Kultivator Tingkat Dewa

Kultivator Tingkat Dewa
26. Lembah Cikuray


__ADS_3

Dalam perjalanan menuju Kota Wisata Telaga Warna, Wulan mengajak Arya untuk beristirahat dulu disebuah perkampungan kecil, Wulan terlebih dahulu melesat turun dengan jarak dua ratus meter dari gerbang perkampungan, diikuti oleh Arya dari belakang.


"Ayo Kak, kita masuk ke perkampungan itu," ajak Wulan pada suami.


"Baik sayang," balas Arya, mengikutinya dari belakang.


Keduanya tiba didepan gerbang masuk ke perkampungan, di atas gapura gerbang ada tulisan ; "Selamat Datang Di Perkampungan Lembah Cikuray".


"Lembah Cikuray," batin Arya, sambil menatap tulisan tersebut.


Keduanya menuju ke Pos Penjagaan. Di Pos hanya ada dua orang penjaga, yang ranahnya berada ditingkat Pendekar Dewa Bumi tahap awal.


Arya dan Wulan langsung diperiksa, "Identitasnya saudara?" Pinta penjaga itu.


Arya mengeluarkan identitas dirinya, dan menyerahkannya kepada penjaga.


Penjaga Pos menatap Arya dan Wulan silih berganti. Arya paham atas tindakan penjaga itu.


"Ini istriku, saudara penjaga. Dia ingin ikut berpetualang untuk mencari pengalaman," ucap Arya.


"Ohh.... Biaya masuknya dua koin emas," ujar penjaga Pos, sambil menyerahkan identitas diri Arya.


"Ini saudara, selebihnya untuk saudara," balas Arya, menyerahkan tiga koin emas, sambil menerima identitas dirinya.


"Terimakasih saudara," ucap penjaga, akhirnya ramah setelah menerima uang tip dari Arya.


"Maaf saudara penjaga, apa disini ada rumah makan?" Tanya Arya.


"Ada saudara, lurus saja mengikuti jalan ini. Nanti dipertigaan belok kiri, tidak jauh dari pertigaan itu," jawab penjaga pos.


"Terimakasih saudara," ucap Arya lagi, sambil meneruskan perjalanannya.


Kepergian Arya dan Wulan, diiringi oleh tatapan mata kedua penjaga pos itu.


"Sangat serasi. Yang satu tampan, dan satunya lagi cantik." Kata salah seorang penjaga pos, sambil terus menatapnya.


"Ayo kita laporkan kepada Tetua Kampung, kebetulan Tetua Kampung kita juga dari Benua Tengah. Siapa tau Tetua Kampung mengenalnya," ucap penjaga satu.


"Ya, ini merupakan sebuah kabar baik buat Tetua Kampung. Karena kampung kita mengharapkan kedatangan tamu dari Benua Tengah, siapa tau pemuda dan pemudi itu dapat membantu menghadapi permasalahan di kampung kita," sahut penjaga dua.


"Benar kawan, kita mengharapkan bantuan dari Benua Tengah, untuk menumpas kejahatan di Benua Barat ini. Karena menurut kabar dan cerita dari orang-orang yang sudah pergi ke Benua Tengah, orang-orang dari Benua Tengah, sangat peduli terhadap orang-orang yang tertindas," balas penjaga satu, sambil terus melangkah meninggalkan pos penjagaan, karena hari ini, tidak banyak orang yang memasuki perkampungan.


Sedangkan Arya dan Wulan, tiba disebuah rumah makan, kebetulan tempat itu sedang sepi. Keduanya masuk kedalam rumah makan tersebut.


"Selamat datang Tuan dan Nona, apa ada yang bisa kami bantu," sambut ketiga wanita pelayan rumah makan.


Wulan tersenyum dipanggil nona. "Apakah diriku masih kelihatan seperti gadis," gumamnya dalam batin.


"Aku pesan masakan yang paling enak di rumah makan ini!" Ucap Arya, menatap ketiga pelayan wanita.


Ketiganya bergegas menuju ke dapur rumah makan, hendak mempersiapkan makanan pesanan tamunya.

__ADS_1


Arya dan Wulan menuju ke meja makan, disudut ruangan, disebelah jendela. Keduanya duduk ditempat itu.


Tidak lama kemudian, pesanan pun sudah diantar oleh ketiga pelayan wanita, dan langsung menyajikannya dihadapan Arya dan Wulan.


"Selamat menikmati hidangannya Tuan dan Nona, bila ada sesuatu, Tuan dan Nona tinggal memanggil kam," ucap para pelayan rumah makan itu ramah.


Selagi Arya dan Wulan menikmati makanannya, tiba-tiba beberapa orang masuk kedalam rumah makan tersebut, satu diantaranya seorang pria paruh baya yang berjalan didepannya, serta dua orang lainnya, Arya mengenalnya sebagai penjaga pos di gerbang masuk perkampungan.


Pria paruh baya diikuti dengan yang lainnya, menuju ke meja tempat Arya dan Wulan menikmati hidangannya, pria paruh baya itu tersenyum kepada Arya dan Wulan, sambil menyapanya dengan penuh hormat.


"Salam Penguasa Agung dan Penguasa Putri," sapa pria paruh baya itu, mengenal Arya dan Wulan, sambil berlutut dan menundukkan kepalanya, tidak berani menatap Arya dan Wulan. Untungnya tempat itu lagi sepi, hanya rombongan pria paruh baya dan para pelayan rumah makan. Jika rumah makan lagi ramai, tentunya bakal membuat heboh tempat itu.


Arya dan Wulan, tidak kalah terkejutnya. Keduanya menatap pria paruh baya, yang lagi berlutut sambil menundukkan kepalanya. Sehingga Arya dan Wulan tidak dapat melihat wajah pria paruh baya itu dengan jelas.


"Siapakah anda sebenarnya, Tetua?" Tanya Arya penasaran, sambil menatap ingin melihat wajahnya lebih jelas. Tapi pria paruh baya itu tetap menundukkan kepalanya.


"Berdirilah Tetua! Tidak pantas anda berbicara dalam keadaan begitu. Mari kita duduk bersama sambil menikmati makanan," ucap Arya, menyuruh pria paruh baya itu berdiri.


"Terimakasih Penguasa Agung," balas pria paruh baya, berdiri dari berlututnya.


Setelah jelas melihat wajah pria paruh baya itu, Wulan mengenalinya.


"Paman! Kenapa Paman berada disini? Bukankah Paman tinggal di perguruan ayahku?" Tanya Wulan, terkejut melihat orang kepercayaan ayahnya berada ditempat ini.


"Maaf Penguasa Putri. Sebenarnya setelah selesai acara pernikahan Penguasa Agung dan Penguasa Putri, aku memohon izin kepada Ki Suramanggala untuk berpetualang, ingin menambah wawasan dan pengalaman lebih luas lagi," tutur pria paruh baya, yang ternyata orang kepercayaan dari ayahnya Wulan.


Pria paruh baya itu biasa dipanggil dengan sebutan Ki Sanca, dia sejak umur enam belas tahun, mengikuti ayahnya Wulan dengan setia. Kemanapun ayahnya pergi, dia selalu mengikutinya. Hingga pernikahan Arya dan Wulan, dia yang paling sibuk membantu suksesnya acara pernikahan tersebut.


Namun sekarang, Ki Sanca dipercaya menjadi Tetua Kampung di Benua Barat, yang tidak jauh dari kota wisata Telaga Warna.


Merekapun saling bertukar cerita, sambil menikmati makanan yang telah disajikan dihadapannya, keakraban pun mengalir diantara mereka, seiring dengan berjalannya waktu, Arya dan Wulan pun diajak oleh Ki Sanca menuju Pendopo Kampung Lembah Cikuray.


Tiba di Pendopo, Tetua Kampung Ki Sanca, mempersilahkan tamu kehormatannya, Arya dan Wulan memasuki Aula.


"Silahkan duduk Penguasa Agung dan Penguasa Putri," ucap Tetua Kampung, mempersilahkan Arya dan Wulan duduk di kursi kehormatan untuk para tamu.


"Terimakasih Paman," ujar Arya tersenyum ramah.


"Penguasa Agung dan Penguasa Putri, mohon maaf sebelumnya, bukannya kami tidak sopan, namun kami sebenarnya sama dengan yang lainnya, dalam hati kami bertanya-tanya, hendak kemakah sebenarnya tujuan Penguasa Agung dan Penguasa Putri?" Ucap Tetua Kampung, mewakili warganya bertanya kepada Arya dan Wulan.


"Sebenarnya kami sedang menyamar menjadi petualang, dengan tujuan ingin menumpas semua pasukan iblis di Benua Barat ini, termasuk dengan Raja dan antek-anteknya," jawab Arya, sambil menceritakan tujuan yang sebenarnya, karena Arya dan Wulan percaya kepada Ki Sanca, yang sudah menganggapnya sebagai keluarganya.


"Secara kebetulan Penguasa Agung, kami juga sangat mengharapkan adanya bantuan dari pihak luar Benua Barat, untuk menumpas kekejaman yang dilakukan oleh raja Benua Barat dan pasukan iblis," sambung Ki Sanca, sangat bersyukur sekali adanya bantuan dari Arya dan Wulan.


Arya pun menceritakan maksud dan tujuan yang sebenarnya, dia juga menceritakan kekuatan bawahan intinya yang berada didalam dunia jiwa, agar Ki Sanca dan warganya tidak terkejut, bila Arya mengeluarkan seluruh bawahan intinya dari dunia jiwa miliknya.


Arya menginginkan seluruh warga kampung Lembah Cikuray ini, baik pria maupun wanitanya supaya menjadi kuat, agar tidak mudah ditindas oleh kekuasaan yang jahat.


"Aku akan membantu seluruh warga disini, untuk menjadi kuat," ujar Arya, sambil menjelaskan cara-caranya menjadi kuat.


Tetua kampung dan seluruh warganya, sangat bergembira, atas niat Arya yang ingin membantu mereka.

__ADS_1


"Paman, kumpulkan semua warga disini, biar nanti aku yang akan menjelaskannya," ucap Arya lagi.


Tetua Kampung pun segera memerintahkan kepada komandan keamanannya, untuk mengumpulkan para pemuda dan pemudinya. Mereka dengan semangat memberi tau yang lainnya, agar segera menuju Pendopo Kampung Lembah Cikuray.


Tidak begitu lama, seluruh pemuda dan pemudi warga kampung, berbondong-bondong mendatangi halaman depan Pendopo. Setelah semuanya berkumpul, lalu Arya menjelaskan maksud dan tujuannya.


Setelah mereka mengerti dengan maksud dan tujuan Arya, mereka pun sangat setuju dan mendukung sepenuhnya.


"Paman, silahkan Paman membawa mereka ke halaman belakang Pendopo. Nanti aku dan seluruh bawahan ku yang akan membimbingnya," ucap Arya.


"Baik Penguasa Agung," balas Ki Sanca.


Kemudian Tetua Kampung membawa mereka ke halaman belakang Pendopo, mereka semua berbaris tertib menunggu arahan dari Arya.


Arya lalu masuk ke Aula Pendopo, menghampiri Wulan yang tengah duduk.


"Adik Wulan, hari ini kita membantu mereka dibelakang Pendopo," kata Arya pada Wulan.


"Baik Kak," balas Wulan.


Whuuss.... Whuuss.... Whuuss....


Arya mengeluarkan seluruh bawahan intinya, dari dalam dunia jiwa.


"Salam Penguasa Agung dan Penguasa Putri," ucap mereka bersamaan.


"Berdirilah! Salam kalian aku terima."


"Terimakasih Penguasa Agung."


"Sekarang kalian bantu menjaga area Pendopo ini, karena aku akan melatih warga kampung untuk menjadi kuat," ucap Arya.


"Siap Penguasa Agung, semua titah Penguasa Agung akan segera kami laksanakan," balas mereka serempak.


Lalu merekapun meninggalkan tempat itu, untuk menjalankan perintah dari Arya. Menjaga mengelilingi area Pendopo.


Arya dan Wulan, segera menuju ke belakang Pendopo. Setelah tiba dibelakang, lalu Arya memberikan buah-buahan dewa, satu buah apel dan satu anggur dewa per orang, serta secangkir air kehidupan dan air abadi untuk meningkatkan kekuatan dan kemampuan mereka.


Kemudian Arya membuat kubah formasi mengelilingi area tersebut, dan mempercepat waktunya didalam kubah formasi. Satu tahun didalam kubah formasi, sama dengan satu hari diluar kubah formasi.


"Silahkan kalian berkultivasi, tingkatan ranah kalian. Jangan khawatir, tempat ini akan dijaga selama kalian berlatih," ucap Arya.


"Terimakasih Penguasa Agung," balas mereka senang.


Arya dan Wulan keluar dari tempat itu, dengan diikuti oleh tetua kampung.


"Paman, tenang saja, tempat ini sudah dijaga oleh orang-orangku." Ucap Arya, sambil menjelaskan para bawahannya yang menjaga kawasan perkampungan itu.


"Sekarang, Paman juga harus meningkatkan ranah kekuatan Paman," tambah Arya, sambil mengeluarkan buah-buahan dewa, dan dua cangkir air kehidupan dan air abadi, lalu menyerahkannya kepada Ki Sanca.


"Terimakasih Penguasa Agung!" Ki Sanca menangkupkan kedua tangannya di dada, sambil membungkuk. Lalu pergi meninggalkan tempat itu menuju ke kamarnya, berniat meningkatkan ranah kekuatannya.

__ADS_1


Akhirnya perkampungan itu benar-benar sepi, karena semua pemuda dan pemudi serta warga dewasa lainnya, melakukan latihan tertutup. Hanya seluruh bawahan inti Arya, yang menjaga kawasan perkampungan Lembah Cikuray.


Bersambung.....


__ADS_2