
Didalam hutan larangan, yang telah berubah menjadi markas pasukan Prabu Widjaya, dipimpin oleh Panglima Arya, telah bersiap untuk menggempur kekuasaan Jayanagara.
Pasukan itu, terdiri dari kekuatan gabungan seluruh kerajaan bawahan di Benua Tengah, kekuatan Perguruan Ilmu Bela Diri aliran putih, dan sebagian Pasukan Kerajaan Daha, yang dikendalikan oleh Panglima Begawan Abisana.
Pasukan Prabu Widjaya, dibagi menjadi beberapa pasukan. Diantaranya Pasukan Khusus Udara Rajawali Sakti, yang sekarang dipimpin oleh Jenderal Adiwiyata, Pasukan Khusus Angkatan Darat Cakrabenua, dipimpin oleh Jenderal Anggadiredja. Pasukan Khusus Telik Sandi, dipimpin Jenderal Kartadipura.
Kini Pasukan Khusus Udara, telah bertambah kekuatannya, setelah Prabu Widjaya berhasil mengembangbiakkan burung rajawali raksasa. Kekuatan seluruhnya menjadi seratus sepuluh ribu personil prajurit pilihan, yang terdiri dari pasukan khusus Pemanah Beracun, dan pasukan Khusus Tempur Jarak Jauh.
Seluruh Pasukan Khusus Udara, menunggangi sepuluh ribu burung rajawali raksasa, hasil pengembangbiakan yang dikerjakan oleh Prabu Widjaya.
Dan setiap burung rajawali raksasa, membawa sebelas prajurit pilihan satu komandan. Jadi keseluruhannya, membawa seratus sepuluh ribu personil.
Sementara jumlah personil angkatan darat, tiga ratus ribu prajurit gabungan. Terdiri dari pasukan khusus Cakrabenua, pasukan gabungan kerajaan bawahan, pasukan gabungan perguruan beladiri aliran putih, dan pasukan Kerajaan Daha, yang dipimpin langsung oleh Panglima Begawan Abisana.
Khusus untuk pasukan kerajaan yang setia kepada Prabu Widjaya, bergerak didalam istana kerajaan, untuk menggempur dari dalam.
_________________
Didalam Istana Raja
Tampak Raja Jayanagara, terlihat sangat gelisah, dia berjalan hilir mudik, bolak-balik di Aula Istana. Sebentar duduk, sebentar berdiri, dan sebentar berjalan. Patih Kerajaan yang tengah berada di aula, terdiam melihat tingkah rajanya. Tidak berani menanyakan kegelisahan sang raja.
"Patih, segera panggil Panglima menghadap," titah Raja.
"Maaf Paduka, Panglima saat ini sedang menjalankan misi kerajaan," jawab Patih Jayangrana, tidak mencurigai Panglima.
Jayanagara terdiam lesu. Dia belum mengetahui bahwa Panglima beserta beberapa menteri dan pasukannya, mempersiapkan diri untuk membantu Arya, merebut tahta Kekuasaan Jayanagara.
Sangat rapih persiapannya. Tidak sampai bocor pada Raja dan Patih, atau diketahui oleh orang-orang Jayanagara. Karena seluruh Pasukan Khusus Telik Sandi, sudah bergabung dengan pasukan Prabu Widjaya.
Lalu raja bergegas meninggalkan Patih, masuk kedalam kamarnya. Patih sendiri bingung melihat tingkah rajanya. "Ada apa dengan diri Raja?" Batin Patih Jayangrana, bertanya-tanya.
__________________
Ditempat Rahasia,
Panglima Begawan Abisana, ditemani beberapa pejabat kerajaan dan para bangsawan, sedang mengadakan pertemuan di suatu tempat yang dirahasiakan. Disekililing tempat itu, dijaga ketat oleh Pasukan Khusus Telik Sandi. Satupun dari pihak Jayanagara, tidak ada yang tau tempat itu.
"Pada penyerangan nanti, aku akan memimpin pasukan dari dalam istana, untuk menyergap Jayanagara beserta antek-anteknya, dibantu oleh Panglima Arya. Sedangkan kalian, mengamankan para penduduk, agar tidak terkena dampak gempuran Pasukan Udara," ucap Panglima Begawan Abisana.
"Baik Panglima, aku sudah menyiapkan jalur evakuasi, yang aman bagi mereka," balas Jenderal Bayu.
"Bagaimana dengan yang lainnya?" Tanya Panglima.
"Semuanya sudah siap Panglima, tinggal nunggu perintah saja" sambung Menteri Wiradiredja.
"Apa ada pendapat lain?" Tanya Panglima lagi.
"Tidak ada Panglima. Semuanya tinggal menunggu perintah." Tegas Jenderal Wiguna.
"Baik kalau begitu, kita sudahi pertemuan ini. Tapi ingat, jangan sampai bocor!" Seru Panglima, sambil memberi peringatan pada mereka.
Kemudian semuanya pada membubarkan diri, kembali ketempat masing-masing. Panglima beserta Jenderal Bayu, dan Jenderal Wiguna, pergi menuju hutan larangan. Sedangkan para menteri, kembali ke Istana Kerajaan.
________________
__ADS_1
Di Kota Pelabuhan Tanjung Perak.
Panglima beserta dua jenderalnya, bertemu dengan Pasukan Angkatan Darat Prabu Widjaya, yang dipimpin Jenderal Kartadipura dan Jenderal Anggadiredja, adiknya Menteri Wiradiredja, di kota Pelabuhan Tanjung Perak.
"Salam Panglima."
"Salam Jenderal."
Mereka semua pada mengucapkan salam, tanda saling menghormati satu sama lain.
"Secara kebetulan, kita bertemu disini," ucap Panglima Kerajaan. "Bagaimana kabar Panglima Arya, apakah dia akan kesini?" Tanyanya lagi.
"Kabarnya baik Panglima, Panglima Arya akan segera menyusul," jawab Jenderal Anggadiredja.
"Oh, kalau begitu, kami tidak usah ke hutan larangan," ucap Panglima Kerajaan.
"Ya, kita tunggu saja disini," imbuh Jenderal Bayu.
"Betul Panglima, ditunggu disini saja," sahut Jenderal Kartadipura.
"Baik kalau begitu, kami hendak ke Istana Tuan Kota dulu," ucap Panglima. Lalu ketiganya meninggalkan kedua jenderal tersebut.
Tampak Tuan Kota, tengah sibuk mengatur tempat sementara, untuk ratusan ribu pasukan. Semua tempat di Istana, di Barak Prajurit, di Mess Perwira, di penginapan, di Wisma-wisma sudah dipenuhi para komandan dan pasukan Prabu Widjaya. Hanya satu penginapan mewah yang sengaja dikosongkan, khusus untuk para petinggi, dan bangsawan yang membantu Panglima Arya.
Prajurit kota tiba-tiba menghampiri. "Salam Tuan Kota, di Istana ada Tuan Panglima dan dua Jenderal," ucapnya memberi tau.
Sebelum meninggalkan tempat itu, Tuan Kota terlebih dahulu memberikan perintah kepada bawahannya.
"Bisman, urus semuanya sampai selesai," ucap Tuan Kota, pada bawahannya.
"Baik, Tuan Kota," jawabnya.
"Salam Tuan Panglima, salam Tuan Jenderal," ucap Tuan Kota, setibanya di aula Istana, sambil berlutut menghormati atasannya.
"Salam mu aku terima," ucap Panglima.
"Silahkan duduk Tuan Panglima, Tuan Jenderal," ucap Tuan Kota, mempersilahkan atasannya duduk di kursi kehormatan untuk tamu.
"Terimakasih," ucap Panglima dan kedua jenderal.
"Maaf Tuan Panglima, Tuan Jenderal. Kami tidak segera menyambut Tuan, karena situasinya seperti yang tuan lihat."
"Aku mengerti," ucap Panglima.
"Bagaimana rencana penataan kota ini. Apa sudah mendapat gambaran dari Panglima Arya?" Tanya Panglima Kerajaan.
"Sudah Tuan Panglima. Sebentar lagi akan dilaksanakan penataan dan pembangunan, di seluruh kota Pelabuhan Tanjung Perak. Pembangunan ini, akan diawasi langsung oleh Jenderal Anggadiredja dan Jenderal Kartadipura," ucap Tuan Kota menjelaskan.
"Bagus! Dengan begitu, pembangunannya akan cepat selesai," balas Panglima.
"Semuanya sudah ditargetkan, dalam waktu empat bulan, harus segera selesai."
"Harus itu. Harus selesai, karena nantinya kota ini akan menjadi kota terbesar di benua ini," tegas Panglima.
Tuan kota, menganggukkan kepalanya, tanda mengerti. Bahkan dia juga sudah diberi tahu oleh Jenderal Anggadiredja, bahwa kota ini nantinya akan menjadi pusat penguasa Benua Tengah.
__ADS_1
Tentunya dimasa depan, kota ini akan menjadi sentral usaha perdagangan. Semua saudagar kaya, bangsawan, para kultivator dari berbagai kerajaan, akan singgah di kota ini.
Arya melalui dua jenderal bawahannya, memerintahkan untuk segera membangun kota ini, semua biaya bagi Arya, tidak masalah, yang penting pembangunannya cepat terselesaikan dalam waktu empat bulan, karena akan segera dipergunakan, setelah merebut Kerajaan Daha.
Segala bentuk penataan dan pembangunan, di seluruh kota Pelabuhan Tanjung Perak, semakin dipacu, sesuai dengan kebutuhan dan pola penataan kota. Dari mulai pembangunan Istana Penguasa Benua Tengah yang megah, Markas Komando Pasukan Khusus, Markas Besar Pasukan Prabu Widjaya, Dermaga Pelabuhan, Markas Komando Angkatan Laut, karena akan segera dibentuk Pasukan Khusus Angkatan Laut, dan berbagai pembangunan lainnya.
Empat bulan berlalu, semua pembangunan telah selesai, dan sebagian sudah digunakan oleh pasukan dan para pejabat tingginya. Begitu juga dengan Istana Penguasa Benua Tengah yang megah, sudah ditata dan dijaga oleh prajurit khusus, tinggal menunggu kedatangan Arya.
Selang beberapa waktu kemudian, rombongan Pasukan Khusus Rajawali tiba di atas kota, sepuluh ribu burung rajawali raksasa, terbang melayang di atas kota Pelabuhan Tanjung Perak. Semua penduduk dan pengunjung, kagum melihat ribuan burung melayang di atas langit kota Pelabuhan Tanjung Perak.
Arya dan pasukannya, mendarat dilapangan depan Istana Penguasa. Arya diikuti sejumlah pejabat pasukan memasuki Istana, dan langsung menuju ke aula pertemuan.
Didalam aula, Panglima Kerajaan beserta rombongannya, siap menyambut Panglima Arya, sebagai calon Penguasa Benua Tengah.
"Panglima Arya memasuki aula!" Seru prajurit protokol.
Rombongan Panglima Kerajaan, sudah siap menyambut calon penguasa.
"Hormat kepada Penguasa Benua Tengah," sambut semuanya berlutut.
"Berdiri, hormat kalian aku terima," ucap Arya tersenyum.
Lantas semuanya menuju ketempat duduknya masing-masing. Arya duduk di kursi Penguasa, yang sudah disediakan. Pandangannya mengitari seluruh ruangan, menatap satu persatu orang didepannya.
"Salam kepada semuanya," ucap Arya berdiri dari kursinya, sambil menangkupkan tangan didepan dadanya, tanda memberi hormat.
Tentu saja, semua ikut berdiri, membungkuk memberi hormat.
"Salam kembali Penguasa," ucap mereka bersamaan.
"Terimakasih. Silahkan duduk kembali." Arya mempersilahkan duduk pada mereka.
"Panglima Kerajaan, apakah anda sudah siap menggempur dari dalam Istana Jayanagara?" Tanya Arya.
"Semua sudah siap, Penguasa," jawab Panglima Kerajaan.
"Bagus.... Bagus.... Kalau begitu, silahkan Panglima terlebih dahulu berangkat ke Kerajaan Daha, karena perjalanan berkuda dapat ditempuh dengan waktu satu minggu. Sedangkan lewat udara, hanya dalam waktu tiga hari. Nanti aku menyusulnya, kita bertemu di Istana kerajaan," ujar Arya.
"Baik Penguasa," balas Panglima.
"Begitu pula untuk pasukan angkatan darat, harus segera berangkat. Tapi jangan langsung masuk ke kota, seribu meter dari gerbang kota, harus mendirikan kemah, dipinggiran hutan menuju Kota Raja," jelas Arya.
"Siap Penguasa," jawab Jenderal Anggadiredja dan Jenderal Kartadipura bersamaan.
Lalu semuanya membubarkan diri, untuk segera menuju ke Kota Raja. Begitu pula dengan Arya, dia masuk kamar yang sudah disiapkan untuk istirahatnya.
Didalam Kota Pelabuhan Tanjung Perak, semua pengunjung berdecak kagum, atas penataan dan pembangunan kota. Mereka terlihat begitu senang jalan-jalan di kota pelabuhan. Toko-toko sepanjang jalan berjajar rapih. Taman kota, taman bunga begitu indahnya. Gedung-gedung, penginapan dan rumah makan bertingkat menambah suasana kota yang megah. "Sungguh indah dan nyaman," batin semua pengunjung.
"Oh.... Alangkah indahnya kota ini," ucap beberapa pengunjung.
"Begitu rapih dan bersih kotanya," balas pengunjung lainnya.
"Terasa nyaman untuk tinggal disini," sahut beberapa pengunjung, yang tertarik untuk tinggal di kota itu.
Tuan Kota pun merasa senang, dengan adanya penataan dan pembangunan di seluruh Kota Pelabuhan Tanjung Perak. "Jika Dulu Panglima Kerajaan tidak mengingatkanku, kemungkinan aku akan hancur ditangan Arya, yang sekarang telah menjadi Penguasa," batin Tuan Kota, ketika dia memerintahkan bawahannya untuk membunuh Arya.
__ADS_1
"Hahaha..... Nasib baik ternyata masih berpihak padaku," gumam Tuan Kota, tertawa dalam batinnya.
Bersambung.....