Kultivator Tingkat Dewa

Kultivator Tingkat Dewa
72. Menolong Tiga Gadis Sombong


__ADS_3

Pemandangan senja hari di Bukit Awan, begitu mempesona bagi setiap orang yang melihatnya. Indah dan sejuk udaranya. Cuacanya sangat cerah, mengundang banyak orang yang penasaran ingin berkunjung ke bukit itu.


Namun tidak ada yang mampu untuk menaiki Bukit Awan, karena begitu mereka memasuki kawasan bukit itu, langsung dirinya terlempar jauh kebelakang, hingga menabrak pepohonan.


Hanya Arya seorang yang dapat menaklukkan Bukit Awan, dan langsung masuk kedalamnya, dari celah-celah dibalik bukit.


Arya muncul dari balik Bukit Awan, setelah dia mengganti pakaiannya yang basah, karena masuk ke dasar kolam didalam bukit. Dia berjalan kaki melalui jalan setapak. Kali ini dia tidak terbang, karena ingin menikmati udara segar dan sejuk di kawasan Bukit Awan.


Dia terus melangkahkan kakinya, mengikuti jalan bekas hewan hutan, yang membawanya kearah sebuah danau yang airnya sangat bening.


Terlihat ada ratusan hewan rusa hutan yang lagi pada minum, Arya tidak menggangu mereka. Malah dia duduk dibawah sebuah pohon yang rindang, menatap ratusan burung merpati dan hewan rusa yang berada disekeliling danau.


Ratusan hewan rusa dan burung merpati itu mendekati Arya, lalu ratusan rusa itu tiba-tiba berlutut dihadapan Arya, diikuti oleh ratusan burung merpati yang hinggap dipunggung hewan rusa.


Arya tersenyum melihat tingkah rusa dan burung merpati itu. Namun Arya terkejut ketika hewan rusa dan burung merpati itu, bisa berbicara layaknya seperti manusia.


"Apakah aku tidak salah dengar," ucap batin Arya.


"Tidak salah dengar, Penguasa Agung. Kami ini bisa berbicara layaknya seperti manusia. Karena kami dari Alam Dewa Nirwana, yang kabur ke negeri ini. Karena Penguasa yang sekarang selalu berbuat dzalim, dan sering menindas rakyatnya, termasuk kami-kami ini, sering diburu dan dibakar untuk makanan mereka," ucap pemimpin rusa, yang membuat Arya terkejut, karena mengetahui apa yang diucapkan oleh Arya didalam batinnya, dan mengetahui dirinya adalah Penguasa Agung Semesta Alam Raya.


"Lalu, apakah disini sudah merasa aman?" Tanya Arya kepada pemimpin rusa.


"Belum, Penguasa Agung! Kami masih diburu oleh mereka yang menginginkan daging-daging kami," jawab rusa.


"Kalau begitu, kalian mau tinggal ditempat ku yang nyaman," ajak Arya, menawari mereka.


"Oh, dimana itu?" Tanya pemimpin rusa.


"Didalam dunia jiwa," jawab Arya.


Pemimpin rusa sudah tidak kaget lagi bila ada manusia yang memiliki dunia jiwa, apalagi tingkat seperti seorang Penguasa Agung, tentunya dunia jiwanya sangat luas dan nyaman.


"Baiklah, kami bersedia. Dan terimakasih banyak sebelumnya, atas kemurahan hati Penguasa Agung," balas pemimpin kelompok hewan rusa dan burung merpati.


Arya pun membuka gerbang dunia jiwanya, untuk measukan semua hewan rusa dan burung merpati kedalam dunia jiwanya.


Whuuss.... Whuuss.... Whuuss.... Whuuss.... Whuuss....


Ratusan hewan rusa berloncatan masuk kedalam dunia jiwa, disusul oleh ratusan burung merpati, dibelakangnya Arya mengikutinya, sambil menutup kembali gerbang dunia jiwanya.


Arya menempatkan ratusan kelompok rusa itu diseputaran danau Telaga Warna, yang ditumbuhi oleh pepohonan rindang dan berbagai tanaman sumberdaya tingkat Dewa, dan pohon buah-buahan dewa, yang kini sudah dikembangkan oleh Arya, dan tumbuh disetiap jalan dan kota didunia jiwanya.


Usai menempatkan kelompok hewan rusa dan burung merpati, Arya cepat keluar dari dalam dalam dunia jiwa.


Whuuss....


Arya muncul ditempat semula, dan bergegas melesat terbang ke atas langit, menembus awan putih yang tebal.


Dia terus terbang menuju kearah kota Awan Putih, dan menyeluruk turun kepinggir hutan, sebelum gerbang penjagaan Kota Awan Putih.


Sekitar tiga ratus meter dari gerbang kota, Arya mendaratkan kakinya di tanah pinggiran hutan. Lalu melanjutkan perjalanannya dengan berjalan kaki, menuju kearah gerbang kota.


Tampak didepan gerbang ada beberapa kultivator yang sedang mengantri, menunggu giliran pemeriksaan oleh para penjaga pos pintu gerbang kota.


Arya turut mengantri dibelakang seorang pemuda, yang sebaya dengan dirinya, yang terlihat oleh Arya ranah kultivasi pemuda itu, berada ditingkat Imortal Bintang Lima tahap puncak. Sedangkan Arya menyamarkan ranahnya yang tidak bisa dilihat oleh semua orang, seolah-olah dia hanya seorang pemuda sampah yang tidak memiliki kekuatan inti. Hanya mengandalkan kekuatan fisiknya saja.


Pemuda didepannya melirik kearah Arya, melihat Arya yang tidak memiliki ranah kekuatan kultivasi.

__ADS_1


"Hmmm.... Hanya seorang pemuda sampah," ucap batin pemuda didepannya, menyepelekan Arya.


Arya hanya tersenyum, sambil memperhatikan para penjaga pos, yang tengah melakukan pemeriksaan. Dan tiba gilirannya, maju ke depan pos penjagaan.


"Identitasnya, anak muda!" Seru penjaga pos, menatap Arya dengan penuh selidik.


"Oh, dari Alam Dewa Agung," kata pria setengah baya yang memeriksanya, Arya hanya menganggukkan kepalanya.


"Sepuluh koin emas," tambah pria penjaga pos, sambil menyerahkan kembali identitas milik Arya.


Arya menyerahkan lima belas koin emas, kepada pria setengah baya penjaga pos.


"Ini kelebihan, anak muda," ucap penjaga pos itu.


"Sisanya ambil untukmu," balas Arya, berlalu meninggalkan pos penjagaan.


"Terimakasih, anak muda," ucap pria penjaga pos senang.


Langkah kaki Arya terayun menyusuri jalanan kota, menuju kesebuah toko yang menjual pakaian.


"Selamat datang di toko kami, Tuan Muda. Apakah anda mencari sesuatu? Mari akan kami tunjukkan!" Seru ketiga wanita pelayan toko, menyambut Arya dengan ramah.


"Aku mencari jubah yang bagus dan kuat," balas Arya.


"Mari sebelah sini, Tuan Muda," ucap wanita pelayan toko.


Arya pun mengikuti seorang wanita pelayan toko, yang mengajaknya kearah tempat khusus, tempat penyimpanan pakaian-pakaian dengan harga yang mahal.


"Disini Tuan Muda bisa mencarinya sendiri, sesuai dengan keinginan Tuan Muda," ucap wanita pelayan toko.


Lalu dia memilih pakaian yang sesuai dan cocok dengan dirinya, yang sekiranya pas dan cocok, dia pisahkan dan diberikan kepada pelayan untuk mengemasnya.


"Berapa semuanya?" Ucap Arya.


"Semuanya tiga ribu koin, Tuan Muda," balas wanita pelayan toko.


Arya menyerahkan sekantong koin emas, kepada pelayan wanita itu, dan menghitung jumlahnya.


"Sudah pas, Tuan Muda. Terimakasih kasih atas kunjungannya, jika nanti memerlukan pakaian yang lebih bagus lagi, silahkan berkunjung lagi kemari," ucap wanita pelayan toko.


Gegas Arya keluar dari toko itu, berjalan kaki mencari sebuah rumah makan, hanya sekedar untuk mencari informasi sambil minum arak khas negeri Awan Mengambang.


Dia terus melangkahkan kakinya disepanjang pertokoan di jalanan kota, sambil matanya melihat barang-barang yang dijajakan oleh para pedagang.


Tidak jauh darinya, terlihat ada sebuah rumah makan mewah bertingkat empat, dia segera menuju ke rumah makan itu, lalu masuk kedalamnya.


"Selamat datang di rumah makan Awan Putih, Tuan Muda! Apakah ada yang bisa kami bantu," ucap para wanita muda pelayan rumah makan.


"Aku memesan arak yang paling enak di kota ini, dan tempat duduk yang nyaman," balas Arya.


"Baik, Tuan Muda. Dan tempat duduknya Ada ditingkat empat. Mari kuantar," ucap wanita muda, pelayan rumah makan.


"Silahkan pandu jalannya," balas Arya lagi.


Wanita muda pelayan rumah makan, segera pergi menuju ketingkat empat, diikuti oleh Arya dari belakang.


"Disini ruangannya, Tuan Muda. Silahkan pilih sendiri tempat duduknya," ucap wanita muda pelayan rumah makan, berlalu untuk mempersiapkan pesanan Arya.

__ADS_1


Arya memilih tempat duduk yang kosong, kebetulan tempat duduk yang kosong itu, ada disebelah pojok kanan ruangan tingkat empat rumah makan. Diruangan itu, sudah banyak orang yang sedang menikmati makanan dan minuman arak. Duduk di kursi dihadapan Arya, tiga gadis cantik yang nampak acuh dan ada raut keangkuhan diwajah ketiganya.


Ketiga gadis itu hanya mendelik, sambil mencibir begitu melihat Arya, yang tanpa memiliki ranah kekuatan kultivasi.


"Hanya seorang pemuda sampah, yang tidak memiliki ranah kekuatan sama sekali," ucap gadis cantik pertama, kepada teman-temannya, menyepelekan Arya.


"Wajahnya sih tampan, tapi sayang sekali tidak memiliki kekuatan," sambung gadis cantik kedua, tertawa mengejek Arya.


"Percuma saja tampan juga, kalau tidak memiliki kekuatan sih, semua wanita tidak akan ada yang mau, kepada pemuda sampah seperti dia," tambah gadis cantik ketiga, menghina Arya, disusul oleh tertawaan ketiganya.


Arya hanya tersenyum, mendengar hinaan dan ejekan dari ketiga gadis cantik.


Ditengah-tengah hinaan dan ejekan ketiga gadis itu, dari arah pintu menyeruak masuk sekelompok pemuda berandalan. Para pemuda berandalan, langsung menuju ketempat ketiga gadis itu, mengganggu ketiganya.


"Wahai nona-nona cantik, bolehkah Tuan Muda ini duduk bersama kalian," ucap salah seorang pemuda berandalan.


"Hahaha.... Ketiganya tidak punya telinga, jadi tidak bisa mendengar ucapan mu," sambung pemuda temannya.


"Bajingan kalian! Rasakan ini! Cakar Harimau... Hiiaaattt...!" Seru ketiga gadis cantik itu, serempak menerjang kepada para pemuda berandalan.


Namun apa yang terjadi, ketiga gadis cantik itu malah terlempar menabrak sebuah meja dan dinding rumah makan.


Ketiga gadis cantik, meringis menahan rasa sakit disekujur tubuhnya, dari ketiga bibir gadis itu merembes keluar darah.


"Hai nona, ikutlah dengan kami. Pasti kalian akan ku berikan kenikmatan yang sungguh luar biasa," ucap seorang pemuda berandalan.


"Hahaha.... Mereka sudah tidak bisa berdiri lagi. Ayo kita bawa ketiga nona cantik ini," sambung pemuda berandalan lainnya.


Namun sebelum para pemuda berandalan itu mendekati ketiga gadis cantik, tiba-tiba tubuh mereka terlempar menabrak meja dan dinding rumah makan dengan kerasnya.


Argh.... Aahhh....


Jerit kesakitan keluar dari mulut para berandalan, yang dilemparkan dengan satu serangan tunggal dari lambaian tangan Arya. Belum sempat mereka berdiri, dan teman-temannya menyerang, Arya sudah mengeluarkan rantai baja mistis, dan melemparkannya kearah kelompok pemuda berandalan, yang langsung melilit sekujur tubuhnya.


Arya tetap tenang dan santai ditempat duduknya, sedikitpun tidak merasa adanya rasa takut.


Dan kejadian itu, membuat ketiga gadis cantik terkejut, mereka tidak menyangka sama sekali, bahwa seorang pemuda yang di hina dan diejek itu, adalah seorang kultivator tingkat tinggi, yang menyamar menjadi seorang pemuda sampah.


Arya beranjak dari tempat duduknya, dan menghampiri para pemuda berandalan itu, lalu dia dengan cepat menghancurkan basis kultivasi mereka, dan mengambil sejumlah kantong koin emas dari cincin penyimpanannya.


"Silahkan kalian melapor kepada Penguasa Kota, akan aku tunggu kehadirannya didepan rumah makan ini," ucap Arya, sambil menarik kembali rantai baja mistisnya.


Seorang pria setengah baya pemilik rumah makan, tiba dihadapan Arya, dan terkejut melihat ruangan rumah makannya berantakan.


"Terimalah ini Tetua, sebagai pengganti kerusakan ditempat ini," ucap Arya, menyerahkan enam kantong koin emas, yang dirampasnya dari enam pemuda berandalan.


Pria pemilik rumah makan, mengeluarkan seluruh isi kantong itu, dan menghitungnya.


"Ini lebih daripada cukup, Tuan Muda. Terimakasih atas bantuannya," ucap pria setengah baya itu senang, karena selain dia bisa memperbaiki tempat itu, dia juga bisa membangun rumah makan baru lagi.


Arya hanya menganggukkan kepalanya, sambil tersenyum ramah kepada pemilik rumah makan, dia pindah tempat duduknya kelantai bawah, sambil menunggu kehadiran para orangtua begundal-begundal itu.


Ketiga gadis cantik yang penasaran dengan kekuatan Arya, mengikuti Arya dari belakang, karena selain tempat duduknya yang berantakan, mereka juga ingin meminta maaf kepada Arya, yang telah menolongnya.


Ketiganya menuruni anak tangga, menuju kelantai bawah.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2