Kultivator Tingkat Dewa

Kultivator Tingkat Dewa
84. Hukuman Bagi Penguasa Dzalim


__ADS_3

Setelah badai laut reda, kapal air yang berlindung dibalik pulau, mulai bersiap-siap untuk meneruskan perjalanannya. Para awak kapal, dengan sigap mengembangkan layarnya, untuk berlayar masuk ke jalur yang biasa dilewati.


Kapal melaju dengan kecepatan sedang, sudah tidak ada rintangan lagi. Kondisi di laut sudah aman, badai sudah menghilang, ombak laut kembali ke semula. Dan para bajak laut, sudah ditumpas oleh Arya.


Tampak Dermaga Pelabuhan Tanjung Emas, sudah terlihat. Sebentar lagi kapal akan bersandar, dan para penumpangnya sudah bersiap-siap, untuk turun dari kapal air.


Beberapa waktu kemudian, rombongan Arya keluar dari kapal, dan langsung menuju kearah Ibukota Dewa Bintang Kejora, tanpa istirahat di Dermaga Pelabuhan, karena dia ingin cepat-cepat menyelesaikan semua urusannya.


Rombongan Arya, yang membawa Penguasa Benua Dewa Bintang Kejora beserta antek-anteknya, yang sudah dilumpuhkan oleh Arya, terus berjalan menuju ke alun-alun kota, untuk memberikan hukuman pelemparan batu oleh penduduk ibukota, yang telah ditindas dan di dzalimi.


Disepanjang jalan menuju ke alun-alun, komandan prajurit pengawal mengumumkan kepada penduduk ibukota, bahwa hari ini akan dilakukan hukuman pelemparan batu, kepada Penguasa benua beserta seluruh antek-anteknya.


"Pengumuman....! Pengumuman....! Di bewarakan ke seluruh penduduk ibukota, harap berkumpul di alun-alun. Karena hari ini, akan dilaksanakan hukuman pelemparan batu, kepada Penguasa benua, yang telah menindas dan mendzalimi rakyatnya!" Seru komandan prajurit pengawal, menyerukan kepada seluruh rakyat ibukota, untuk berkumpul di alun-alun.


Tentu saja pengumuman secara tiba-tiba itu, mengejutkan semua penduduk ibukota. Terutama para bangsawan, yang selalu menindas dan berbuat dzalim bersama Penguasa benua.


"Siapakah yang memberikan hukuman kepada Penguasa benua, apakah Penguasa Dewa Agung?" Tanda tanya di benak para bangsawan, penuh dengan rasa penasaran.


"Sekali lagi, di bewarakan kepada seluruh penduduk ibukota, bahwa pelaksanaan hukum pelemparan batu ini, diperintahkan oleh Yang Mulia Penguasa Agung Semesta Alam Raya, yang telah membersihkan alam ini dari dari para makhluk-makhluk iblis, dan sudah menghukum seluruh penguasa beserta para sekutu-sekutunya!" Seru Komandan Pengawal Ibukota. "Dan Penguasa Agung Semesta Alam Raya, telah mengangkat Ratu Dewi Nawangsari, menjadi Penguasa Alam Dewa Agung selanjutnya!" Tambah komandan prajurit pengawal ibukota, berseru kepada seluruh penduduk.


"Penguasa Agung Semesta Alam Raya!" Seru para bangsawan, terkejut dengan pengumuman itu


Para bangsawan dan petinggi ibukota Dewa Bintang Kejora, yang bersembunyi ketika pasukan bawahan Arya, yang dipimpin oleh Ratu Derwani menyapu bersih benua ini dari sisa-sisa makhluk iblis, kini tambah ketakutan lagi, karena mereka merasa bersalah telah mendukung perbuatan dzalim, yang dilakukan Penguasa benua.


"Bahaya buat kita semua," ucap salah seorang bangsawan, yang kebetulan tengah berkumpul bersama para petinggi ibukota, disebuah tempat yang mereka rahasiakan.


"Tenang saja, kita bisa mendekati Penguasa Alam Dewa Agung ini, apalagi dia seorang perempuan, dengan mudah aku menaklukkannya. Serahkan saja semuanya kepadaku," ucap salah seorang bangsawan, merasa yakin dapat menaklukkan Nawangsari.


"Benar ya, semua ini tanggungjawab mu!" Balas salah seorang petinggi Benua Dewa Bintang Kejora.


"Ayo, sekarang kita hadang mereka, paling kekuatan perempuan itu hanya berada ditingkat Low God tahap awal, sedangkan aku sudah berada ditingkat Low God tahap puncak," ucap bangsawan itu sombong, menyepelekan ranah kekuatan Nawangsari.


"Bagaimana dengan kekuatan Penguasa Agung Semesta Alam Raya, yang telah menaklukkan Penguasa benua ini?" Tanya salah seorang petinggi ibukota.


"Aku yakin dia tidak ikut serta dalam rombongan, karena aku hanya melihat ada dua pasang muda-mudi, yang dikawal oleh prajurit pengawal ibukota. Kemungkinan salah seorangnya adalah Ratu Dewi Nawangsari," ucap bangsawan itu.

__ADS_1


"Iya bener, tadi aku melihatnya. Tapi yang disebutkan sebagai Ratu Dewi Nawangsari, aku mengenalnya sebagai wanita lemah. Karena dia anaknya teman kita, yang diracun oleh adik tirinya. Pasti kalian semua sudah tau kisah itu, kejadiannya sekitar satu tahun yang lalu," ucap salah seorang bangsawan.


"Iya, aku tau dengan kejadian itu. Nawangsari kabur ketika hendak dijual ke Penguasa Benua, oleh adik tiri ayahnya. Waktu itu memang dia kekuatannya lemah," sambung bangsawan lainnya.


"Siapa tau dia bertemu dengan seorang guru yang hebat, sehingga dia sekarang tambah kuat," balas petinggi benua.


"Aku lihat tadi, dia sama sekali tidak memiliki kekuatan," sahut bangsawan yang sombong itu.


"Ayo, kita buktikan sekarang. Kalau itu benar, kita akan menguasai benua ini, bahkan mungkin bisa menguasai Alam Dewa Agung," ucap petinggi benua, penasaran ingin membuktikan.


"Ayo kita hadang mereka!" Seru bangsawan lainnya.


Mereka yang terdiri dari para bangsawan, dan petinggi Benua Dewa Bintang Kejora, yang sebelumnya telah bersekutu dengan para makhluk iblis, beranjak dari tempat itu hendak menghadang rombongan Arya dan Nawangsari.


Rombongan Arya tiba di alun-alun kota, membawa Penguasa benua beserta antek-anteknya, yang akan diikat ditengah alun-alun, untuk menerima hukuman pelemparan batu.


Namun sebelum Arya menibankan hukuman kepada penguasa benua, tiba-tiba ada sekolompok bangsawan dan petinggi benua, yang datang mencegah niat Arya, memberikan hukuman kepada penguasa dzalim dan antek-anteknya.


"Berhenti, apa haknya kalian memberikan hukuman kepada penguasa benua dan orang-orangnya? Ayo lepaskan mereka, seenaknya saja menghukum orang tanpa sebabnya!" Hardik seorang bangsawan yang sombong dan arogan itu, diikuti oleh para bangsawan dan petinggi benua.


Nawangsari tidak ingin bermurah hati kepada para bajingan, yang berkedok sebagai bangsawan dan petinggi benua. Dia lalu menindas para bajingan itu dengan ranah kekuatan kultivasinya, sehingga mereka semua jatuh tersungkur mencium tanah, dibantu oleh Arya dengan gerakan yang kilat, menghancurkan basis kultivasi mereka.


Para bangsawan dan petinggi benua, menjerit kesakitan dibawah perutnya, yang tiba-tiba dipukul oleh Arya, dengan gerakan yang tidak dapat dilihat oleh mata.


Arya mengumpulkan mereka, disatukan dengan Penguasa benua, beserta antek-antek yang lainnya, diikat ditengah-tengah alun-alun.


"Sekarang rasakan oleh kalian, bagaimana rasanya ditindas oleh orang-orang yang memiliki kekuatan. Ini semua merupakan hukum karma buat kalian," ucap Arya. "Komandan pengawal, bereskan semuanya. Dan setelah ini, datanglah ke ibukota Alam Dewa Agung, di kota Dewa Dewi Bulan, temui Ratu Dewi Nawangsari, sebagai Penguasa alam ini, untuk menobatkan mu sebagai penguasa benua," tambah Arya.


"Baik, Penguasa Agung," balasnya senang, mendapat kepercayaan dari Arya dan Nawangsari.


Komandan pengawal ibukota, yang telah dipercaya oleh Arya dan Nawangsari, menjalankan seluruh perintahnya, memberi hukuman kepada Penguasa dzalim beserta antek-anteknya, dengan hukuman pelemparan batu oleh penduduk ibukota.


Seluruh penduduk ibukota, merasa senang dapat membalaskan sakit hatinya kepada penguasa dan para sekutunya. Mereka berbondong-bondong mendatangi alun-alun, dengan membawa batu ditangannya masing-masing. Komandan pengawal Ibukota, memerintahkan kepada setiap penduduk, harap bersiap-siap untuk memberikan hukuman kepada penguasa dzalim dan antek-anteknya.


Sementara Arya dan Nawangsari, sudah meninggalkan tempat itu, melesat terbang dibalik awan, menuju kearah ibukota Alam Dewa Agung, di kota Dewa Dewi.

__ADS_1


Arya dan Nawangsari, terbang dengan kecepatan sedang, sambil mengawasi keadaan dibawahnya. Memantau seluruh kawasan yang dilaluinya, dan bilamana keduanya menemukan tempat-tempat yang mencurigakan, segera bertindak untuk membereskannya.


Mata malaikat Arya, terus memindai seluruh tempat yang dilewati, hingga matanya tertuju pada satu titik dibawahnya.


Gegas Arya terbang menuju ketempat itu, diikuti oleh Nawangsari dari belakang.


Setibanya ditempat yang dianggap mencurigakan, terlihat dimatanya ada sepasang bayi kembar, yang menangis ditinggal kedua orangtuanya.


"Siapa orangnya yang telah tega, membuang sepasang bayi kembar didalam hutan ini," ucap Arya, kepada Nawangsari.


"Coba kita dekati, Kak," balas Nawangsari.


Lalu keduanya mendekati sepasang bayi kembar itu, dan menelitinya dengan seksama.


"Hmmm.... Ini ada kalung giok dileher keduanya, yang menjelaskan bahwa bayi ini dari Alam Dewa Langit. Kenapa bisa berada disini?" Ucap Arya lirih.


Arya kemudian memindai kedua bayi kembar, dengan kekuatan mata malaikatnya, untuk mengetahui lebih jauh lagi tentang sepasang bayi kembar itu.


"Hmmm.... Kedua bayi kembar ini, diculik dan dibawa kabur oleh makhluk iblis, untuk dijadikan persembahan kepada Raja Iblis Ular Hitam, namun jatuh masuk kesebuah portal, hingga terlempar ke alam ini," tambah Arya.


"Kak, biar aku dan para pelayan didalam dunia jiwa, yang mengurus kedua bagi kembar ini," pinta Nawangsari.


"Baiklah, sekarang kedua bayi kembar itu, kita bawa masuk kedalam dunia jiwa," ucap Arya, sambil membuka gerbang dunia jiwanya.


Keduanya lalu loncat memasuki dunia jiwa, membawa sepasang bayi kembar.


Arya dan Nawangsari, langsung membawa sepasang bayi kembar itu, ke istana para pelayan, untuk mengurus kedua bagi kembar.


Usai memberikan sepasang bayi kembar kepada pelayannya, untuk dirawat dan dididik, Arya dan Nawangsari, bergegas keluar dunia jiwa.


Whuuss.... Whuuss....


Keduanya muncul ditempat semula, untuk melanjutkan kembali perjalanannya.


Perjalanan terbang dari Benua Dewa Bintang Kejora ke kota Dewa Dewi, hanya membutuhkan waktu satu hari, tanpa istirahat sama sekali.

__ADS_1


Keduanya terus melesat dibalik awan, terbang dengan menambah kecepatannya. Ingin segera sampai di kota Dewa Dewi.


Bersambung.....


__ADS_2