Kultivator Tingkat Dewa

Kultivator Tingkat Dewa
62. Memuja Raja Iblis Merah Bertanduk


__ADS_3

Dua siluet cahaya melesat kearah barat, saling kejar-kejaran dikeremangan malam, seakan sedang bermain di udara. Sesekali meliuk-liuk ke atas dan ke bawah, seperti tengah beratraksi.


Dua cahaya yang tengah kejar-kejaran di udara, membuat semua orang yang melihatnya terpana. Mereka menduga-duga, bahwa kedua cahaya itu, merupakan dua buah barang pusaka yang sedang bermain.


Ada juga yang menduga, kedua cahaya itu adalah makhluk angkasa yang tengah bermain-main, bahkan ada juga yang berpendapat, bahwa kedua cahaya itu, adalah dua benda pusaka, yang sedang mencari pemiliknya.


"Kedua cahaya itu, tentunya dua buah benda pusaka, yang sedang mencari pemiliknya," ujar salah seorang pria, yang tengah menyaksikan kedua cahaya, yang saling kejar-kejaran itu.


Dua siluet cahaya itu, adalah Arya dan Ratu Derwani, yang suka iseng, membuat orang-orang terpana dan terkejut.


Seperti hari ini, keduanya sengaja membuat tontonan hiburan gratis, bagi orang-orang yang melihatnya.


Arya dan Ratu Derwani, yang kembali kearah barat, karena akan menghadiri peresmian Prabu Agung Tower, sengaja dalam perjalanan terbangnya, bermain-main dulu, untuk menghibur penduduk yang melihatnya, dengan berbagai atraksi yang dibuatnya.


"Mereka kelihatannya senang melihat kita," ucap Arya.


"Iya, sekali-kali membuat hiburan gratis buat mereka," balas Ratu Derwani.


Keduanya terus meliuk-liuk, kadang melingkar, menukik, dan membuat huruf diangkasa.


Setelah puas menghibur penduduk yang melihatnya, keduanya bergegas melesat dengan kecepatan tinggi, terbang kearah barat.


Ditengah perjalanan, Arya melihat pergerakan yang mencurigakan disebuah lereng gunung, walaupun hanya disinari oleh cahaya rembulan, namun dengan menggunakan mata malaikatnya, sangat jelas terlihat ada rombongan manusia tengah menuju kesebuah lereng gunung sebelah utara.


Tanpa membuang waktu, Arya dengan diikuti oleh Ratu Derwani, melesat terbang mendekati kearah pergerakan orang-orang itu.


Dari jarak sekitar lima ratus meter, Arya dan Ratu Derwani, mengawasi pergerakan mereka, yang kelihatan menuju kesebuah tempat keramat, di lereng gunung sebelah utara.


Arya mengedarkan mata malaikatnya, untuk memindai tempat keramat itu, tampak dengan jelas dimatanya, ditempat itu ada kerajaan makhluk iblis merah bertanduk.


"Rupanya mereka itu adalah iblis merah bertanduk, dari Alam Hitam, masih bawahan dari Raja Iblis Ular Hitam. Mereka membuat kerajaan disini, untuk menguasai alam ini," ucap Arya.


"Tuan Muda, apakah mereka itu benar-benar dari Alam Hitam?" Tanya Ratu Derwani.


"Benar...! Memangnya kenapa?" Arya balik bertanya.


"Dulu aku pernah ke alam itu, diajak oleh kawan yang tinggal di Alam Hitam," jawab Ratu Derwani.


"Oohhh....!" Balas Arya singkat.

__ADS_1


Keduanya terus mengawasi pergerakan mereka, yang sudah tiba diarea iblis, yang dikeramatkannya.


Mereka naik kesebuah bale-bale dari kayu jati, yang sengaja dibuat, untuk para pengunjung keramat beristirahat.


Didepan bale-bale, ada sebuah pohon beringin yang sangat besar dan tinggi. Dibawah pohon beringin, penuh dengan bekas sesajian persembahan ritual, dan disebelah pohon beringin, ada sebuah batu altar hitam yang panjang, seperti tempat tidur.


"Bersihkan dulu tempat menaruh sesajiannya, lalu letakkan sesajian yang baru. Dan untuk dua orang gadis perawan, silahkan pakaiannya diganti dengan kain, kemudian kalian berdua tidur di batu altar hitam itu. Jangan takut, tidak akan terjadi apa-apa, paling hanya menikmati keindahan didalam tidur," ucap kuncen, menjelaskan kepada mereka.


Serempak mereka bekerja membersihkan tempat persembahan, dan membersihkan batu altar hitam, tempat tidur kedua gadis perawan.


"Pak Kuncen, semuanya sudah siap. Tinggal pelaksanaan ritualnya," ucap salah seorang diantara mereka.


Juru kunci keramat Eyang Banteng Sakti, lantas bergerak mengarahkan semuanya, untuk menghadapi sesajian persembahan. Dan kedua gadis perawan disuruh tidur, di batu altar hitam yang sudah dialasi oleh kulit banteng besar.


Setelah semuanya siap, dan kuncen sudah duduk menghadap ke sesajian dibawah pohon beringin, tiba-tiba dua cahaya melesat menyambar kedua anak perawan itu, dan langsung hilang dihadapan mereka.


Semua orang yang berada ditempat itu, terkejut melihat apa yang terjadi dihadapannya. Kedua anak perawan tiba-tiba menghilang, setelah disambar dua cahaya.


Belum pulih keterkejutan mereka, tiba-tiba terdengar suara ledakan dan angin ****** beliung disekitar keramat Banteng Sakti, disusul dengan hujan deras dan petir, bersahutan dengan geledek di atas langit.


Duarr.... Duarr.... Whuungg.... Whuungg... Jeder.... Jeder....


Suara ledakan, gemuruh angin ****** beliung, suara petir yang saling bersahutan dengan suara guntur, berpadu mengguncang tempat keramat.


Karuan saja, membuat mereka lari terbirit-birit, sangat ketakutan dengan kejadian aneh semacam itu. Namun sekitar dua ratus meter dari tempat itu, mereka tidak merasakan kejadian aneh. Malah cuacanya bagus dan diterangi oleh sinar rembulan.


"Kejadian ini benar-benar aneh," ucap kuncen penuh tanda tanya.


"Benar Pak Kuncen, kejadian ini aneh sekali. Lihat tuh ditempat keramat, sudah bersih disapu oleh angin ****** beliung," sambung salah seorang dari mereka.


Sedangkan para orangtua, yang kehilangan dua putri perawannya, terdiam seribu basa, tidak berbicara sepatah katapun. Mereka kesal bercampur dengan marah, karena selain batal melakukan ritual pemujaan, juga kehilangan putri-putri perawan mereka.


Mereka tidak bisa berbuat apa-apa, mau melampiaskan marah kepada siapa? Karena kejadiannya juga persis dihadapan mereka, dan sebabnya juga mereka tidak tau.


Semuanya pada duduk lemas direrumputan, satupun tidak ada yang berbicara. Terdengar ******* nafas yang berat, dari diri mereka semua.


Sementara di Alam Iblis Merah Bertanduk, Arya dan Ratu Derwani, setelah menyelamatkan dua anak gadis perawan, dan memasukkannya kedalam dunia jiwa, keduanya menghancurkan tempat itu, dengan membabi-buta ke semua arah, hingga meratakan tempat itu, dan menjadi bersih tersapu oleh angin ****** beliung, yang diciptakan oleh Ratu Derwani.


Raja Iblis Merah Bertanduk, yang berada didalam istana utama, yang tidak jauh dari istana tempat pemujaan, terkejut mendengar suara ledakan yang cukup keras, dibarengi dengan suara gemuruhnya angin ****** beliung, suara petir dan gelegarnya suara geledek yang menggentarkan tempat itu.

__ADS_1


"Ada apa dengan istana pemujaan?" Ucap Raja Iblis Merah Bertanduk, dalam batinnya penuh tanda tanya.


Cepat dia melesat keluar dari istana utama, dan terbang kearah istana pemujaan.


"Hai siapa kalian, beraninya menghancurkan tempat ku?" Tanya marah Raja Iblis Merah, menatap Arya dan Ratu Derwani.


"Kalian juga berada disini?" Arya balik bertanya.


"Kurang ajar! Ditanya malah balik bertanya," balas iblis merah, sangat murka.


"Hahaha....! Ternyata kalian bisa marah juga ya," ucap Arya, terus memprovokasinya.


"Bajingan...! Rasakan Gada Geni ku Hiaattt...!" Teriak Raja Iblis Merah Bertanduk, menerjang Arya, dengan jurus Gada Geninya yang membara.


Arya kali ini tidak ingin bermain-main, karena waktunya sudah mepet sekali, untuk menghadiri acara peresmian Prabu Agung Tower.


Dia pun langsung mengeluarkan jurus andalannya, Dewa Rajawali Mengunci Lawan, hingga Raja Iblis Merah Bertanduk menjadi patung, lalu merantainya dengan rantai baja mistis.


"Tunggu disini ya, sampai nanti orang-orangku menjemputmu," ucap Arya, kepada Raja Iblis Merah Bertanduk, sambil tak lupa dengan sifat isengnya. Dia mencabut beberapa kumis panjangnya.


Arya dan Ratu Derwani segera meninggalkan tempat itu, terbang kembali melanjutkan perjalanannya, menuju kearah barat.


Di Alam Manusia, sejumlah orang yang hendak mengadakan acara ritual pemujaan, ditempat keramat Eyang Banteng Sakti, sebelum mereka pada pulang, juru kunci makam keramat itu memberikan saran, jika mereka bersedia, masih ada satu tempat lagi yang sama seperti keramat Eyang Banteng Sakti.


"Nanti dikabari lagi, jika kalian sudah siap," ucap kuncen itu


"Apa benar ada satu tempat lagi? Jangan-jangan nanti sama, ada kejadian aneh lagi?" Tanya salah seorang diantara mereka.


"Kita tunggu beberapa hari, setelah kelihatannya aman, tidak ada lagi kejadian aneh seperti itu, baru nanti dikabari," balas kuncen.


"Pastikan dulu dengan benar, bahwa tempat itu aman, baru kami akan datang lagi ke sini," sambung yang lainnya, masih penasaran dengan pelaksanaan ritual pemujaan, karena ingin cepat-cepat menjadi orang yang kaya raya.


"Iya, pokoknya beres. Nanti Mbah berkomunikasi dulu dengan Penguasa ditempat itu, setelah ada jawaban yang pasti, nanti Mbah akan mengabari kalian," balas Kuncen itu, berusaha meyakinkan para tetamunya


Rencana ritual pemujaan hari itu gagal total, dan dilanjutkan lagi setelah adanya pemberitahuan dari kuncennya.


Dengan langkah gontai dan lemas, mereka menuruni lereng gunung itu, menuju ke rumahnya masing-masing, dengan membawa hati yang kecewa dan kesal, karena gagal dengan harapannya menjadi orang yang terkaya di kampungnya.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2