Kultivator Tingkat Dewa

Kultivator Tingkat Dewa
68. Menampung Pengungsi


__ADS_3

Udara senja hari di kota Dewa Dewi, yang tengah dibangun dan diperluas wilayahnya, begitu cerah, hingga membuat banyak pengunjung yang berdatangan. Hanya sekedar ingin berendam di sebuah air terjun Dewa Dewi, yang memiliki khasiat cukup tinggi, walau batunya sudah dipindahkan oleh Arya kedalam dunia jiwanya. Namun masih menyisakan sebuah energi yang sangat kuat, dari tempat bekas batu kristal bulan.


"Apakah masih ada lagi benda lainnya, yang mengandung sebuah energi," ucap Arya dalam batin. "Aku harus mencari tau, apakah masih ada benda lainnya, atau hanya sisa dari bekas tempat batu kristal bulan," tambahnya dalam batin.


Sejak dibukanya kembali area air terjun untuk umum, dan dirubah namanya menjadi air terjun Dewa Dewi, banyak dikunjungi oleh para kultivator bebas, terutama dari para kultivator petualang muda.


Tempat itu kini dijadikan tempat wisata berendam di air terjun, dengan biaya masuknya hanya lima koin, jauh lebih rendah dari semula, ketika dikuasai oleh makhluk-makhluk iblis, yang memungut biaya masuknya seratus koin emas, dan bagi wanita yang ingin berendam, harus menyerahkan kewanitaannya kepada makhluk iblis, untuk dijadikan pemuas nafsu bejadnya.


Sekarang banyak pengunjung dan warga yang merasa senang, dengan aturan yang dibuat oleh Arya, yang melarang segala bentuk pungutan liar, dan menurunkan pajak masyarakat, dari enam puluh persen menjadi sepuluh persen.


Kebijakan baru yang dibuat oleh Arya itu, didukung sepenuhnya oleh seluruh warga Kota. Karena Arya sangat memperhatikan warganya, daripada mencari keuntungan pribadi.


Kabar yang menggembirakan seluruh rakyat dibenua yang semula bernama Benua Dewa Bulan, telah berubah menjadi Benua Dewa Dewi Bulan, dengan cepatnya tersebar ke seluruh benua.


Dengan tersebarnya kabar tersebut, banyak pendatang baru berdatangan, meminta izin untuk menetap di Kota Dewa Dewi, karena ditempat tinggalnya, selalu ditindas oleh para penguasanya, yang telah bersekutu dengan para makhluk-makhluk iblis.


Semakin hari semakin banyak warga dari benua lain berdatangan, hingga Arya memperluas lagi wilayah Ibukota Dewa Dewi Bulan, menjadi sebuah kota yang besar, megah dan indah, serta nyaman dari gangguan makhluk-makhluk iblis, karena semua makhluk iblis tidak berani memasuki Ibukota Dewa Dewi Bulan, yang dijaga ketat oleh pasukan elit yang dipimpin oleh Ratu Derwani, yang ranahnya lebih tinggi dari para pemimpin iblis di alam ini.


Kini, hampir seluruh rakyat di Alam Dewa Agung Lapisan kedua ini, mengungsi ke Ibukota Dewa Dewi Bulan, hingga mau tidak mau, Arya yang dibantu oleh seluruh bawahan dan rakyatnya, terus menerus memperluas Ibukotanya, hingga semua rakyat yang mengungsi, mendapatkan tempat dan membangunnya untuk tempat tinggal.


Melihat kejadian tersebut, para Penguasa diseluruh benua, melaporkan kepada Penguasa tertinggi Alam Dewa Agung Lapisan kedua, yang ranahnya berada ditingkat Great Imortal Bintang Lima tahap puncak, dan para pelindungnya, yang terdiri dari para petinggi makhluk iblis di alam ini, rata-rata ranah kekuatannya berada ditingkat Great Imortal Bintang Tujuh tahap puncak,jauh dibawah ranah kekuatan yang dimiliki oleh Arya, karena setelah dia berkultivasi dan menyerap energi batu kristal Dewa Bulan, ranahnya melesat naik gila-gilaan hingga menembus Great Imortal Bintang Sembilan tahap puncak, selangkah lagi mencapai batas akhir ranah kekuatan di alam ini.


Para pemimpin benua dan Penguasa alam ini, yang dilindungi oleh para pemimpin iblis, berniat menyerang Ibukota Dewa Dewi Bulan, dan merebut kembali rakyatnya, karena hampir seluruh benua di alam ini, semua penduduknya mengungsi ke Ibukota Dewa Dewi Bulan, sehingga hanya tinggal benua yang kosong, ditinggalkan oleh semua penduduknya.


Arya yang mendengar rencana iblis menyerang kotanya yang baru dibangun, dia mempersiapkan seluruh bawahannya, untuk menghadapi jutaan prajurit gabungan, antara prajurit Iblis, prajurit seluruh benua dan prajurit Alam Dewa Agung Lapisan kedua.


Sedangkan prajurit di Ibukota Dewa Dewi Bulan, hanya sekitar enam ribu orang, dan prajurit elitnya hanya seribu orang, yang harus bertempur melawan jutaan prajurit iblis dan prajurit Penguasa Alam Dewa Agung.

__ADS_1


Namun Arya sedikitpun tidak merasa takut, dia akan menghadapi seluruh prajurit iblis dengan kemampuan yang dimilikinya, dengan dibantu oleh seluruh bawahannya.


Arya melatih seluruh bawahannya didalam dunia jiwa, agar dalam waktu dekat, seluruh kekuatan bawahannya pada meningkat.


Ratu Derwani dan Komandan Seno Adji, melatih seluruh bawahannya didalam dunia jiwa, dan mengarahkan mereka untuk berkultivasi didalam batu kristal bulan, dan berendam di empat air ajaib, selain berkultivasi dan berendam di empat kolam, mereka juga terus menerus berlatih bertempur,baik jarak jauh maupun jarak dekat.


Tinggal empat belas hari lagi, kedatangan pasukan iblis menyerang Ibukota Dewa Dewi, yang dipimpin langsung oleh Jenderal utamanya, wakil Raja Iblis Ular Hitam dari Alam Neraka Besar, yang ranah kekuatannya berada ditingkat Great Imortal Bintang Tujuh tahap puncak.


Arya hanya mempersiapkan seluruh bawahan intinya didunia jiwa, untuk terus berlatih menjadi kuat. Karena dalam menghadapi kekuatan lawan kali ini, Arya ingin benar-benar kekuatan bawahannya berada di atas rata-rata pasukan iblis.


Sebab Arya tidak ingin melibatkan seluruh perajurit di ibukota, untuk menghadapi pasukan iblis, karena dia tidak ingin ada korban banyak di pihaknya. Cukup hanya dihadapi oleh Arya dan seluruh bawahan intinya.


Ini memang merupakan sebuah pertempuran yang dahsyat, selama Arya berpetualang ke seluruh benua. Karena yang dia hadapi, adalah pasukan gabungan antara pasukan iblis dan pasukan Penguasa Alam Dewa Agung Lapisan kedua, yang telah bersekutu dengan Raja Iblis Ular Hitam, dari Alam Neraka Besar.


Kali ini Arya tidak akan bermain-main, bila menghadapi pasukan iblis. Dia akan lebih serius lagi, karena baginya, jika dia tidak menuntaskan sampai ke akarnya, akan menjadi kendala di masa depan.


Dalam waktu dua puluh hari, kini tinggal empat belas hari lagi, semua prajurit iblis dan prajurit Alam Dewa Agung, akan menyerang ibukota Dewa Dewi Bulan.


"Cukup waktunya untuk menaikkan ranah kekuatan mereka," ucap Arya dalam batinnya.


Usai mempersiapkan semuanya didunia luar, dia bergegas masuk kedalam dunia jiwanya, untuk melihat semua peningkatan bawahan intinya.


Whuuss....


Arya muncul di istana Dewa Cahaya, disebelah utara dunia jiwanya, karena latihan semua bawahannya dipusatkan ditempat itu, dimana keempat kolam energi dan batu kristal bulan ditempatkan.


"Komandan Seno, bagaimana dengan mereka semua, apa ada kendala?" Tanya Arya, begitu tiba dihadapan mereka.

__ADS_1


"Tidak, Penguasa Agung. Semuanya lancar," jawab Komandan Seno Adji.


"Bagaimana dengan ranah mereka?" Tanya Arya lagi.


"Semua ada peningkatan, Penguasa Agung," balas Komandan Seno Adji.


"Baiklah, terus berlatih dan berkultivasi, agar lebih kuat lagi," ucap Arya.


"Baik, Penguasa Agung. Kami semua berusaha untuk lebih meningkatkan kekuatan lagi," balas Komandan Seno Adji.


Arya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum senang, melihat semangat berlatih semua bawahan intinya


Dia kembali keluar dari dunia jiwanya, berkeliling mengawasi langsung semua pembangunan di Ibukota Dewa Dewi Bulan.


Berjalan dari satu tempat ketempat lainnya, dengan menyamar sebagai pemuda petualang, dan menyempatkan diri mampir disebuah rumah makan, mencari berbagai informasi dari para pendatang baru.


Arya duduk disebelah pojok ruangan rumah makan, sambil menajamkan pendengarannya. Walaupun hanya bisik-bisik, akan jelas terdengar oleh Arya.


"Benar ya kata orang-orang, kota ini nyaman dan tenang, tidak ada gangguan dari makhluk-makhluk iblis. Dan disini kita bisa usaha dengan baik, karena disini tidak ada pungutan liar, yang ada hanya pajak penghasilan usaha, yang dikenakan kepada para pengusaha dengan sangat rendah, hanya sepuluh persen setiap bulannya. Lain dengan di kota ku, mewajibkan membayar pajak enam puluh persen, dan ditambah lagi dengan pungutan-pungutan lainnya, membuat hidup kita tambah menderita," ucap salah seorang pendatang baru, yang berjualan di pasar.


"Sama di kotaku juga begitu, para pedagang lemah seperti kita, selalu ditindas dan diperas, hingga benar-benar membuat hidup kita sangat menderita," sambung pria lainnya, yang sama-sama berjualan di pasar.


"Hanya di kota ini yang aman dan tenang, tidak ada pemerasan dan penindasan. Karena Penguasa disini, selain ranahnya tinggi, juga sangat bijak dalam setiap menentukan keputusannya, yang tidak ingin merugikan warga kota," balas pedagang yang lainnya.


Arya hanya tersenyum mendengar semua percakapan mereka, dan dia akhirnya keluar dari rumah makan itu, setelah membayar makanan yang dinikmatinya.


Dia meneruskan perjalanannya lagi, berkeliling dari satu tempat ketempat lainnya, mengawasi jalannya pelaksanaan pembangunan perluasan ibukota dari jauh.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2