Kultivator Tingkat Dewa

Kultivator Tingkat Dewa
06. Keturunan Raja


__ADS_3

Setelah dua hari beristirahat, Arya mulai menjalankan tugasnya lagi. Berpatroli di wilayah udara Kerajaan Daha. Dia sekarang berniat mengunjungi kampung halamannya, sambil berpatroli.


Pasukan Elit Rajawali Sakti, dan Pasukan Pemanah Beracun, yang dipimpin oleh Jenderal Arya, sudah berkumpul di lapangan bersama dua burung rajawali raksasanya.


Pasukan Patroli Udara dibagi dua grup. Grup pertama dipimpin Panglima Kerajaan, grup dua dipimpin oleh Arya. Tugas berpatroli bergiliran dua hari sekali.


Setiap grup memiliki empat regu. Setiap regunya dua belas orang satu komandan. Dua regu pasukan pemanah, dan dua regu lagi pasukan tempur. Sedangkan Komandan Telik Sandi Adiwiyata, diangkat menjadi Komandan Jenderal Pasukan Khusus Grup Dua, yang bertanggung jawab langsung kepada Jenderal Arya, yang kini telah diangkat menjadi Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban, Pangkopkamtib.


Arya sendiri, ada rencana ingin menambah kekuatan pasukan burung rajawalinya, untuk memperkuat pasukan tempur udaranya. Maka dari itu, dia berniat mengunjungi gurunya di hutan larangan, sekalian mampir ketempat kelahirannya.


Seluruh keamanan di wilayah kerajaan, hingga kerajaan bawahan, dikendalikan oleh Panglima Arya, sebagai Panglima Kopkamtib.


Tak ayal lagi, kesibukan Arya pun terus bertambah. Terutama dengan masalah gangguan keamanan dari gerombolan bandit. Dalam setiap perjalanan berpatroli, gangguan keamanan kerap kali ditemukan. Arya dan pasukannya tak segan-segan membantainya.


Seperti dalam perjalanan saat ini, semua kekuatan pasukan dikerahkan untuk menumpas ribuan gerombolan bandit, dan aliran hitam dikawasan Utara.


Duar.... Duar..... Bom.....


Tiba-tiba ledakan keras terdengar. Para prajurit yang berada di atas burung rajawali terkejut.


Arya segera mengarahkan burung rajawalinya menuju ketempat ledakan tersebut. Tampak ratusan orang sedang bertarung.


Arya mengamati pertarungan dari punggung rajawalinya. "Tangkap mereka semuanya," perintah Arya, kepada pasukannya setelah memastikan, yang bertarung itu adalah gerombolan bandit.


Segera pasukan pemanah menarik busurnya. Panah-panah beracun pun melesat terbang, seperti hujan kearah gerombolan itu.


Duar.... Bom.... Bom.....


Kekacauan benar-benar mengaduk-aduk tempat itu, sehingga pertempuran semakin seru.


Ledakan demi ledakan, terus bersahut-sahutan, bergema kesegala arah. Prajurit khusus kerajaan, terus menyerang lawan dengan semangat.


Arya bertarung dengan hebatnya. Pukulan dan terjangannya, menyebabkan ledakan keras. Duar.... Duar.... Melemparkan para bandit beberapa ratus meter, hingga menabrak beberapa pohon besar.


Sudah beberapa jurus berlalu, Arya masih belum mengeluarkan jurus intinya. Dia masih memakai jurus-jurus tingkat menengah. Hanya sesekali menyerang, selebihnya masih bertahan.


Para prajurit melihat pertarungan Arya, dibuat geregetan. Bagaimana tidak, Arya masih bermain-main, belum sepenuhnya serius. Dia belum mengeluarkan jurus-jurusnya yang mematikan. Hanya sesekali saja menyerang.


Walaupun hanya sekali menyerang, tapi mampu menghancurkan tubuh lawan-lawannya, hingga musnah menjadi abu.


Dan jurus pertahanannya, sangat kuat sekali. Tidak mudah untuk diterobos oleh musuh-musuhnya, walau dikeroyok oleh ratusan orang, dia belum merasakan terdesak, atau lelah. Dia masih kuat untuk bertahan.


Puluhan jurus terlewati, kini Arya ingin mempergunakan jurus Dewa Rajawali Mengunci Lawan. Karena sudah saatnya dia menggunakan jurus-jurus inti dari Rajawali Sakti.


"Sudah cukup bermainnya. Sekarang bersiaplah kalian!" Seru Arya, sambil mengeluarkan teknik jurus Dewa Rajawali Mengunci Lawan, untuk mengunci mereka semuanya.


Dalam hitungan detik, mereka semua tidak bergerak. Seolah sudah menjadi patung hidup. Tidak berdaya sama sekali, tidak dapat berbicara, hanya bisa mendengar dan matanya berkedip-kedip, melirik ke kanan dan ke kiri.


Benar-benar sudah terkunci sama sekali. Walaupun ranah mereka tinggi, namun menghadapi teknik jurus Dewa Rajawali Mengunci Lawan, benar-benar satu pun tidak ada yang lolos.


Serangan Arya ini, sudah melemahkan mental mereka. Setidaknya, hal itu merupakan cambuk bagi mereka. Agar mereka tidak berbuat jahat lagi di wilayah Kerajaan Daha.


Komandan Jenderal Pasukan Khusus Grup Dua, Jenderal Adiwiyata, tersenyum sambil menyemangati pasukannya, untuk mencegah sisa-sisa kelompok bandit yang hendak melarikan diri.


"Mau pada lari kemana kalian," teriak komandan Prajurit, sambil menerjangnya.


Pertarungan pun berlangsung seru, antara para prajurit dengan kelompok bandit.


Melihat hal itu, pemimpin gerombolan bandit menjadi geram. Namun Arya segera mengunci pemimpin bandit, dengan teknik jurus Dewa Rajawali Mengunci Lawan.


"Argh...., Bajingan kau!" Teriak batinnya marah, sambil menatap Arya.


Walau marah, namun pemimpin bandit itu, tidak dapat berbuat apa-apa. Hanya ngedumel didalam hatinya.


"Hahaha..... Ini sangat menyenangkan sekali," ucap Arya tersenyum, sambil menatap pemimpin bandit dan anggotanya, yang sudah menjadi patung hidup.


"Sungguh kekuatan yang luar biasa." Para prajurit memujinya.


"Argh... Mundur!" Teriak wakil pemimpin bandit, kepada anggotanya yang masih hidup.


Dari enam ratus anggota bandit, kini hanya tersisa empat puluh orang, setelah terkunci oleh jurus Dewa Rajawali Mengunci Lawan.


"Serang terus, jangan biarkan lolos!" Teriak Arya, memberi perintah kepada pasukannya.

__ADS_1


Para prajurit pasukan Arya, terus mengejar musuh-musuhnya yang hendak kabur. Sambil mengejar, pasukannya terus membantai mereka, satu orang pun tidak ada yang selamat dari kejarannya.


Setelah cukup jauh mengejar gerombolan bandit, pasukannya kembali ketempat semula.


"Baiklah, kalian urus mereka yang sudah menjadi patung hidup itu, berikan kesempatan satu kali, jika mereka kedapatan masih melakukan kejahatannya, jangan kasih ampunan lagi," ucap Arya, memberi toleransi pada mereka.


"Baik, Panglima," sahut prajurit bersamaan.


"Jenderal Adiwiyata, kita istirahat dulu sejenak. Baru nanti, setelah memberikan hukuman pada bandit-bandit itu, kita melanjutkan perjalanan lagi," ucap Arya.


"Hukuman apa sekiranya yang cocok pada mereka?" Tanya Adiwiyata penasaran.


"Turunkan ranah kultivasinya tiga tahap, agar mereka jera. Tapi kalau kedapatan berbuat jahat lagi, hancurkan kultivasinya," jawab Arya.


Setelah menurunkan kultivasi para bandit tiga tahap, menjadi Pendekar Raja, baru dia membebaskannya.


Para bandit pun berlarian meninggalkan tempat itu, mereka takut berlama-lama dihadapan Arya, kalau-kalau dia berubah pikiran. Akhirnya mereka pun mengambil langkah jurus seribu.


Sedangkan para prajurit memulihkan kekuatannya. Setelah beberapa menit kemudian, kekuatannya kembali pulih.


"Ayo, kita lanjutkan perjalanan kearah hutan larangan," ucap Arya, mengajak pasukannya.


Mereka tiba disebuah gubuk tua, didalam hutan larangan. Lalu Arya dan pasukannya melesat turun dari punggung rajawali, menuju ke gubuk tua itu.


"Salam Paman Guru," hormat Arya, berlutut dihadapan gurunya.


Lalu keduanya masuk kedalam gubuk. Hanya Arya seorang yang diperbolehkan masuk kedalam gubuk. Sedangkan yang lainnya menunggu diluar.


Enam jam berlalu, tampak Arya keluar dari dalam gubuk bersama gurunya.


"Nak Arya, coba lihat ke atas," tunjuk kakek gurunya kearah langit.


"i.... itu," Arya gugup melihat rombongan lima belas burung rajawali raksasa, melayang di atasnya.


"Hahaha.... Iya.... Iya, ke lima belas rajawali itu untuk membantu tugasmu," ucap gurunya tertawa.


"Terimakasih Kakek Guru," Arya berlutut, mengucapkan terimakasih pada gurunya karena senang.


Arya dengan mudah mengendalikan burung rajawali itu, setelah adanya kontrak darah, sehingga sangat mendukung sekali dalam membantu menjaga keamanan dan ketertiban kerajaan.


________________


Akhirnya pasukan tujuh belas burung rajawali raksasa, tiba disebuah perkampungan. Tidak jauh dari hutan larangan. Perkampungan tersebut merupakan tempat kelahiran Arya.


Kedatangan pasukan rajawali, yang dipimpin Panglima Arya, membuat seluruh penduduk kampung terkejut. Apalagi Arya mengenakan seragam Panglima Kerajaan, mereka semua sudah tidak mengenalinya lagi.


Dihalaman sebuah rumah besar tetua kampung, pasukan rajawali mendarat. Lalu Arya dan sejumlah pasukannya turun dari punggung rajawali, menuju sebuah rumah besar milik tetua kampung.


Arya beserta pasukannya, disambut oleh tetua kampung dan warganya, yang sudah tidak mengenal Arya lagi.


"Salam Panglima, kami tidak menyangka akan kedatangan pembesar kerajaan," sambut tetua kampung, berlutut dihadapan Arya, diikuti oleh warganya.


"Berdiri tetua, salam tetua aku terima," ucap Arya tersenyum.


"Ayo masuk Panglima," ajak tetua kampung, pada Panglima dan pasukannya menuju aula, di rumah besar itu.


Setelah mereka duduk di kursi aula, Arya segera membuka identitas dirinya. Semua warga yang berada di aula terkejut, dan kagum atas prestasi yang diraih Arya, yang dulu diusir oleh mereka.


"I.... Ini.... Benarkah nak Arya itu, yang dulu diasuh oleh Pak Misdjan almarhum," ucap gugup tetua kampung, membuat Arya terperangah terkejut.


"Diasuh!?" Seru Arya, penuh tanda tanya, sambil menatap tajam tetua kampung.


Tetua kampung yang ditatap begitu, merasa ngeri melihat sorot mata Arya, bagaikan sebilah pedang menusuk jantungnya. Dia merasakan tatapan mata Arya mengandung kekuatan mistis, sehingga tubuh tetua kampung gemetar.


"Ma maafkan ka kami..., Nak Arya," ucap ketakutan tetua kampung.


"Katakan yang sebenarnya Tetua, ada apa ini?" Tanya Arya, terus menatap Tetua Kampung.


"Baik Panglima."


"Tidak usah sungkan. Panggil saja aku dengan nama!"


"Ta... tapi Panglima, eh nak Arya.... I... ini. Nak Arya ini..." Tak kebas tetua kampung berucap, karena jiwa dan hatinya bergetar.

__ADS_1


"Tetua kampung, anggap saja aku ini anak mu. Karena hanya tetua kampunglah, yang dulu selalu membantu dan memperhatikanku," ucap Arya, menarik kembali aura mistis tatapan matanya.


"Baik nak Arya. Terimakasih sudah menganggap ku sebagai orang tua."


Keadaan Tetua Kampung, sekarang sudah mulai tenang. Tidak merasa tertindas lagi oleh sorotan tajam mata Arya.


"Coba ceritakan sejujurnya. Tidak usah ada yang ditutup-tutupi," ucap Arya.


Kemudian Tetua Kampung menceritakan secara terperinci, dari awal dititipi seorang bayi laki-laki dari Prabu Widjaya Suryamanggala, Raja Kerajaan Daha yang digulingkan oleh adiknya, sekitar sembilan belas tahun lalu.


Prabu Widjaya menitipkan bayi cucunya, karena keadaan waktu itu, sangat berkcamuk dan kacau balau, dirinya dikudeta oleh adiknya kandungnya sendiri, Wikarta Suryamanggala, yang sekarang cucunya berkuasa memegang tampuk pimpinan Kerajaan Daha, Jayanagara Suryamanggala.


Demi menyelamatkan harta satu-satunya, yaitu cucunya yang bernama asli Raden Arya Widjaya Kusumah, sebagai calon penguasa. Maka keberadaannya sangat dirahasiakan, dengan menyamarkan identitas diri cucunya. Dan dititipkan untuk diasuh oleh Pak Misdjan, dengan disaksikan oleh Tetua Kampung. Namun keduanya tidak diperkenankan untuk membuka mulut, makanya kerahasiaannya tetap terjaga.


"Sekarang sudah saatnya nak Arya mengetahui kebenarannya, dan satu hal lagi.... Tunggu sebentar nak Arya," tak kebat dia berucap, keburu masuk menuju ke kamarnya, untuk mengambil sesuatu.


Kemudian dia menghampiri Arya, sambil menyerahkan sebuah kotak dari kayu jati, yang diukir dan dibungkus oleh kain merah.


"Nah, ini nak Arya. Titipan dari Prabu Widjaya." Tetua Kampung menyerahkan bungkusan tersebut.


Lalu Arya membuka isi kotak itu, dia mengamati seluruh isinya. Satu persatu diperiksanya. Ketika dia melihat cincin penyimpanan dan kalung giok tingkat dewa, diraihnya kemudian meneteskan darahnya ke cincin penyimpanan itu. Mata Arya terbelalak, terkejut melihat isi dari cincin penyimpanan tersebut.


Didalam cincin penyimpanan, bertumpuk koin emas, sekitar milyaran koin emas dan koin platinum, tersusun rapi. Cukup untuk membangun sebuah negara besar.


Ada sebuah pusaka sejenis Trisula. Trisula itu memancarkan tiga cahaya biru, merah dan kuning keemasan. Pada Trisula ada tulisan melambangkan Kerajaan Daha, karena itu memang Pusaka Kerajaan. Dan barangsiapa yang memiliki Pusaka Kerajaan, dan mengenakan kalung giok liontin Raja Kerajaan Daha, maka dialah penguasa sah kerajaan tersebut.


Banda itu sekarang berada ditangan Arya, yang menandakan dirinya benar-benar sebagai pewaris asli Kerajaan Daha. Lalu Arya meraih pusaka kerajaan itu, dan memakai kalung giok liontin dihadapan pasukan dan warga kampung.


Tiba-tiba semua pasukannya, beserta tetua dan warga kampung, berlutut memberi hormat. "Hormat kepada Penguasa Kerajaan Daha!" Seru mereka, sambil berlutut dihadapan Arya.


Arya sendiri merasa bingung dengan kejadian seperti ini. Dia berniat ingin menanyakan langsung kepada Kakek Guru Widjaya. Karena batin Arya, merasa hal ini ada hubungannya dengan kakek gurunya.


Arya tersenyum, sambil meminta semuanya bangun dari sikap berlututnya. "Silahkan semuanya bangkit, tidak usah terlalu sungkan."


"Baik Penguasa," ucap mereka serempak.


"Aku minta untuk saat ini, panggil aku dengan sebutan seperti biasa."


"Baik Penguasa, eh Panglima," ucap mereka sedikit gugup.


"Nah, seperti itu. Panggilan itu sudah biasa ditelinga ku," ucap Arya tersenyum.


Arya ingin menguji kesetiaan pasukan, dan warga kampung pada dirinya. Maka dia mengajukan permintaan pada mereka. "Kalau begitu, siapa diantara kalian yang akan membantuku, menumpas keangkara murkaan?"


"Kami siap Panglima!" seru mereka bersamaan.


"Sungguh kalian ingin membantuku?" Tanya Arya lagi.


"Kami bersumpah, sejak saat ini kami mengakui bahwa Panglima adalah Penguasa Kerajaan Daha yang sah. Karena itu, kami bersumpah dengan darah kami, kami akan selalu setia pada Penguasa Kerajaan Daha yang sah. Apapun resikonya, kami siap membantu Penguasa!" Serempak mereka bersumpah.


Duar..... Jeder..... Jeder.....


Suara petir terdengar dari atas langit. Tanda sumpah mereka diterima oleh langit.


Arya tersenyum senang. Lantas dia memerintahkan Jenderal Adiwiyata, untuk menyusun rencananya.


"Mulai hari ini, tugas untuk menggalang kekuatan, aku serahkan kepada Jenderal Adiwiyata."


"Siap Panglima!"


"Kita susun rencana dari sini. Dan untuk Markas Kekuatan Pasukan, akan aku tempatkan di hutan larangan," ucap Arya.


"Baik Panglima," balas mereka serempak.


Beberapa hari kemudian, Arya dan pasukannya sibuk menggalang kekuatan. Sambil berpatroli ke setiap kerajaan bawahan, Arya beserta seluruh pasukannya, terus mengajak raja-raja bawahan untuk bergabung. Gayung pun bersambut, semua kerajaan bawahan bersedia membantu Arya, setelah Arya menjelaskan siapa dirinya. Begitu juga dengan orang-orang yang setia pada kakeknya, Prabu Widjaya, termasuk Panglima Kerajaan dan beberapa menteri.


Dua tahun berlalu, Arya menyusun kekuatannya. Kini sudah saatnya Arya bergerak, untuk merebut kembali tahta Kerajaan Daha dari sepupunya.


Kekuatan pasukan Arya, melebihi kekuatan Jayanagara. Namun Arya tidak ingin terburu-buru menumbangkan Jayanagara. Dia mengatur strategi yang baik dan tepat, hingga tidak banyak korban, baik dari pasukannya, ataupun dari penduduk kota, jika nanti menyerang ke Istana Raja.


"Tunggu waktu yang tepat, hingga aku berhasil merebut kembali kekuasaan itu."


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2