, ditempatkan di kawasan air terjun, dan harus segera dibangun serta ditata, agar menjadi pusat kota metropolitan di Alam Dewa Agung ini," tambah Arya.
"Baik, Penguasa Agung," ucap komandan Seno Adji dan Ratu Derwani.
Komandan Seno Adji dan Ratu Derwani, dibantu oleh bawahannya, membersihkan reruntuhan Istana. Karena ditempat itu akan dibangun istana kota, sedangkan Istana Dewa Dewi Bulan, akan didirikan dikawasan air terjun. Dan kedua Dewa Dewi itu, membebaskan para prajurit yang tersisa, termasuk pemimpin iblisnya, karena mereka semua sudah menjadi sampah. Kekuatannya sudah dimusnahkan.
Sedangkan Arya sendiri, kembali ke kawasan air terjun, untuk mempersiapkan pembangunan dikawasan tersebut, yang nantinya akan dijadikan ibukota Penguasa Dewa Dewi Bulan.
Bersambung.....
__ADS_1