
Di Kantor Prabu Agung, banyak tamu ingin berjumpa langsung dengan Arya setelah Arya menaklukkan dua kelompok pengusaha besar, yang memiliki aset triliunan rupiah.
Para tamu itu, baik dari pengusaha maupun dari petinggi negara, menyatakan dirinya ingin bergabung dengan Arya, karena dengan bergabungnya kedalam Himpunan Pengusaha Asia, setidaknya mereka akan kecipratan proyek-proyek di Daratan Asia.
Lukman Atmadja ditemani oleh Danu Soedirdja, Hendra Saputra, George Clooney dan Suci Oktavia, menerima para tamu-tamu itu, karena mereka tidak bisa bertemu langsung dengan Arya, sebelum mereka membuat janji terlebih dahulu.
"Silahkan bapak-bapak dan ibu-ibu, jika ingin bertemu dengan Tuan Muda, harap membuat janji terlebih dahulu. Nanti biar Ibu Suci Oktavia, yang mengatur jadwalnya," ucap Lukman Atmadja, menatap Suci yang turut menemani mereka.
Suci mengerti apa yang diucapkan oleh Lukman Atmadja, dia menganggukkan kepalanya, tanda setuju dengan ucapan temannya itu.
"Benar apa yang dikatakan oleh Pak Lukman, Tuan Muda sulit untuk ditemui, sebelum membuat perjanjian dulu dengannya, karena beliau selalu berada diluar negeri. Jarang berada di Jakarta," ucap Suci, sedikit berbohong.
"Baiklah, bapak-bapak dan ibu-ibu, nanti akan aku kabari jika Tuan Muda berada di Jakarta, dan siap untuk menerima kalian semua," sambung Lukman Atmadja.
"Baiklah, kami menunggu kabar selanjutnya," ucap mereka sedikit kecewa, karena tidak bisa bertemu dengan Arya.
"Tuan Muda pergi kemana ya,?" Tanya Suci bingung, karena dirumahnya juga tidak ada.
"Lah, kamu yang menjadi sekretaris pribadinya juga tidak tau! Apalagi aku yang jarang bertemu dengan, Tuan Muda," ucap Lukman, yang sama-sama bingung, karena Arya tidak bisa dihubungi.
Sementara, ada satu kelompok yang merasa lebih kuat dari Arya, karena mereka memiliki kekuatan yang diberikan oleh iblis. Dan mereka tidak segan-segannya menindas yang lemah, bahkan memperalat yang lemah demi kepentingan pribadinya.
Kelompok mereka adalah kelompok Bagaspati, sebuah organisasi yang melindungi para pengusaha yang menghalalkan segala cara, yang bergerak secara ilegal seperti menguasai pasar gelap, black market, menyelundupkan barang-barang yang dilarang oleh negara, perdagangan gelap Internasional dan sebagainya.
Kelompok Bagaspati menantang pemilik Prabu Agung, tantangan itu disampaikan langsung oleh petinggi Bagaspati, dan diterima oleh Lukman Atmadja.
Dalam tantangannya, mereka meminta Arya datang ke Bukit Burangrang, dua hari kedepan, untuk menentukan siapa yang paling kuat dan paling berkuasa. Jika Arya kalah, maka seluruh aset Prabu Agung akan dikuasai oleh kelompok Bagaspati. Begitu juga sebaliknya, jika Bagaspati kalah, seluruh aset Bagaspati akan menjadi milik Arya.
Surat tantangan itu oleh Lukman diserahkan kepada Suci Oktavia, tinggal menunggu Arya kembali ke rumahnya.
Sedangkan Arya, setelah menaklukkan Cokro Soediro bersama antek-anteknya, dia tidak langsung kembali ke rumahnya. Dia berkeliling dulu keberbagai tempat, ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di Alam Bumi ini, apalagi menyangkut pengusaha dan petinggi negara, yang selalu bersekutu dengan para iblis, demi meraih apa yang dia inginkan.
Akhirnya, Arya bertemu dengan pasukan pengawal Penguasa Agung kelima, yang sama-sama dilemparkan ke Alam Bumi ini, dan dia juga bertemu dengan Ratu Penguasa Pantai Selatan, yang bersahabat dengan Komandan Pengawal Penguasa Agung kelima.
Selagi Arya hendak berpetualang sendiri, dia bertemu dengan seorang pemuda dan adiknya, yang begitu gigih memperjuangkan hidupnya, dengan mengolah gula aren, dan menjajakannya keliling desa. Mereka selalu bersemangat, tanpa mengenal lelah menjalani liku-liku kehidupan.
Arya mengajak kedua kakak beradik itu ke rumahnya, untuk dilatih agar menjadi kuat dan hebat.
"Sebentar lagi kita sampai," ucap Arya, dengan menumpang sebuah mobil bak terbuka, yang disewanya dari Pasir Datar, menuju ke rumahnya.
Arya dan kedua kakak beradik itu, duduk dibelakang mobil bak terbuka, ingin merasakan lagi hidup susah, sewaktu dia masih kecil, hidupnya selalu ditindas oleh yang lebih kuat.
"Ternyata asyik juga ya, hidup seperti ini. Seperti tidak memiliki beban yang berat," ucap Arya lagi.
"Apanya yang asyik, Kang...?" Tanya Wardi merasa bingung.
Panji tersenyum, melihat saudara angkatnya kebingungan.
"Iya... Bagiku, hidup seperti ini memang asyik, bisa merasakan bagaimana ketika kita lagi susah. Dan setelah kita berhasil, jangan melupakan darimana kita berasal. Apalagi kejam dan menindas orang-orang yang lemah, yang semestinya kita bantu dan lindungi," ucap Arya panjang lebar.
__ADS_1
"Benar juga ya, Kang," balas Wardi, mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti.
Tidak terasa, mobil bak terbuka yang ditumpanginya, sudah sampai didepan rumahnya. Supir mobil bak membunyikan klakson mobilnya berkali-kali, tampak pintu gerbang perlahan terbuka. Seorang penjaga keluar menghampiri supir mobil bak, hendak menegur supir yang berkali-kali membunyikan klakson mobilnya.
"Mau apa kamu mehampiri supir, ayo cepat buka pintunya!" Perintah Arya, menghardik penjaga rumahnya.
"Oh, Tu... Tuan Muda. Maafkan aku, aku tidak tau Tuan Muda ada dibelakang mobil bak terbuka ini," jawab penjaga rumah Arya, penuh keheranan.
"Cepat buka pintunya!" Seru Arya.
"Baik, Tuan Muda," balasnya sigap.
Mobil bak terbuka itupun masuk kedalam halaman rumah Arya, semua bawahan Arya, yang tengah berada ditempat itu, terkejut melihat Arya loncat dari belakang mobil bak terbuka, menghampiri bawahannya yang tengah berada di taman halaman depan.
Begitu juga dengan Wardi dan Warsih, keduanya takjub melihat rumah mewah yang besar dan megah. Apalagi melihat kedalamnya, baru kali ini mereka masuk ke rumah mewah.
"Kenapa kalian, apa ada yang aneh?" Tanya Arya, menatap mereka.
"Tidak, Tuan Muda. Hanya saja kami semua kaget, karena Tuan Muda menumpang mobil bak terbuka, dan duduk dibelakang," ucap salah seorang dari mereka, mewakili semua bawahan Arya, yang sama-sama menyimpan rasa heran terhadap tuannya.
"Memangnya kenapa, kalau aku menumpang mobil bak terbuka?" Tanya Arya pada mereka.
"Tidak kenapa-napa Tuan, hanya heran saja. Biasanya kan Tuan Muda kan terbang," ucap bawahan Arya merasa heran.
Dari arah belakang mobil bak, Wardi dan Warsih masih diatasnya, terbengong melihat kemegahan rumah Arya.
Keduanya baru sadar, setelah Arya menegurnya. Keduanya pun turun dari mobil bak terbuka, dan menghampiri Arya.
"Kalian semua berkumpul, dan kenalkan ini saudara angkatku, namanya Wardi dan Warsih," ucap Arya, memperkenalkan keduanya, setelah semuanya berkumpul didekat Arya.
Semua bawahan Arya, satu persatu saling memperkenalkan dirinya, semuanya baik dan ramah. Karena Arya mendidik semua bawahannya, selain dengan kekuatan, tetapi juga menerapkan etika pergaulan yang santun dan ramah, sehingga semua bawahan Arya, tidak ada yang sombong, kalau tidak duluan dicubit, mereka juga tidak akan mencubit.
Dari dalam rumah, seorang penjaga menghampiri Arya, menyerahkan surat tantangan dari kelompok Bagaspati.
"Bagaspati!" Seru Arya dalam batinnya, setelah membaca kop surat itu.
"Dari siapa kamu menerima surat ini?" Tanya Arya, menatap penjaga rumahnya.
"Dari Ibu Suci, Tuan... Ibu suci sudah beberapa kali kemari, ingin bertemu dengan, Tuan Muda," jelas penjaga itu, menuturkan kepada Arya, bahwa ibu Suci kedatangan beberapa pengusaha dan pejabat negara, yang ingin bergabung dengan Arya. Dan ibu Suci juga menerima surat tantangan dari kelompok Bagaspati, yang ingin menguasai seluruh aset-asetnya.
Arya hanya menganggukkan kepalanya, dia mengerti atas kekhawatiran semua bawahannya, jika dia lama tidak kembali, tentunya semua permasalahan akan bertambah runyam. Karena tidak ada yang mampu menangani suatu permasalahan yang besar, dengan menggunakan kekuatan besar pula.
"Baiklah, kalian tetap bertugas seperti biasa. Urusan dengan kelompok Bagaspati, biar aku yang mengurusnya," ujar Arya, sambil berlalu meninggalkan semuanya bawahannya, memasuki rumah diikuti oleh Wardi dan Warsih.
Dua hari berjalan, adalah batas waktu yang ditentukan oleh kelompok Bagaspati, untuk menantang Arya di Bukit Burangrang.
Arya mengeluarkan semua bawahannya dari dalam dunia jiwanya, dibagi menjadi beberapa kelompok, kelompok pertama sepuluh orang ikut dengan Arya ke Bukit Burangrang, kelompok kedua dua puluh orang menjaga rumah Arya, kelompok ketiga dua puluh orang menjaga kantor Prabu Agung, dan enam puluh orang sisanya, dipimpin oleh Komandan Pengawal Penguasa Agung kelima, menjaga seluruh aset-aset milik Arya, seperti menjaga semua proyek-proyek yang dikerjakan oleh PT Prabu Agung, perdagangan, hotel dan restoran milik Arya.
Setelah membagi tugas, Arya langsung melesat terbang menembus awan, diikuti oleh sepuluh bawahannya. Dia bersama bawahannya terus melesat menuju kearah Bukit Burangrang, dengan kecepatan tinggi, sehingga tidak memerlukan banyak waktu, kurang dari satu jam sudah tiba di atas langit Bukit Burangrang.
__ADS_1
Dari atas langit, Arya memantau situasi disekitar Bukit Burangrang, tampak dari kejauhan, dia melihat pasukan iblis yang mengikuti pimpinan kelompok Bagaspati, tengah menaiki bukit Burangrang.
Arya dengan sengaja menghadang mereka, melayang terbang di atas Bukit Burangrang, untuk menunjukkan kepada pasukan iblis, siapa Arya yang sebenarnya. Karena yang namanya pasukan iblis, bagi Arya, sudah tidak ada kata ampunan lagi.
Kelompok Bagaspati yang diikuti oleh pasukan iblis, heran melihat ada sebelas orang melayang di atas bukit. Karena, baru pertama kali ini, mereka melihat ada yang bisa terbang.
Begitu juga dengan pasukan iblis, mereka terkejut karena dalam diri Arya, terlihat adanya tanda Penguasa Agung Seluruh Alam. Mereka mampu melihat keberadaan Arya yang sebenarnya, karena Arya sendiri sengaja tidak menyembunyikan dirinya di mata iblis, agar semua prajurit iblis mengetahuinya, sedang berhadapan dengan siapa mereka semuanya.
"Berhenti kalian disana!" Seru Arya, dari atas udara. "Siapa diantara kalian yang bernama Bagaspati?" Tambahnya, bertanya kepada kelompok Bagaspati.
"Siapa kalian sebenarnya? Kenapa kalian semuanya bisa terbang?" Tanya pemimpin Bagaspati merasa heran, karena di Alam Bumi ini, tidak ada manusia yang bisa terbang.
"Siapa aku kamu tidak perlu tau. Yang aku inginkan adalah pemimpin kalian yang bernama Bagaspati," jawab Arya, yang langsung mengeluarkan jurus Dewa Rajawali Mengunci Lawan, untuk menghentikan gerakan pasukan iblis.
Begitu pasukan iblis sudah menjadi patung, Arya mengeluarkan rantai baja, untuk melilit sekujur tubuh para anggota pasukan iblis.
Arya hanya menyisakan pemimpin Bagaspati, dan para petingginya.
"Lihat oleh kalian, seluruh pasukan iblis sudah tidak berdaya, aku hanya menyisakan kalian yang berani menantang ku. Sampai sehebat apa diri kalian, beraninya mengusikku," ucap Arya, ditujukan kepada mereka.
Arya dan sepuluh bawahannya turun menghampiri kelompok Bagaspati, mereka ingin membuat kelompok Bagaspati jadi pecundang. Makanya Arya langsung mengeluarkan jurus pukulan jarak jauhnya, yang dihantamkan ke batu besar di atas Bukit Burangrang, hingga batu itu hancur berkeping-keping.
Duarr.... Duarr.... Duarr....
Terdengar beberapa kali ledakan di atas Bukit Burangrang, yang ditimbulkan dari pukulan Cakar Rajawali, membuat disekitar bukit hancur porak poranda.
Melihat adegan seperti itu, kelompok Bagaspati ciut nyalinya. Mereka jiwanya bergetar ketakutan, namun pemimpin kelompok Bagaspati, yang bergelar Bagaspati, memberanikan diri untuk menjaga wibawanya sebagai pemimpin kelompok.
Dia akhirnya maju merangsek langsung menerjang Arya, dengan sebilah golok ditangannya, dipadukan dengan jurus yang bernama Bagaspati Menyambar Maut.
Arya hanya tersenyum melihat tingkah pemimpin kelompok Bagaspati, dia sedikitpun tidak bergeser dari tempatnya, malah menadahnya dengan kekuatan dua puluh persen.
Duarr.... Duarr....
Dua kekuatan beradu, hingga golok dan tangan Bagaspati patah, Bagaspati terlempar kebelakangnya beberapa ratus meter.
"Bawa mereka semua ketempat rahasia," perintah Arya, kepada bawahannya.
"Baik, Tuan Muda," balas bawahan Arya.
"Dan seluruh pasukan iblis penjarakan diruangan rahasia, jangan dilepas sebelum Raja Iblis di Alam Bumi ini muncul," ucap Arya.
"Siap, Tuan Muda," balasnya lagi, sambil bergerak cepat.
Arya tidak menunggu waktu lagi, dia langsung melesat menyisir tempat-tempat tertentu, yang sekiranya dihuni oleh pasukan-pasukan iblis di Alam Bumi.
Dia berniat ingin membersihkan alam ini dari rongrongan pasukan iblis, maka dia tidak akan berhenti untuk mengejarnya, agar manusia di Alam Bumi ini, tidak bersekutu lagi dengan para iblis, yang selalu menghalalkan segala cara demi kepentingan pribadinya.
Bersambung......
__ADS_1