
Angin malam di Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta Utara, cukup membuat tubuh terasa dingin, aroma bau amis ikan laut pun tercium sangat tajam menyengat hidung. Namun aroma bau amis itu tidak sedikitpun mengurangi kesibukan para pekerja, tampak ada beberapa pungutan liar terhadap supir kontainer yang mengangkut peti kemas, dibiarkan tumbuh subur. Para calo terminal peti kemas, para preman dan para penjahat beroperasi dengan bebasnya, bahkan mereka-mereka itu dilindungi oleh beberapa oknum keamanan, yang selalu mendapat bagiannya dari setiap hasil kejahatan mereka.
Arya berjalan kaki menyusuri seluruh area didalam terminal peti kemas, melewati ribuan peti kemas yang berjejer dan ditumpuk, ada beberapa preman terminal yang tengah pada mabuk minuman keras. Arya tidak mempedulikannya selama dia tidak menggangu dirinya.
Dia terus berjalan melewati para preman itu, namun baru beberapa langkah didepan mereka, dua orang dari mereka menghadang Arya.
"Hai, eluh mau lewat jalan sini. Serahkan dulu barang-barang kepunyaan eluh. Baru eluh bisa lewat. Kalau kagak, gue pastikan eluh mampus disini!" Seru salah seorang preman, dengan gaya dan bahasa preman jalanan di Jakarta.
"Oh, kalian mau merampas barang milikku. Ambil saja kalau bisa," balas Arya, menatap mereka satu persatu.
"Eluh menantang gue?" Tanya preman itu merasa tidak suka.
"Boleh coba, kalau kalian berani," jawab Arya menantangnya.
"Bajingan luh...! Rasakan ini bacokan dari pedang gue. Hiiaaatttt....!" Serunya sambil menebaskan pedangnya kearah Arya. Namun dia sedikitpun tidak bergeser dari tempatnya, malah serangan pedang yang mengarah kepada dirinya, ditadah dengan tangan kanannya yang dialiri kekuatan sepuluh persen.
Trang.... Bug.... Ahhh.....
Terdengar suara pedang nyaring, seperti beradu dengan besi yang kuat, hingga pedang preman itu patah menjadi dua bagian, dan preman itu sendiri terlempar beberapa puluh meter menabrak peti kemas dengan sangat keras, hingga tidak bergerak lagi.
Melihat adegan seperti itu, semua preman yang berada ditempat itu gemetar ketakutan, mereka berusaha hendak melarikan diri. Namun dengan gerakan cepat, semua preman dengan mudah dapat dilumpuhkan.
"Mau pada kemana, kalian? Mau pada kabur? Boleh, tapi hanya satu orang saja yang boleh pergi, untuk melaporkannya kepada pimpinan kalian. Silahkan kau saja yang pergi," ucap Arya, menunjuk salah seorang preman untuk melaporkan kepada pemimpinnya. "Sampaikan salam ku kepada pemimpin kalian, aku akan menunggunya dipinggir laut sebelah sana," tambah Arya, menunjuk kearah pantai.
Arya menggiring semua preman terminal peti kemas, yang telah dia taklukkan kepinggir pantai, sebagai sandera agar pemimpin mereka datang menemuinya. Karena Arya ada sedikit rencana, untuk memanfaatkan seluruh preman yang berada di ibukota.
Tidak begitu lama, rombongan preman itu tiba dihadapan Arya. Mereka pada membawa senjatanya masing-masing, ada klewang, badik, clurit, golok, pedang, dan Ketua Premannya membawa senjata pistol yang sudah tergenggam ditangannya.
Begitu tiba dihadapan Arya, ketua preman itu terkejut melihat anggotanya terikat oleh rantai baja di sekujur tubuhnya.
"Siapa kau sebenarnya? Berani-beraninya menangkap anggota kelompok gue!" Hardik pemimpin preman, bertanya kepada Arya.
"Siapa aku itu kalian tidak perlu tau, yang perlu kalian ketahui, kalian berlututlah di hadapanku, untuk menjadi pengikut ku," balas Arya, menatap ketua preman, yang sudah menodongkan pistol kearah Arya.
"Bajingan kau...! Ditanya malah berani mengejek gue. Rasakan ini si ***** emas!" Seru pemimpin preman, menembakkan pistolnya kearah Arya.
Arya menghadapinya dengan sebuah senyuman, yang menghina mereka, sembari mengerahkan setengah kekuatan intinya, untuk menahan terjangan peluru emas yang dikeluarkan dari pistol ketua preman.
Dor.... Dor.... Dor.... Dor....
Terdengar empat kali suara muntahan peluru emas, yang melesat dengan cepat kearah Arya, keempat peluru emas itu mental kembali berbalik kearah mereka. Tentu saja hal itu membuat ketua preman terkejut.
"Awas, semuanya cepat menghindar!" Teriak ketua preman berseru, memperingati anggotanya untuk cepat menghindar.
Bagi mereka yang menyadari akan adanya bahaya, dengan cepat bergerak ketempat yang aman. Namun bagi yang tidak menyadarinya, tergeletak tertembus peluru emas.
Pemimpin preman itu sendiri melompat kearah kiri, hingga nyungsep ke pasir pantai, Arya tidak ingin mereka semua lolos. Dia cepat mengeluarkan rantai baja dari cincin penyimpanannya, dan menembakkannya kearah mereka, hingga membelit sekujur tubuh para preman termasuk pemimpinnya.
Dengan kekuatannya, Arya menarik semua preman dengan rantai baja yang sudah membelit tubuhnya, agar berkumpul dihadapan Arya.
"Bagaimana sekarang...? Apakah kalian masih ingin bermain-main denganku?" Tanya Arya, menatap mereka satu persatu.
"A.... Ampuni k.... kami Bang!" Ucap mereka gugup. "Ampuni kami Bang! Ampuni kami Bang!" Serentak mereka memohon ampunan kepada Arya, bersujud dihadapan Arya.
"Ampuni gue Bang! Gue menyerah, Bang. Dan mulai hari ini, gue bersama seluruh anggota gue bersedia menjadi pengikut Abang," ucap pemimpin preman, bersujud dihadapan Arya memohon ampunan.
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu, besok kalian semua datang ketempat ku di jalan Pajajaran Bogor, di rumah besar bercat putih kalian aku tunggu. Jika kalian tidak datang, aku akan mencari kalian hingga ke ujung dunia sekalipun," ucap Arya dengan sedikit ancaman.
"Baik, Bang! Besok pagi gue akan ketempat Abang," balas pemimpin preman itu.
Tanpa banyak bicara lagi, Arya langsung melesat terbang menembus awan. Tentu saja semua preman itu terkejut, karena selama mereka hidup dimuka bumi ini, baru kali ini melihat seorang manusia bisa terbang tanpa sayap.
"Bang Jali, dia sangat sakti sekali. Selain tahan dengan berbagai senjata, diajuga bisa terbang," ucap salah seorang anak buah Bang Jali, pemimpin preman itu.
"Iya, gue juga heran. Siapa sebenarnya dia," balas Jali.
"Bang Jali, dia sangat tepat menjadi guru kita," ucap preman lainnya.
"Gue juga berpikir begitu," balas Bang Jali.
Arya di atas awan terus melesat terbang dengan kecepatan tinggi, menuju kearah kota Bogor, kurang dari satu jam dia sudah sampai di halaman belakang rumahnya.
Warga disekitar rumah Arya, terpana melihat ada siluet cahaya biru masuk ke halaman belakang rumah mewah itu.
Dari dulu, semenjak yang punyanya meninggal, rumah itu oleh warga kota sudah dianggap sarang hantu. Berbagai macam suara dan kejadian bersumber dari rumah mewah itu, namun setelah diisi oleh Panji, warga setempat banyak menyaksikan adanya cahaya warna warni keluar masuk dari rumah mewah tersebut.
Tak heran, bagi warga Bogor yang memiliki ilmu kebatinan, menganggapnya bahwa cahaya warna warni itu merupakan beberapa benda pusaka. Ada juga yang menganggapnya merupakan khodam pemilik rumah itu.
Berbagai tanggapan dimasyarakat, oleh Arya dianggapnya hanya sebagai gurauan biasa, karena mereka tidak tau siapa Arya yang sebenarnya. Dan mereka juga tidak mengetahuinya, bahwa Arya itu berasal dari alam yang terkuat, hingga dia memiliki kekuatan super dahsyat.
Dihalaman belakang, Arya mengeluarkan delapan orang mafia kelas kakap yang dia tangkap dari sebuah restoran di Jakarta, dalam keadaan tubuhnya dirantai.
"Siapa kalian sebenarnya, dan apa yang kalian lakukan di restoran itu?" Tanya Arya, menatap mafia itu satu persatu.
"Ampuni kami, Tuan Muda. Kami ini hanya para pengusaha di negeri ini, kami berkumpul di restoran itu berniat menghancurkan jaringan bisnis keluarga Handoko," ucap salah seorang dari mereka ketakutan.
"Keluarga Handoko sering melakukan kecurangan dalam berbagai bidang usahanya," balas mereka saling bercerita, menuturkan apa yang mereka alami.
Perusahaan besar yang menggurita milik keluarga Handoko, dalam setiap tendernya, memang sering melakukan berbagai kecurangan, baik di pusat, maupun didaerah-daerah, mereka tak segan-segannya menyuap para pejabat, dan menculik para saingan bisnisnya.
Bila ada orang yang berani menentangnya, besok pagi dipastikan orang itu sudah tiada. Perbuatannya sangat kejam terhadap para pengusaha, yang tidak memiliki kekuatan seperti mereka.
Dan mereka selalu mendapat dukungan dari beberapa petinggi negara, dan pemimpin diseluruh daerah sangat takut kepadanya.
"Begitulah ceritanya, kami sudah berusaha mencari kekuatan dengan mengumpulkan orang-orang yang berilmu di negeri ini. Namun orang-orang kami selalu dikalahkan oleh mereka," jelas salah seorang dari mereka, diakhir penuturannya.
"Oh...., seperti itu ceritanya. Bagaimana kalau aku yang menundukkan semua pengusaha di negeri ini, dan kalian semua menjadi pengikut ku?" Tanya Arya kepada mereka.
"Kami sangat setuju, Tuan Muda," balas mereka bersamaan.
"Baiklah, mulai hari ini, kalian resmi menjadi pengikut ku. Dan berikan semua daftar pengusaha serta para pejabat tinggi negara yang terlibat, dan semua pemimpin daerah yang bersekutu dengan kejahatan," ucap Arya.
"Terimakasih, Tuan Muda. Ini daftar semua pengusaha dan para pejabat itu," ucap pengusaha itu, sambil mengeluarkan daftar nama-nama pengusaha dan para pejabat nakal dari kantong celananya.
Arya menerima daftar nama-nama pengusaha dan para pejabat tinggi, lalu menyimpannya didalam saku jubah hitamnya.
Dia juga melepaskan delapan pengusaha yang sekujur tubuhnya dililit oleh rantai baja, dan menyuruh mereka pergi. Namun besok paginya mereka harus kembali lagi ke rumah Arya, ada sesuatu yang akan dibahasnya.
Kedelapan orang itupun segera meninggalkan rumah Arya, dengan menyewa sebuah mobil carry untuk mengantarkan mereka ke Jakarta.
Esok harinya, Ketua Preman Bang Jali ditemani enam orang perwakilan seluruh preman di Jakarta, sudah tiba didepan sebuah rumah mewah, mereka terkejut melihat rumah yang sangat besar dan megah itu.
__ADS_1
Bang jali menghampiri pintu gerbang, lalu memijit sebuah bel yang menempel di dinding tembok gerbang sebelah kiri.
Tidak lama kemudian, seorang penjaga pos yang sudah diberi tau oleh Arya tentang mereka, segera membukakan pintu gerbang.
"Tuan Muda sudah menunggu kalian dari tadi," ucap Pak Kardiman, penjaga pos di rumah Arya.
"Ya, terimakasih, Pak!" Balas Bang Jali.
"Ayo, ikuti aku ke halaman belakang," ucap Pak Kardiman lagi setelah menutup pintu gerbang, bergegas menuju kearah belakang rumah mewah itu, diikuti oleh Bang Jali dan keenam temannya.
Tiba dihalaman belakang, mereka langsung disuruh duduk oleh Arya.
"Kalian duduklah dulu, kalau kalian mau ngopi, bikinlah sendiri. Tidak perlu sungkan-sungkan, anggaplah rumah sendiri," ucap Arya kepada mereka, membiasakan diri dengan pergaulan di Alam Bumi.
"Terimakasih, Tuan Muda!" Bang Jali sekarang memanggil Arya dengan sebutan Tuan Muda, selain segan, mereka juga takut kepada Arya.
Beberapa waktu berjalan, delapan pengusaha dari Jakarta juga tiba di rumah Arya, mereka langsung menuju ke halaman belakang.
Tiba di halaman belakang, mereka terkejut melihat dedengkot preman di Jakarta, berada di rumah Arya.
"Kalian juga berada disini?" Tanya Lukman Atmadja, salah seorang pengusaha, yang sering berhadapan dengannya.
"Iya, Bos! Kami dan semua preman di Jakarta, sekarang sudah menjadi pengikutnya, Tuan Muda," balas Bang Jali.
"Bagus...! Aku sangat setuju jika kalian ikut dengan Tuan Muda," ucap Lukman Atmadja senang, karena jika dia ada masalah dengan preman di Jakarta, akan lebih mudah untuk miminta bantuannya.
Tak lama kemudian, sesosok pemuda dengan jubah hitam, rambut panjang melebihi bahunya, berjalan kearah mereka berkumpul, disebuah pendopo halaman belakang rumahnya.
Mereka semua bersalaman dengan Arya, yang sudah bisa beradaptasi dengan kehidupan di Alam Bumi. Maka, sudah tidak heran lagi dengan kebiasaan orang-orang di bumi.
Arya tersenyum ramah menyambut mereka.
"Bagaimana dengan kabar kalian?" Tanya Arya.
"Baik, Tuan Muda," balasnya hampir bersamaan.
"Saudara Lukman, nanti kamu urus semua aset-aset milik Handoko, balik namakan atas namaku, karena Handoko dan keluarganya sudah berada ditangan orang-orangku. Tadi malam mereka bergerak cepat, serta beberapa petinggi negara dan para jenderalnya sudah berada di pihak kita," ucap Arya menjelaskan.
Tentu saja mereka terkejut dengan gerakan cepat yang dilakukan oleh Arya, mereka tidak menyangka akan secepat itu.
"Bagaimana, saudara Lukman?" Tanya Arya, menyadarkan lamunan Lukman Atmadja.
"Oh, iya Tuan Muda. Jika semua dokumen dan surat-surat berharga milik Handoko sudah dikumpulkan, aku akan segera mengurus seluruh aset Handoko untuk dibalik namakan atas nama Tuan Muda," balas Lukman Atmadaja, sedikit gugup karena ketahuan tengah melamun.
"Besok pagi kamu urus semuanya, nanti orang-orangku yang akan mendampingi mu," ucap Arya lagi.
"Baik, Tuan Muda," balas Lukman Atmadja.
"Untuk saudara Jali dengan yang lainnya, aku tugaskan untuk menguasai wilayah Jakarta dan sekitarnya. Dan nanti aku akan membangun sebuah gedung untuk markas kalian di Jakarta," ucap Arya kepada Jali.
"Baik, Tuan Muda. Semua perintah Tuan Muda segera aku laksanakan," balas Bang Jali.
Arya pun mengeluarkan sejumlah mata uang yang berlaku di negeri ini. Mata Uang Rupiah, dan memberikan kepada Bang Jali untuk biaya operasional menguasai seluruh wilayah ibukota. Dan juga kepada Lukman beserta kawan-kawannya, untuk mengurus biaya balik nama semua aset-aset milik Handoko.
Bersambung......
__ADS_1