
Arya meneruskan perjalanannya kearah Benua Timur, kali ini tidak terburu-buru, karena masih ada waktu yang cukup untuk menikmati perjalanannya, sebelum diselenggarakannya Pertemuan Tingkat Tinggi Tiga Benua, Benua Timur, Tengah dan Selatan.
Ketika Arya hendak melangkahkan kakinya, dia mendengar derap langkah kaki kuda dan roda kereta kuda, menuju kearahnya.
Tidak seberapa lama, dari belokan muncul rombongan orang yang mengawal kereta kuda, dari barat menuju kearah timur.
Rombongan itu mendekat kearah Arya, hendak melewatinya, dia pun menepi kepinggir jalan. Namun kereta kuda itu berhenti dihadapan Arya, pria tua disebelah kiri kusir menyapanya.
"Hendak pergi kemana anak muda?" Tanya pria tua, menatap Arya sopan.
"Mau ke kota Garuda Kencana," jawab Arya, tersenyum ramah.
"Apakah mau bergabung dengan kami," ajak pria tua, menawari Arya.
"Terimakasih Tetua," balas Arya, sambil menatap semua penumpang kereta kuda, dibelakang kusir.
Ada empat orang pemuda, dan satu orang pemudi didalam kereta kuda. Dilihat dari pakaian yang dikenakannya, sepertinya mereka itu dari keluarga bangsawan. Dari lima pemuda yang berada didalam kereta kuda, hanya ada seorang pemuda yang tersenyum dan menganggukkan kepalanya kepada Arya, sedangkan ketiga pemuda dan seorang gadis belia, sama sekali tidak memperhatikan Arya, mau bergabung atau tidak, keempatnya tidak memperdulikannya. Terlihat dari wajah-wajahnya, ada guratan sifat keangkuhan. Hanya seorang pemuda dan pria tua, yang ramah pada Arya.
"Ayo anak muda, kalau mau bergabung, duduklah disebelah ku," ucap pria tua.
"Baik Tetua," balas Arya, sambil naik kesebelah pria tua.
"Anak muda ini siapa, dan dari mana?" Tanya pria tua ramah, setelah Arya duduk disebelahnya.
"Aku seorang petualang Tetua, namaku Arya Sang Petualang. Aku dari Benua Tengah, berbatasan dengan Benua Selatan," balas Arya, menyamarkan identitas dirinya.
Memang sejak dia jadi Penguasa Agung, nama aslinya yang dia pakai, yaitu Prabu Agung Raden Arya Widjaya Kusumah. Nama Arya itu adalah nama kependekannya. Sejak keluarganya dibunuh dan diburu oleh saudara sepupunya, nama putra mahkota ditiadakan, lalu nama Arya dipakaikan pada bayi malang itu, hanya untuk menyelamatkan dirinya dari kejaran para musuh keluarganya.
Mengenai riwayat Arya, sudah diceritakan dalam Bab Arya Keturunan Raja, dan semua rakyatnya, mengenalnya dengan nama Prabu Agung Raden Aria Widjaya Kusumah, hanya orang-orang terdekatnya yang mengetahui riwayat hidup Arya.
"Oh....! Lantas tujuan anak muda, ke kota Metropolitan Garuda Kencana, apakah hendak mengikuti pemilihan calon prajurit Elit Garuda Benua?" Tanya pria tua penasaran.
"Oh tidak Tetua, aku hanya ingin kesana saja. Kata orang-orang sih, kota yang baru didirikan itu, lebih megah dan besar daripada kota Metropolitan Tanjung Perak. Makanya aku penasaran ingin berkunjung kesana," tutur Arya, sedikit berbohong.
"Oh begitu..., anak muda ini penasaran dengan kota Super Megah itu ya?"
"Iya, Tetua."
"Aku kira, anak muda ini mau ikut pemilihan calon prajurit elit Garuda Benua."
"Mamangnya sekarang, di kota itu sedang ada perekrutan calon prajurit elit kah, Tetua?" Tanya Arya.
"Iya, anak muda. Aku juga akan mendaftarkan kedua anak-anakku dan ketiga orang keponakan, yang duduk dibelakang kita," jelas pria tua.
"Ohh.... Ternyata pria tua yang sopan itu, adalah orang tua dan Paman dari kelima bangsawan, yang duduk dibelakang ku," gumam Arya dalam batinnya.
"Tetua, sebelumnya aku mohon maaf, ada sedikit yang ingin aku pertanyakan, maksudku apakah Tetua dari keluarga bangsawan?" Tanya Arya, tidak mengurangi rasa hormatnya.
"Iya, anak muda. Aku dari kalangan Bangsawan Nomor Satu di Kota Daha, Ibukota Kerajaan Daha, yang sekarang menjadi bawahan dari Penguasa Prabu Agung Raden Aria Widjaya Kusumah, Penguasa Agung alam ini," jelas pria tua.
Arya tersenyum mengangguk-anggukan kepalanya, jika pria tua dan semua rombongan itu tau, siapa Arya sebenarnya, sudah dapat dipastikan mereka akan bersujud minta ampunan kepada Arya. Namun Arya tetap menyamarkan dirinya sebagai seorang pemuda petualang, tidak perlu semua orang mengetahuinya.
"Ranah apa saja yang menjadi persyaratan utamanya, Tetua?" Tanya Arya.
"Paling rendah ranah Pendekar Dewa Bumi tahap awal, nanti setelah lolos dari pemilihan calon prajurit, mereka semua akan dididik, digembleng dan dilatih di hutan larangan, untuk menjadi perwira muda pasukan Elit Garuda Benua, dengan ranah Penguasa tahap awal," jawabnya sedikit menjelaskan.
"Berapa lama mereka digembleng di hutan larangan itu?" Tanya Arya.
"Kurang lebih empat tahunan lamanya," jawab pria tua.
"Semoga anak dan keponakan Tetua lolos, karena itu merupakan suatu kebanggaan bagi para orangtuanya," ucap Arya, yang sudah merasakan ada aura negatif didepannya. Namun dia tidak mengatakannya kepada pria tua disampingnya, dia sengaja biar rombongan itu mengetahuinya sendiri.
__ADS_1
"Sudah tentu orangtuanya akan merasa bangga, jika anaknya menjadi perwira muda di Pasukan Elit Garuda Benua, karena pasukan itu merupakan pasukan kebanggaan di seluruh benua alam ini," tutur pria tua, berharap anak dan keponakannya lolos, menjadi prajurit Garuda Benua.
Ditengah perjalanan, tiba-tiba rombongan dicegat oleh kelompok begal, yang berloncatan dari atas pohon, menghadang perjalanannya, dan terus menggertak untuk menyerahkan semua harta, yang dimiliki oleh rombongan itu.
"Tinggalkan semua barang-barang berharga kalian disini, jika kalian ingin pada selamat." Gertak pimpinan begal.
Ketua pengawal rombongan pria tua, maju kehadapan pimpinan begal, dengan menarik sebilah pedang dari serangkanya.
"Hahaha..... kalian semua rupanya gerombolan begal, yang sering membuat ulah dikawasan ini. Apakah kalian tidak takut menghadapi pasukan dari Kerajaan Daha?" Kata Ketua Pengawal, yang ternyata seorang perwira dari pasukan Kerajaan Daha, dengan ranah Pendekar Dewa Langit tahap puncak.
"Aku tidak perduli siapa kalian, dan dari mana kalian, yang penting harta kalian yang aku mau," balas pimpinan begal.
"Kalau begitu, hadapi dulu aku. Ciaattt...." Ketua pengawal itu langsung menerjang pimpinan begal, yang ranahnya di atas ketua pengawal satu tingkat.
Pemimpin begal tidak menghindar, dia malah menyilangkan pedangnya untuk menangkis pedang ketua pengawal. Bentrokan kedua pedang terdengar.
Trang.... Trang....
Beberapa sabetan pedang dapat dihalau oleh pemimpin begal, yang ranahnya di atas ketua pengawal satu tingkat. Maka dengan mudahnya dapat menghindari serangan-serangan dari ketua pengawal.
Trang..... Trang.....
Serangan demi serangan, dapat dipatahkan dengan mudah.
Dug.... Bug....
Disusul dengan tendangan keras dari pemimpin begal, tendangan telak mengenai perut ketua pengawal, hingga dia meringis kesakitan.
Melihat hal itu, tiba-tiba seorang pemuda dari dalam kereta kuda, melesat menerjang kearah pemimpin begal. Pemuda itulah yang tersenyum dan menganggukkan kepalanya kepada Arya, tanda setuju Arya bergabung dengannya. Sedangkan keempat saudaranya hanya diam menonton pertarungan. Sedikitpun tidak tergerak hatinya untuk membantu.
Arya tersenyum melihat hal itu, dia sengaja tidak turun tangan, karena ingin melihat kekuatan dan kemampuan pemuda itu, dalam bertarung melawan begal.
Duar.... Duarr....
Dua kekuatan tenaga dalam beradu, keduanya terlempar kebelakang, sama-sama kuat. Walaupun pemuda itu ranahnya berada jauh dibawah pemimpin begal, masih di tahap Pendekar Dewa Bumi tahap awal, namun kekuatan fisiknya jauh lebih kuat daripada pemimpin begal, kekuatan tulangnya juga sudah berada pada tingkat Tulang Naga Berlian, satu tingkat dibawah Arya, yang sudah mencapai Tulang Naga Dewa. Bahkan tipe tubuhnya juga sama dengan Arya, tipe tubuh Kaisar Langit.
Arya semakin tertarik dengan pemuda itu, dia berniat ingin mengangkat pemuda itu menjadi bawahan intinya.
"Aku ingin melihat dulu sampai dimana kemampuannya," gumam Arya dalam batinnya.
Duar.... Duarr....
Sekali lagi terdengar suara bentrokan kekuatan tenaga dalam, dari arena pertarungan, lagi-lagi keduanya terlempar kebelakang beberapa meter.
Pemuda itu benar-benar monster, dia masih kuat, walaupun ranah kekuatan lawannya lebih tinggi di atasnya.
Pendekar Dewa Bumi tahap awal, melawan Pendekar Dewa Surga tahap awal, sama-sama seimbang kekuatannya. Benar-benar jarang terjadi, bahkan hampir tidak pernah terjadi. Kecuali hanya Arya dan pemuda itu, yang kekuatannya seperti monster.
Dug.... Bug....
Pukulan dan tendangan saling beradu, keduanya sama-sama mengeluarkan jurus-jurus andalannya masing-masing. Sudah puluhan Jurus terlewati, keduanya sama-sama masih kuat. Saling serang, saling tendang dan saling pukul. Belum ada yang terdesak, sama-sama bertahan ingin saling menjatuhkan.
Anggota begal yang lainnya belum bergerak, karena ingin menyaksikan pertarungan pemimpinnya dengan seorang pemuda rombongan Bangsawan. Sampai sejauh mana kemampuan bertarungnya pemuda itu.
Begitu pula dengan rombongan Bangsawan, mereka sama-sama menyaksikan pertarungan yang semakin seru, belum ada perintah untuk menyerang. Masih satu lawan satu, pertarungan yang sportif.
Pria tua dan Arya, juga belum berniat untuk turun tangan, sama-sama ingin melihat kemampuan bertarungnya pemuda itu.
Duarr....
Sekali lagi bentrokan keras terdengar, keduanya mencelat terlempar beberapa puluh meter kebelakang, menabrak pepohonan yang ada disekitar hutan.
__ADS_1
Ughuk.... Ughuk....
Keduanya mengeluarkan darah segar dari mulutnya. Sama-sama mengalami luka dalam yang ringan, tak lama kemudian, keduanya bangkit lagi dan terus melanjutkan pertarungannya.
Sudah ratusan jurus terlewati, keduanya belum ada yang terdesak, sama-sama saling serang dan saling pukul.
"Rasakan ini.... Cakar Harimau...." Teriak pemimpin begal.
Pemuda itupun tidak mau kalah, dia juga mengeluarkan jurus andalannya.
"Tapak Dewa....." Teriak pemuda itu sambil menerjang pemimpin begal.
Keduanya sama-sama menyerang, dengan kekuatan tinggi dan cepat, saling memukul, saling menangkis dan saling menendang.
Pukulan Cakar Harimau pemimpin begal yang begitu kuat dan cepat, terus menerus mengarah ke tubuh pemuda bangsawan itu, namun pemuda itu dapat menghindarinya, walau sedikit kewalahan, sambil menyarangkan pukulan Tapak Dewa yang telak mengenai dada pemimpin begal, hingga melemparkan dirinya beberapa meter kebelakang, dan mengenai sebuah pohon besar.
Dug.... Bug.... Argh....
"Ahhh.... Bajingan kau, tunggu balasanku," teriaknya geram, sambil memegang dadanya yang merasa sesak dan sakit.
"Hahaha.... Hanya segitukah kekuatan Pendekar Dewa Surga tahap awal. Sangat memalukan!" Cibir pemuda bangsawan itu, menyeringai mengejek pemimpin begal.
"Bangsat kau....! Rasakan ini.... Hiaattt.....!" Teriak pemimpin begal, sambil menyarangkan pukulannya kearah wajah pemuda.
Duarr.... Duarr....
Dua kekuatan beradu, ketika pemuda itu menadahnya dengan kekuatan penuh, hingga melemparkan keduanya beberapa puluh meter.
Ughuk.... Ughuk....
Keduanya kembali mengeluarkan darah dari mulutnya. Sama-sama mengalami luka dalam yang cukup parah, hingga keduanya tak sadarkan diri.
Arya segera mengeluarkan jurus Dewa Rajawali Mengunci Lawan, sehingga membuat semua orang Yang berada ditempat itu menjadi patung.
Lalu dengan gerakan cepat, Arya menyambar pemuda itu, dan memasukkannya kedalam dunia jiwa, sambil dia menghubungi bawahannya didalam dunia jiwa, untuk memberikan pertolongan kepada pemuda itu, dan sekaligus melatihnya hingga menjadi kuat.
Setelah apa yang dilakukan Arya selesai, dia kembali ketempat semula, duduk disebelah pria tua bangsawan, sambil menarik kembali pengaruh jurus Dewa Rajawali Mengunci Lawan.
Pria tua disebelah Arya, begitu sadar dari pengaruh Dewa Rajawali Mengunci Lawan, dia langsung mencari anaknya yang terlempar hingga tak sadarkan diri.
Dia melesat meninggalkan Arya, ketempat dimana pemuda itu terlempar, namun apa yang didapatkannya. Pria tua itu tidak menemukan anaknya, hingga dia melampiaskan amarahnya kepada pemimpin begal, yang dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Duarr.... Duarr....
Dua kali ledakan dari pukulan pria tua, menghantam pemimpin begal, yang kembali terlempar beberapa puluh meter, hingga tubuh dan kepalanya hancur.
Pria tua itu kembali melampiaskan kemarahannya, kini yang menjadi sasarannya kepada seluruh anggota begal, tentu saja mendapat serangan dari jarak jauh yang tak terduga, beberapa anggota begal itupun terlempar puluhan meter.
Pria tua bangsawan terus menerus melampiaskan kemarahannya, kepada seluruh anggota begal, karena dia sudah merasa kehilangan anak kesayangannya. Raib entah kemana, dan siapa yang membawanya?
Setelah puas, dan semua anggota begal sudah terbunuh, dengan sebagian tubuhnya hancur, baru pria tua berhenti dari amukannya. Dia perlahan menenangkan dirinya, terdengar dari tarikan nafasnya yang begitu berat.
Beberapa saat, dirinya kembali sedikit tenang, walaupun dia kehilangan anak lelaki satu-satunya, namun dia menyadarinya, bahwa itu sudah merupakan takdir dari Yang Maha Kuasa. Hanya tinggal anak perempuannya, yang berada didalam kereta kuda, dan ketiga keponakannya.
Arya yang menyelamatkan pemuda itu kedalam dunia jiwanya, hanya terdiam melihat kesedihan orangtua pemuda itu.
"Suatu saat nanti, kamu akan tau, dimana anakmu berada. Dan aku berjanji, akan mendidik anakmu menjadi lebih kuat lagi," ucap Arya dalam batinnya.
Setelah keadaannya tenang kembali, lalu semuanya meneruskan perjalanannya lagi, menuju ke Kota Metropolitan Garuda Kencana.
Bersambung.....
__ADS_1