Kultivator Tingkat Dewa

Kultivator Tingkat Dewa
61. Raja Iblis Ular Gibuk


__ADS_3

Angin pegunungan yang berhembus perlahan, disekitar lereng gunung Merapi, membuat udara disekelilingnya begitu sejuk. Terlebih banyak pepohonan yang rimbun, menaungi sebuah keramat Mbah Gibuk, yang sering dikunjungi untuk meminta kekayaan.


Di keramat Mbah Gibuk, banyak pengunjung yang berdatangan, tak lain hanya ingin menjadi kaya raya, dengan melakukan ritual persembahan pengorbanan darah perawan.


Darah perawan itu harus didapatkan langsung dari anak perawan, yang didatangkan ketempat keramat bersama orangtuanya, yang punya niat ingin cepat kaya.


Seperti hari ini, ada beberapa orang mengantri untuk mengadakan acara ritual persembahan darah perawan, karena ritualnya satu orang satu orang, sehingga ada beberapa orang menunggu gilirannnya.


Yang pertama mendapatkan giliran, adalah seorang pria setengah baya yang sangat miskin sekali, bersama anak perempuannya yang masih perawan.


Si anak perawan, dibawa keruangan khusus yang berada ditempat keramat, dan ditidurkan disebuah batu persembahan, yang dialasi oleh sebuah kulit dari ular gibuk raksasa.


Orang yang melaksanakan ritualnya, menghadap ke batu persembahan, yang diatasnya tertidur anak perawan, dengan dipimpin oleh kuncen keramat.


"Nanti, ditengah-tengah acara ritual, jika ada seekor ular gibuk besar datang, menghampiri anak perawanmu yang tengah tertidur, tidak usah kaget, biarkan saja tidur bersama anak perawanmu, karena dia tidak akan melihat ular gibuk tidur bersamanya, dia hanya merasakan kenikmatannya disetubuhi oleh ular gibuk, yang tidak terlihat olehnya," ujar kuncen menjelaskan.


"Iya, Mbah. Yang penting anakku tidak mati," balas pria setengah baya itu, nekad mengorbankan darah perawan anak perempuannya.


"Anakmu tidak akan mati, hanya Mbah Gibuk mengambil darah perawannya. Sebagai syarat utama menjadi pengikutnya," ujar kuncen lagi.


"Baiklah, Mbah. Jika hanya itu persyaratannya, aku manut saja," balas pria setengah baya, yang sudah buntu pemikirannya.


"Biarlah, anakku kehilangan perawannya, yang penting aku menjadi kaya raya, dan anakku juga tetap masih hidup. Soal anakku kehilangan perawannya, jika aku sudah menjadi kaya, anakku juga akan menikmati kekayaannya," ucap pria setengah baya, dalam batinnya yang penuh dengan berbagai khayalan.


Telah banyak orang berhasil menjadi kaya raya, entah itu dengan jalan cepat naik jabatan, menjadi pengusaha yang tidak ada tandingannya, dan menjadi pemimpin, semuanya dibantu oleh Mbah Gibuk.


Selain itu, Mbah Gibuk juga akan menjaga semua para pengikutnya, dari gangguan semua saingannya, atau atasan yang berniat jahat, dengan cara ; setiap saingan usaha atau saingan ditempat kerjanya, ketika berhadapan dengan pengikut Mbah Gibuk, akan meninggal setelah beberapa waktu pulang ke rumahnya, dan Mbah Gibuk mempengaruhi semuanya, agar pengikutnya diangkat menjadi pemimpin, atau pengusaha yang sukses.


Dengan cara itulah, para pengikut Mbah Gibuk, akan naik jabatan atau pemimpin, serta menjadi pengusaha yang kaya raya.


Ketika juru kunci akan memulai melaksanakan acara ritual, tiba-tiba dua cahaya masuk kedalam keramat Mbah Gibuk, dan kedua cahaya itu langsung menghilang.


Kuncen dan beberapa orang yang berada di sana, terkejut melihat siluet cahaya biru mengkilau dan kuning keemasan, menerobos masuk kedalam ruangan khusus.


Anak perawan yang tengah tertidur di atas batu persembahan, tiba-tiba menghilang dari hadapan kuncen dan orangtuanya.


Belum lagi Rasa keterkejutan mereka pulih, tiba-tiba suara ledakan yang sangat keras, dan gemuruh angin ****** beliung, dibarengi dengan hujan yang sangat deras, melanda keramat Mbah Gibuk, sehingga semua pepohonan dan bangunan yang berada ditempat keramat itu roboh.


Semua orang yang berada didalam sebuah bangunan keramat, yang tengah menunggu giliran antrian untuk melaksanakan ritual, berhamburan berlarian menyelamatkan dirinya masing-masing.


"Ayo....! Cepat semuanya keluar! Penguasa tempat ini sedang murka!" Seru seorang pria tua, petugas kebersihan ditempat itu, yang duluan berlari meninggalkan keramat Mbah Gibuk.

__ADS_1


Di Alam Siluman, Arya dan Ratu Derwani, yang telah berada disebuah kamar yang megah, didalam istana yang besar, menyelamatkan seorang anak perempuan yang masih perawan, dan memasukkannya kedalam dunia jiwa, sambil merobohkan tempat itu dengan setengah kekuatannya, dibarengi dengan gemuruhnya angin ****** beliung disertai hujan deras, dan suara petir saling bersahutan.


Kebetulan, istana itu sedang kosong, karena para penghuni dan seluruh penjaganya, tengah berada di Istana Utama, berkumpul bersama Raja Lenggogeni, yang meminta bantuan kepada Raja Iblis Ular Gibuk, Sangga Geni, yang memiliki racun api yang sangat keras, yang bisa mematikan lawan-lawannya tanpa harus bertarung.


Raja Sanggga Geni dan Raja Lenggogeni, sama-sama pengikutnya Raja Iblis Ular Hitam, yang sama-sama mendapat tugas menghancurkan keimanan manusia di Alam Bumi.


Keduanya terkejut mendengar beberapa kali suara ledakan, yang dibarengi dengan gemuruhnya angin ****** beliung, dan disertai hujan deras, serta petir dan guntur saling bersahutan, dari arah istana tempat persembahan para pengikutnya.


"Suara itu tidak salah lagi, perbuatan mereka yang sudah menghancurkan ku!" Seru Raja Lenggogeni.


"Apakah benar, mereka seorang pemuda dan wanita cantik itu?" Tanya Raja Sanggga Geni, menatap Lenggogeni.


"Aku yakin sekali, mereka adalah orang-orangnya, yang menghancurkan istanaku, dan mengambil kesaktian ku," ucap Raja Lenggogeni.


"Kalau benar mereka orangnya, biar aku saja yang menghadapinya," balas Raja Sanggga Geni. "Ayo, kita kesana!" Seru Sangga Geni, mengajak Lenggogeni.


Keduanya bergegas menuju kearah suara ledakan itu, dengan diikuti oleh pasukan Raja Ular Gibuk.


Tiba dihadapan Arya dan Ratu Derwani, Raja Ular Gibuk itu tentu saja marah, melihat istana persembahan bagi para pengikutnya, hilang tersapu oleh angin ****** beliung.


"Dasar laknat kalian! Beraninya membuat kerusuhan ditempat ku!" Seru Raja Iblis Ular Gibuk marah.


"Hahaha.... Ternyata benar, kalian ini antek-anteknya Raja Iblis Ular Hitam. Baguslah, jadi aku tidak usah repot-repot mencari kalian," ucap Arya, tertawa ngakak.


"Aku adalah orang yang akan menangkap mu!" Balas Arya.


"Bajingan kau...! Rasakan pukulan Raja Geni. Hiiaaattt....!" Seru Raja Iblis Ular Gibuk, menerjang Arya


Arya sengaja memperoloknya, dengan berkelit kesebelah kiri, jari tangan kanan Arya menyentuh jidatnya dengan kekuatan tiga puluh persen.


Tuk.... Suara dari jidat Raja Sangga Geni, ditotok oleh jari tangan kanan Arya, hingga terjengkang kebelakang, dan tulang jidatnya retak.


Ahhhh.... Argh....


Teriak marah Sangga Geni, yang merasa kesakitan, karena jidatnya retak.


Dia bangun perlahan, kemudian berdiri tegak menghadap kearah Arya, sambil mengeluarkan racun api yang mematikan.


Tanpa banyak bicara, Sangga Geni yang seluruh tubuhnya telah diselimuti api hitam, mengarahkan tangannya kehadapan Arya dan Ratu Derwani.


Api hitam dari tangan Sangga Geni, melesat cepat kearah Arya dan Ratu Derwani, dibarengi dengan suara desisan mirip suara ular.

__ADS_1


Arya yang telah mengerti betul watak-watak iblis, dia menyilangkan kedua tangannya, dengan jurus Cakar Rajawali Memusnahkan Racun, lalu mendorong kedua tangannya kearah Raja Sangga Geni.


Dua kekuatan pun beradu dengan sangat kerasnya.


Duarr.... Duarr....


Raja Sangga Geni mencelat terlempar kebelakang ratusan meter, hingga menabrak istana utama.


Brakk.... Brugg....


Istana Utama Raga Ular Gibuk hampir roboh, tertabrak badannya sendiri, yang terlempar dengan sangat kerasnya.


Begitu pula dengan Arya, dia terdorong kebelakang puluhan meter, hingga dari seluruh tubuhnya keluar asap hitam, yang merupakan racun api dari Sangga Geni, yang tidak dapat menyentuh tubuh Arya, dan racun itu kembali kepada pemiliknya.


"Hmmm.... Ternyata kuat juga iblis itu, bisa membuatku terdorong mundur puluhan meter," ucap batin Arya.


Gegas Arya menghampiri Raja Iblis Ular Gibuk itu, untuk merantainya dengan rantai baja mistis, yang dikeluarkan dari cincin penyimpanannya.


Rantai baja mistis, langsung dilemparkan oleh Arya kearah Raja Iblis itu, yang dengan sendirinya melilit sekujur tubuh Sangga Geni, dan meremas-remasnya dengan sangat kuat.


Raja Sangga Geni, tidak dapat bergerak, karena kalau banyak bergerak, rantai baja mistis itu akan semakin kencang meremas tubuhnya.


Arya juga sama merantai Raja Lenggogeni, yang kebetulan berada ditempat itu, dan menyatukan dengan Raja Iblis Sangga Geni.


"Nah, sekarang kalian berdua tunggu disini, sampai orang-orangku menjemput kalian, untuk dipindahkan ke penjara khusus para iblis," ucap Arya, sambil menghubungi bawahannya, melalui telepati jarak jauh.


Sangga Geni, yang merupakan Raja Ular Gibuk di alam ini, mendapatkan tugas dari Raja Iblis Ular Hitam, untuk menghancurkan manusia di Alam Bumi, jika tidak mau jadi pengikutnya.


Tugas ini yang dijalankan oleh Sangga Geni, mempengaruhi manusia yang lemah, untuk menjadikan mereka sebagai budak-budaknya.


Arya tidak tinggal diam, jika dia mendengar adanya antek-antek Raja Iblis Ular Hitam, dari Alam Neraka Besar, yang ingin menguasai bumi, dia sudah pasti akan turun tangan, menumpas kedzaliman yang disebarkan oleh para iblis.


Seperti hari ini, Arya dan Ratu Derwani, berhadapan dengan Raja Ular Gibuk, yang memiliki racun api yang sangat keras, bisa mematikan para musuh-musuhnya.


Namun Arya, dengan mudahnya dapat menaklukkan Raja Iblis Ular Gibuk itu, hingga tidak berdaya sama sekali, dan menyatukannya dengan Lenggogeni.


Di Alam Manusia, beberapa puluh orang yang hendak mencari kekayaan dari tempat keramat Mbah Gibuk, akhirnya kembali pulang tanpa membawa hasil.


Bahkan seorang pria setengah baya, yang telah kehilangan anak perawan satu-satunya, sangat kesal sekali.


Dia mau marah juga, marah kepada siapa? Karena kejadian anak perawannya hilang, tepat didepan matanya.

__ADS_1


Itu karena kebodohannya, yang tidak sabar dan kuat menahan hawa nafsunya, yang dirasuki oleh hawa nafsu iblis, ingin cepat kaya dengan jalan mengorbankan anak perawannya.


Bersambung.....


__ADS_2