
Disebuah Perkampungan dibalik hutan jati, terjadi sesuatu hal yang aneh bagi penduduknya, karena hampir setiap harinya selalu ada saja kehilangan hewan piaraannya. Entah itu kerbau, kambing, ayam dan hewan ternak peliharaan lainnya.
Perkampungan Jati Tunggal, nama sebuah kampung yang ditengah-tengahnya terdapat sebuah pohon Jati Besar, sudah berusia ratusan tahun, sangat terkenal dengan berbagai kerajinan tangan seperti kursi ukiran dari kayu jati, tempat tidur kayu jati, meja kayu jati, lemari kayu jati, serta berbagai ukiran yang terbuat dari bahan kayu jati.
Ketua kampung Jati Tunggal, Argadana, memerintahkan warga kampung beserta seluruh keamanan bergiliran meronda setiap malamnya, sampai tertangkapnya pencuri hewan-hewan ternak penduduk.
Hilangnya semua hewan peliharaan, menyisakan sebuah tanda tanya. Jika memang dimangsa oleh bintang buas, pasti ada jejak darahnya.
"Pasti ini perbuatan seseorang yang memiliki ilmu iblis, karena kalau pencuri orang biasa, tanpa memiliki kekuatan iblis, tentunya sudah dapat ditangkap, karena setiap malamnya selalu ada petugas ronda," ucap Ketua Kampung pada petugas ronda.
"Iya, Ketua. Tentunya bukan saja hanya satu orang, pasti ada komplotannya," ucap salah seorang petugas ronda.
"Pastinya begitu, soalnya sangat sulit untuk dijebaknya. Atau mungkin benar kata Ketua Kampung, pencuri itu bersekutu dengan iblis," sambung petugas ronda lainnya.
"Benar juga kalau begitu," tambah petugas ronda lainnya lagi.
Obralan antara Ketua Kampung dengan petugas ronda di pos penjagaan, diawasi oleh beberapa pasang mata yang menyala merah menakutkan.
Beberapa pasang mata dari lima makhluk yang menyeramkan itu, terbang mendekati gerbang kampung, hendak mengusir para penjaga pos yang sedang meronda.
Dengan suara menggeram menggetarkan tempat itu, lima makhluk berwarna merah bertanduk, berhasil mengusir Ketua Kampung dan para peronda yang kabur ketakutan.
"Hahaha.... Hanya segitukah nyali para penduduk kampung ini," ucap salah seorang makhluk yang menyeramkan itu, yang ternyata lima orang perampok mengenakan kostum iblis merah, untuk menakut-nakuti warga kampung, agar sembunyi didalam rumahnya, hingga mereka leluasa menjarah hewan ternak penduduk.
"Ayo kita ambil hewan-hewan peliharaannya," ucap pemimpin rampok.
Kelimanya segera menuju ke kandang kerbau dan kambing, dengan membungkam mulut seluruh hewan dengan ajian seribu bisu, agar mudah digiringnya dan tidak bersuara. Namun perbuatan mereka itu diawasi oleh seorang pemuda yang mengenakan jubah hitam dan caping, dari sebuah dahan pohon besar yang tidak jauh dari mereka.
Para perampok itu menggiring hewan-hewan milik penduduk, namun sebelum mereka keluar dari perkampungan, dengan gerakan cepat tanpa dilihat oleh mata, Arya melesat menghampiri perampok dan memukulnya dibagian bawah perutnya, hingga menjerit merasakan kesakitan karena basis kultivasi mereka dihancurkan.
"Hahaha.... Ternyata hanya lima orang begundal sampah, yang menjadi biang kerok perampokan disejumlah perkampungan," ucap Arya tertawa, menghina para perampok.
Arya segera merantai mereka dengan rantai baja, yang sudah dipersiapkan untuk merantai para perampok.
"Bagaimana sekarang, setelah menjadi sampah!" Tanya Arya, menatap mereka satu persatu.
Kelima perampok itu masih meringis menahan rasa sakit bukan kepalang, mereka tidak menyangka bakal tertangkap seperti ini. Dirantai sekujur tubuhnya, dan basis kultivasinya sudah dilumpuhkan.
__ADS_1
Arya memukul sebuah kentongan untuk memanggil seluruh warga kampung, agar kumpul ditengah-tengah perkampungan, yang mana kelima perampok itu dirantainya, dan rantainya diikatkan kesebuah pohon jati besar, yang berada ditengah perkampungan, dan ada sebuah tulisan dengan arang hitam dekat pohon besar itu. Tulisan tersebut berbunyi 'Arya Sang Petualang', serta tulisannya terlihat sangat besar dan jelas.
Kemudian Arya meninggalkan tempat itu, dan mengawasinya dari jauh, untuk memastikan apakah para penduduk itu keluar dan berkumpul ditengah perkampungan.
Tak berselang lama, para penduduk keluar dari rumahnya masing-masing, dan menuju ketempat dimana tadi terdengar suara kentongan dipukul beberapa puluh kali.
Seluruh warga kampung Jati Tunggal, terkejut melihat ada lima makhluk berwarna merah bertanduk diikat di pohon jati besar, dan ada seorang yang kostumnya sengaja dilepas oleh Arya sampai sebatas perut, agar mereka mengetahui bahwa makhluk itu hanya lima orang perampok biasa, yang sudah tidak memiliki kekuatan lagi.
Penduduk kampung yang membaca tulisan itu penasaran, karena sebagian dari mereka sudah mendengar sepak terjangnya dalam membela orang-orang yang lemah, dan membasmi para begundal perampok.
Meskipun diantara mereka penasaran, karena belum pernah melihat tampilan Arya, hanya cerita dari mulut ke mulut. Namun mereka tetap berterimakasih kepada Arya, yang telah membebaskan kampung Jati Tunggal dari serangan perampok.
"Kita do'akan semoga dia diberkati, dan semoga Tuhan selalu melindunginya," ucap ketua kampung mendo'akan Arya, dan langsung diaminkan oleh seluruh warga kampung yang berada ditempat itu.
Arya yang melihatnya dari jarak sepuluh meter di atas sebuah pohon besar, tersenyum senang bisa membantu warga, membebaskan dari tekanan para perampok yang menjarah semua hewan-hewan ternaknya.
Kemudian Arya meninggalkan tempat itu, untuk melanjutkan perjalanannya lagi.
"Biarlah para penduduk kampung, untuk membuka rantai yang mengikat rampok itu," ucap batin Arya tersenyum.
Dia terus melangkah dikeremangan malam, yang hanya disinari oleh cahaya alam, dengan diiringi oleh berbagai suara binatang malam, yang mengantarkan gerakan ayunan langkah kakinya.
Arya mencoba masuk ketempat itu, dan memesan minuman tuak Dewa, yang kebetulan ada, dan tingkatnya tingkat rendah.
Seorang perempuan muda menghampiri Arya, dengan sebuah kendi kecil tempat minuman, dan dua buah cangkir minuman untuk Arya dan perempuan muda itu.
Arya menatap perempuan muda, yang mengisi kedua cangkir, dengan tuak dewa tingkat rendah.
"Silahkan diminum, Tuan Muda," ucap perempuan muda, sambil menatap Arya genit. "Boleh aku menemanimu, Tuan Muda?" Tambah lanjutnya.
Arya hanya menatapnya tersenyum, sambil menganggukkan kepalanya.
"Siapakah nama Tuan Muda, dan hendak pergi kemana?" Tanya perempuan muda, sekedar hanya basa-basi.
"Aku seorang petualang, yang selalu singgah dimana saja," jawab Arya acuh, sambil menikmati secangkir tuak dewa tingkat rendah.
Meskipun tingkatannya tingkat rendah, namun tuak dewa itu begitu menyegarkan di tenggorokannya. Rasa segar dan nikmat, menyeruak masuk kedalam tubuhnya.
__ADS_1
Tiba-tiba enam pria setengah baya, masuk kedalam warung, dimana Arya tengah menikmati secangkir tuak dewa.
Dengan sikap kasar, mereka menarik beberapa perempuan untuk melayaninya.
"Ayo sini, layani kami," ucap para pria kasar itu.
"Ini satu lagi, ayo layani tuan kami," ujar salah seorang pria berangasan, hendak menarik wanita dihadapan Arya, namun sebelum mereka menjamah tubuh wanita itu, tiba-tiba Arya melambaikan tangannya, yang langsung membuat pria setengah baya terpental kearah belakang, hingga menabrak tiang dinding warung hingga roboh.
Karuan saja kejadian yang secara tiba-tiba, membuat semua orang yang berada di warung itu melongo kaget. Terutama kelima teman pria setengah baya, yang terpental.
"Hai, anak muda. Siapa kamu? Sungguh berani kamu membuat urusan denganku!" Seru pemimpin pria setengah baya.
Arya hanya menatapnya, lalu dengan tenangnya kembali menikmati minuman tuak dewa, seolah tidak terjadi sesuatu.
"Hai bajingan, ditanya malah diam saja. Rasakan ini... Hiaattt...!" Seru pemimpin rombongan marah, dan langsung menerjang Arya dengan goloknya.
Sekali lagi Arya hanya melambaikan tangannya, hingga membuat pria itu terlempar menabrak beberapa tiang warung hingga pada patah, dan hampir saja warung itu roboh, hanya miring karena ditahan oleh kekuatan Arya.
"Para pelayan, silahkan kalian keluar semua. Biar para bajingan ini aku tangani dulu," ucap Arya, memberi perintah kepada para pelayan perempuan warung remang-remang.
Semua pelayan wanita, pemilik dan para pengunjung berlarian keluar dari dalam warung, menyelamatkan dirinya masing-masing.
Setelah semuanya keluar, dan hanya menyisakan para begundal, baru Arya melompat dan melepaskan penyangga warung, hingga roboh menimpa keenam begundal yang membuat ulah.
Tak seberapa lama, mereka bermunculan keluar dari reruntuhan warung remang-remang, sambil meringis menahan sakit.
Sebelum mereka memulihkan kesadarannya, Arya langsung mengikat mereka dengan rantai baja, kemudian melumpuhkan basis kekuatan kultivasinya, serta mengambil seluruh uang dari cincin penyimpanan milik mereka, dan menyerahkannya kepada pemilik warung.
"Pak Tua, ini hanya sekedar pengganti warung yang roboh. Semoga cukup untuk membangun kembali warungnya," ucap Arya, sambil menyerahkan enam kantong koin emas kepada pemilik warung, yang diambilnya dari keenam begundal-begundal itu.
Setelah pemilik warung itu memeriksa seluruh isi dari kantong itu, baru dia berkata.
"Terimakasih, Tuan Muda. Ini lebih dari cukup," ucap pria tua, menangkupkan kedua tangannya sambil membungkuk, tanda menghormati Arya.
"Sekalian Pak Tua, bereskan para begundal-begundal itu. Kalau merepotkan, buang saja ketengah hutan. Biar menjadi santapan binatang-binatang buas," ucap Arya lagi.
"Baik, Tuan Muda," balas pria tua pemilik warung.
__ADS_1
Tanpa membuang-buang waktu lagi, Arya pun segera pergi dari tempat itu, meneruskan perjalanannya lagi, walaupun keadaannya masih gelap.
Bersambung.....