
Udara di langit kota Dewa Dewi Bulan, hari ini begitu cerah, seakan ikut menyambut kedatangan para tamu petinggi dari seluruh benua di Alam Dewa Agung, untuk mengikuti acara pertemuan Tingkat Tinggi, yang diselenggarakan di Gedung Graha Pertemuan Dewi Dewi Bulan.
Sepuluh ribu pasukan elit gabungan Pengaman Alam Dewa Agung, yang digembleng didalam dunia jiwa milik Arya, kini sudah berada diluar dunia jiwa, dan ranah kekuatan kultivasi mereka sungguh mencengangkan, dalam waktu sepuluh tahun lebih didalam dunia jiwa, ranah kekuatan mereka meningkat drastis.
Sekarang, ranah kekuatan mereka, rata-rata berada ditingkat High God tahap puncak, komandannya berada ditingkat God King tahap awal dan menengah, jenderal bawahan berada ditingkat God King tahap puncak, jenderal besar berada ditingkat God King tahap akhir, serta panglima dan para petingginya berada di ranah God King Tahap Sempurna Bintang Satu Awal, Wakil Penguasa Alam Dewa Agung, ranahnya berada ditingkat God King Tahap Sempurna Bintang Satu Menengah, dan Nawangsari sebagai penguasanya, ranahnya sudah naik lagi ketingkat God King Tahap Sempurna Bintang Tiga Awal, dua langkah lagi menuju ketingkat batas akhir kekuatan di alam ini.
Semua itu, sesuai dengan keinginan Arya, yang menginginkan semua ranah pasukan dan para petinggi di Alam Dewa Agung, meningkat sesuai harapannya.
Dan sekarang, kesepuluh ribu prajurit pasukan gabungan Pengaman Alam Dewa Agung Lapisan Kedua, sudah mulai ditugaskan oleh Arya, dibagi kelima benua dan tempat-tempat lainnya.
Setiap benua, diawasi oleh seratus prajurit elit pengaman benua, yang secara khusus memantau keamanan, bila terjadi sesuatu hal yang mencurigakan, langsung disergap dan dibuang ke Lembah Perampok, yang sekarang sudah resmi menjadi tempat pembuangan para perampok, yang sudah dihancurkan basis kultivasinya.
Arya juga menempatkan para prajurit di pos penjagaan, disepanjang jalan pinggiran hutan, menuju kearah gerbang Ibukota Dewa Dewi Bulan.
Mereka ditugaskan untuk menjaga keamanan wilayah, agar disepanjang jalan pinggiran hutan, tidak terjadi lagi perampokan seperti waktu-waktu sebelumnya.
Apalagi saat sekarang ini, sudah banyak tamu berdatangan dari berbagai penjuru benua, selain untuk mengikuti acara pertemuan Tingkat Tinggi, juga mereka menyempatkan waktu untuk mengunjungi tempat-tempat hiburan, tempat wisata air terjun, serta melihat berbagai macam hiburan pada acara pembukaan pertemuan, seperti atraksi para kultivator tingkat tinggi, para ahli mistis dan sulap, yang sengaja digelar untuk memeriahkan acara pembukaan Pertemuan Tingkat Tinggi.
Tentunya keamanan wilayah dan keamanan didalam ibukota, semakin ditingkatkan, agar para tamu dari berbagai benua, dan para pengunjung ibukota, semakin nyaman ketika berada didalam kota Dewa Dewi Bulan, tidak ada yang mengganggu mereka.
Begitu pula dengan pengamanan di wilayah udara Ibukota Dewa Dewi Bulan, setiap harinya ditugaskan tidak kurang dari seratus prajurit gabungan, yang dipimpin langsung oleh seorang jenderal besar, yang ranahnya sudah ditingkat God King tahap akhir, dan dua orang jenderal bawahan, yang ranah kekuatannya berada ditingkat God King tahap puncak, untuk terus berpatroli menjaga keamanan wilayah udara, dengan mengawasinya dari balik awan.
Arya mengatur dan membenahi semuanya, sebelum dia bersama bawahannya meninggalkan alam ini, dia sudah memperkuat alam ini, agar tidak lagi dimasuki oleh pasukan iblis dari Alam Neraka Besar, yang sebelumnya menaklukkan alam ini.
"Panglima Argadana, besok pagi acara pertemuan sudah dimulai. Tingkatan lagi semua pengamanan disetiap wilayah, terutama didalam ibukota," ucap Arya, memerintahkan kepada Argadana, yang sekarang sudah diangkat oleh Arya menjadi Panglima Alam Dewa Agung Lapisan Kedua, dengan ranah kekuatan kultivasinya berada ditingkat God King Tahap Sempurna Bintang Satu Awal.
"Baik, Penguasa Agung," balas Panglima Argadana.
__ADS_1
Arya dan Nawangsari, yang dikawal oleh Panglima Argadana dan sejumlah prajurit pilihan, terus memantau persiapan untuk acara pembukaan pertemuan besok pagi.
Namun tanpa diduga sama sekali, tiba-tiba terdengar beberapa kali suara ledakan dari balik awan, di atas langit ibukota.
Arya dan yang lainnya, mendongakkan kepalanya ke atas langit, namun terhalang oleh awan. Akhirnya Arya menggunakan mata malaikatnya, untuk memindai keadaan dibalik awan, ada apa sebenarnya, sehingga terjadi beberapa kali ledakan.
Mata malaikat Arya menangkap ada dua kelompok tengah bertarung, ratusan orang dari kelompok yang tidak dikenal, melawan ratusan prajurit pengamanan.
"Adik Nawang, Panglima Argadana, ayo ikuti aku!" Seru Arya, langsung melesat terbang menembus awan, diikuti oleh Nawangsari dan Panglima Argadana dari belakang.
Sementara di atas awan, Jenderal Besar Handaka, tengah bertarung dengan seorang pria tua, yang mengaku sebagai leluhurnya Alam Dewa Agung Lapisan Kedua.
Keduanya sama-sama kuat, dan sama-sama seimbang. Mereka saling serang, saling pukul dengan kekuatan yang sama-sama hebat, sehingga menimbulkan suara ledakan yang sangat dahsyat.
Duarr.... Duarr.... Duarr....
Duarr.... Duarr.... Duarr....
Ledakan keras terus menerus terdengar di atas awan, membuat kedua orang yang bertarung terlempar kebelakang ratusan meter. Namun keduanya masih kuat, dan kembali saling menerjang.
"Sejak kapan Alam Dewa Agung Lapisan Kedua memiliki kekuatan yang hebat?" Tanya orang yang mengaku leluhur Dewa Agung, merasa heran dan penasaran.
"Sejak kemunculan Penguasa Agung Semesta Alam Raya, yang membenahi alam ini dari kehancurannya, yang telah dihancurkan oleh pasukan iblis dari Alam Neraka Besar," jawab Jenderal Besar Handaka.
"Penguasa Agung Semesta Alam Raya!?" Seru pria sepuh, yang mengaku leluhur Dewa Agung itu, penuh perasaan dan tanda tanya.
"Ya, dia telah mengangkat Nawangsari sebagai Penguasa Dewa Agung yang baru, dengan ranah kekuatan kultivasinya berada ditingkat God King Tahap Sempurna Bintang Tiga Awal," balas Jenderal Handaka, menjelaskan.
__ADS_1
Pria sepuh itu sejenak terdiam, satu katapun tidak terucap dari mulutnya. Dia termenung seperti memikirkan sesuatu. Namun tiba-tiba dari tangannya, muncul kilatan petir yang sangat kuat, hendak diarahkan kepada Jenderal Besar Handaka.
Arya yang sejak tadi melihat pertarungan jenderal Handaka, tidak tinggal diam, dia dengan cepat mengeluarkan jurus Dewa Rajawali Mengunci Lawan, yang diarahkan kepada pria tua yang mengaku leluhur Dewa Agung, dan kepada rombongannya, hingga membuat pria tua beserta ratusan rombongannya, menjadi patung, diam tidak bergerak, hanya bisa mendengar dan matanya berkedip-kedip.
Tidak hanya sampai disitu, Arya langsung bergerak dengan cepat menghancurkan basis kultivasi mereka, sehingga mereka menjerit merasakan kesakitannya. Sudah tidak ada ampunan lagi, bagi setiap pengacau di alam ini.
"Kalau benar kamu leluhur Dewa Agung, kenapa kamu tidak menyelamatkan alam ini, ketika alam ini dikuasai oleh pasukan iblis. Apakah sama dirimu juga sudah dipengaruhi oleh iblis? Kalau begitu, aku akan menghapus seluruh leluhur Dewa Agung, yang hanya diam saja ketika alam ini dikuasai oleh iblis," ucap Arya, panjang lebar.
Pria tua beserta rombongannya, hanya bisa mendengar ucapan Arya, tidak bisa menjawab, apalagi bergerak.
Komandan Seno Adji dan Ratu Derwani, yang sedari tadi menyaksikan pertarungan itu, menghampiri Arya dengan diikuti oleh Nawangsari dan Panglima Argadana.
"Komandan Seno, Ratu Derwani, buang mereka ke Lembah Perampok!" Seru Arya, memerintahkan komandan Seno Adji dan Ratu Derwani, untuk membuang mereka.
"Baik, Penguasa Agung," balas Komandan Seno Adji dan Ratu Derwani.
Keduanya segera melaksanakan perintah dari Arya, membawa rombongan pengacau ke Lembah Perampok, untuk menjadi penghuni di lembah itu.
"Jenderal Handaka, tetap pantau situasi keamanan dari udara!" Perintah Arya, kepada jenderal Handaka.
"Siap, Penguasa Agung. Perintah segera dilaksanakan," balas Jenderal Handaka.
Arya dan rombongannya kembali ke ibukota, namun dia mendarat di tepi hutan, untuk memantau situasi keamanan, diikuti oleh Nawangsari, Panglima Argadana, dan sejumlah prajurit pilihan, serta bawahannya.
Arya dan Nawangsari, beserta bawahan dan para prajurit pilihan yang mengawalnya, berjalan kaki di jalanan pinggiran hutan, menuju kearah gerbang ibukota.
Sepanjang jalan yang dilaluinya, dia menyempatkan diri mengobrol dengan para pedagang, yang sudah ramai sejak beberapa hari lalu, dan menggelar berbagai dagangannya. Arya memberikan sekantong koin emas kepada setiap pedagang, untuk tambahan modal usaha dagangnya.
__ADS_1
Bersambung......