Kultivator Tingkat Dewa

Kultivator Tingkat Dewa
19. Menghancurkan Prajurit Kerajaan


__ADS_3

Dalam perjalanannya ke ibukota Benua Timur, Arya beberapa kali mengalami hambatan, terutama dari kelompok Serigala Hitam, yang selalu memburunya untuk diserahkan kepada pemimpinnya, karena telah berani menghina dan menantang Raja Benua Timur.


Namun Arya, sedikitpun tidak merasa takut akan ancaman dari kelompok Serigala Hitam, malah dia sendiri menitipkan salam Pada anggota kelompok itu, untuk disampaikan pada Raja dan pemimpinnya.


Isi salam itu adalah ; "Salam pertempuran! Mohon Raja Benua Timur dan Pemimpin kelompok Serigala Hitam, untuk menyiapkan seluruh kekuatan elitnya, untuk menyambut kedatanganku, di Istana Paduka Raja Benua Timur yang terhormat."


Itulah bunyi salam yang dititipkan kepada para anggota kelompok Serigala Hitam, yang sudah ditaklukkan oleh Arya, dan diberikan kebebasan untuk menyampaikan pesan salam pertempuran kepada Rajanya.


Dalam perjalanannya kali ini, dia ditemani oleh Darmasena, sedangkan istri dan semua bawahannya beristirahat didalam dunia jiwa.


Arya melakukan perjalanannya dengan berjalan kaki, tidak menggunakan burung rajawalinya, ataupun terbang. Dia dengan Darmasena ingin menikmati suasana di perbukitan, yang pemandangannya sangat indah.


Tiba di atas bukit, Arya mengedarkan pandangan mata malaikatnya. Tampak dari arah timur, ada riak pergerakan menuju kearah bukit, tempatnya berdiri.


Arya dan Darmasena, melesat terbang ke atas langit, keduanya mengawasi pergerakan orang-orang itu, dari atas awan sambil bersembunyi.


Rupanya, rombongan itu adalah pasukan prajurit kerajaan, dan kelompok Serigala Hitam, yang menuju kearah barat, dimana ketika itu Arya beranda.


"Pasukan kerajaan dan kelompok Serigala Hitam!" Ucap Arya, menatap rombongan itu.


"Mereka pasti mencari kita," sahut Darmasena.


"Ayo kita turun," kata Arya, melesat kearah rombongan itu, diikuti oleh Darmasena.


Keduanya berdiri ditengah jalan, menghadang mereka yang menuju kearahnya. Arya tersenyum tenang, tidak ada rasa takut sama sekali, ketika pasukan kerajaan dan kelompok Serigala Hitam, tiba dihadapan Arya dan Darmasena.


"Pucuk dicinta ulam tiba, tidak perlu mencarinya jauh-jauh," ucap pimpinan mereka, yang berpangkat jenderal kerajaan.


"Hahaha..... Kalian mencari orang yang salah, karena sebentar lagi kalian akan aku kirim kepada dewa kematian, untuk diserahkan kepada Raja Iblis Neraka," ucap Arya, memprovokasi mereka.


"Hahaha.....  Malah kamu yang akan aku kirim ke lembah neraka itu," balas Jenderal Kerajaan.


"Lembah Neraka apa lembah maut!" Ejek Arya berseru.


"Bajingan kau! Rasakan ini, hiiaaatttt...." Jenderal Kerajaan langsung menerjang, sambil mengayunkan pukulannya kearah wajah Arya.


Dengan tenangnya, Arya menadah pukulan itu. Dua kekuatan beradu.... Duar.... Jenderal itu terpental kearah belakangnya tiga puluh meter, hingga menabrak pepohonan besar sampai pada patah, padahal Arya, hanya mempergunakan kekuatannya seperempatnya.


Jenderal itu langsung memuntahkan darah segarnya, tulang-tulangnya terasa sakit dan ngilu. Dia berusaha untuk bangkit lagi, namun Arya segera menghancurkan tubuhnya menjadi kabut darah, dengan pukulan Cakar Rajawali Sakti, yang mengandung kekuatan petir dan api yang sangat dahsyat.


Lantas Arya mengarahkan jari telunjuknya, kepada seluruh pasukan kerajaan dan kelompok Serigala Hitam, untuk menghancurkan mereka.


Duarr.... Duarr.... Bom....


Seluruh tubuh prajurit kerajaan dan kelompok Serigala Hitam, terlempar keberbagai arah, hingga tergeletak tidak bergerak lagi.


Tinggal seorang lagi yang terbengong berdiri seperti patung, melihat anggotanya hancur berkeping-keping.


Dia adalah salah seorang Ketua kelompok Serigala Hitam, yang sedari awal kedatangannya, dia hanya berdiri menyaksikan kejadian itu.

__ADS_1


Arya kemudian menunjuk pemimpin itu dengan jarinya, yang dialiri oleh kekuatan mistis Cengkraman Rajawali, hingga membuat pemimpin kelompok Serigala Hitam seperti dicengkeram, nafasnya sesak seperti ditimpa gunung yang besar, tubuhnya serasa ada yang menimpanya.


Dengan isengnya, Arya menarik kumis pemimpin Serigala Hitam, ketika dia sedang merasakan rasa sakit dan sesak yang sangat luar biasa.


"Wah sayang sekali, kumisnya tidak tercabut semuanya," ucap Arya. "Hahaha.... Aku senang.... Aku senang ," gelak tawa Arya, merasa senang ketika melihat wajah tetua Serigala Hitam meringis.


Darmasena pun tertawa, melihat kejadian seperti itu. Dia tidak akan pernah menyangka, bahwa Arya bisa berbuat iseng Kepada pentolan Serigala Hitam.


"Darmasena, hukuman apa yang pantas buat pemimpin Serigala Hitam ini?" Tanya Arya, pada bawahannya.


"Penguasa, hukuman yang pantas buat dia, adalah menghancurkan basis kultivasinya, agar dia tidak berbuat semena-mena lagi terhadap rakyat kecil," jawab Darmasena.


"Lakukanlah," ucap Arya.


"Baik Penguasa," balas Darmasena, sambil melesat kearah pemimpin Serigala Hitam, yang sudah tidak berdaya, untuk menghancurkan basis kultivasinya.


Setelah selesai, Arya membebaskan dia kembali, dan langsung menyuruh pemimpin Serigala Hitam, untuk memberikan kabar kepada rajanya.


"Katakan pada Rajamu, salam pertempuran dari seorang pemuda petualang !" Ucap Arya, berseru pada pemimpin Serigala Hitam.


Pemimpin kelompok iblis meninggalkan tempat itu, dengan membawa segudang rasa dendam dan marah. Namun sekarang, dia sudah tidak berguna lagi. Sudah menjadi sampah.


"Biar pimpinan Serigala Hitam dan Raja tau, pasukannya yang dia kirim itu sudah hancur lebur," ujar Arya.


"Benar Penguasa, bagaimana reaksi raja dan pimpinan Serigala Hitam itu, setelah pasukannnya dihancurkan," sambut Darmasena.


Keduanya kembali ke atas bukit, untuk santai sejenak, sambil menikmati pemandangan dan udaranya yang segar.


Tak seberapa lama, Arya dan Darmasena, tiba disebuah perkampungan.


"Penguasa, apakah kita mampir dulu di perkampungan itu, atau langsung menuju ke kota?" Tanya Darmasena, menunjuk kesebuah perkampungan.


"Hmmm..... Kita coba turun dulu. Ada apa didalamnya?" Kata Arya, penuh tanda tanya.


Keduanya bergegas turun, menuju gerbang perkampungan. Setibanya di gerbang, Arya diperiksa oleh para penjaga, kemudian dibawa ke Tetua Kampung.


"Salam Tetua Kampung," ucap Arya dan Darmasena serempak.


Tetua perkampungan, menatap Arya dan Darmasena, dengan penuh curiga.


"Dari manakah asal kalian?" Tanya tetua kampung.


"Kami berdua dari daratan Benua Tengah, Tetua," jawab Arya.


Tetua kampung dan semua orang terkejut mendengar jawaban Arya, karena Arya tidak ingin ada masalah, maka dia berterus-terang pada Tetua Perkampungan.


"Apakah benar kalian dari Benua Tengah?" Tanyanya lagi tidak percaya.


Arya pun tidak menjawab, hanya mengeluarkan aura ranah Abadi Bintang Sembilan tahap puncak. Tentu saja semuanya langsung tersungkur dan muntah darah, ditindas oleh kekuatan yang sangat dahsyat. Akhirnya Arya cepat-cepat menarik aura kekuatannya.

__ADS_1


"Bagaimana Tetua, apa masih curiga dan tidak percaya?" Tanya Arya.


"Tu...tuan, kami semua percaya," ucap mereka gugup.


Arya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, sambil menatap mereka semua.


"Ada apa sebenarnya yang menimpa perkampungan ini?" Tanya Arya penasaran.


Tetua kampung itupun kemudian menceritakan, apa yang telah terjadi, dari awal hingga akhir, sedikitpun tidak ada yang terlewati. Semuanya dengan gamblang diceritakan kepada Arya, tidak ada yang ditutup-tutupi.


Semenjak Raja Benua Timur bersekutu dengan pasukan Raja Iblis berjubah hitam, atau kelompok Serigala Hitam. Rakyatnya banyak yang menjadi sengsara karena sering ditindas, anak-anak gadisnya dipaksa untuk melayani nafsu bejad mereka dan petinggi kerajaan. Harta-harta mereka dirampas jika telat membayar pajak. Satu orang pun tidak ada yang berani melawan atau menentang kedzaliman mereka. Karena bila ada yang berani menentang, sudah dapat dipastikan, orang atau kelompok tersebut akan musnah.


"Karena itulah kami mengharapkan bantuan dari luar benua ini, terutama mencari bantuan dari Benua Tengah," ucap Tetua Kampung. "Dan kami mohon maaf, atas tindakan kami yang tidak menyenangkan. Bukan kami tidak percaya, karena dengan begitu kami bisa mengetahui ranah tuan yang sebenarnya," tambah Tetua Kampung.


"Kami juga mohon maaf, Tuan Muda, atas tindakan kami tadi membawa tuan kepada Ketua Kampung. Sebenarnya, kami begitu Tuan Muda mengatakan dari Benua Tengah, kami semua sangat gembira, hanya saja kami belum percaya karena Tuan Muda menyembunyikan ranah yang sebenarnya," ucap Komandan Keamanan Perkampungan itu, mewakili semua penjaga kampung.


Arya pun paham, begitu pula dengan Darmasena, dia hanya mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti.


"Apa rencana Tetua Kampung?" Tanya Arya.


"Menumpas kedzaliman di benua ini," jawabnya.


"Sudah sampai sejauh mana persiapannya?"


"Sama sekali belum ada persiapan, Tuan Muda. Karena kami diam-diam sedang berusaha mencari bantuan dari pihak luar," ucap Tetua Kampung.


"Mencari bantuan dari pihak mana?" Tanya Arya lagi.


"Kami sedang berusaha mencari sahabat yang berasal dari Benua Tengah, namun orang itu sudah pergi dari benua ini, bahkan Perguruan Beladirinya juga musnah dihancurkan oleh Serigala Hitam," jawab Tetua Kampung menjelaskan.


"Kalau boleh tau, siapa namanya?" Tanya Arya lagi.


"Ki Sutamanggala," jawabnya singkat.


Deg.... Arya terkejut. Tanpa banyak bicara lagi, dia mengeluarkan Sutamanggala dari dunia jiwanya.


Sekarang giliran tetua kampung yang terkejut, karena dengan tiba-tiba, sahabatnya itu muncul dihadapannya.


Setelah tetua kampung itu sadar dari keterkejutannya, akhirnya mereka saling sapa.


"Apa kabarmu tetua kampung?" Tanya Ki Sutamanggala.


"Baik Ki Suta. Aku sejak lama mencari keberadaan mu. Namun sama sekali jejak mu tidak diketahui," ucap Tetua Kampung.


"Panjang ceritanya Tetua," balas Ki Sutamanggala.


Ki Sutamanggala pun menceritakan semuanya, apa yang telah menimpa pada dirinya dan keluarganya. Sedikitpun tidak ada yang terlewatkan. Semuanya diceritakan dari awal hingga akhir.


Kini mereka semuanya berkumpul di perkampungan itu, untuk merencanakan menumpas kedzaliman di Benua Timur ini.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2