
Sepanjang jalan Ibukota Dewa Bintang Timur, sangat ramai oleh para pengunjung, yang datang dari berbagai daerah, terutama para kultivator bebas, yang sengaja datang ke ibukota, hanya sekedar untuk jalan-jalan dan berbelanja.
Seperti halnya dengan Arya dan Nawang, keduanya menuju kesebuah toko pakaian, untuk membeli beberapa potong pakaian wanita, untuk Nawangsari.
Tampak Arya menggandeng tangan Nawangsari, memasuki ke toko busana Indah, yang khusus menjual pakaian berkelas, dengan harga selangit. Maka para pengunjungnya, rata-rata dari kalangan orang-orang berada.
Didalam toko, hanya ada beberapa pengunjung, yang terdiri dari keluarga bangsawan, dan dari keluarga para petinggi ibukota.
Empat pelayan wanita, yang berdiri didepan pintu masuk, dengan sigap dan ramah menyambut para pengunjungnya.
"Selamat datang di toko Busana Indah...! Apakah ada yang bisa kami bantu," ucap salah seorang pelayan wanita ramah, menyambut kedatangan Arya dan Nawangsari.
"Kami mau cari pakaian yang pas dan cocok, buat adikku ini" ucap Arya, menunjuk Nawangsari.
"Mari Tuan, Nona, aku tunjukkan tempatnya?" Seru pelayan wanita, mengajak Arya dan Nawang, ketempat khusus pakaian wanita.
Keduanya mengikutinya dari belakang, menuju ketempat khusus busana untuk wanita.
"Nah, ini tempat pakaian untuk wanita," ucap pelayan wanita, menunjukkan kepada Arya dan Nawangsari.
"Adik Nawang, pilihlah yang pas dan cocok buatmu," sambung Arya.
"Terimakasih, Kak," balas Nawangsari, langsung memilih pakaian yang pas dan cocok untuk dirinya.
Dia dibantu oleh Arya, untuk memilih pakaian yang sekiranya pas dan cocok. Arya memilih lima belas potong pakaian wanita, dan memberikannya kepada Nawangsari.
"Coba ini, pas tidak untukmu!" Seru Arya.
"Ini kebanyakan, Kak!" Balas Nawangsari.
"Ambillah sekiranya pas untukmu," ucap Arya.
Nawangsari membawa lima belas potong pakaian, yang telah dipilih oleh Arya, digabungkan dengan sepuluh potong pakaian pilihannya sendiri, dibawa kesebuah kamar pas, untuk mencoba semuanya.
Arya memborong pakaian wanita untuk Nawangsari, karena dia tau, Nawangsari tidak membawa sehelai pakaian ganti.
Semuanya pas dan cocok dengan ukuran tubuh Nawang, yang seksi dan ramping. Lalu Nawang menyerahkan kepada pelayan wanita, untuk dikemasi dan dibawa ketempat kasir.
"Ini Tuan, semuanya dua ratus ribu koin emas," ucap pelayan wanita, sambil menyerahkan pakaiannya kepada Arya dan Nawangsari.
Arya mengeluarkan dua kantong koin emas, yang isinya dua ratus ribu lima puluh koin emas, dan menyerahkannya kepada kasir.
"Ini uangnya," balas Arya, menyerahkan dua kantong koin emas.
"Ini kelebihan, Tuan Muda," ucap kasir toko Busana Indah.
"Selebihnya ambil, untuk pelayan yang tadi menemani kami," balas Arya.
"Terimakasih, Tuan Muda!" Seru kasir toko Busana Indah, senang menerima tip dari Arya, untuk dibagikan kepada pelayan wanita, yang menemani Arya dan Nawangsari.
Arya memasukannya kedalam cincin penyimpanan tingkat Dewa, dan menyerahkannya kepada Nawangsari.
__ADS_1
"Ini pakai, semuanya sudah ada didalam, termasuk ribuan koin emas, untuk belanja nanti," ucap Arya, menyerahkan kepada Nawangsari.
"Terimakasih, Kak!" Seru Nawang, senang menerima pemberian dari Arya. Hatinya berbunga-bunga, karena baru kali ini, dia menerima pemberian dari seorang pria yang hebat dan baik.
Keduanya keluar dari toko busana, dan berjalan kaki menyusuri sepanjang jalan kota, untuk mencari sebuah rumah makan. Namun ditengah perjalanan, Arya dan Nawangsari dihadang oleh ratusan prajurit ibukota, yang ranahnya rata-rata berada ditingkat Great Imortal Bintang Delapan tahap puncak, dan Komandannya berada ditingkat Great Imortal Bintang Sembilan tahap awal.
Nawangsari berlindung dibalik tubuh Arya, dia merasa ketakutan.
"Tenang, Adik Nawang. Tidak usah takut, mereka semua hanya sampah dihadapan ku," bisik Arya, didekat telinga Nawangsari.
Komandan prajurit ibukota menghampiri Arya, dengan sorot matanya yang kejam, seakan ingin menerkam mangsanya.
"Kalian berdua menyerahlah, sebelum kami bertindak tegas!" Seru komandan prajurit ibukota, menindas Arya dan Nawangsari, dengan aura kekuatannya.
Arya menahan aura kekuatan komandan prajurit ibukota, untuk melindungi Nawang, agar tidak terpengaruh oleh penindasan aura kekuatan yang dikeluarkan oleh komandan prajurit.
"Apakah kalian semua ingin merasakan, bagaimana rasanya ditindas," balas Arya, sambil mengeluarkan aura kekuatan ranahnya, untuk menindas balik komandan ibukota, berikut ratusan prajuritnya.
Ratusan prajurit Ibukota bersama komandannya, langsung jatuh tersungkur. Mengeluarkan cairan merah dari mulut, hidung dan telinga.
Dengan gerakan cepat, yang tidak dapat dilihat oleh mata manusia biasa. Arya memukul dantian mereka, hingga mengaduh menahan rasa sakit dibawah perutnya.
"Bagaimana sekarang, apakah kalian masih mampu, untuk melindungi orang-orang yang berbuat kejahatan?" Tanya Arya, kepada komandan prajurit ibukota, setelah kekuatannya dimusnahkan oleh Arya. "Sampaikan kepada pemimpin ibukota, janganlah menyinggung orang lain, jika tidak ingin disinggung kembali," tambah Arya.
Komandan prajurit tidak bicara, dia meringis menahan rasa sakit dibawah perutnya, sambil berusaha untuk berdiri.
"Silahkan kalian pergi dari hadapanku, sampaikan kepada Tuan Kota, jika Tuan kalian masih penasaran. Aku tunggu di kota ini," ucap Arya, menyuruh mereka pergi.
"Tenanglah, Adik Nawang. Kamu akan aman bersamaku," ucap Arya, menenangkan hati Nawangsari.
Kemudian keduanya kembali melanjutkan perjalanannya, mencari sebuah rumah makan. Keduanya menyusuri jalanan ibukota, sambil melihat-lihat dagangan yang digelar disepanjang jalan.
"Adik Nawang, apakah ada yang perlu dibeli lagi?" Tanya Arya
"Tidak, Kak. Segini juga sudah cukup," balas Nawangsari, menggenggam tangan Arya.
"Itu didepan ada rumah makan mewah," ucap Arya, menunjuk kearah sebuah rumah makan mewah bertingkat. "Ayo kita kesana," tambahnya.
"Baik, Kak," sahut Nawangsari.
Keduanya lekas berjalan menuju kearah rumah makan mewah, sambil bergandengan tangan mesra sekali.
Siapa yang tidak mau wanitanya, jika berdekatan dengan seorang pria yang hebat, gagah dan baik hati, yang telah membuat hatinya berbunga-bunga. Begitu pula sebaliknya, siapa yang tidak senang, bila berdekatan dengan seorang gadis cantik dan seksi seperti Nawangsari.
Keduanya sudah berada didepan rumah makan mewah, lalu memasukinya untuk memesan makanan dan minuman.
"Selamat datang, Tuan dan Nona, di rumah makan Teratai Biru. Apakah ada bisa kami bantu?" Tanya salah seorang wanita pelayan ramah makan, menyambut Arya dan Nawangsari.
"Apakah ada ruangan khusus di rumah makan ini?" Jawab Arya, balik bertanya.
"Ada, Tuan Muda. Ditingkat empat ada ruangan buat para bangsawan dan tamu khusus. Mari, Tuan dan Nona, kami antar ke atas," jawab pelayan wanita itu.
__ADS_1
Arya dan Nawangsari, mengikuti pelayan wanita dibelakangnya, menaiki anak tangga menuju ke tingkat empat.
"Disini tempatnya Tuan," ucap pelayan wanita, setelah tiba dilantai empat. "Silahkan Tuan dan Nona, memilih tempat duduknya," tambahnya.
Arya dan Nawangsari, memilih tempat duduk yang dekat dengan jendela, agar ada hembusan angin yang segar, dan tidak terlalu gerah.
Didalam ruangan rumah makan mewah, sudah ada beberapa kelompok yang tengah menikmati makanan dan minuman. Mereka membicarakan tentang kejadian tadi siang, di Alun-alun dan di jalanan ibukota, yang menimpa anak Tuan Kota dan anak bangsawan, serta ratusan prajurit dan Komandannya, yang dilumpuhkan oleh seorang pemuda kampung, yang tidak memiliki kekuatan sama sekali.
"Pemuda sampah itu menyelamatkan seorang gadis cantik, yang dilecehkan oleh anak Tuan Kota dan anak bangsawan," ucap seorang pria yang berada didalam ruangan.
"Baguslah, karena mereka sering menindas orang-orang yang lemah, dan sering meresahkan warga, mentang-mentang tidak ada yang berani melawannya. Dan sekarang kena karmanya," ucap pria lainnya.
"Benar, itu merupakan sebuah pelajaran bagi mereka yang pada sombong dan selalu berbuat dzalim terhadap yang lain," sambung yang lainnya.
"Iya, tapi anehnya. Kok seorang pemuda yang dibilang sampah, yang tidak memiliki ranah kekuatan kultivasi sama sekali, mampu mengalahkan mereka semua. Apakah mereka seorang kultivator muda yang hebat, yang tengah menyamar," ucap seorang wanita cantik.
"Bisa jadi, dia seorang kultivator ahli yang hebat," sahut pria lainnya.
Obrolan mereka berhenti, ketika melihat seorang pemuda sederhana, yang tidak memiliki ranah kekuatan kultivasi, berjalan dengan seorang wanita cantik, yang memiliki ranah kekuatan.
"Pemuda itu pasti jongosnya," ucap salah seorang kelompok pemuda, yang berada ditempat itu. "Lihat saja, dia sama sekali tidak memiliki kekuatan, lagi pula penampilannya benar-benar seperti seorang jongos. Sedangkan wanitanya sangat cantik sekali, apalagi mengenakan pakaian yang sangat mewah. Serasi dengan tubuhnya yang seksi," tambah pemuda itu.
"Benar dia itu jongosnya. Tidak mungkin dia pacarnya, mana mau seorang wanita cantik memiliki pacar seorang sampah," sambung wanita muda yang berada dalam kelompok itu.
"Biarpun sampah, yang penting kan tampang," ucap pria lainnya.
"Hahaha.... Memangnya ketampanan bisa melindungi diri wanita itu, ketika dia mendapat ancaman dari seseorang," balas pemuda lainnya, tertawa ngakak.
Mereka semua menertawakan Arya, serta menghinanya dengan sebutan sebagai pemuda sampah dan jongos.
Arya hanya tersenyum mendengar ocehan mereka, tenang dan acuh, sambil duduk di kursi meja makan dekat jendela, berhadapan dengan Nawangsari.
Tidak begitu lama, empat pelayan wanita datang membawa pesanan makanan dan minuman termahal di kota ini, hingga membuat para kelompok pemuda dan wanita didalam ruangan, terbelalak matanya, melihat apa yang dipesan Arya, merupakan makanan dan minuman termahal di kota ini.
Empat pelayan wanita itu menyajikan hidangan pesanan Arya, di meja makan dihadapannya.
"Silahkan Tuan dan Nona, dinikmati hidangannya. Jika Tuan dan Nona meminta sesuatu, segera hubungi kami," ucap salah seorang wanita pelayan rumah makan mewah, kepada Arya dengan ramah dan sopan.
Lalu keempat pelayan wanita itu, pergi dari hadapan Arya dan Nawangsari, menuju ketempat semula, ketingkat bawah. Namun keempat wanita pelayan itu dipanggil oleh kelompok pemuda dan pemudi, yang berada tidak jauh dari tempat duduk Arya. Salah seorang pemuda kelompok itu, menanyakan Arya kepada pelayan wanita rumah makan. Siapa Arya yang sebenarnya?
"Dia itu seorang pemuda yang melumpuhkan anak Tuan Kota tadi siang," jelas seorang pelayan wanita sambil berbisik, agar tidak didengar oleh Arya. Padahal Arya dengan jelas mendengar bisikan mereka. Namun dia hanya tersenyum tenang.
Tentu saja, apa yang dikatakan oleh pelayan wanita rumah makan, membuat kelompok pemuda dan pemudi itu terkejut, karena mereka telah menghinanya.
Kelompok pemuda dan pemudi itu, akhirnya cepat-cepat keluar meninggalkan rumah makan mewah, karena ketakutan oleh Arya, yang telah dihinanya.
"Mereka ketakutan atas ulahnya sendiri," bisik Arya kepada Nawang, yang tersenyum melihat tingkah para pemuda dan pemudi itu, yang langsung kabur meninggalkan rumah makan, walaupun mereka belum selesai menikmati makanan dan minumannya.
Arya dan Nawangsari, dengan santai menikmati hidangan makanan dan minuman yang dipesannya, sesekali diselingi dengan obrolan-obrolan yang mengundang tertawa karena lucu, seperti kejadian barusan, ketika para pemuda dan pemudi yang menghina Arya, begitu mendengar penjelasan dari seorang pelayan wanita tentang siapa sebenarnya Arya, mereka langsung kabur ketakutan dan malu, hingga meninggalkan hidangan makanan dan minuman yang belum selesai dinikmati.
Bersambung......
__ADS_1