
Didalam Aula Istana Kerajaan Benua Tengah, Arya beserta seluruh pejabat tinggi kerajaan, mengadakan pertemuan dengan seluruh raja-raja Benua Tengah dan Benua Selatan. Yang dibahas mengenai peningkatan ekonomi masyarakat, pertanian dan perkebunan, serta tak ketinggalan masalah keamanan dari gangguan kelompok pengacau dan para bandit.
Seluruh raja-raja di Benua Tengah dan Selatan, satu persatu melaporkan hasil kinerjanya selama satu tahun.
Arya menganalisa hasil kerja raja-raja bawahannya, walaupun kurang memuaskan, namun Arya tetap mengapresiasi hasilnya. Bahkan Arya terus memberi semangat pada mereka, sambil memberikan dukungan dan bantuan sumberdaya yang tinggi, agar semua bawahannya menjadi lebih kuat lagi dimasa depan.
Untuk urusan keamanan di tiap-tiap kerajaan, Arya menyerahkan kepada Panglima Jenderal Bayu Amarta, untuk segera menindaklanjutinya, dengan membentuk pasukan-pasukan khusus di tiap-tiap kerajaan, dan di tiap-tiap kota.
Pasukan-pasukan khusus itu, dididik dan dilatih di hutan larangan. Setelah pasukan khusus itu kuat, baru dikirim keberbagai kerajaan dan kota.
Pasukan khusus yang akan dikirim keberbagai kerajaan dan kota di Benua Selatan dan Tengah, adalah Pasukan Elite Cakrabenua, Pasukan Elit Rajawali Sakti, Pasukan Elit Pemanah Beracun dan Pasukan Telik Sandi.
Untuk masalah peningkatan ekonomi masyarakat, Arya memberikan tugas kepada Menteri Urusan Ekonomi dan Perdagangan, Wiradiredja Nata Kusumah, agar lebih meningkatkan lagi daya beli masyarakat, terhadap sumberdaya hasil bumi masyarakat pedesaan.
Untuk semua urusan baik didalam maupun diluar kerajaan, Arya menyerahkan tugasnya kepada Menteri Urusan Dalam Kerajaan, Barmantian Sudirdja, dan untuk urusan luar kerajaan, Arya menyerahkannya kepada Menteri Urusan Luar Kerajaan, Raditya Ganesha.
"Untuk keseluruhannya, sementara ini dibawah kendali Patih Begawan Abisana. Karena aku beserta yang lainnya, akan segera menuju ke Benua Barat, Utara dan Benua Timur. Untuk menundukkan ketiga raja-raja dzalim itu," ucap Arya.
"Patih, aku harap semuanya berjalan dengan baik," tambahnya.
"Baik Penguasa, titah Penguasa akan aku laksanakan dengan baik," jawab Patih Begawan Abisana.
"Jangan lupa, terus berlatih dan tingkatkan lagi ranah kekuatan kalian, dengan sumberdaya yang ada," tambah lanjut Arya.
"Baik Penguasa! Terimakasih!" Sambut Patih merasa senang.
Arya pun keluar dari Aula Pertemuan, lalu masuk ke kamarnya dan mengunci pintu.
Setelah didalam kamar, Arya segera masuk kedalam dunia jiwa, dan langsung menuju ke Istana Putih, tempat khusus Arya dan Wulan, setelah resmi menjadi suami istri.
"Salam Penguasa,' hormat para pelayannya sambil berlutut, ketika Arya tiba di dalam istana.
"Berdirilah, salam kalian aku terima," ucap Arya tersenyum.
"Terimakasih Penguasa," balas mereka bersamaan.
Arya bergegas menuju ke kamar, dimana Wulan tengah menantinya.
Sebagai pengantin baru, pada malam pertama, Arya dan Wulan tidak mau menunggu lagi. Keduanya pun melepaskan hasratnya. Mereka berdua asyik bercengkrama, saling piting, saling mencengkram, dan saling bercumbu dengan mesra.
Setelah merasa puas malaksanakan tugas dimalam pertamanya, akhirnya keduanya tertidur pulas.
Esok harinya, Arya dan Wulan bergegas menuju ke kolam air kehidupan, untuk berendam dan berkultivasi didalam air, sambil menyerap energinya, dan didorong oleh buah-buahan dewa serta sumberdaya tinggi lainnya. Dan disekeliling kolam, juta-an batu kristal spiritual langit tingkat tinggi ditumpuk seperti gunung, sehingga dalam waktu satu tahun, ranah mereka naik enam tingkat.
Namun karena pondasi kultivasinya masih kuat, tidak goyah karena pengaruh dari air kehidupan, keduanya pun meneruskan kultivasinya.
Tiga tahun berlalu didunia jiwa, ranah keduanya terus-menerus naik hingga sampai delapan belas tahap. Begitu pula dengan semua bawahannya. Mereka semua berhasil menerobos ketingkat lebih tinggi lagi, serta Raja Agung, istrinya dan Prabu Widjaja juga sama-sama naik tingkat.
Ranah Arya saat ini naik dari semula ranah Abadi Bintang Tiga tahap awal, kini sudah mencapai ranah Abadi Bintang Sembilan tahap awal.
Sedangkan ranah Wulan mencapai Abadi Bintang Enam tahap puncak. Begitu pula dengan ranah semua bawahannya, sudah mencapai ranah Semi Abadi dan Maha Dewa Kuning.
Arya beserta Wulan dan seluruh bawahannya, tengah bersiap-siap untuk menjelajahi ketiga benua di Alam Dewa Agung Lapisan Bawah.
Dengan dua burung rajawali raksasa, mereka meninggalkan kota Metropolitan Tanjung Perak, melesat menuju kearah timur.
__ADS_1
Dalam perjalanan, Arya dan Wulan berkultivasi di atas punggung rajawali, begitu juga dengan yang lainnya. Hanya empat orang yang berjaga, mengawasi situasi keamanan dalam perjalanan.
Keempat orang itu adalah Jenderal Adiwiyata, Jenderal Anggadiredja, Darmasena dan Wiraseda.
Satu bulan dalam perjalanan di atas langit tanpa berhenti, Arya berniat ingin singgah di salah satu kota Benua Timur.
Tak jauh dari rombongan Arya, dibawahnya terlihat ada sebuah kota. Arya pun memerintahkan dua burung rajawali menuju ke kota itu.
"Kita turun dipinggir hutan, lima ratus meter dari gerbang kota," ucap Arya.
"Baik Penguasa," balas mereka bersamaan.
Mereka pun berloncatan dari punggung rajawali. Setibanya dipinggiran hutan, Arya lalu membuka dunia jiwa, menyuruh mereka dan burung rajawali masuk kedalamnya.
Arya dan Wulan bergegas menuju ke gerbang kota. Sudah banyak orang mengantri menunggu pemeriksaan prajurit penjaga. Arya dan Wulan melihat tulisan ke atas gerbang. "Selamat datang di Kota Singaraja." Bunyi sebuah tulisan itu.
Arya dan Wulan turut mengantri, kedua dari deretan belakang. Ada enam orang lagi menunggu pemeriksaan, termasuk dirinya.
Tiba giliran Arya diperiksa. "Identitas," pinta penjaga menatap Arya dan Wulan.
Ranah Kultivasi prajurit penjaga rata-rata tingkat Pendekar Raja, dan Komandannya tingkat Pendekar Kaisar.
Arya pun mengeluarkan identitas dirinya, dari Perguruan Beladiri Benua Tengah, dan menyerahkannya kepada prajurit penjaga.
"Ohh.... Tuan Muda dan Tuan Putri dari Benua Tengah? Tanya penjaga ramah, begitu tahu asal Arya.
"Benar Tuan Penjaga," Sambut Arya tersenyum.
"Dua koin emas," ucap penjaga.
Arya mengeluarkan tiga koin emas.
"Sisanya untukmu."
"Terimakasih Tuan. Semoga Tuan Muda dan Tuan Putri diberkati," ucap penjaga senang, sambil menyerahkan kembali giok hijau identitas diri Arya.
Keduanya kembali melanjutkan perjalanannya kearah kota Singaraja. Keadaan kota-nya cukup ramai, banyak kultivator bebas pada berdatangan. Terlihat ada beberapa rombongan beriringan menuju ketengah kota, Arya dan Wulan mengikutinya dari belakang.
Sampai di alun-alun kota, Arya mengarahkan pandangannya kearah panggung ditengah alun-alun. Batin Arya bertanya-tanya, "Ada acara apakah disana? "
"Dik Wulan, ayo kita kesana," ajak Arya, menunjuk kearah panggung.
"Ayo, Kak," jawab Wulan mesra, sambil menggandeng tangan Arya.
Semua orang menatap kemesraan Arya dan Wulan. Banyak yang iri, terutama dari para pemuda, yang menatapnya dengan tatapan tajam.
Ada sekolompok orang dengan berjubah hitam-hitam, dengan bernafsu memperhatikan kecantikan Wulan. "Awasi terus keduanya, jangan sampai kehilangan jejak. Nanti diluar kota kita sergap," ujar seorang pria tua, sambil terus memperhatikan Wulan.
"Baik Ketua," sahut para anggotanya bersamaan.
Arya dan Wulan sudah merasakan ada yang terus mengawasinya, namun keduanya pura-pura tidak mengetahuinya. Malah keduanya sengaja berbuat mesra dihadapan mereka.
"Cuih.... Tunggu saja nanti, kalian berdua akan tau siapa Serigala Hitam itu," geram pria tua sangat marah, melihat kemesraan mereka.
Rupanya mereka dari kelompok Serigala Hitam, sebuah aliran hitam pelindung Kerajaan Benua Timur.
__ADS_1
Namun bagi Arya, mereka semua adalah semut-semut kecil, yang tidak ada gunanya walaupun dibiarkan hidup. Malah mereka sering menindas yang lemah, dan selalu berbuat sesuka hatinya.
"Biarkan mereka bertindak lebih dulu, supaya kita ada alasan membela diri," ucap Arya, sambil melirik istrinya.
"Iya, Kak," sahut Wulan.
"Kita akan mencari tau, siapa sebenarnya Serigala Hitam itu?" Imbuhnya.
Lalu Arya dan Wulan meninggalkan alun-alun, menyusuri jalanan kota, hingga sampai disebuah rumah makan mewah.
Keduanya bergegas masuk kedalam rumah makan, meskipun seorang kultivator tingkat tinggi tahan untuk tidak makan, karena seringnya menyerap energi yang tinggi. Tapi bagi Arya dan Wulan, dengan masuk ke restoran, keduanya bisa mendapatkan beberapa informasi dari para pengunjung rumah makan.
"Selamat datang di rumah makan Singaraja, Tuan Muda dan Tuan Putri. Ada yang bisa kami bantu?" Sapa para pelayan rumah makan ramah.
"Kami pesan makanan terbaik di rumah makan ini," jawab Arya juga ramah.
"Baik Tuan Muda," balas nona pelayan
Arya dan Wulan, melangkah menuju kesebuah meja disudut rumah makan. Keduanya duduk berhadapan. Semua pengunjung di restoran itu menatap Wulan, terpesona oleh kecantikannya.
Tidak berapa lama, tiga nona pelayan menghampirinya, sambil membawakan hidangan makanan pesanan Arya, dan menyajikannya dihadapan Arya dan Wulan.
"Silahkan dinikmati Hidangannya, Tuan," ucap salah seorang nona pelayan itu.
"Terimakasih," balas Arya, langsung menyantap makanan yang ada dihadapannya.
Arya sambil menikmati makanannya, menyalurkan kekuatannya pada kedua telinga, untuk mendengar obrolan mereka. Walaupun bisik-bisik, tapi dia akan dengan mudah dapat mendengarnya.
"Kelompok Serigala Hitam sudah masuk kedalam kota ini. Kita harus hati-hati, jangan sampai menyinggungnya," ucap seorang pria tua.
"Iya, bila kita bersinggungan dengan kelompok itu. Kita akan binasa, karena kelompok aliran hitam itu sangat kejam dan sadis," sambung pria tua lainnya.
"Benar kawan, kelompok Serigala Hitam itu terkenal kejam. Sering menindas rakyat lemah, dan menjarah harta-harta mereka yang tidak mau membayar pajak," sambut yang lainnya.
"Itu belum seberapa kawan, tetanggaku anak gadisnya diambil paksa untuk dijadikan pemuas nafsu oleh pangeran," ucapnya lagi.
"Benar-benar raja dan anaknya pada dzalim."
"Iya, mentang-mentang didukung oleh Serigala Hitam, jadi mereka semena-mena terhadap rakyat lemah."
Arya yang mendengar obrolan mereka, ser.... ser.... darah tempurnya bergejolak. Hatinya bergetar keras, ingin lekas-lekas menumpas kedzaliman sang raja Benua Timur.
"Tunggu waktunya, kalian semua akan binasa," gumam batinnya.
Arya dan Wulan setelah membayar makanannya, keduanya bergegas keluar restoran, mencari sebuah penginapan untuk beristirahat.
Tak jauh dari rumah makan, terlihat sebuah penginapan cukup mewah bertingkat. Gegas Arya dan Wulan menuju ke penginapan tersebut.
Setibanya di penginapan, Arya langsung memesan sebuah kamar VVIP. Kebetulan masih ada kamar yang kosong. Keduanya naik ketingkat tiga, dan langsung masuk ke kamar.
Setelah mengunci pintu kamar, Arya dan Wulan masuk kedalam dunia jiwa, dan langsung menuju Istana Putih.
"Salam Penguasa," hormat para pelayannya, menangkupkan tangannya di dada sambil membungkuk.
"Terimakasih," balas Arya tersenyum ramah.
__ADS_1
Keduanya langsung masuk kedalam kamar, tempatnya bercengkrama. Tidak keluar lagi sampai esok hari.
Bersambung....