Kultivator Tingkat Dewa

Kultivator Tingkat Dewa
34. Kelompok Pemuda Berandalan


__ADS_3

Dalam perjalanan dari Benua Barat ke Benua Utara, rombongan Jenderal Anggadiredja mengalami hambatan di perairan perbatasan kedua benua itu. Mereka dihadang oleh pasukan iblis Raja Ular Hitam, yang dipimpin oleh dua jenderal iblis ditingkat Maha Abadi tahap puncak, dengan ribuan prajuritnya diranah Abadi Bintang Sembilan tahap puncak, benar-benar sebuah pasukan yang mengerikan.


Kendati prajurit iblis Raja Ular Hitam berjumlah ribuan, namun jenderal Anggadiredja beserta bawahan inti Arya, yang kini sudah menjadi Pasukan Inti Penguasa Agung, yang bertugas membersihkan seluruh Pasukan Iblis, sedikitpun tidak merasa takut, malahan bersemangat bertemu dengan musuh yang kuat, itung-itung latihan untuk meningkatkan kemampuan bertempur.


Ranah kekuatan kultivasi Jenderal Anggadiredja, setelah terus-menerus berlatih dan mengkonsumsi buah-buahan Dewa, serta sumberdaya tingkat Dewa pemberian dari Arya, ranahnya meningkat drastis beberapa tingkat, dan sekarang berada ditingkat Absolute tahap awal, begitu pula dengan anggota Pasukan Inti Penguasa Agung, paling rendah ranahnya berada ditingkat Dewa Abadi tahap puncak, selangkah lagi mencapai Maha Dewa Abadi.


Pasukan Inti yang dipimpin Jenderal Anggadiredja, meskipun kalah jumlah dari segi kuantitas, namun dari segi kualitas lebih unggul dari pasukan iblis.


Bahkan kekuatan tempur dari empat puluh sembilan anggota Pasukan Inti,  tidak diragukan lagi. Dan jurus-jurus Rajawali Sakti tingkat tinggi, yang diberikan oleh Arya, sudah mencapai tahap sempurna.


Keempat puluh sembilan anggota Pasukan Inti Penguasa Agung, telah siap menghadapi pasukan iblis Raja Ular Hitam.


Walaupun sekarang mereka dikepung oleh ribuan prajurit iblis, yang terus merangseknya meningkar dari berbagai arah. Jenderal Anggadiredja beserta Pasukan Intinya, dengan tenang menghadapi serangan prajurit iblis.


Gempuran dan terjangan yang diarahkan kepada Pasukan Inti Penguasa Agung, ditadahnya dengan mudah, bahkan untuk melumpuhkan pasukan iblis, keempat puluh sembilan anggota Pasukan Inti, telah mengeluarkan jurus-jurus Cakar Rajawali Sakti tingkat tinggi, sehingga sekali pukulan, ratusan prajurit iblis terlempar beberapa puluh meter.


Pukulan dan tendangan silih berganti. Helaan nafas berpacu dengan teriakan terdengar dari arena pertempuran, membuat pertempuran itu semakin seru.


Puluhan jurus telah terlewati, pertempuran sudah mulai tidak seimbang. Keempat puluh sembilan anggota Pasukan Inti, yang dipimpin oleh jenderal Anggadiredja, terus merangsek pasukan iblis hingga mereka terdesak.


Duarr.... Duarr....


Terdengar suara pukulan jarak jauh Cakar Rajawali Sakit, menggema diseputaran arena pertempuran, melemparkan ratusan prajurit iblis.


Duarr.... Duarr....


Pukulan jarak jauh Cakar Rajawali Sakti, terus menghantam prajurit iblis, sehingga mereka dibuat kalang kabut.


Dug.... Bug....


Disusul dengan serangan pukulan jarak pendek, yang terus menerus mendarat ditubuh prajurit iblis, membuat mereka semakin kewalahan.


Duarr.... Bug.... Ahhh.....


Pukulan jarak jauh dan jarak dekat saling berganti, membuat keluh jerit kesakitan terus terdengar.


Ratusan jurus terlewati, Pasukan Inti Penguasa Agung terus mendesak musuh-musuhnya, hingga sebagian dari mereka telah ditaklukkan, dan sudah kehilangan ranah kultivasinya.


Dari ribuan prajurit iblis, kini yang tersisa tinggal dua ratus prajurit. Itupun mentalnya sudah jatuh. Tidak berdaya lagi menghadapi Pasukan Inti Penguasa Agung.


Kedua ratus prajurit yang tersisa, akhirnya menyerah dihadapan Jenderal Anggadiredja, dan mereka kehilangan ranah kultivasinya.


Setelah menaklukkan ribuan prajurit iblis Raja Ular Hitam, Jenderal Anggadiredja beserta Pasukan Inti Penguasa Agung, meneruskan perjalanannya lagi menuju Benua Utara, untuk membersihkan seluruh pasukan iblis.


________________


Didalam Markas Komando Gabungan Pasukan Garuda Kencana.


Arya dengan menyamar sebagai petualang, memperhatikan jalannya pemelihan calon prajurit elit dan calon prajurit khusus, yang dibagi menjadi tiga grup.


Grup pertama, mereka yang berusia enam belas tahun sampai delapan belas tahun, dengan ranah Pendekar Dewa Bumi, Grup Dua, berusia sembilan belas tahun hingga dua puluh satu tahun, dengan ranah Pendekar Dewa Langit, Grup tiga, berusia dua puluh dua tahun sampai dua puluh lima tahun, dengan ranah Pendekar Dewa Surga.


Ketiga grup, mengisi ketiga arena pertarungan, dengan lima juri dan tiga wasit dari setiap arena.


Setiap calon prajurit, berhadapan satu lawan satu diatas arena. Pemilihan ini dibagi tiga tahap, tahap pertama bertarung sampai tiga puluh kali menang berturut-turut, begitu juga tahap dua dan tiga, harus memenangkan pertarungan secara berturut-turut.


Setelah puas Arya menyaksikan pemilihan calon prajurit secara langsung, diapun pergi meninggalkan tempat itu, dan menuju kearah kota sebelah selatan, untuk memantau situasi keamanan di pemukiman padat.


Arya terus melangkah menyusuri setiap jalan dan lorong perkotaan, hingga bertemu dengan sekelompok pemuda berandalan yang tengah mengganggu seorang pengemis.


"Dasar sampah yang tidak berguna, membuat kota menjadi sesak saja. Ayo sana pergi, keluar dari kota ini," hardik pemuda berandalan pertama mengusir pemuda pengemis.

__ADS_1


Dug.... Bug....


Pemuda kedua menendang pemuda pengemis itu, hingga tersungkur ke tanah.


"Hahaha..... Dasar sampah, sekali tendang saja langsung nyungsep," sambung pemuda ketiga tertawa.


Pemuda keempat, lima, enam dan ketujuh, berniat menyeret mereka, namun keburu dicegah oleh Arya, yang tiba-tiba datang menghalau kelakuan mereka.


"Berhenti....! Siapa kalian sebenarnya, berani berbuat onar di kota ini?" Sergah Arya bertanya.


"Hahaha.... Ternyata ada seorang pahlawan membantu si sampah ini," jawab pemuda ketujuh yang hendak menyeret pemuda pengemis.


"Mending jadi pahlawan daripada menjadi sampah busuk seperti kalian," balas Arya, memprovokasi mereka.


"Bajingan kamu, berani-beraninya menghina kami," sahut pemuda kelima marah.


"Yang bagingan itu kalian, tidak punya malu mengeroyok pengemis yang tidak berdaya," ucap Arya, terus memprovokasi mereka.


"Bangsat.... Hiaattt....!" Teriak pemuda ketujuh menyerang Arya.


Arya tidak menghindar, dia menadah serangan pemuda itu dengan lima persen kekuatannya.


Duarr....


Dua kekuatan beradu hingga melemparkan pemuda ketujuh, sedangkan Arya masih berdiri tersenyum menatap mereka satu persatu.


Pemuda yang lainnya, terkejut begitu melihat pemuda ketujuh terlempar.


"Ayo, kita serang pemuda bajingan itu," teriak pemuda pertama, memberi komando kepada teman-temannya, sambil menerjang Arya.


Serempak, mereka melancarkan serangannya terhadap Arya.


Arya kali ini ingin bermain sebentar bersama mereka. Tangan kanan Arya menangkis serangan pukulan dari pemuda pertama, Lalu menariknya dan menyentokkannya kearah berlawanan. Tangan kirinya mendorong tubuh pemuda pertama dengan kekuatan sepuluh persen, hingga melemparkan pemuda itu ratusan meter menabrak pepohonan dipinggir jalan.


Tak lama, pasukan patroli datang menghampiri Arya, yang berdiri tegak ditengah jalan.


"Kenapa kamu berani membuat keributan di kota ini?" Tanya Komandan prajurit patroli, menghardik Arya begitu tiba dihadapannya.


"Terlambat, kenapa kalian tidak dari tadi munculnya," jawab Arya, memprovokasi mereka ingin menguji kekuatan pasukan dibawahnya.


"Ditanya malah balik bertanya. Siapa kamu sebenarnya?" Tanya Komandan itu lagi, yang ranahnya sudah ditingkat Maha Penguasa tahap awal, sedangkan prajurit patroli yang terdiri dari para perwira muda lulusan Hutan Larangan, berada di ranah Penguasa tahap puncak.


"Aku hanya seorang petualang biasa, yang ingin mencoba kekuatan pasukan patroli kota ini," balas Arya, terus memprovokasi mereka.


"Dasar bajingan kamu, ditanya malah balik menantang. Jangan salahkan kami bila kami bertindak tegas, hiaattt...." sahut Komandan prajurit patroli, berteriak menerjang Arya.


Dia ingin menguji kekuatan pasukan dibawahnya, dengan sama-sama melancarkan pukulannya hingga dua kekuatan beradu.


Duarr.....


Komandan patroli itu terlempar ratusan meter, padahal Arya hanya menggunakan kekuatannya sepuluh persen.


"Dasar sampah, komandan prajurit yang tidak berguna. Baru segitu saja sudah terlempar," ucap Arya, terus-menerus memprovokasi mereka.


"Ayo tangkap pemuda bajingan itu," teriak wakil komandan patroli, memberi komando.


"Coba buktikan kalau kalian mampu menangkap ku," ujar Arya.


Tiga puluh prajurit patroli perwira muda, mengepung Arya dari berbagai arah, bermaksud untuk menangkapnya.


Hiaattt......

__ADS_1


Mereka berloncatan menerjang kearah Arya, dengan pukulan Tapak Dewa yang belum sempurna, Arya hanya menepis pukulan-pukulan mereka, namun dampaknya sangat dahsyat sekali, hingga melemparkan mereka keberbagai arah.


"Hanya segitukah kekuatan kalian?" Tanya Arya. "Padahal aku hanya mengeluarkan sepuluh persen kekuatan," tambahnya.


Komandan Patroli yang baru bangkit, setelah ratusan meter terlempar, terkejut mendengar ucapan Arya, yang mengatakan hanya mengeluarkan sepuluh persen kekuatannya.


"Siapa kamu sebenarnya? Jangan-jangan kamu mata-mata Raja Ular Hitam, yang menyusup ke kota ini!" Tanya Komandan patroli, menatap Arya yang terlihat tenang.


"Oh.... jadi kalian semua mata-mata Raja Ular Hitam," sergah Arya, terus memprovokasi mereka.


"Jangan banyak bicara kau, tadah serangan ku ini..... Hiaattt..... " Teriak marah Komandan Patroli, kembali menyerang Arya.


Arya tersenyum melihat kemarahan komandan patroli.


"Aku telah berhasil memancing kemarahannya. Ini merupakan satu bukti bahwa sistem pendidikannya harus dirubah, agar semua prajurit tidak mudah terprovokasi," ucap batin Arya, sambil menadah serangan dari Komandan Patroli.


Duarr.....


Dua kekuatan beradu, hingga kembali melemparkan komandan itu beberapa ratus meter.


"Bagaimana sekarang? Apakah kalian masih sanggup untuk bermain-main denganku?" Tanya Arya, menatap mereka satu persatu.


"Si.... Siapakah sebenarnya kamu?" Tanya ketakutan komandan patroli itu menatap Arya.


"Kamu ingin tau apa hanya sekedar bertanya," Arya mengolok-olok komandan patroli.


Komandan patroli itu menahan marah, karena Arya terus mengolok-oloknya.


"Kalau kalian ingin tau, siapa aku yang sebenarnya, perhatikan dengan mata kepala kalian, siapa diantara kalian yang telah mengenalku?" Tanya Arya, sambil membuka caping dan melepas kumis palsunya, kini tampak wajah aslinya yang tampan dengan kumis tipisnya, berdiri gagah dihadapan mereka.


Tentu saja hanya komandan patroli, yang mengetahui siapa pemuda tampan yang berdiri dihadapannya, karena dia asli warga kampung yang kini kampungnya dijadikan kota metropolitan oleh Arya.


"Pe..... Penguasa Agung," gugup ketakutan komandan patroli, langsung berlutut dihadapannya memohon ampunan.


Tiga puluh perwira muda, sangat terkejut begitu mendengar ucapan komandannya, dan mereka langsung berlutut mengikuti komandannya, begitu juga dengan pemuda berandalan yang sudah siuman dari pingsannya, dan pemuda pengemis itu, sama-sama berlutut dihadapan Arya, memohon ampunan.


"Pe.... Penguasa Agung, ampuni kami yang tidak tau, bahwa penguasa Agung sedang menyamar," ucap gugup ketakutan komandan patroli, diikuti dengan yang lainnya.


"Berdirilah, kenapa kalian membela orang yang salah. Apakah kalian mengenal dengan pemuda berandalan itu?" Tanya Arya, kepada komandan patroli yang membela pemuda berandalan.


"Mereka anak-anak dari para bangsawan di kota ini, Penguasa Agung," jawab komandan patroli.


"Sejak kapan ada keluarga bangsawan yang menjadi berandalan?" Tanya Arya lagi.


"Sudah lama Penguasa Agung," balasnya.


"Kenapa kelakuan mereka yang buruk itu dibiarkan, lama kelamaan kelakuan yang buruknya akan menular kepada yang lainnya," ucap Arya lagi.


"Mereka punya pengaruh kuat di kota ini," balas komandan patroli.


Arya bergegas menghubungi jenderal Adiwiyata, Jenderal Bayu Amarta dan Jenderal Wiguna, melalui telepati jarak jauh, untuk segera datang ketempat Arya berada.


Tidak lama berselang, ketiganya tiba dihadapan Arya.


"Salam Penguasa Agung," ucap ketiganya, menangkupkan kedua tangannya sambil membungkuk.


Setelah ketiganya mengucapkan salam, Arya menceritakan tentang kronologi kejadian ditempat itu.


Ketiga jenderal mengerti apa yang diucapkan oleh Arya, dan Arya memerintahkan ketiga jendral bawahannya, untuk membawa para orang tua pemuda berandalan itu ke Aula Istana, beserta dengan para pemuda berandalan yang masih tersisa, serta memerintahkan Jenderal Bayu Amarta untuk merubah sistem pendidikannya calon perwira, agar lebih jeli dan tanggap terhadap situasi apapun, serta tidak mudah terprovokasi.


Setelah Arya menyelesaikan beberapa masalah penting menyangkut keamanan, dia mengajak pemuda pengemis itu untuk dididik menjadi pelayannya didunia jiwa.

__ADS_1


Usai semuanya dikerjakan, Arya segera meneruskan perjalanannya, memantau situasi keamanan didalam kota, sambil kembali mengenakan penyamarannya.


Bersambung........


__ADS_2