
Ranah tertinggi di Alam Nirwana Lapisan Pertama adalah Great Absolute, dan di Alam Dewa Agung dan Alam Nirwana Lapisan Sembilan, lapisan alam yang paling tertinggi, ranahnya mencapai Raja Dewa Agung (Great God King) Abadi Tahap Sempurna Bintang Sembilan Akhir.
Namun hanya satu orang yang mampu sampai ketingkat tertinggi, itupun hanya sampai ranah Absolute tahap awal, yaitu Penguasa Semesta Alam Raya sebelumnya, yang sekarang sudah berada di Alam Nirwana, sebuah Alam yang tidak bisa diinvasi oleh Raja Iblis.
Para leluhur dewa saja hanya sampai ketingkat Maha Dewa tahap puncak, sama dengan Arya
"Sekarang sempurnakan kekuatan mu dengan berendam di kolam suci dan kolam abadi itu," ucap leluhur Dewa, menunjuk kedua kolam yang ada disudut ruangan khusus itu.
Kedua kolam itu sama dengan kolam yang ada di istana para dewa. Namun kolam itu hanya sebuah pintu masuk kedalam tempat ini. Sedangkan kolam yang aslinya ada dihadapan Arya.
"Baik leluhur," balas Arya senang.
Arya bergegas masuk ke kolam air suci, setelah membuka pakaiannya, hanya mengenakan pakaian dalamnya saja, berendam sebatas lehernya.
Air suci masuk meresap ke seluruh tubuhnya. Dia merasakan ada sebuah aliran yang menyengat, seperti kesetrum oleh tegangan tinggi. Air itu membersihkan semua kotoran termasuk racun dari dalam tubuhnya.
Dua bulan sudah berendam di air suci, kemudian dia meneruskan ke kolam abadi. Di kolam ini sangat terasa sekali kekuatannya bertambah, karena kolam abadi pungsinya untuk menambah kekuatannya. Sehingga terdengar lagi suara teredam tiga kali.
Bom.... Bom.... Bom....
Kini ranahnya mencapai Absolute tahap puncak. Selangkah lagi mencapai Great Absolute. Benar-benar menjadi penguasa semesta alam raya, dengan ranah kekuatan yang sangat dahsyat dan mengerikan.
"Selamat Penguasa! Anda sudah melebihi ranah Penguasa Semesta Alam Raya sebelumnya, dan sudah menjadi kultivator tingkat Dewa," ucap para leluhur Dewa memberikan ucapan selamat.
Sebelum para leluhur Dewa kembali ke Alam Nirwana, Arya dipersilahkan untuk memindahkan Istana Suci dengan seluruh isinya, termasuk dua kolom kedalam dunia jiwanya.
"Terimakasih leluhur," ucap Arya, menangkupkan kedua tangannya di dada sambil membungkuk, menghormati para leluhur Dewa.
Para leluhur Dewa itupun menghilang dari hadapan Arya, begitu pula dengan Arya, setelah menganti pakaiannya, dan sekaligus mengenakan jubah putih, dia pun bergegas keluar dari ruangan itu, kembali ke goa dimana Tetua Kampung dan Ki Sutamanggala menunggunya.
Whuuss.....
Arya keluar dari pusaran lima cahaya Mutiara Dewa, tepat dihadapan Tetua Kampung dan Ki Sutamanggala berada. Dan ternyata mereka menunggu baru tiga jam. Perbedaan waktu antara dunia para leluhur Dewa sangat jauh berbeda, di alam leluhur para dewa waktunya dipercepat hanya untuk meningkatkan kekuatan Arya. Perbedaannya tiga bulan di alam leluhur Dewa, sama dengan tiga jam didunia luar.
Tetua kampung, Ki Sutamanggala dan Arya, keluar dari goa dibalik pohon besar, yang tertutup alang-alang. Mereka kembali ke Perkampungan Sendang, sambil berjalan, Tetua Kampung dan Ki Sutamanggala mendengarkan Arya bercerita, cerita tentang keberadaannya didunia kecil para Leluhur Dewa.
Tetua Kampung dan Ki Suta dibuat takjub mendengar cerita Arya, yang telah meraih keberuntungan yang sangat tinggi.
"Selamat nak, kamu telah mendapatkan keberuntungan yang sangat besar," ucap Ki Sutamanggala, Paman istrinya Arya.
"Terimakasih Paman," balas Arya.
"Jangan langsung ke perkampungan, Tetua. Kita berburu hewan hutan dulu," ucap Arya.
"Benar Penguasa, hitung-hitung oleh-oleh dari hutan. Masak pergi ke hutan pulangnya tidak membawa apa-apa," balas Tetua Kampung.
__ADS_1
Ketiganya melesat kedalam hutan untuk mencari beberapa hewan buruan. Arya loncat kesebuah dahan pohon yang paling tinggi, dia mengedarkan mata malaikatnya ke seluruh hutan. Tampak olehnya segerombolan rusa yang sedang minum dipinggir telaga, Arya pun menghampiri gerombolan rusa itu secara senyap. Dari jarak kurang lebih lima meter, dia membidikkan ranting runcing yang sudah dialiri kekuatannya.
Ceb.... Ceb.... Ceb.... Ceb....
Empat ranting dengan kecepatan tinggi melesat kearah rusa, tepat menembus jantung empat rusa yang besar-besar. Arya mengeluarkan empat orang bawahannya dari dunia jiwa, untuk membawa hasil buruannya.
"Salam Penguasa!" Keempatnya memberikan salam sambil berlutut.
"Berdirilah, salam kalian aku terima. Dan bawalah keempat rusa itu ke perkampungan Sendang," ucap Arya, sambil menunjuk keempat rusa yang besar-besar, tergeletak tidak jauh darinya.
"Baik Penguasa," balas mereka, sambil melangkah menuju ketempat rusa tergeletak.
Rombongan Arya dan bawahannya, yang membawa empat rusa kehadapan tetua kampung, membuat Tetua Kampung terkejut. Bagaimana tidak, Arya melesat mengejar rusa sendiri, kembalinya bersama empat orang membawa empat rusa besar-besar.
"Darimana mereka datangnya? Kok ada empat pria membawa empat rusa yang besar-besar bersama Arya?" Batin Tetua Kampung bertanya-tanya.
Arya memang paling suka membuat orang heran dan penasaran. Sering membuat kejutan yang tak terduga, seperti mengeluarkan bawahannya didepan orang secara tiba-tiba.
Ki Sutamanggala surti atas kebingungan Tetua Kampung.
"Hahaha..... Bagus... bagus, bawa segera ke perkampungan, malam ini kita pesta daging rusa," ucap Ki Suta tertawa senang, sambil menatap Tetua Kampung yang terheran-heran. "Tetua, jangan heran. Nanti juga Tetua mengetahuinya," tambah Ki Sutamanggala, membuat Tetua Kampung tersadar dari keheranannya.
Di Perkampungan Sendang, Darmasena bersama warga tengah asyik mengobrol sambil menunggu Arya, Ki Sutamanggala dan Tetua Kampung yang pergi kedalam hutan.
"Sepertinya mereka sudah dekat," ujar Darmasena, yang sudah merasakan aura Arya.
"Nah, itu mereka!" Seru Komandan Keamanan Kampung, menunjuk kearah rombongan Arya.
Namun mereka pada heran, karena ada empat pria lainnya, yang membawa rusa bersama Arya, kecuali Darmasena yang tersenyum senang, melihat bawahan Arya membawa rusa.
"Ayo kita bantu mereka," ucap Darmasena, menghampiri rombongan Arya, diikuti oleh yang lainnya.
Keempat hewan buruan, langsung diolah oleh warga kampung, dibikin macam-macam masakan, termasuk sate daging rusa, dengan berbagai rempah-rempah sebagai bumbunya.
Arya pun mengeluarkan semua bawahannya dari dunia jiwanya, termasuk Wulan, istrinya Arya, Raja Agung dan istrinya, serta Prabu Widjaya Suryamanggala.
Ki Sutamanggala menjelaskan pada Tetua Kampung dan warganya, bahwa Arya memiliki dunia jiwa, yang dapat membawa keluarga, Pasukan dan bawahannya. Tetua Kampung dan yang lainnya, terkagum-kagum dengan apa yang dimiliki oleh Arya.
Apalagi dengan kekuatan barunya, semua bawahannya semakin menghormatinya. Begitu juga dengan seluruh keluarganya, karena pengaruh dari ranah Absolute tahap puncak, mereka semua segan dan ngeri jika berhadapan dengan Arya.
Dalam usianya saat ini, dua puluh lima tahun berjalan, tingkat kekuatannya melebihi kekuatan Penguasa Semesta Alam Raya sebelumnya, hanya sampai ranah Absolute tahap awal sudah mentok, tidak bisa melangkah lebih tinggi lagi.
Lain dengan Arya, yang memiliki tubuh Kaisar Langit, tulangnya juga sangat kuat karena tipe tulang naga Tingkat dewa, serta darahnya juga darah Dewa Nirwana, setelah dibersihkan dengan berendam dan menyerap air kehidupan, air suci dan air abadi, yang sekarang ketiga kolam air tersebut sudah dipindahkan kedunia jiwa miliknya.
Dengan ranah Absolute tahap puncak, sebenarnya Arya dengan mudah menghancurkan Benua Timur, namun bagi Arya, lebih baik bermain-main dahulu, itung-itung olahraga.
__ADS_1
Makanya setiap bertemu dengan semua lawan yang dianggapnya semut, Arya bermain beberapa puluh jurus terlebih dahulu. Setelah merasa puas, diapun akan menguncinya dengan Dewa Rajawali Mengunci Lawan, atau menghancurkannya dengan jurus Cakar Rajawali Sakti.
Malam pun tiba, Arya bersama keluarga, dan seluruh bawahannya, bersatu membaur dengan penduduk Perkampungan Sendang, merayakan acara makan bareng setelah terbentuknya Pasukan Garuda Benua, yang dipimpin langsung oleh Jenderal Adiwiyata, dibantu oleh Jenderal Anggadiredja, Darmasena, Wiraseda dan Tiga puluh bawahannya.
Sebelum makan bareng dimulai, diawali dengan membaca do'a yang dipimpin oleh tokoh agama setempat dengan khidmat, dan sepatah dua patah kata dari Arya.
"Selamat malam semuanya. Salam sejahtera selalu, malam ini kita semua berkumpul disini, ditempat yang sudah dijadikan sebagai markas pergerakan komando Garuda Benua. Dan mulai malam ini pula, setelah usai acara makan bareng, Anggota Pasukan Garuda Benua mulai latihan tempur, teknik jurus, latihan Kultivasi, dan latihan fisik. Pagi sampai siang latihan fisik dihutan sebelah timur. Istirahat sebentar, lalu dilanjutkan dengan teknik bertempur dan bertarung. Malam harinya baru latihan Kultivasi," ucap Arya panjang lebar.
"Latihan itu akan dipimpin langsung oleh Jenderal Anggadiredja dan Darmasena," tambahnya.
Seluruh anggota pasukan pun senang ,dan menyambutnya dengan penuh semangat. Tepukan tangan menggema di perkampungan itu, dibarengi dengan suara yel yel dari anggota pasukan.
"Hidup Pasukan Garuda Benua! Hidup Pasukan Garuda Benua!" Seru mereka berteriak. Suara menggema diseputaran perkampungan.
Untuk anggota pasukannya, diambil dari pemuda perkampungan dan para kultivator, yang nantinya akan dilatih oleh Jenderal Anggadiredja dan Darmasena.
Sementara Wiraseda, Parta Komara, Wicaksana, dan Raditya, diberi tugas menjadi mata-mata, untuk memantau perkembangan musuh, dan melaporkannya setiap waktu kepada jenderal Adiwiyata.
Sedangkan Wulan, istrinya Panji menjadi pimpinan pasukan Srikandi Benua, dibantu oleh Komalasari, Saraswati, Anjani dan Ratnawati.
Ketiga puluh bawahan Wiraseda, ditugaskan untuk menjaga keamanan perkampungan, dibantu oleh seluruh pemuda kampung dan para kultivator, yang telah menjadi anggota pasukan Garuda Benua.
Perkampungan Sendang dijadikan markas komando pasukan Garuda Benua, dan nama perkampungan itu dirubah menjadi Pedukuhan Garuda Kencana, yang tertulis di atas gerbang masuk perkampungan.
Tulisan itu terlihat jelas dan terbaca ; "Selamat Datang Di Pedukuhan Garuda Kencana".
Setelah usai acara makan bareng, lalu mereka membagi tugas. Tiga puluh bawahan Wiraseda menjaga perkampungan dengan berpatroli bergiliran, dengan dibantu dua burung rajawali raksasa, yang ditugaskan oleh Arya memantau dan mengawasi keamanan dari udara.
Sedangkan seluruh anggota pasukan Garuda Benua, mengadakan latihan mulai malam ini.
Begitu pula dengan pasukan Srikandi Benua pimpinan Wulandari, tengah berlatih disebelah barat lapangan Pedukuhan Garuda Kencana.
Sudah puluhan jurus mereka pergunakan untuk berlatih, dari jurus awal, menengah dan tinggi, disusul dengan latihan Kultivasi.
Arya bersama Ki Suta dan Tetua Kampung, memperhatikan mereka semua dari jauh.
"Para pemuda dan pemudi disini, ternyata memiliki bakat yang terpendam," ucap Arya.
"Benar Penguasa, bakat-bakat mereka sangat tinggi, namun tidak ada yang mengarahkan mereka," balas Tetua Kampung.
Dan memang, bakat-bakat mereka sangat kuat, dan penuh semangat untuk menjadi kuat. Namun karena tidak adanya sumberdaya tingkat tinggi, dan orang yang melatihnya secara khusus. Maka semua bakat mereka terpendam dan terkubur.
"Semoga hari ini, membawa suatu keberuntungan bagi Pedukuhan Garuda Kencana," harap Tetua Kampung.
Bersambung......
__ADS_1