Kultivator Tingkat Dewa

Kultivator Tingkat Dewa
56. Menaklukkan Tiga Ratu Siluman


__ADS_3

Seorang pemuda berpakaian hitam-hitam, dengan ikat kepala hitam, dan menggendong ransel hitam, melangkah begitu santainya menuju sebuah warung kopi, diujung jalan sebuah perkampungan.


Pemuda kampung yang tak lain adalah Arya, memasuki warung kopi dan langsung memesan secangkir teh gula aren. Minuman teh tubruk dengan gula aren asli, dan duduk disebelah pojok warung, sambil mendengarkan obrolan dari para pengunjung warung.


"Juk, apakah kita ikut dengan mereka ke Bukit Lodan. Katanya kita disana, jika kita bernasib baik, akan mendapatkan nomor jitu, bisa tembus empat angka," ucap Pendi kepada Marjuki.


"Yang benar, Pen!"


"Benar, Juk. Sudah banyak orang yang mendapatkannya."


"Apakah kamu pernah ke bukit itu?"


"Tetanggaku yang pernah ke sana, dia hanya dapat dua angka. Tapi lumayan juga, waktu itu dia hanya memasang lima ribu."


"Berarti dia dapat dua ratus ribu?"


"Iya, Juk. Tapi disana juga, katanya banyak orang yang datang pada meminta kekayaan, kepada Nyai Derwani, dan ada juga yang meminta penglaris kepada Nyai Ronggeng," ucap Pendi menjelaskan.


"Kamu mau pergi ke sana?" Tanya Marjuki.


"Kalau kamu mau, kita bisa bareng pergi ke sananya," jawab Pendi.


"Boleh juga, Pen. Kebetulan aku baru dapat uang, dari hasil melaut," ucap Marjuki.


"Sama, aku juga baru menjual kambing. Lumayan buat beberapa hari disana," balas Pendi.


"Kapan kita berangkatnya, Juk?" Tanya Pendi.


"Kalau kamu bisa sih, berangkat sekarang lebih bagus. Kita malam Jum'at Kliwon sudah berada disana."


"Bisa, Juk! Nanti siang, kita bertemu di Pos Ronda ujung kampung, biar dari sana berangkatnya."


"Siap, Pen! Aku juga sekarang, mau ketempat pelelangan ikan dulu."


Keduanya keluar dari warung kopi, setelah mereka membayar kopi dan makanannya.


Tak lama kemudian, setelah Arya membayar secangkir teh tubruk dan makanannya, diapun keluar dari warung itu, berjalan menuju kesebuah Pos Ronda di ujung kampung.


"Di Pos Ronda ini, mereka berdua akan bertemu," ucap batin Arya, setelah tiba di Pos Ronda.


Gegas dia melesat terbang menembus awan, karena dengan mengawasinya dari balik awan, Arya akan lebih leluasa mengawasi pergerakan kedua orang itu.


Selang beberapa waktu berjalan, kedua orang yang diawasi oleh Arya pun tiba di pos ronda. Keduanya lalu pergi kearah utara, melewati jalan setapak, turun naik bukit memotong kompas. Karena kalau lewat jalan raya sangat jauh.


Menjelang Maghrib, keduanya tiba disebuah lapang yang luas. Tempat itu merupakan tempat parkir mobil, karena banyak para tamu Bukit Lodan yang sudah sukses, untuk mengikuti acara malam Kliwonan, mereka datang pada mengendarai mobilnya masing-masing.


"Sekarang kita mencari tempat dulu, Juk. Karena, menurut tetanggaku, begitu waktunya tiba, kita sudah tidak mendapatkan tempat lagi. Semuanya sudah penuh diisi oleh para tamu dari jauh," ucap Pendi, sambil berjalan ketempat Nyai Derwani, diikuti oleh Marjuki dari belakang.


Dibalik awan, Arya terus mengawasi pergerakan mereka berdua, dia ingin mengetahui terlebih dahulu, apa yang sebenarnya dikerjakan oleh orang-orang yang pada berdatangan ketempat itu.


Menjelang malam, hanya ada beberapa orang yang pada melaksanakan ritual ditempat itu, karena baru malam Kamis, sedang puncaknya pada malam Kliwon besok.


Arya melesat turun kebalik Bukit Lodan, namun yang dilihat oleh orang-orang ditempat itu, adalah siluet cahaya biru mengkilau, yang membuat mereka terkejut..


"Itu barang pusaka milik Nyai Derwani!" Seru semua orang yang berada ditempat itu.


"Iya, besok kan acara Kliwonan, jadi barang pusakanya yang duluan kemari," sambung yang lainnya.


"Siapapun pemilik barang pusaka Nyai Derwani, orang itu tentunya akan menjadi orang yang hebat. Tidak ada tandingannya di muka bumi ini," ucap yang lainnya.


"Semoga saja diantara kita, ada yang berjodoh dengan barang pusaka milik Nyai Derwani," timpal seorang pria tua berharap.


"Iya, Ki. Kita semua juga sangat berharap," balas yang lainnya, turut menimpali obrolan mereka.


Semua orang yang berada dibawah Bukit Lodan, mengira siluet cahaya biru mengkilau itu adalah barang pusaka. Padahal Arya yang melesat turun dengan kecepatan tinggi, kalau sekiranya dia tau, bahwa kelakuannya itu membuat semua orang menjadi bingung. Pasti dia akan tersenyum, karena dia selalu membuat orang bingung dan terkejut.


Dibalik bukit, Arya mengedarkan pandangan mata malaikatnya ke seluruh tempat itu, matanya menangkap ada tiga istana, Istana Nyai Derwani, Nyai Ronggeng, dan istana Mbah Brojo.

__ADS_1


Ketiganya sudah memiliki pengikutnya masing-masing, seperti Mbah Brojo, pengikutnya khusus para pecandu permainan nomor nalo atau grehon, jaman sekarang Togel. Para pengikutnya, hampir setiap hari mendatangi Mbah Brojo untuk meminta nomor jitu, dengan sesajian yang sudah dipersiapkannya, untuk persembahan ritualnya.


Nyai Derwani, para pengikutnya khusus untuk meminta kekayaan, dengan mengorbankan seseorang menjadi tumbal persembahannya, dan melakukan hubungan seperti suami istri, dimalam pertama perjanjian bersekutu dengannya.


Sedangkan Nyai Ronggeng, khusus tempat meminta penglarisan, asihan, pelet dan guna-guna. Para pengikutnya kebanyakan wanita pekerja sek komersial, yang meminta penglarisan dan asihan.


Arya begitu mengetahui pengaruh buruk dari ketiga siluman itu, dengan gerakan yang tidak dapat dilihat oleh mata manusia, dia melesat terbang kearah istana Nyai Derwani. Kalau dilihat di alam manusia bumi, istana Nyai Derwani itu hanya sebuah batu hitam yang besar, dibawahnya ada batu altar hitam, dan batu tinggi mirip patung Nyai Derwani.


Begitu tiba didepan istana, Arya dihadang oleh ratusan prajurit siluman, yang terkejut ada seorang pemuda yang bisa masuk ke alamnya.


"Siapa kamu! Kenapa kamu bisa masuk ke istana Ratu Derwani?" Ucap heran komandan prajurit siluman.


"Siapa aku itu tak penting bagimu! Yang harus kamu tau, aku datang kesini untuk merantai kalian, dan menangkap ratu kalian!" Seru Arya, memprovokasi komandan prajurit siluman.


"Kurang ajar kamu! Berani berbicara lancang disini. Ayo tangkap pemuda itu!" Teriak komandan siluman berseru, memerintahkan semua  bawahannya untuk menangkap Arya.


Arya pun tak tinggal diam, dia dengan cepat mengeluarkan rantai baja mistisnya, dan melemparkannya kearah ratusan prajurit siluman. Dengan sendirinya, rantai baja mistis itu melilit seluruh tubuh prajurit siluman.


"Nah, kalian tunggu disini, jangan ikut campur urusanku!" Hardik Arya, menatap mereka semua.


Gegas Arya menghadap ke istana Ratu Derwani, dan langsung mengeluarkan pukulan jarak jauhnya, dengan kekuatan tujuh puluh persen.


Duar..... Duarr..... Duarr.....


Suara ledakan terdengar menggema disekitar tempat itu, menghancurkan istana Ratu Derwani, yang tentunya membuat Ratu Derwani sangat murka, dan langsung keluar dari reruntuhan istananya, menghampiri Arya.


"Siapa kamu! Beraninya kamu menghancurkan istanaku!" Seru Ratu Derwani, menghardik Arya dengan murkanya.


"Aku seorang pemuda kampung, yang tidak suka dengan kelakuan iblismu," ucap Arya enteng.


"Kurang ajar kamu! Berani berbicara lantang didepan ku!" Teriak marah Ratu Derwani.


"Memangnya kenapa? Kalau aku berani sama ratu belis sepertimu ini!" Seru Arya lagi, menatap Ratu Derwani yang dibilangnya Ratu Belis.


"Bajingan kamu! Hiiaaatttt....!" Ratu Derwani langsung menerjang Arya, dengan pukulannya yang mengandung kekuatan mistis, sehingga mampu mengundang angin ****** beliung ditempat itu.


Diluar Alam Siluman, semua orang yang tengah berada ditempat itu terkejut, melihat batu hitam besar tempat Nyai Derwani tinggal, hancur berkeping-keping. Dan tempatnya menjadi porak poranda tersapu oleh angin yang kencang dan dahsyat.


Arya di Alam Siluman, masih bertarung dengan Ratu Derwani, yang memiliki kekuatan mistis sangat tinggi, sehingga membuat Arya harus mengeluarkan sembilan puluh persen kekuatannya.


Duarr.... Duarr.... Duarr....


Dua kekuatan saling beradu, melemparkan Ratu Derwani puluhan meter, menabrak dinding bukit hingga bolong menjadi Goa.


Sedangkan Arya hanya mundur dari tempat semula, enam meter kebelakang, menabrak pohon besar hingga tumbang.


"Hmmm.... Cukup kuat juga ratu belis betina ini!". Seru Arya didalam batinnya, sambil menatap Ratu Derwani kearah Bukit Lodan. "Ingin tau, sampai sejauh mana kekuatannya," tambahnya dalam batin.


Arya ingin menguji kekuatan Ratu Derwani, karena selama dia di Alam Bumi, baru kali ini dia menemukan iblis yang kekuatannya sangat tinggi.


Ratu Derwani muncul lagi dari lobang Bukit Lodan, menghampiri Arya dengan murkanya.


Dia langsung menerjang Arya, dengan kekuatan sepenuhnya, sehingga mengundang angin peting beliung yang sangat kencang, menerbangkan yang ada ditempat itu, termasuk para prajurit siluman yang dirantai oleh Arya, terbang tersapu angin dahsyat buatan Ratu Derwani.


Duarr.... Duarr.... Duarr....


Ledakan demi ledakan terus terdengar, membuat pertarungan antara Ratu Derwani dengan Arya, semakin seru.


Dug.... Bug.... Bug....


Pukulan dan tendangan saling beradu, keduanya sama-sama kuat, sama-sama saling menyerang dan saling bertahan.


Dug.... Argh.... Ahhh....


Jerit kesakitan Ratu Derwani, terkena pukulan telak dari Arya, pas mengenai daerah terlarangnya, hingga membuat Ratu Derwani terduduk, sambil memegangi buah dadanya yang terasa sakit sekali.


"Bajingan kamu, berani memukul wilayah terlarang tubuhku!" Seru Ratu Derwani murka.

__ADS_1


"Oh, jadi tubuhmu juga ada wilayah terlarangnya?" Tanya Arya mengejeknya. "Masih ingin bermain-main lagi? Ayo kemari, serang lagi aku," tambah Arya, menantang Ratu Derwani.


Cuhh... Cuihh...


Ratu Derwani meludah dihadapan Arya, dia menumpahkan kemarahannya, karena Arya terus-menerus mengejeknya.


Ratu Derwani tidak berbicara, dia kembali menerjang Arya, dengan mengundang kekuatan angin dan hujan petir yang sangat mengerikan.


Diluar Alam Siluman, dimana para manusia itu melihat kejadian aneh yang sangat mengerikan, semakin bertambah menjauhi tempat itu. Apalagi terdengar beberapa kali ledakan, angin ****** beliung yang sangat dahsyat, dibarengi dengan hujan deras dan petir yang sangat mengerikan.


Tentu saja peristiwa yang selama ini belum pernah terjadi, membuat mereka semakin menjauh, menghindari dari badai angin dan hujan yang melanda tempat itu.


"Ayo cepat lari, jangan sampai kita terkena dampaknya. Penguasa Bukit Lodan benar-benar marah!" Ucap mereka terus menjauh, hingga jarak Lima ratus meter dari Bukit Lodan, tidak ada angin dan hujan ditempat itu.


"Ini aneh sekali, hujan deras dan angin ****** beliung, hanya disekitar Bukit Lodan," ucap orang-orang yang merasa aneh dengan kejadian tersebut.


"Iya, aneh sekali," sambung yang lainnya.


"Benar-benar aneh," timpal yang lainnya lagi.


Mereka terus melihat kejadian itu dari jauh, agar tidak terkena dampak dari amukan kemarahan Ratu Derwani.


Di Alam Siluman, Ratu Derwani terus menerus menggempur Arya, dengan kekuatan sepenuhnya, sehingga dia sendiri merasa kelelahan. Sedangkan Arya masih tetap segar, tidak merasakan lelah sama sekali.


"Bagaimana...? Apakah masih kuat untuk melanjutkan permainan ini?" Tanya Arya, menatap Ratu Derwani. "Atau menyerah," tambahnya.


Ratu Derwani tidak menjawab, dia perlahan bangkit dan berjalan menghampiri Arya.


"Siapa kamu sebenarnya?" Tanya Ratu Derwani penasaran.


"Sudah aku katakan, aku seorang pemuda kampung, yang tidak suka dengan perbuatanmu," jawab Arya enteng.


"Kenapa kamu ikut campur dengan urusanku?" Tanya Ratu Derwani lagi.


"Itu adalah urusanku, bila menyangkut keselamatan orang-orang yang lemah. Aku tidak ingin, ada iblis atau siluman yang merasuki tubuh manusia, sehingga mereka akan berbuat lebih jahat daripada dirimu," jelas Arya.


"Yang salah mereka, kenapa mereka datang kepadaku, sambil memelas meminta belas kasihan," balas Ratu Derwani.


"Kenapa kamu harus meminta tumbal manusia, dan mengharuskan melayani nafsu belis mu!" Seru Arya.


"Itu adalah hakku, yang telah memberikan bantuan kepada mereka," balas Ratu Derwani.


"Oh, seperti itu. Baiklah, jika keinginanmu begitu!" Seru Arya, sambil mengeluarkan rantai baja mistisnya, dan melemparkannya kearah tubuh Ratu Derwani, hingga dia terkejut saat merasakan tubuhnya dililit oleh rantai baja, yang *******-***** sekujur tubuhnya hingga terasa panas dan sakit, sekujur tubuhnya terasa remuk.


Ratu Derwani begitu tersiksa dengan kekuatan mistis rantai baja, hingga dia tidak berdaya sama sekali. Dan langsung berlutut dihadapan Arya, memohon ampunan.


"Ampuni diriku, Tuan....! Aku memohon ampunan dari, Tuan...!" Seru Ratu Derwani, memohon ampunan dari Arya.


"Apa yang akan kamu perbuat? Setelah kamu mendapat pengampunan dariku!" Seru Arya, bertanya kepada Ratu Derwani.


"Aku bersedia menjadi pengikutmu, Tuan...!" Seru Ratu Derwani, membalas pertanyaan dari Arya.


"Apakah ucapan mu itu bisa dipegang?" Tanya Arya lagi.


"Atas nama langit dan bumi, aku bersumpah akan setia dan patuh kepada Tuan Muda. Dan menuruti semua perintah dari Tuan Muda!" Seru Ratu Derwani bersumpah.


Duar.... Duarr.... Jeder.... Jeder....


Riyeg.... Riyeg.... Jeder....


Suara petir terdengar dari atas langit, bergemuruh dengan suara-suara ledakan yang cukup keras, bersahutan dengan suara guntur menggelegar, dibarengi dengan bumi bergoyang tanda sumpah Ratu Siluman diterima oleh langit dan bumi.


"Mulai sekarang, kamu resmi menjadi pengikut ku. Dan bantu aku menghancurkan dua istana lagi ditempat ini," ucap Arya, kepada Ratu Derwani.


"Baik, Tuan Muda," balas Ratu Derwani.


Diluar Alam Siluman, semua orang yang berkumpul dari kejauhan bergetar keras jantungnya, ketika mendengar suara ledekan, disusul dengan suara petir bersahutan, dibarengi dengan gemuruhnya suara guntur yang menggelegar, serta bumi berguncang cukup keras.

__ADS_1


Kejadian seperti itu, membuat mereka berlarian menjauh meninggalkan tempat kawasan Bukit Lodan, kembali ke rumahnya masing-masing.


Bersambung......


__ADS_2