
Setelah kepulangannya dari Benua Selatan, Arya beserta bawahan intinya, kini tengah mempersiapkan acara pernikahannya dengan Dewi Wulandari, seorang putri dari Ki Suramanggala, tokoh kultivator ahli dan sahabatnya Prabu Widjaja Suryamanggala, kakeknya Arya.
Acara pernikahannya akan diselenggarakan dikediaman Ki Suramanggala, Aula Pendopo Perguruan Beladirinya, di Pedukuhan Suramanggala, masih wilayah kekuasaan Benua Tengah.
Para tamu dari Ibukota Metropolitan Tanjung Perak, telah berdatangan, dipimpin Patih Begawan Abisana beserta jajarannya. Begitu pula tetamu dari Benua Selatan, yang dipimpin Raja Prabu Ranggaseta pun telah tiba. Mereka semua ditempatkan di Istana Ki Suramanggala, yang baru selesai direnovasi.
Keramaian di Pedukuhan Suramanggala, mengundang decak kagum para penduduk setempat.
Para pedagang pun berdatangan, turut memeriahkan acara pernikahan tersebut, dengan menggelar berbagai macam dagangannya.
Para penduduk setempat juga tidak mau ketinggalan, mereka turut menjajakan berbagai jenis sumberdaya dari hasil bumi.
Di Aula Pendopo Perguruan Beladiri, Jenderal Adiwiyata, sebagai Ketua Pelaksana acara pernikahan Arya dan Wulan, sibuk mengarahkan bawahannya menata dan menghias ruangan.
Dari mulai mendekorasi panggung, menata kursi kedua mempelai, menempatkan kursi kehormatan untuk para undangan bangsawan dan raja-raja negara tetangga, menata tempat resepsi dan mempersiapkan pagar ayu untuk menyambut para tamu.
Sedangkan tanggungjawab Protokol keamanan, dan pengawalan tamu-tamu bangsawan serta raja-raja, diserahkan kepada Jenderal Anggadiredja dengan dibantu oleh Darmasena, dan anggota Perguruan Beladiri Suramanggala, serta Wiraseda dan bawahannya, disamping diterjunkannya Pasukan Elit Rajawali Sakti, Pasukan Elit Pemanah Beracun dan Pasukan Khusus Cakrabenua, yang menjaga kawasan Pedukuhan Suramanggala dari luar, mengelilingi area Pedukuhan.
Wiraseda dan bawahannya, ditugaskan menjaga empat gerbang masuk ke Pedukuhan Suramanggala. Gerbang Utama dijaga oleh Wiraseda dan tujuh bawahannya, Gerbang Timur dijaga oleh delapan orang anak buah Wiraseda, Gerbang Barat dan Utara dijaga oleh tujuh orang dari masing-masing bawahan Wiraseda.
Tugas Darmasena dan ratusan pendekar anggota Perguruan Beladiri, memantau dan mengawasi semua keamanan didalam area Pedukuhan, dari mulai area acara hingga tempat para pendatang yang berdagang, membantu di empat gerbang masuk dan titik-titik tertentu.
Sedangkan pemantauan dari udara dilaksanakan oleh Pasukan Elit Rajawali Sakti, dibantu dengan Pasukan Elit Pemanah Beracun, yang berpatroli sepanjang waktu di atas langit Pedukuhan Suramanggala, dengan menunggangi sepuluh burung rajawali raksasa.
Pasukan Khusus Cakrabenua, dipimpin oleh Komandan Randitama, ditugaskan berpatroli diluar pedukuhan Suramanggala, dibantu oleh Pasukan Telik Sandi.
Seluruh Protokol keamanan, dibawah kendali dan tanggungjawab Jenderal Anggadiredja.
Dan kini, seluruh persiapannya telah rampung, tinggal menunggu pelaksanaan acaranya esok pagi.
Selama menunggu acara pernikahannya, Arya dan Wulan mengisi waktunya dengan berlatih dan berkultivasi didalam dunia jiwa.
Perbedaan waktu antara dunia jiwa dan dunia luar, sangat jauh, karena Arya mengatur waktunya satu tahun didunia jiwa, sama dengan satu hari didunia luar.
Semua itu untuk mempercepat meningkatkan kemampuan dan kekuatan latihan bertarung, serta untuk meningkatkan kenaikan ranah kultivasi.
Arya dan Wulan berkultivasi didalam kolam air kehidupan, sambil berendam, memanfaatkan sumber energi yang sangat kuat, agar cepat kekuatannya meningkat secara drastis.
Setelah memakan dua buah apel dewa, dan menyerapnya bersamaan dengan menyerap energi air kehidupan, Arya dan Wulan memejamkan matanya khusuk berkultivasi.
__ADS_1
Bom.... Bom.... Bom....
Terdengar suara terendam didalam tubuhnya.
Arya berhasil menerobos tiga tahap dalam waktu dua bulan. Pondasi kultivasinya masih kuat, dia masih sanggup menerobos beberapa tingkat lagi. Pondasinya tidak akan goyah, karena dikuatkan oleh adanya air kehidupan yang sudah meresap kedalam tubuhnya.
Bahkan Arya dan Wulan akan mampu menembus ranah Abadi, dalam waktu satu tahun kedepannya. Karena didukung oleh kekuatan dari air kehidupan.
Keduanya terus berusaha untuk meningkatkan ranahnya, sehingga mampu melebihi kekuatan Raja Iblis, dan mampu mengalahkannya.
Setahun sudah Arya dan Wulan didalam dunia jiwa, kini kekuatannya semakin mengerikan. Hanya dengan menjentikkan jarinya, dapat menghancurkan sebuah gunung.
Kekuatan ranah Arya, dalam satu tahun naik delapan belas tingkat, karena didalam dua bulan sekali naik tiga tahap berkat adanya air kehidupan, yang sangat dahsyat untuk menaikkan ranah Kultivasi, apalagi dibantu dengan mengkonsumsi buah-buahan dewa, akan sangat mengerikan dalam kenaikan tingkatnya.
Saat ini ranah Kultivasi Arya, mencapai Semi Abadi Bintang Sembilan tahap puncak, setengah langkah lagi menuju ranah Abadi Bintang Satu tahap awal. Sedangkan ranah Wulan sekarang ini naik ke tingkat Semi Abadi Bintang Delapan tahap puncak.
Kekuatan keduanya benar-benar sangat mengerikan. Dan sebenarnya sudah waktunya untuk naik ke alam di atasnya, namun Arya tidak mau tergesa-gesa, dia ingin menyelesaikan semua urusan di Alam Bawah terlebih dahulu. Setelah semua urusannya selesai, dan kekuatannya melebihi Raja Iblis, baru dia beserta bawahannya akan naik ke Alam Atas.
Whuuss.... Whuuss....
Arya dan Wulan bergegas keluar dari dunia jiwa, keduanya muncul di saung persawahan Pedukuhan Suramanggala.
Hari sudah menjelang sore, Arya dan Wulan bergegas menuju Aula Pendopo, yang telah dirubah menjadi tempat pernikahan mereka berdua.
"Salam Penguasa, salam Tuan Putri," ucap mereka yang berada didalam aula memberikan salam.
"Terimakasih," ucap Arya singkat.
"Bagaimana dengan persiapan lainnya? Apakah ada kendala?" Tanya Arya.
"Lancar Penguasa. Semuanya sudah dipersiapkan, tinggal menunggu hari pelaksanaannya saja," ucap salah seorang dari mereka.
Arya dan Wulan pun tersenyum senang. Lantas keduanya beranjak dari tempat itu, bergegas menuju tempat Ki Suramanggala yang tengah berbincang dengan Prabu Widjaja, Raja Agung Darma Kusumah dan Istrinya, Prabu Ranggaseta, Patih Begawan Abisana dan para petinggi kerajaan.
Kemunculan Arya di Aula Istana Suramanggala, membuat mereka pada senang. Mereka menyambut Arya dengan hormatnya.
"Salam Penguasa!" Sambut mereka menangkupkan tangan sambil berlutut. Hanya empat orang yang tidak ikut berlutut, yaitu Prabu Widjaja, Ki Suramanggala, Raja Agung Darma Kusumah dan Istrinya, Ratu Kencana Ungu.
"Berdiri, salam kalian aku terima," ucap Arya, sambil menghampiri kakeknya, Prabu Widjaja. Sebelum duduk, Arya juga memberi salam pada mereka. Satu persatu mendapatkan salam dari Arya. Setelah itu, dia pun duduk disebelah kakeknya.
__ADS_1
"Nak Arya, bagaimana persiapan mu untuk hari esok? Sudah siapkah?" Tanya kakeknya.
"Sudah kek, hanya sedikit deg-degan," jawab Arya.
"Hahaha..... Itu tandanya kamu benar-benar mencintai nak Wulan," guyon kakeknya tertawa.
"Wajar sajalah....! Aku kan baru mengalami," ucap Arya.
"Hahaha.... Makanya bersiap-siaplah untuk hari esok. Jangan deg-degan pas waktunya," seloroh Raja Agung tertawa renyah.
Semua yang berada di aula itupun ikut tertawa. Arya hanya tersenyum malu-malu.
"Nak Arya, nak Wulan kemana?" Tanya Suramanggala.
"Oh, iya. Kemana kekasihmu, kok sendirian?" Timpal Prabu Widjaja.
"Wulan ada di kamarnya, bersama teman-temannya," jawab Arya.
Setelah dari Aula Pendopo, Wulan langsung pergi ke kamarnya ditemani oleh Anjani, Komalasari dan Saraswati, mempersiapkan diri untuk hari Esok.
"Tinggal Jenderal Adiwiyata dan Jenderal Anggadiredja yang masih jomblo. Calonnya sih sudah ada, tinggal menunggu harinya saja," ucap Arya, sambil melirik kedua jenderal bawahannya.
Tentu saja wajah keduanya memerah, seperti rebus kepiting, rahasianya diungkap dihadapan para petinggi kerajaan.
"Hahaha.... Ternyata diam-diam sudah mempunyai calon pendamping," seloroh Patih Begawan Abisana.
"Bagus..... Bagus.... Itu dapat mengurangi popularitas jomblo di kerajaan," sambung Jenderal Kartadipura.
"Hahaha.... Nak Arya, kekasih mereka itu siapa?" Tanya Jenderal Bayu Amarta, sambil melirik Jenderal Adiwiyata dan Jenderal Anggadiredja.
Yang dilirik, wajah keduanya semakin memerah.
"Itu.... Dua diantara temannya Wulan. Yang satu kan punya Darmasena," lanjut seloroh Arya.
"Oh itukah, ya aku mengerti. Mereka sama-sama jomblo," sambung seloroh Ki Suramanggala.
Suara tertawa pun menggema di Aula Istana Suramanggala. Nampaknya mereka semuanya pada senang dan bergembira.
Akhirnya merekapun membubarkan diri, Ki Suramanggala menuju kamarnya untuk beristirahat. Begitu pula dengan Arya, Prabu Widjaja, Raja Agung dan istrinya, masuk kedalam dunia jiwa. Sedangkan Raja Benua Selatan, Prabu Ranggaseta beserta rombongannya, dan Patih Kerajaan Daha, Begawan Abisana beserta jajarannya, menuju tempat yang telah disediakan untuk masing-masing beristirahat.
__ADS_1
Arya, Raja Agung dan Prabu Widjaja, berendam sambil berkultivasi di kolam air kehidupan. Sama-sama berusaha ingin menaikkan kekuatan ranah kultivasinya, ketingkat yang lebih tinggi lagi. Karena hanya dengan air kehidupan itulah, ranahnya cepat meningkat, apalagi didorong dengan mengkonsumsi buah-buahan dewa. Akan sangat baik dan setabil, pondasinya akan lebih kuat dan tidak goyah.
Bersambung.....