
Duar.... Duarr..... Bom..... Bom....
Ledakan keras terdengar menggema di ibukota Benua Selatan, Arya beserta bawahannya menggempur Istana Raja yang dzalim dari atas burung rajawalinya. Kekuatan api dan petir dari telapak tangan Arya, terus-menerus menghantam dan menyambar ribuan pasukan iblis dan aliran hitam, yang bergabung dengan pasukan kerajaan.
Tanpa terkecuali, Arya dan bawahannya tidak memberi ampunan lagi. Semuanya dibantai habis, baik pasukan kerajaan, maupun pasukan iblis dan aliran hitam tidak tersisa.
Hanya menyisakan seorang jenderal Pasukan Raja Iblis, yang ranahnya sudah mencapai Penguasa Tahap Awal, Raja Ranggasetu dan para petinggi kerajaan. Aliran hitam dan yang lainnya musnah dibantai.
Dua burung rajawali raksasa, menukik turun dengan kecepatan tinggi, mendarat didepan istana. Arya dan bawahannya berloncatan dari punggung rajawali.
Semua bawahan bergegas masuk kedalam Istana. Bagi semua bawahannya, kekuatan pasukan iblis dan pasukan kerajaan, hanyalah semut-semut kecil.
Wiraseda langsung menerobos menerjang pintu istana, dia segera mencari Ranggasetu, pamannya yang menjadi Raja dzalim, yang telah membunuh kedua orang tuanya.
Dia membabi-buta, setiap pengawal raja, para petinggi kerajaan, dan jenderal iblis, habis dibantai oleh Wiraseda, yang sudah lama memendam dendam pada mereka.
Bagi Wiraseda, mereka semua hanyalah semut-semut kecil. Karena ranahnya sekarang telah naik ke tahap Maha Dewa Penguasa tahap awal. Maka dengan mudahnya dia menghancurkan pengisi istana, apalagi dengan dibantu oleh Arya dan semua bawahannya.
Arya beserta bawahannya, setelah menggempur habis semua pasukan iblis, aliran hitam dan pasukan kerajaan, menonton Wiraseda melampiaskan dendamnya.
Setelah semuanya musnah, Wiraseda hanya menyisakan Raja Ranggasetu dan Patih Ranggasewu, keduanya kakak beradik, yang juga pamannya Wiraseda.
"Hahaha.... Aku puas....! Sekarang aku merasa puas. Dendam ku telah ku balas." Wiraseda berteriak dan tertawa merasa puas.
"Sekarang giliran kamu berdua," ucap Wiraseda menatap Raja dan Patih, yang sudah tidak dapat berkutik lagi.
Tidak lama kemudian, pamannya Ki Ranggaseta dan dua adik kembarnya, datang menghampiri Wiraseda.
"Wiraseda, jangan dulu kau bunuh bajingan itu. Bawa ketengah alun-alun, biar rakyat tau, bahwa Raja yang dzalim sudah digantung," cegah pamannya, sambil menatap Raja dan Patih.
"Bagaimana sekarang?" Tanya Ki Ranggaseta, menatap keduanya. "Kalian berdua akan merasakannya hidup tersiksa. Sebelum aku menggantung kalian, kalian berdua akan dilempari ribuan batu oleh semua rakyat mu," tambahnya.
"Wirasaba.... Wiraboma....! Bawa kedua orang itu ketengah alun-alun," seru Ki Ranggaseta, memerintahkan kedua keponakannya.
"Baik Paman," sahut keduanya bersemangat.
"Nyawa kalian berdua, sudah diujung tanduk," ucap Wirasaba.
"Bagi kalian berdua, sudah tidak ada kata maaf lagi," sambung Wiraboma.
Keduanya membawa Raja dan Patih yang dzalim, yang telah bersekutu dengan pasukan Raja Iblis dan aliran hitam, ketengah alun-alun.
__ADS_1
Semua rakyat Kerajaan Benua Selatan, sudah berkumpul ditengah alun-alun, mereka semua bersiap melempari Raja dan Patih, dengan batu sebesar kepalan tangan dewasa.
Hukuman pelemparan batu itu dipimpin langsung oleh Ki Ranggaseta, sebagai Pemimpin Aliansi dan mewakili seluruh rakyat di Benua Selatan.
Tak ayal lagi, setelah Kabar menyebar ke seluruh penjuru ibukota, semua penduduk ibukota berbondong-bondong datang ke alun-alun, sembari pada membawa batu, ingin turut melempari rajanya yang telah menindas mereka.
Mereka semua pada dendam kepada rajanya, lantaran rajanya berbuat semaunya, tidak memikirkan rakyatnya yang sengsara. Bila tidak membayar pajak yang nilainya cukup besar, semua hasil bumi dan harta-harta lainnya, diambil paksa oleh pasukan iblis yang telah bersekutu dengan rajanya.
Belum anak-anak gadis dan perawan, dipaksa untuk melayani nafsu bejad prajurit Pasukan Raja Iblis. Baik rajanya, pejabat tinggi ataupun komandan pasukan iblis, bila melihat wanita cantik, langsung dipaksa dibawa untuk melayani mereka.
Seperti kejadian kebelakang, Arya dan Wulan membunuh Pangeran dan para pengawal Kerajaan Benua Selatan, gegara pangeran itu menggoda kekasihnya Arya.
Maka wajar saja, para rakyatnya menjadi dendam. Dan untuk membalasnya, mereka semua datang ke alun-alun dengan membawa batu ditangan masing-masing.
Mereka ingin melampiaskan dendamnya dengan melempari rajanya.
"Saudara semuanya, hari ini dendam kita akan terbalaskan," ucap riuh para rakyat kerajaan.
"Benar saudara.... Kita akan membahasnya sekarang," sambung yang lainnya.
"Ayo, kita semua ke alun-alun," sahut yang lainnya.
Ribuan rakyat berkumpul ditengah alun-alun, pada membawa batu ditangan masing-masing.
"Ini suatu contoh bagi kita, supaya kita lebih dekat dan memperhatikan rakyat kecil, jangan semena-mena terhadap mereka. Karena jika kita dibenci oleh rakyat sendiri, kita pun pasti akan hancur," ucap Arya, panjang kali lebarnya.
"Benar Kak, jangan mentang-mentang kita lagi diatas, sehingga melupakan rakyatnya," sambung Wulan, sambil menatap ribuan rakyat yang berkumpul berdesakan ditengah alun-alun.
Ki Ranggaseta, tengah bersiap memimpin jalannya hukuman tersebut.
"Kepada seluruh rakyat ibukota kerajaan Benua Selatan, yang telah hadir di alun-alun ini, dimohon semuanya untuk tertib, karena hukuman pelemparan batu kepada raja dan patih, akan segera dimulai," teriak Ki Ranggaseta mengumumkan.
Jep.... Seperti gaang ke injak, langsung sunyi.
"Dimohon semuanya untuk tertib. Karena hukuman pelemparan batu ini akan segera dimulai, yang pertama melempar batu kepada Raja dan Patih, dilakukan oleh ketiga saudara kembar, yang kedua orang tuanya dibunuh oleh Raja dan Patih," "jelas Ki Ranggaseta mengumumkan.
Wiraseda tersenyum puas, diikuti oleh kedua adik kembarnya, Wirasaba dan Wiraboma.
Mereka bertiga berdiri dihadapan Raja dan Patih, jaraknya sekitar lima meter. Ditangan kiri dan kanannya memegang batu, satu untuk Raja, dan satunya lagi untuk Patih.
"Semuanya bersiap! Hukuman segera dimulai!" Seru Ki Ranggaseta berteriak.
__ADS_1
Wiraseda, Wirasaba dan Wiraboma, melempari Raja dan Patih, dengan kekuatan seperempatnya.
Argh.... Aahhh....
Teriak kesakitan dan marah dalam hati Raja dan Patih. "Bajingan kalian semua," batinnya menyimpan rasa dendam yang tak terhingga.
Pelemparan batu itu, diikuti oleh seluruh rakyat ibukota, hingga Raja dan Patih sudah tidak tahan lagi dengan rasa sakitnya. Akhirnya keduanya tidak sadarkan diri.
Walau begitu, rakyat yang belum melempari rajanya, tetap melakukan pelemparan, sampai semuanya selesai, baru keduanya digantung ditiang gantungan.
Setelah usai melaksanakan hukuman kepada Raja dan Patih di alun-alun, baru semua rakyat membubarkan diri dengan sejumlah percakapan yang seru, dan omongan diantara mereka pun ditambah-tambah, katanya biar lebih seru lagi.
Mereka semua menganggap Wiraseda sebagai Pahlawan Benua Selatan. Dan diusulkan untuk menjadi penerus Raja. Namun Wiraseda menolaknya, karena dia beserta tiga puluh anggotanya, ingin tetap mengikuti Arya kemanapun dia pergi.
Malah dia mengusulkan Ki Ranggaseta yang menjadi Raja baru, pengganti Raja lama. Patihnya Wirasaba, dan Wiraboma diangkat menjadi Panglima Kerajaan, begitu pula dengan para petinggi Aliansi, supaya dijadikan menteri kerajaan.
Sedangkan Wiraseda, dibantu oleh Pasukan Kerajaan Benua Tengah, dijadikan sebagai pelindung Kerajaan Benua Selatan.
Kerajaan Benua Selatan, akhirnya bergabung dengan Kerajaan Benua Tengah, dibawah kekuasaan Arya, Penguasa Seluruh daratan Alam Dewa Agung Lapisan Bawah.
Sebelum Arya meninggalkan Benua Selatan, dia ingin membantu menaikkan ranah Kultivasi Ki Ranggaseta beserta orang-orangnya.
Arya pun membawa Ki Ranggaseta, Wirasaba, Wiraboma, Wikrama, Wardana, Setra Banyu dan Setra Aji ke dunia jiwa, yang dipandu oleh Wiraseda, untuk meningkatkan kemampuan bertempur dan meningkatkan ranah mereka.
"Saudara Wiraseda, bantu dan arahkan mereka, supaya mereka cepat naik tingkat," ucap Arya.
"Baik Penguasa," Jawab Wiraseda.
Arya pun setelah mengarahkan mereka, keluar dari dunia jiwa, lalu bergabung lagi dengan Wulan dan bawahannya.
Untuk sementara, kekuasaan Benua Selatan oleh Arya diserahkan kepada Jenderal Adiwiyata dan Jenderal Anggadiredja, dengan dibantu oleh seluruh bawahannya, sambil menunggu Wiraseda dan saudaranya keluar dari dunia jiwa.
Tiga hari berlalu, akhirnya yang ditunggu-tunggu, telah selesai menjalani latihan tertutup didalam dunia jiwa milik Arya. Ranah mereka sudah mencapai Penguasa Tahap Puncak.
"Selamat, kalian semua sudah pada naik tingkat ke ranah Penguasa tahap puncak," ucap Arya, memberi selamat kepada Ki Ranggaseta dan saudara-saudaranya, diikuti oleh seluruh bawahannya.
"Terimakasih Penguasa, berkat bantuan Penguasa, kami sekarang sudah seperti ini," balas ki Ranggaseta senang.
"Sekarang sudah saatnya kalian semua memimpin benua ini. Tapi harus diingat, jangan sekali-sekali kalian berbuat merugikan rakyat. Peristiwa yang lalu, jadikanlah sebagai contoh," ucap Arya, memberikan petuahnya.
"Baik Penguasa, petuah dari penguasa akan selalu kami ingat, dan kami tidak akan mengecewakan Penguasa," balas mereka bersamaan.
__ADS_1
Setelah semua urusannya selesai, Arya beserta bawahannya, akan segera meninggalkan wilayah Benua Selatan, dan kembali ke daratan Benua Tengah.
Bersambung....