
Tampak seorang pemuda dengan mengenakan pakaian sederhana, yang terlihat tidak memiliki kekuatan sama sekali, berjalan keluar dari gerbang Negeri Awan Mengambang, bermaksud menuju kearah daratan Benua Timur Alam Dewa Agung, untuk melanjutkan membasmi makhluk-makhluk iblis.
Pemuda itu tak lain adalah Arya, yang selalu menyamar menjadi seorang pemuda sampah, dengan menekan kekuatannya sampai ke titik dasar, sehingga dia selalu direndahkan dan disepelekan.
Kali ini dia melanjutkan perjalanannya kearah timur, terbang dengan kecepatan tinggi di atas awan, sambil mengedarkan pandangan mata malaikatnya, untuk memindai seluruh kawasan dibawahnya.
Terlihat dibawahnya, ada sebuah hutan yang berkabut sangat tebal sekali, menyelimuti seluruh kawasan. Jika hanya menggunakan mata biasa, tidak akan dapat menembus kedalamnya. Namun dengan mata malaikat, Arya dengan mudah dapat melihat kedalam hutan.
Dia melayang di atas hutan seperti burung elang, memindai seluruh kawasan hutan. Ada satu titik yang sangat mencurigakan, disebelah selatan hutan ada jurang yang dalam. Dari dasarnya terpancar aura kekuatan yang sangat dahsyat sekali, hingga dapat dirasakan oleh Arya, yang jauhnya sekitar tiga kilometer dari jurang.
Gegas Arya melesat terbang menuju kearah jurang, menembus kabut yang sangat tebal. Namun sebelum dia sampai di tepi jurang, dia dihadang oleh tiga makhluk raksasa, yang menjaga kawasan jurang.
Tiga makhluk raksasa itu langsung menerjang kearah Arya, tanpa ba-bi-bu lagi. Ketiganya ingin mencengkram tubuhnya. Dia dengan sigap menadah cengkraman tangan lawan-lawannya, dengan kekuatan Sayap Rajawali Membenteng Lawan, hingga tubuh ketiga makhluk itu terpental dan menghilang dari hadapan Arya, muncul kembali menjadi sebuah senjata trisula melayan dihadapan Arya, dan menukik turun ke dasar jurang.
Arya yang penasaran, langsung melesat terbang mengejar senjata trisula, menukik cepat ke dasar jurang yang sangat dalam sekali.
Sebelum Arya mencapai dasar jurang, sekitar sepuluh meter jaraknya, dia tertahan oleh satu kekuatan yang sangat dahsyat. Dia tidak bisa bergerak bebas, ada satu tekanan dari dasar jurang terhadap dirinya.
Arya berusaha membentengi dirinya, dengan kekuatan jurus Sayap Rajawali Sakti tingkat tinggi, agar tidak terpengaruh oleh tekanan kekuatan dari dasar jurang.
"Sungguh luar biasa kekuatannya, hingga membuatku hampir tak berdaya," ucap batin Arya, sambil terus berusaha melawan kekuatan itu.
"Aku harus mampu mengalahkannya," tambah Arya dalam batinnya.
Dengan menahan tekanan yang kuat, dia terus menuruni jurang, sambil mengeluarkan jurus Dewa Rajawali Mengunci Lawan, agar kekuatan itu berhenti. Meskipun kekuatan itu tetap masih ada, namun sedikit berkurang, hingga Arya dapat menuruni jurang sampai ke dasarnya.
Tampak dimata Arya, ada sebuah batu kristal sebesar kerbau, diapit oleh senjata trisula yang sama-sama memancarkan aura kekuatannya, berusaha menindas tubuh Arya, yang sudah dilindungi oleh kekuatan Sayap Rajawali Sakti tingkat tinggi, dan jurus Dewa Rajawali Mengunci Lawan.
Arya mendekati batu kristal dan senjata trisula, yang terus menekan dirinya, agar Arya tidak menyentuh dua benda itu.
Setelah Arya lebih dekat, sekitar jarak satu meter dari dua benda itu, secara tiba-tiba, dua benda itu melesat masuk kedalam tubuh Arya, ingin mengobok-obok seluruh isi tubuhnya, hingga dia merasakan rasa sakit yang luar biasa. Lebih kuat dari sebelum-sebelumnya.
Aaahhh..... Argh.....!
Dari mulut Arya terdengar suara teriakan kesakitan, yang sungguh luar biasa, hingga dia berlutut menahan rasa sakitnya.
__ADS_1
Aaahhh.... Argh....
Arya berusaha menahan kekuatan dua benda, yang mengobok-obok didalam dirinya, dan berusaha mengendalikannya, dengan kekuatan sepenuhnya.
Sekitar dua jam dia bergelut dengan kekuatan dari dua benda, yang menyeruak masuk kedalam tubuhnya, sehingga hampir membuat dirinya tak sadarkan diri.
Kedua benda itu dapat dikuasai oleh Arya, lalu dia duduk lotus, untuk menyerap energi dari dua benda itu.
Tiba-tiba terdengar suara terendam dari dalam tubuhnya, sebanyak tujuh kali, menandakan dia naik tingkat lagi secara drastis.
Bom.... Bom.... Bom.... Bom.... Bom.... Bom.... Bom....
Arya kembali naik tingkat lagi, secara kebetulan, dan tanpa diduga sebelumnya, karena adanya pengaruh dari kekuatan dua benda, yang masuk kedalam tubuhnya.
Kini ranah kultivasi Arya, naik ketingkat God King Tahap Sempurna Bintang Empat Puncak, yang merupakan suatu anugerah dan keberuntungan bagi dirinya.
Arya masih memulihkan kekuatannya di dasar jurang, yang secara perlahan kekuatannya mulai pulih, walau tidak mencapai seratus persen. Namun itu sudah cukup, untuk dirinya meneruskan perjalanannya lagi, menjelajahi seluruh Benua Timur.
Dia kembali naik kepermukaan jurang, untuk melanjutkan menjelajahi hutan berkabut tebal.
Dengan terbang perlahan, didalam kabut tebal yang menyelimuti hutan, dia terus mengitari seluruh kawasan hutan berkabut, sambil mengedarkan pandangan mata malaikatnya.
Dengan berjalan kaki, menyusuri jalanan dipinggiran hutan, dia terus melangkahkan kakinya menuju kesebuah kota.
Namun tidak jauh darinya, terdengar suara pertarungan, dari arah depannya. Gegas Arya melesat, loncat dari pohon ke pohon, mendekati sumber suara pertarungan tersebut.
Dari jarak sekitar enam meter, dari atas pohon, Arya mengawasi jalannya pertarungan dua kelompok, yaitu kelompok perampok dengan para pengawal kereta kuda.
Pertarungan yang tidak seimbang, karena kelompok perampok berjumlah ratusan orang, sedangkan para pengawal kereta kuda, hanya dua puluh orang, dengan ranah kultivasinya rendah, hingga dengan mudah dijadikan bulan-bulanan oleh para perampok, yang ingin menguasai harta juragan penumpang kereta kuda.
Para pengawal Kereta kuda, meskipun sudah tidak berdaya, dijadikan samsak oleh para perampok, namun tetap masih mempertahankan harta tuannya, untuk menjaga reputasinya sebagai pengawal bayaran.
Dug.... Dug.... Bug.... Argh....
Pukulan dan tendangan Tapak Naga, beberapa kali mendarat di tubuh para pengawal kereta kuda, hingga membuat mereka tidak berdaya.
__ADS_1
Dug... Bug... Argh...
Tubuh para pengawal kereta kuda, jatuh tersungkur mencium tanah, dihantam oleh pukulan Tapak Naga para perampok, hingga tidak mampu lagi untuk mempertahankan harta tuannya.
Namun tiba-tiba, suara ledakan terdengar dari arah para perampok.
Duarr.... Duarr.... Duarr....
Ledakan-ledakan, melemparkan para perampok ratusan meter, hingga menabrak sejumlah pepohonan yang berada ditempat itu.
Tentu saja kejadian itu, membuat terkejut penumpang kereta kuda, yang sudah merasa putus asa, karena nyaris hartanya dikuras oleh para perampok.
Dari tempat ledakan, berdiri seorang pemuda sederhana, yang terlihat tidak memiliki ranah kekuatan kultivasi, namun dengan mudah dapat melemparkan para perampok hingga tidak berdaya.
Pemuda itu adalah Arya, yang langsung menarik para anggota perampok, dengan kekuatan mistis rantai baja, untuk mengumpulkannya di dekat rombongan kereta kuda, dan melumpuhkan ranah kekuatan kultivasinya.
"Sekarang kalian sudah menjadi sampah, yang tidak berguna dan bermanfaat. Jadi terserah kalian semua, mau menjadi perampok lagi, atau mau bertobat, karena kalian sudah tidak memiliki kekuatan lagi," ucap Arya, sambil melepaskan lilitan rantai baja, dari sekujur tubuh para perampok.
Tuan Saudagar kaya, dari dalam kereta kuda, segera keluar menghampiri Arya.
"Terimakasih, anak muda. Atas pertolongan anak muda kepada kami," ucap pria setengah baya, pimpinan rombongan kereta kuda, menangkupkan kedua tangannya, sambil membungkuk menghormati Arya. "Kalau boleh tau, anak muda ini hendak pergi kemana?" Tambahnya, bertanya kepada Arya.
"Ke kota terdekat," jawab Arya singkat.
"Kalau begitu, ayo bareng bersama kami. Kebetulan kami juga hendak menuju ke kota," ucap pria setengah baya, pemimpin rombongan mengajak Arya.
"Terimakasih kasih, Tuan," balas Arya.
"Ayo naik, anak muda," ajak pemimpin rombongan kereta kuda.
Arya segera naik ke atas kereta kuda, dia duduk disamping kusir.
"Anak muda, kenapa duduk disitu? Padahal didalam sini masih ada tempat duduk," ucap pria setengah baya, menatap kearah Arya.
"Biar disini saja, Tuan. Agar lebih mudah mengawasi keadaan disekitarnya," balas Arya.
__ADS_1
Kereta kuda yang ditumpangi Arya, mulai bergerak perlahan, lalu melaju dengan kecepatan sedang, menuju kearah kota terdekat.
Bersambung.......